Yang Penting Aku
41 Comments
Posted 15 Nov 2007 in Uncategorized
Adalah guru ngaji simbah menceritakan satu kisah yang sarat dengan makna. Yakni kisah tentang penghuni penjara. Syahdan ada satu rutan alias penjara dihuni oleh 500 napi. Suatu ketika diumumkanlah, bahwa kepala rutan memberi kesempatan pada penghuninya untuk keluar dari rutan tersebut. Tentu saja kesempatan ini disambut dengan gegap gempita oleh 500 penghuni rutan tersebut.
Hanya saja kesempatan keluar dari penjara itu sangat terbatas. Yakni dengan cara membuka salah satu pintu keluar penjara yang sempit, yang hanya seukuran tubuh orang dewasa yang berjalan miring. Lamanya pintu dibuka hanyalah 10 menit. Setelah itu pintu ditutup lagi. Maka yang keluar penjara dianggap lepas, sedangkan yang tinggal akan menjalani masa hukumannya lagi.
Pertanyaannya, kira-kira berapa napi yang bisa keluar dari rutan tersebut dengan memanfaatkan waktu keluar yang disediakan?
Ini akan sangat tergantung dari pribadi para napinya. Jika yang ada adalah para napi masing-masing ingin dirinya yang lebih dahulu keluar, dan merasa dirinyalah yang harus dipentingkan terlebih dahulu, maka bisa jadi selama 10 menit yang disediakan tak satupun napi berhasil keluar dari rutan tersebut. Karena yang terjadi adalah saling tonjok, saling jegal, saling baku hantam untuk menjatuhkan napi lain, dan masing-masing berusaha agar dirinya bisa keluar. Semua merasakan waktu keluar yang disediakan terbatas, semua merasakan ketakutan yang sama, yakni tak kebagian waktu untuk bisa keluar. Justru ketakutan yang sama dan perasaan merasa ingin mendahulukan keinginan diri inilah yang akhirnya membinasakan seluruh napi.
Maka bisa jadi setelah 10 menit terlewat, hasilnya adalah para napi babak belur, patah tulang, rampal gigi, kepala menyonyo, bibir njedir, dahi moncrot dan wajah bengebh. Dan tak satupun napi berhasil keluar.
Namun jika yang terjadi adalah para napi tersebut berusaha tertib, berjajar rapi sesuai urutan -entah berdasar apapun urutan tersebut-, berjajar dengan mengalahkan keinginan diri untuk didahulukan, maka begitu pintu dibuka bisa dipastikan semua napi bisa keluar dari rutan tersebut. Karena untuk bisa keluar dari pintu kecil itu, hanya dibutuhkan waktu satu detik saja untuk melewatinya. Sedangkan waktu yang disediakan adalah 600 detik dengan jumlah napi 500 orang.
Negeri ini penuh dengan orang yang merasa ingin didahulukan dan dipentingkan. Dan memang itu adalah watak alamiah manusia. Bisa sampeyan saksikan bagaimana satu kemacetan luar biasa yang terjadi di kota besar manapun, selalu didahului dengan adanya individu yang merasa harus didahulukan dan dipentingkan urusannya. Bisa berujud sopir angkot yang mengatasnamakan kemiskinan merasa berhak ngetem sembarangan, bisa juga karena pejabat yang merasa urusannya paling penting sehingga berhak menghambat lalu lintas orang lain. Dan sebagaimana watak dasar manusia yang tak mau disalahkan, maka yang disalahkan pastilah bukan dirinya. Yang salah selalu yang lain. Bisa jadi yang disalahkan lampu lalu lintas yang mati, banjir, pembangunan busway, dan lain sebagainya. Boleh jadi memang yang disebutkan tadi turut ambil peran dalam kemacetan. Namun kalo mau jujur, sifat ingin dirinya dipentingkan dan didahulukanlah yang menjadi pemicu utamanya. Sedang faktor lain hanya fasilitator saja.
