Pitutur 2.0

teman, teman dari teman, musuh dari musuh

The Fellowship of Kere

Masa co-ass (dokter muda) adalah masa yang cukup kelam buat simbah. Di masa ini, kurang lebih selama 3 tahun, simbah hampir yakin bahwa pilihan untuk menjadi dokter adalah pilihan yang keliru. Simbah masuk jadi co-ass adalah di tahun awal reformasi, dimana bengsin yang 700 ripis naik menjadi 1200 ripis. Massa marah, mahasiswa ngikut. Saat itulah kembali terbukti, bahwa perut lebih tajam dari pedang. Tuntutan keperluan perut, menimbulkan huru-hara di mana-mana, tak terkecuali di dunia perco-assan.

Di saat itu, dunia co-ass terbagi menjadi 2 kasta, yakni kasta co-ass borju dan kasta co-ass proletar. Kasta co-ass borju ditandai dengan adanya gejala fisik nenteng-nenteng pager (dibaca peijer, bukan pager makan tanaman) dan tentu saja HP yang kala itu ukurannya cukup membuat kirik bin asu ciut nyalinya jika diancam mau dibandem pakai HP itu. Kasta ini tongkrongannya di kantin, dan tentu saja jarang ditemui di halte bis, karena area parkir Rumah Sakit merupakan habitat mobil pribadi mereka. Member kasta co-ass borju ini kebanyakan adalah coass yang sugih kongenital.

Hal itu amat berbeda dengan kondisi co-ass proletar macem simbah ini. Pager maupun HP adalah alat aneh yang masih di luar jangkauan saat itu. Masuk kantin hanya terjadi jikalau jatah makan co-ass yang berupa nasi plus sayur rendah garam dihiasi ndog glundhung (telur rebus) telas ludes disikat oleh sesama proletar yang kelaparan. Menu ndog glundhung adalah menu setengah wajib kala itu. Dan tentu saja co-ass borju tak akan sanggup mengkonsumsi menu tersebut. Maka co-ass model simbah inilah yang akhirnya ketiban berkah.

Pernah terjadi segerombolan co-ass borju yang jaga di bagian Obstetri sama sekali tak menyentuh menu ndog glundung mereka. Ini rejeki nomplok buat simbah. Bersama seorang co-ass kere yang lain, simbah kumpulin ndog glundhung tersebut menjadi satu. Terkumpulah hampir 20 butir ndog glundhung. Buat simbah, ini suplemen gizi yang sekaligus mengenyangkan. Hanya saja efek sampingnya cukup mengganggu. Perut jadi kembung, dan otomatis jadi ngenthutan. Jangan tanya baunya….. persis endhog buthuk!!

Simbah rasakan, berkumpul bersama co-ass proletar ini cukup menenangkan hati. Jangan tanya solidaritas mereka pada sesama penghuni kasta kere ini. Yang namanya pinjam meminjamkan duit bukanlah hal yang aneh. Bahkan sampai yang namanya pinjam meminjamkan bajupun dilakoni. Semua terjadi karena para member club kere ini sadar, mereka tak cukup bisa berdiri sendiri tanpa bantuan yang lain. Hal ini jarang terjadi di lingkungan co-ass borju. Butuh apa-apa mereka beli. Tak ada kata pinjam pada kamus mereka. Yang ada hanyalah kompetisi untuk “punya”.

Di masyarakat ramai, pengelompokan kasta ala co-ass inipun terjadi. Di samping komplek mewah (mepet sawah) simbah, ada sekumpulan rumah gubug yang dihuni oleh para petani sayur urban, yang tentu saja komplek gubug ini tak terdaftar di kantor kelurahan. Kalau ditanya alamat rumah, mereka hanya menjawab “Saya tinggal di gubugan mbah.” Satu alamat yang tak tercatat di kantor BPS, dan tentu saja jangan harap yang namanya BLT bisa tersalur ke sana.

