Categorized | Uncategorized

TIPS MINUM OBAT CAIR

Beberapa hari yang lalu simbah kedatangan pasien anak-anak yang menderita demam, batuk dan pilek. Setelah simbah periksa, anak itu simbah kasih beberapa obat diantaranya sirup turun panas. Lima hari kemudian, pasien itu balik lagi bersama ibunya dengan membawa obat yang telah simbah berikan sebelumnya. Ibu si pasien berkata :

“Dok, tolong obatnya diganti saja dok. Sudah saya kasihkan kok gak ada perubahan sama sekali. Sirup turun panasnya itu juga tidak manjur. Wong habis diminum tetap saja panas.”
Simbah bertanya, “Cara kasih minumnya sudah betul apa belum bu?”
“Sesuai yang tertulis ddi situ dok, satu sendok teh,” jawabnya.
“Sendok teh yang saya berikan atau sendok teh rumah?”
“Sendok teh rumah dok, kan sama saja dok,” katanya.

Dari sini simbah sudah tahu mengapa obat itu jadi tidak manjur. Dan simbah mengalami hal ini berulangkali. Ada yang bahkan datang ke klinik sudah sambil ngomel-ngomel, begitu simbah jelaskan letak kesalahannya, malah jadi malu dan minta maaf.

Kesalahan ibu tadi adalah mengganti sendok teh takaran obat dengan sendok teh rumah. Sendok teh takaran obat itu dibuat pabrikannya dengan volume standar farmasi. Volume standar farmasi satu sendok teh adalah 5 ml. Sedangkan perhitungan dosis obatnya didasarkan pada kadar mg obat perl ml. Biasanya di label obatnya ditulis : mengandung zat A sekian mg tiap 5 ml (tiap satu sendok teh).

Sendok teh mungil yang ada di rumah itu dibuat bukan untuk dijadikan sendok takar obat. Maka tidak ada standar volumenya. Bahkan rata-rata volumenya hanya berkisar antara 2 sampai 3 ml saja. Artinya hanya separo dari volume sendok takar obat. Maka kalo dipakai buat kasih minum obat ke anak dosis terapi tidak akan tercapai.

Demikian juga dengan definisi sendok makan. Dalam pengertian sendok farmasi untuk kepentingan minum obat, satu sendok makan adalah 15 ml atau 3 sendok teh takaran obat. Jadi tidak bisa diganti dengan sendok makan di rumah yang volumenya hanya berkisar 7 sampai 8 ml saja.

Hal lain yang perlu diperhatikan saat minum obat cair adalah mengendapnya kandungan zak aktif obat di dasar botol. Maka dibutuhkan pengocokan obat sebelum diminum. Obat-obat tertentu yang berbentuk suspensi, membutuhkan pengocokan agak lama pada awal pemakaian obat. Dari pengalaman pribadi simbah, minimal 5 menit pengocokan terus menerus tanpa henti, barulah endapan suspensi bisa bercampur rata. Sedangkan untuk sirop, membutuhkan waktu kurang dari itu.

Pengguna obat biasanya mengocok obat hanya beberapa kali kocokan saja, macem ngocok arisan. Padahal ini mengandung resiko. Saat obat masih banyak, karena endapan tak tercampur rata maka yang terminum pasien kebanyakan adalah cairan pelarutnya. Maka dosis terapi tak tercapai. Namun saat obat tinggal sedikit, kandungan zat aktifnya menjadi lebih banyak dan lebih pekat, karena pelarutnya tinggal sedikit. Saat itu dosis menjadi berlipat saat diminum si pasien.

Point yang juga tak kalah penting adalah pelarut obat. Ini terutama bagi kalangan muslim yang menginginkan obat yang diminum tidak mengandung zat yang haram, dalam hal ini alkohol. Biasanya kandungan alkohol ini ditulis di kemasan obat. Kecuali obat-obat tertentu yang memang sudah tercantum secara tersirat. Misalnya obat cair yang namanya elixir. Mengapa alkoholnya tak tercantum? Karena elixir sendiri maksudnya adalah obat yang menggunakan alkohol sebagai pelarut. Ini dipahami di dunia farmasi dan kedokteran, namun mungkin masyarakat awam tak memahaminya. Maka kalo ada obat cair disitu tertulis “elixir” maka sudah pasti mengandung alkohol, meskipun tak tercantum di kemasan obat.

Jangan lupa untuk melihat waktu kadaluarsanya. Untuk obat antibiotika, sekali tutup botol segelnya dibuka maka umur obat paling lama hanya seminggu sampai 10 hari. Jika ada sisa maka wajib dibuang, dan jangan memberikannya pada orang lain.