Korupsi, kolusi dan Nepotisme adalah bentuk lain dari sifat manusia yang satu ini. Ego yang menyatakan “yang penting aku”. Dimana ‘aku” nya bisa aku dan keluargaku, aku dan kroniku, aku dan bolo jembrekku atau aku dan partner petanku. Hebatnya lagi, sifat “yang penting aku” ini bisa dibalut dengan banyak merek pembalut. Yang paling mentereng adalah pembalut merek “HAM”. Dengan pembalut ini manusia dididik untuk menuntut.
Bandingkanlah semua itu dengan ajaran wahyu yang mendidik orang untuk menunaikan kewajiban. Dengan mendidik manusia agar menunaikan kewajiban, maka hak orang akan tertunaikan sekaligus juga hak kita sendiri. Dengan semangat mau mendahulukan kepentingan orang, maka kepentingan kita juga akan tertunaikan tanpa berkurang sedikitpun. Namun jika yang terjadi adalah jiwa “menuntut”, maka yang terjadi adalah perang kepentingan, saling tuntut, tarik ulur kepentingan dan tuntutan.
Si buruh merasa urusannya paling penting, namun juga si pengusaha merasa dirinya tak kalah penting. Si Karyawan merasa tuntutan haknya wajar, si bos juga merasa haknya berhak dia tuntut. Si kacung merasa tuntutan hidupnya layak dipentingkan, si juragan merasa dirinya harus didahulukan. Rakyat nuntut kesejahteraan, pemimpin nuntut dirinya dipatuhi dan ditaati. Tumbu oleh tutup, bentrok yang sempurna. Kalo mau satu negeri hancur, kondisi begitulah yang harus dibangun.
Negeri ini butuh jalan keluar dari krisis sebagaimana para napi yang butuh pintu keluar dari rutan. jalan keluarnya sebenarnya sudah ada, tinggal mengatur watak manusianya saja. Mau pilih baku hantam mementingkan dirinya sendiri, atau mau berusaha tertib serta mengalahkan ego diri dan berusaha menunaikan kewajibannya masing-masing?? Tinggal pilih saja…..
sing penting meneh…aku no 1…!
bujugbuneng… langsung disamber…
sing penting ngisi kolom komen
emang susah ya Mbah jadi orang yng sabar dan tawadhu
wah ada ya merk pembalut HAM?
saya serapnya berapa ribu kali mbah
kok saya blm pernah nemukan di toko manapun…
Sebagai salah satu PENGGUNA PEMBALUT… mohon di cari di GOOGLE dulu kalau tetep ndak ketemu… silahkan pesan di ONLINE STORE kami
nek misale pintune penjara tingginya 2 kali orang dewasa, iso malah luwih cepet kuwi mbah..iso panggul2an…iso mlebu metu malah…hehehe..pitutur yang top markotop tenan iki mbah..
contoh antrian yang sempurna
jadi ingat berita beberapa hari yang lalu, di cina, gara2 rebutan diskon minyak goreng di supermarket, yang mati sampe puluhan orang …
di sini pribumi ngantri minyak gorengnya ke juragan2 cina
mana ada penghuni neraka yg mau antri??
”
btw, mentalitas antri bangsa kita memang masih rendah…
Sebenarnya Bukan Bangsa ini om… tapi manusia yang berada dalam Bangsa ini….
Dan Mungkin termasuk saya….
he..he..mbah, pingin muleh kampung porah kanggo desember mengko…antri nyok..
lah piye sih nek aku dadi pimpinan sing penting aku mbah liyane nunut wae