Meskipun mereka tinggal di gubug, tapi hati mereka tak semiskin penampakan dhohirnya. Hanya dengan beberapa kali simbah menggratisi biaya berobat mereka, sambutan mereka pada simbah cukup luar biasa terasa. Bahkan anjing penjaga rumah mereka yang suka njegogi orang lewat, tak pernah sekalipun mau njegogi simbah kalau simbah lewat situ. Mantabh tenan….

Itulah sedikit gambaran kehidupan kaum kere proletar. Kebanyakannya nrimo. Saat bengsin harganya naik, tak ada dari mereka yang terpikir buat demo. Biaya buat demo tentu saja mahal. Daripada beli kain buat mbikin spanduk, mending munguti bekas spanduk itu buat mbikin baju. Yang kebanyakan koar-koar demo di jalan itu kebanyakannya adalah kaum yang masih bisa beli nasi buat energi koar-koarnya. Masih gableg duit buat nyewa sound systemnya, masih punya dana buat beli atribut spanduknya.

Lik Kerto Bongol yang sebelum bengsin harganya naik sudah hidup di bawah garis kemiskinan sering geleng-geleng kepala saat melihat aksi demo di tipi.
“Janjane njaluk opo tho wong-wong kuwi?” (Sebenarnya minta apa tho orang-orang itu?)

Tahun lalu, simbah mampir ke Rumah Sakit tempat simbah co-ass dulu. Banyak sekali perubahan. Dan tentu saja kasta co-ass ala simbah dulu sudah tak ada. Gak ada lagi co-ass proletar yang terikat dalam persaudaran The Fellowship of Kere. Gak ada lagi co-ass nglantrak dan pengintip menu ndog glundhung. Mengapa? Karena sekarang hanya ada satu kasta, yakni kasta borju. Sistem pendidikan kedokteran dengan sederetan biaya yang musti dibayar, hampir tak bisa meloloskan seorang kere masup dalam jajaran mahasiswa kedokteran. Kasta kere punah oleh seleksi alam yang dengan kejamnya membabat ekosistem mereka….

Kamus Pitutur 0.1 Beta :

1. Njegogi    = menggonggong
2. Nglantrak = terlantar

Powered by ScribeFire.

Yang Membantu Simbah


Pingin Tau setiap simbah posting baru?
Kenapa tidak Langganan RSS simbah aja,
atau lewat email kawat di form ini
di jamin cespleng


15 Comments

Comment oleh Diah #
27 May 2008 at 8:55 am

Wah bisa aja mbah…mengenang masa muda dulu .:)…coz sekrang apa masih mudaka?????? :P

 
Comment oleh Djigoer #
27 May 2008 at 9:25 am

mbah ditunggu lanjutan trilogy Lord of The Kere-nya

 
Comment oleh iway #
27 May 2008 at 10:50 am

kalo sekarang masuk dokter borju apa dokter proletar mbah? eh mang ada dokter proletar ya hehehehhe

 
Comment oleh Jauhari #
27 May 2008 at 10:50 am

Jan jan.. sing sugih tambah sugin sing mlarat tambah ??????

 
Comment oleh mina #
27 May 2008 at 1:08 pm

ternyata di mana-mana jatah makan koass tuh sama ya. nasi, telur rebus, dan sesuatu cairan berwarna coklat yang kami sebut efusi pleura hehehehe… tapi dimakan juga :p habis kalau koass kan apa-apa enak sih.

 
Comment oleh sibolang #
27 May 2008 at 4:13 pm

he..he..solusinya hayo mangan jamangah mbah..urunan seribu-seribu lima orangan dah dapat nasi satu nampan plus sayurannya..hayo itu sama sajo jaman inyong kuliahan..