Demikian beberapa point penting yang harus diperhatikan saat minum obat berbentuk cair. Semoga bermanfaat.  :)

Share and Enjoy:
  • Lintas Berita
  • Digg
  • del.icio.us
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • BlinkList
  • LinkedIn
  • Live
  • Ma.gnolia
  • Pownce
  • TwitThis
  • YahooMyWeb
  • Print this article!
  • E-mail this story to a friend!

Pingin Tau setiap simbah posting baru?
Kenapa tidak Langganan RSS simbah aja,
atau lewat email kawat di form ini
di jamin cespleng



30 Comments


  1. yang cair-cair memang mantabss…baygon cair lebih mantabs lagi..bisa bikin orang langsung mak nyut dar (cepet muodiar)..:-":-"

    Mbahmu : baygon cair pun harus dikocok dulu sebelum dipakai :P


  2. klo disini minumnya obat cair anak2 pake pipa(kayak suntikan gitu )jadi ukurannya pas.
    oya mbah mo tanya, klo ada sisa obat cair (obat batuk, pilek, demam) boleh tahan brp lama disimpen di kulkas??suwun mbah

    Mbahmu : selain antibiotika, bisa lebih lama jika ditutup rapat dan disimpan di tempat yang sesuai. Tapi biasanya simbah menganjurkan tidak lebih dari 2 bulan penyimpanan, meskipun belum ada penelitian ttg hal ini.. 


  3. :d:d Weks, ik pelanggan batugin elixir poen….:-"

    Mbahmoe : boeng, moemkin sahadja itoe jang memboewat sholat soeboeh koweorang bablas angine… :( 


  4. sip mbah.. makasi..
    → pas lg ngakalin minum obat utk si kecil.. :D

    Mbahmu : wah, rekan sejawat :) … suwun purun mampir. Jangan kehabisan akal kasih obat si kecil :D


  5. baru 1 sendok teh mbah, blum sendok semen :d

    Mbahmu : opo maning sendok aspal yo kang…:P 

  6. CICITMU Reply to this comment

    Mbah klo obat tablet atau kapsul yang proses pembuatannya menggunakan alkohol piye? walaupun hasil akhirnya kan alkohol nya dah ga ada? terus terang mbah ik(pke bhsa Bung koeaing!) akhir2 ini sebisa mungkin ndak minum obat dalam bentuk tablet,kapsul or sirup.(kecuali obat herbal yang dah jelas halalnya) karena pertimbangan tadi.
    atas jawbannya “Tengkyu” so mach.

    Mbahmu : alkohol tak pernah dikumpai dalam bentuk padat. Obat herbal justru dalam pengolahannya akrab dengan alkohol, jika bicara proses ekstraksinya. Pada prinsipnya al haromu itu bayyinun… kalo tidak didapati secara bayyinun bahwa itu haram, maka jangan diharamkan. kalo mau bersikap waro’ itu bab lain, silakan saja.. :)


  7. OOoo..ngono to mbah..berarti yen ngocok sirup kuwi kudu suwi ta, yo ora kaget mbah yen uwong2 podo ramudeng, amargo ukuran sendoke wae wis bedo…opo penake ning bungkus obat luwis dijelasne maneh yo mbah? koyoto satu sendok teh (farmasi) 5 ml atau dua kali sendok teh biasa (awam)..malah tambah bingung yo :d

    Mbahmu : jane wis ditulis kang neng kemasan obate … malah neng sendoke barang ono ongkone .. masalahe pasien itu suka ngambil kesimpulan sendiri perihal sendok itu

  8. Bonbin Reply to this comment

    Wah mbah ya jangan salahkan pasien dong, orang mereka kebanyakan itu dari kalangan bukan dokter ataupun farmasi. ndak pernah dikasih tau yang gitu-gitu. tapi tetep makasih atas informasinya.

    Mbahmu : coba sampeyan baca lagi postingan simbah. Tak satupun kata disitu yang menyalahkan pasien, bahkan simbah malah membetulkan pasien… :D Semoga sampeyan tahu beda antara menyalahkan dan membetulkan ;))  Suwun :)

  9. Wong Cilik Reply to this comment

    Kenapa tidak bilang aja 3x sehari 5 ml atau 15 ml. Kalau khawatir pasiennya bingung, bilang aja 3x sehari 1 sendok ini.. *sambil tunjukin sendoknya ke pasien* Simbah perlu kursus komunikasi efektif nih kayanya. Kata Temen simbah, skill komunikasi ini sekarang dah dimasukkan ke kurikulum kedokteran revisi terbaru.

    Mbahmu : sebenarnya pengertian tentang cara penggunaan obat itu merupakan tugas pihak apotek. Pesan cara pemakaian itu sudah kita (dokter) tuliskan dalam resep. Tinggal pihak apotek yang memberikan penjelasan detil rincinya langsung pada pasien. Simbah nulis postingan ini lebih mengarah pada pemberian informasi umum agar saat mengonsumsi obat paham maksudnya.