huehahahha dunia milik sendiri yang lain nyewa
coba klo wakil rakyat byk yg berpikiran spt simbah , makmur wes

vote simbah dadi mentri (tapi tetep nge blog yo mbah)
Mbah … Nyalonke dadi Presiden periode depan wae

Ntar para bolo kurowo di wenehi pitutur
Jangan cuma jadi Menteri
Ini cerita temen. Di stasiun Bandung antrian panjang. Salah satu pengantri Wong Londo (entah Londo Inggris, Londo Amrik atau Londo yang laen). Tiba2 orang di depan Si Londo kebelet. Maka dia titip ke Londo “Tolong jaga antrianku”, sambil mlayu mbradat. Antrian terus maju hingga giliran Si Londo. Tapi dia gak mau maju. Orang2 di belakang teriak marah. Si Londo bilang “Di depan saya ini ada satu orang lagi, dia baru ke toilet. Sebentar juga dia datang. Dia suruh saya jaga antriannya”. Tentu saja orang2 gak bisa terima dan teriak2 menyalahkannya, termasuk petugas loket. Untung tak lama kemudian pemilik antrian datang. Dan ceritapun berakhir happy ending.
mau rakyat nyungsep got, mblesek trotoar, nyemplung sawah, pokokmen nek pejabat lewat yo “nggir ra minggir tabrak”
mbok skali-skali pejabat ikut merasakan kemacetan ya.
kemaren sudah… langsung yg disalahkan busway… biasa..
koyo aku iki lho Mbah.. rela antri keri dewe olehe komen…
hehehe…
aduh, jadi malu…:”> saya suka gak mau kalah juga nih…
tapi untuk komen, monggo deh…
Mbah, saya comment-nya mburi wae, siji-siji sing comment ben kebagian kabeh ora suk-sukan. Tapi nek ngalah pilih mburi lak yo entuk hadiyah saka Gusti Allah to Mbah? (hallah, malah pamrih!!!)
asal jangan “tut wuri hambanyaki”…
kayaknya sudah jadi pola cetak di kepala orang Indonesia ya: JANGAN ANTRI. mulai di terminal busway, antrian di mini/supermarket, di loket tiket, di bank, di mana-mana deh. yang sering tu cowok menyalip cewek, karena mungkin yakin si cewek tidak akan berani mempertahankan posisinya. kalau pun berani dan terus protes, cuma dibilang: ini Jakarta, mbak. hidup ini keras, katanya.
o begitu ya? mau saya tunjukkan secara jelas bahwa saya sangat mengerti bagaimana kerasnya hidup ini, pak? huh jadi pingin berkelahi. tapi terus kemudian topiknya bukan lagi: ANTRI DONG, tapi ORANG INDONESIA SUKA MENGGUNAKAN KEKERASAN HANYA KARENA HAL SEPELE.
Luar biasa mbah, selalu mencerahkan sekaligus menusuk hati..
*clingukan* Koment-ku ilang to mbah..?
nyangkut moderasi kangmas…
… demi keamanan, lha ID nya baru je.. 
nunut ngeyup mbah!
ben ra klebush yo kang…
mbah..pemberitahuan lewat emailnya kok selalu belakangan..kalah cepet ama mbuka pitutur.web.id nya…Jadi udah baca baru diberi tahu nih…
setuju mbah. yang jelas damai itu indah. crah agawe bubrah..
mangan ora mangan sing penting kumpul guyub rukun.
setuju mbah. yang jelas damai itu indah. crah agawe bubrah..




mangan ora mangan sing penting kumpul guyub rukun.
tapi ngomong-ngomong mbah, pembalut merk HAM ki produksi mana sih?


Sing penting disudhet mbah!!!
Coba kalau semua orang Indonesia mbaca postingannya simbah yang ini dan kemudian memahaminya dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, pasti kehidupan bangsa ini bisa lebih baik.
Postingan simbah emang selalu mengena nek mengkritik kondisi bangsa ini… terusin mbah!! 
waaaah bener tuh mbah, mestinya dikasih pelajaran matematika juga disana yaaa
bojoku hamil lagi…ntar nek wis nglairne tak suruh pakai PEMBALUt MERK HAM wae mbah..tukune ning nggone mas Joe
“
akur…..!!!!!
ngikuttttt
Salam kenal mbah, kenapa baru ktemu ya sama blog simbah… Isinya dalam, dalem, jero … Matur sembah nuwun mbah pencerahan ingkang luar biasa.
lho wong ga buru2 piye (time is money)
/