 
Comment oleh dyt #
27 May 2008 at 8:01 pm

Itulah mbah… Uang memang bukan segalanya… tapi tanpa uang kita kan punah…

 
Comment oleh ario saja #
28 May 2008 at 12:02 pm

yo mesti to mbah… dimana-mana sekarang Doter iku bukan orang yang pinter tapi orang yang banyak duwit

 
Comment oleh tingklithik #
28 May 2008 at 3:40 pm

Wah kita kok kastanya beda ya mbah,bukan proletar tapi kasta sudra hehe…(padha wae!!)
Mbakyu,cairan coklat itu bukan efusi pleura, tapi isi kista Bartholini hehe…
Moga2 dokter proletar juga dapat BLT…Amiiin.
Hidup ndhog glundhung coklat!!!

 
Comment oleh joko #
28 May 2008 at 3:58 pm

soal anjing saya jadi inget :D pertanyaan saya kemarin nyampai mboten mbah :-?

 
Comment oleh pitik #
28 May 2008 at 5:00 pm

mbah, gandalf-e sopo?saurone mesthi dokter senior sing killer yo?wakakaka

 
Comment oleh tonggone dokter #
28 May 2008 at 5:25 pm

mungkin kalo pas co ass bisa ada borju dan proletar, tapi pas wis dadi dokter tenan..halah sing proletar berkurang babar blas…borju tambah akeh dan kadang lali karo asal usule…kere munggah bale!

sory….habis kalau koass kan apa-apa enak sih…
jadi kalo udah gak koass wis gak enak?

Maaf mbah kalo mengganggu….
Semoga makin banyak dokter sing gak lali karo asale.

 
Comment oleh tonggone dokter proletar #
28 May 2008 at 5:47 pm

saat co-aas masih ada kasta yang begitu mencolok, tapi setelah jadi dokter beneran…seakaan kasta itu sudah tidak ada..sudah bergeser ke satu kasta …borju.
nggak semua dokter begitu …namun ada juga yang jadi seperti kere munggah bale…lali karo asale.

ngapunten nggih…bisa dilihat dari kalimat ini :

ternyata di mana-mana jatah makan koass tuh sama ya. nasi, telur rebus, dst….. tapi dimakan juga :p habis kalau koass kan apa-apa enak sih.

lha apa kalo pas jadi ko ass itu telur rebus ama nasi plus sayur itu enak …kemudian pas jadi dokter semua berubah NGGAK ENAK, NGGILANI, MBLENGGERI, MBLENEKI…???

mbah dokter ngapunten sepindah malih…kok bener kalo kaum proletar itu nrimo ing pandum…

maaf dan terima kasih

 
Comment oleh tonick #
28 May 2008 at 5:49 pm

hehehehe…pancen pasukan proletar dari dulu bisa bertahan dengan segala keadaan kok mbah

 
Comment oleh Dave Rerimassie #
19 Jun 2008 at 4:16 pm

Kilas balik yang menyentuh. Terutama bagi saya, yang meskipun tidak pernah co-ass (karena ndak pernah sanggup sinau di FK), juga mengalami masa-masa “pengkastaan” di tempat belajar. Ironisnya, anak-anak saya setelah lulus dari “Mall High School”, sekarang satu sudah lulus dari “Mall University” dan satu lagi sebentar lagi juga akan lulus dari “Mall University” yang sama. Keduanya tempat belajar yang terletak dekat mol supermewah di Jakarta yang tentu saja cuma mengenal “satu kasta”. Maunya saya sih mereka paling gak mencoba mengenal “kasta yang lain itu”, Bukan cuma kasta borju. Tapi tekanan kanan-kiri untuk mengadopsi hanya “satu kasta” sangat kuat dan sebagai orang tua yang mungkin memang tampaknya “kurang baik” dan kurang “determined”, rasa-rasanya saya koq sudah mulai “nrimo” bahwa hanya ada “satu kasta” dan yang lain silakan minggir….Hiks :(

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Subscribe to comments via email
Your Comment (smaller size | larger size)

Smileys:
:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.