Teman
Pada kesempatan kali ini simbah mau sedikit menjelaskan perihal kalimat di bawah kata “Pitutur” yang belakangan muncul, seiring dengan dirombaknya dapurane blog ini. Karena rupanya kalimat itu ditangkap dengan beragam makna.
Lengkapnya kalimat yang simbah nukil itu adalah sebagai berikut :
Teman itu hakekatnya ada 3 macam, yakni :
1. Temanmu
2. Teman dari temanmu
3. Musuh dari musuhmu
Sedangkan musuh itu juga ada 3 macam, yakni :
1. Musuhmu
2. Teman dari musuhmu
3. Musuh dari temanmu
Simbah dapati kalimat ini sebagai ucapan shahabat sekaligus menantu Nabi saw, Ali bin Abu Thalib r.a. Dan kalimat yang tertulis di bawah nama blog ini sebenarnya mengandung satu makna, yakni
“TEMAN”. Mengapa simbah memilih kata teman untuk satu blog yang bertema pitutur?
Pertama, karena ini hasil oprekan tak sengaja Kang Nurudin, yang biasa simbah panggil Bang Johar. Beberapa waktu sebelum Pitutur ini dirakit, simbah nggedabrus dengan cukup intens dengan bang Johar hingga akhirnya membahas perihal teman itu. Lalu tiba-tiba besoknya kalimat itu ditulis begitu saja oleh bang Johar. Ya sudah simbah biarkan saja. Toh tak mengganggu kesehatan, ha wong tulisan itu rupanya tak muncul di tampilan pertama blog ini.
Kedua, karena yang namanya pitutur itu sudah selayaknya akrab di dalam kehidupan manusia, bahkan menjadi teman seumur hidupnya. Pitutur alias piweling alias nasehat alias tadzkirah sangat dianjurkan dihidupkan dalam keseharian kita. Dan pasti bermanfaat meskipun sederhana. Karena perintah Gusti Allah dalam Kitabullah pun mengisyaratkan demikian, “Berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang yang beriman.”
Sebagai manusia yang lumrah, tentu saja simbah masih belepotan dengan banyak kekurangan. Diantaranya adalah kendala bahasa. Simbah merasa bahasa daerah simbah yakni jawa, menjadi pilihan simbah untuk memrocotkan ide-ide simbah. Karena banyak kata-kata yang memang tak bisa simbah temui dalam bahasa Indonesia yang bisa mewakili dengan pas ide-ide simbah. Satu contoh, bahasa Indonesia hanya memiliki kata memukul untuk mengganti kata keplak, antem, jotos, koplok, tapuk, bandem, tempiling, tonyo, jenggung, kampleng, tabok, saplak, ceblek, dan gablog. Tentu saja tiap kata itu memiliki citarasa yang berbeda. Akibatnya banyak yang akhirnya membaca postingan simbah dengan agak meraba-raba artinya, terutama bagi yang bukan orang jawa. Jangankan yang bukan orang jawa, yang mengaku asal jawa saja malah banyak yang tidak paham kata-kata yang simbah tulis. Mungkin karena kata-kata itu jarang dipakai lagi atau memang ada perbedaan logat dan istilah saja.
Dan karena blog ini isinya pitutur, maka cenderung akan banyak yang tersinggung. Bisa jadi karena simbah yang goblog dan salah dalam mituturi, atau bisa juga karena faktor lain. Untuk itu simbah minta maaf jikalau sudah banyak menyakiti hati panjenengan semua yang sudah bersusah payah meluangkan bandwithnya untuk mengunduh dan mengimbu postingan simbah.
Demikian sedikit penjelasan dari simbah perihal kalimat yang simbah pakai dalam tampilan blog ini. Semoga tidak semakin menjadi salah pemahaman dan pengertian.
hiks…ra dong malah mbah xixixi….
musuh dari musuhmu mungkin juga musuhmu juga gitu mbah? ato
halah… simbah bicara teman dan musuh dalam pengertian hitam putih kang… bukan full color..
sejauh ini bahasa simbah emang njawani banget, tapi ga terlalu medok kok
Hakekat teman yang ketiga itu agak ndak sreg mbah, karena musuh dari musuh bisa jadi musuh kita juga. Misalnya: musuh dari tukang copet itu tukang jambret, tapi keduanya tetap musuh kita.
Mengenai bahasa, saya setuju dengan bahasa campuran gitu, kesannya mengalir dari sumbernya, langsung dari oven
Tapi kalo komen saya lebih nyaman pake Indonesia saja, ndak nyaman kalo nggedabrus karo sing tuwek kok ngoko. (lha, wes nuwek-nuwekno)
Btw, emoticon kok diilangkan Mbah? wes kadung ngapalne akeh jare
teman dan musuh disini adalah di dalam hal haq dan bathil kang, bukan individu macem politikus yang tak mengenal kawan atau musuh, karena semua diletakkan dalam kerangka kepentingan
Iya Mbah, politikus kita memang banyak yang ndak tau malu. Dulu mendukung habis-habisan, tapi ketika ada kesempatan, balik menginjak-injak. Gitu kok mau nyalon jadi presiden lagi. Huh. *lho, malih muyeng-muyeng*
pokoke pituturane tetep saya tunggu mbah… meskipun tersinggung… itung2 bisa introspeksi diri gituh… biar gak ke bablasan….