    Komunikasi antara dokter dan pasien lebih diarahkan pada membahasakan penyakit dari bahasa kedokteran menjadi bahasa awam yang mudah dimengerti. Sedangkan bagian yang simbah posting ini sebenarnya porsinya apoteker. Simbah sekedar membantu saja.

    Coba sampeyan datang ke klinik simbah. Di sana ada tulisan gede2 yang memberitahu pasien agar jangan sekali2 mengganti sendok takar obat dengan sendok teh di rumah. Itupun masih dibantah pasien, dan simbah masih berulangkali perlu menjelaskan. Sederhana tapi rupanya rumit.. :) 

  10. qusay Reply to this comment

    sepindah malih matur nuwun mbah informasinipin
    lah kula termasuk tiyang ingkang kliru kados ingkang simbah aturaken ngganti sendok meniko wau ngagem sendok ngomah nuwun nggih mbah
    mangkeh mboten maleh
    sampun kapok kesuwen olehe ngobati
    nek obat flek paru meniko mboten nopo nopo nggih ngagem sendok ngomah sebab bentukipun puyer
    nuwuuuuuuuuuuuuun……

    Mbahmu : Puyer pakai sendok apapun gak masalah, kan obat padet… bukan cair 

  11. de Reply to this comment

    Wah ngocoknya sampe 5 menit? Suwe men mbah. Lha dokterku kok ra tau ngandani nek kudu 5 menit? piye toh?

    Mbahmu : obat suspensi memang harus agak lama agar zat obat dan pelarutnya menyatu. Lha kesuwen mengendap bude… dari pabrikannya sudah keluar sekian bulan yg lalu makanya mengendap.. :) Angka 5 menit itu sendiri dari pengalaman simbah mencoba mengocok beberapa obat berbentuk suspensi, dan ternyata rata2 sekian menit itu. bahkan ada yang sampai 10 menit, itupun dengan kocokan yang sangat keras… :(


  12. kl ngomongin obat cair, apa parasetamol cair yang tulisan kemasannya tidak tercantum untuk usia dewasa boleh dikonsumsi dewasa mbah? saya pernah pake wkt demam, dosisnya 2x anak, dan ada khasiatnya mbah. apa diperbolehkan spt itu?

    (soalnya suka mbalik obatnya kl nguntal pil :"> )

    maturnuwun

    Mbahmu : Parasetamol cair atau padat sama saja. hanya saja sesendok teh parasetamol cair itu cuma mengandung 125 mg. Sedangkan dosis buat orang dewasa macem sampeyan ini butuh yang 500 mg. Jadi setidaknya 4 sendok mbakyu.. :)


  13. asal jangan ada TIPS MINUM BAYGON CAIR :-D

    Mbahmu : Tipsnya cuma satu, cari baygon yang asli  :P  Kalo dapet yang palsu gak mati-mati, padahal kan selak kebelet masup neraka jahanam…. :D 


  14. Kalo pas ndak ada sendok (males kelur kamar), saya biasanya pake tutup botolnya buat nuang sirup.

    Atau kalo lagi nekat, biasane langsung tenggak dari botolnya. PD dengan kemampuan lidah untuk mengukur berapa mg yang udah masuk :d

    Mbahmu : itu lidah apa tabung erlenmeyer…??  ;)) 


  15. djikaloe begitoe, oebat apaka iang bole tjegah watoe gindjel aken tapih tijada itoe djenevernjah boeng doctor ? Mohon oendjoek poen…:o

    Mbahmu : simbah PM sahadja Boeng.. :) 


  16. Nek ngombene di OPLOS karo TEH opo SUSU cair mantep ora mbah? isih ONO KASIATE to?

  17. Nugie Reply to this comment

    alhamdulillah nambah ilum…:)

  18. Nugie Reply to this comment

    alhamdulillah nambah ilmu…:)

  19. oon Reply to this comment

    jadi boleh gak mbah minum obat beralkohol?

  20. Mas Agus Reply to this comment

    Mbah, mangkanya sakmeniko jare semah kulo sing kerjo nang Puskesmas, kalo obatnya berbentuk cair dikasih sekalian sendoknya. trus dah ndak pake lagi istilah sendok teh atau sendok makan, tapi sendok takar.
    Nyuwun pangapuntenipun mbah, bosonipun campur baur :d

    Mbahmu : nggih… :) Boso campur malah gayeng kok kang… :D 


  21. Nuwun sewu mbah, njenengan perlu mengingatkan kepada pihak Apotik agar mengganti etiket (mungkin bertuliskan sendok teh) dengan tulisan sendok takar, bukan sendok teh. Dan itu belum tentu salah pasien, bisa jadi petugas apotik tidak menjelaskan secara rinci.
    Adakalanya (ibu) pasien lupa penjelasan dokter, yang diingat adalah ketika petugas apotik mengatakan sekian kali sendok teh. Belum lagi si upik rewel.
    Alhasil ketika sirup antibiotik diberikan pakai ukuran sendok tek rumah tangga, dokterlah jadi sasaran bahwa obatnya gak mempan :((
    Mugi postingan meniko menyebar.