Wah.. dapurane yg baru ini jan ciamik mbah.. dan soal singgung tersinggung sih nek saya ndak majalah.. lha wong jenenge ngaji, nek disengkak mbah yai yo direnungkan. Sekali lagi congrat atas renopasi rumah ini.
musuhnya musuh temanmu menjadi teman dari musuhmu sehingga temanmu memusuhimu…halah mumet aku…
tampilan barunya bagus Mbah. Bahasanya campur2 gitu kalo buat saya pribadi malah menyegarkan dan marai tuman membacanya. Ditunggu terus pitutur2 barunya Mbah, suwun…
Bener mbah, inyong salah paham soal “musuh dari musuh” atau “musuhnya musuh” itu.
Tapi, kerepku mekaten mbah; Pokoke ora nana sing jenenge musuh. Kabeh dadi batir dan diperlakukan sebagai sedulur. Sing penting tetap ngati-ati, tur bijak. Soal setuju atau meniru, ora kudu. Toh setiap kita bisa memilih dan memilah laku baik dari laku buruk. Kalau soalnya kita tidak bisa menghapus kata “musuh” dari kamus, kita batasi saja penggunaannya hanya untuk (berarti) “mitra”. Jadi, seperti musuh dalam badminton, catur atau penekan pucang yang sebenarnya teman semua.
Soal bahasa, aku cocok banget dengan gaya Si Mbah. Dengan bahasa gado-gado, rasanya tambah mbleketaket; n nylekamin di lidah.
Cuma, kadingaren, tulisan si Mbah (yang berjudul “teman” ) kali ini kok kurang mengalir. Kenapa ya Mbah?
tulisan ini sekedar klarifikasi kang
Makanya bahasanya kaku, minus istilah jawa. Semacam pemberitahuan lah. Namun tetep simbah sisipi pesan…
Lagipula simbah barusan sembuh dari mencret akut, makanya masih rodo aras-arasen….. 
sopo sing golek mungsuh???
Nabi saw melarang kita mencari mungsuh kang, namun juga melarang kita lari kalo bener2 ketemu musuh. Jadi musuh jangan dicari, tapi kalo ketemu ya dihadapi… makaten kawulonoknon..
gimana musuh nyah tiba2 nyrang
dan kita di bacok nyah
saya jadi inget waktu itu jd bingung jg, untung mbah dipo OL, lsg Kroscek untuk Cek & Ricek akhirnya simbah Kabar-Kabari arti sesungguhnya
.
masalah bhs, emang kadang ada sebuah kata yang bila di Indonesiakan kurang mantab. Semacam kalimat “kunduran truk” yg padu padan dalam bhs Indonesia tidak ada yg pas.

Wah tampilane tambah nggantheng mbah saiki. Soal bahasane yo wis ben koyo biasane wae mbah, yen perlu ditambahi kata katane sing wis rodo langka, soale yen ora campur campur bahasane mengko dikiro dudu mbak Dipo, iso dikiro pembantune sing nulis. opo ora kojor mbah.
Sik sik kapan kapan aku njaluk di ULAS jeneng MBAH DIPO iki seko endi… aku lali mbah…
Soale neng tipi, ono iklan WAFER opo kae lali.. Iklanne settinge ono ndek BANK trus jenenge BANK DIPO
genah wis tau diulas ngono kok sam… di emperan sini . Kalo Bank Dipo itu dudu aku, kalo dari namanya itu orang Betawi… lha pake Bank… tapi kalo Lik Dipo, Pakde Dipo, Eyang Dipo… genah wong jowo. Kalo Bang Yos kae Betawi opo Jowo ra jelas…
Lha lek musuhe lari Mbah..? kita yo lari mengejar musuh yg lari tadi nopo mboten..?
no comment
[*lg puyeng*]
waduh…simbah nglungsungi, tambah ketok enum (diundang om bisa juga
)
gak rugi mbah nemu blog pitutur, secara lamat-lamat dan nggak memaksa byk manfaat yg bisa diambil, halah kog formil ngene bosone seh.
nek musuh dalam selimt piye mbah? opo yo musuh pisan?
teman apa demen
blog pituturnya mbah dipo memang mantab ga ada duanya deh
blok pitutur cen enak di waos ugi mentes insyaallah manpangati kagem pamerso sedoyo. amiiiiiiiiiiin
:neutral: salam kenaldari saya pengguna baru
Ya….saya orang Sumatra emang rada kesulitan mengartikan banyak kata di blog ini tapi tetap nekat pake ilmu terka mudah-mudahan nggak salah terka