  22. Mbah, numpang tanya nih. Saya sepertinya tersugesti kalau lagi batuk lebih milih obat cair daripada kapsul atau tablet. Asumsinya, kalau obat cait itu lebih “mengena” di tenggorokan. Apalagi rasa pepermint-nya. Kayaknya langsung bisa mengeluarkan dahak. Leres boten Mbah? :p:o


  23. @ jauhari
    bukaen situs iki sam

    @ nugie
    habis dapet ilmu harus dibagi kang… :D

    @ O’on :
    yang jelas khamr itu haram, dan ada kaedah berobat dalam hadits bahwa Allah tidak menurunkan obat pada sesuatu yang haram.

    @ Cakmoki
    sendiko dawuh pak…. :)

    @ Evie
    sampeyan tersugesti sama semriwingnya mentol… kalo memang semriwingnya mentol bisa ngilangi batuk, jangan2 nanti ada yang ngisep udud beraroma mentol yang semriwing jadi sembuh..:D Pepermint tak bisa mengeluarkan dahak, dia hanya menyegarkan tenggorokan saja… :)

    @ all
    Beberapa hari ini simbah terblokir gak bisa masup admin. Maka beberapa komen yang menunggu aprove masih tertahan. dan belum bisa posting judul terbaru. Untuk itu harap sabar menunggu posting selanjutnya sampai beres admin nya… :)


  24. Wo… baru ngerti kalau sendok makan dan sendok teh versi dokter itu beda sama versi Mbah Prapto bakul pecel gendhong di kampung saya. maturnuwun, Mbah.

    Mbahmu : mbah prapto bakul pecel itu gak punya sendok kang. Lha makan pecel kan dipuluk… ngombe obat disuru pake suru daun pisang…. :P

  25. Kadang Reply to this comment

    Kadang lek ngombe ora ngangge sendok makan kie rasana kurang mantaabbb….h… mbahhhh….. ;)

    Mbahmu : yen nganggo sendok takar ora mantabh, kadang perlu nyoba pake siwur… :P

  26. Evy Reply to this comment

    Mbah nek sak botol di glegek kabeh yaopo nggih, akeh niku sing go watuk wis gede raiso di kandani…jarene yen durung ngglegek ra mempan masio sendoke di ganti, nuwun sewuuuuuu

    Mbahmu : wah, obat watuk opo orson tho iki..? ;))  jeng sampeyan priyantun jawa timuran ya.. :D .. kok pake ukoro “masio”…. :D

  27. abiyar Reply to this comment

    pengalaman zaman cilikan mbah
    saya ndak bisa maem obat dalam bentuk kapsut/tablet, ndak bisa kolu nguntal obat pake pisang. Jadi obatnya harus digerus dulu dadi serbuk. repot kalo obatnya pait, malah mutah-mutah gak jadi minum obat.

    Mbahmu
    : seringkali yg bermanfaat itu rasanya gak selalu enak :)


  28. Mbah, Mbak Evy meniko sejawat ingkang mukim wonten amrik.
    Piyambakipun lagi nyamar dados pramugari :D


  29. pantesan anak2ku ora mari2 leh loro… tibak-e salah takar tho… lha sering g dikasih sendok e mbah.. yg sisa obat lalu jelah sy buang.. dilaporkan YLKI aja apoteknya…
    lha kalau nyemprot obat nyamuk pakai Baigon rasa jeruk opo yo 3x sehari mbah biar mati nyamuknya?

  30. lia Reply to this comment

    terima kasih infonya…saya kebetulan search krn sedang mencari info ttg sendok obat. di indonesia, banyak yang menafsirkan sendok teh benar2 sendok teh dapur. dan di apotek, tdk dijelaskan standar sendok teh itu apa (tanpa menunjukkan sendok yg ada di kemasan). wajar saja kalau orang salah menafsirkan. ibu saya saja sampai ngeyel waktu saya jelaskan satu sendok teh itu 5 ml (batas atas sendok obat). beliau bilang, itu lebih banyak dari satu sendok teh. saya harus menjelaskan berkali-kali ttg masalah ini hingga beliau percaya. wah…ternyata itu sebabnya banyak orang sakit di indonesia tidak sembuh-sembuh… :D

Leave A Reply

Smileys:
:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



Sak Emploan

  • Ajax CommentLuv Enabled df82993325f26cd5ad448807e4ae1780
  • Add to Technorati Favorites
  • Add to Google
  • Subscribe in NewsGator Online
  • Subscribe in Bloglines
  • Powered by FeedBurner