Categorized | Mampir Ngombe

Sokeh? It’s Okeh…

Pertengahan tahun sembilanpuluhan, simbah dikejutkan oleh cerita salah seorang guru simbah yang menceritakan perihal Mie “insya Allah” Ayam. Kenapa disisipi kata “Insya Allah” di tengahnya? Hal ini tak lain dan tak bukan dikarenakan status kata Ayam yang dilekatkan setelah kata Mie itu meragukan.

Dalam satu kejadian yang diceritakan oleh guru ngaji simbah, salah seorang sohib yang biasa langganan Mie Ayam itu, dirisaukan oleh Mie Ayam langganannya yang biasa lewat tak kunjung tiba. Karena tak sabar menunggu, didatangilah rumah tempat tinggalnya. Setelah diketok dan dikulonuwuni beberapa kali tak menyahut, sang sohib mencoba menengok ke belakang rumah si penjual mie. Hwarakadah… tak dinyana dan disangka, di belakang rumah si penjual mie ayam tersebut bertumpuk beberapa puluh kepala tikus wirok. Dan ternyata si tuan rumah alias sang penjual mie itu sedang ngirisi daging tikus buat campuran tambahan daging ayam untuk menu Mie Ayamnya. Mantabhhh… (jika sampeyan lagi makan Mie Ayam saat mbaca ini, jangan mukok ngenggon/muntah di tempat).

Sebelum kejadian itu berlaku, sebenarnya para guru ngaji simbah sering mewanti-wanti agar mencari warung atau makanan yang jika berdaging diselidiki dulu kondisi asal muasal dagingnya. Jika tak berani menyanyakan ke penjualnya, maka kita disuruh mencari referensi dari sohib-sohib yang sudah mendapat info warung atau lapak mana yang jualannya sokeh. Kata sokeh ini bisa dimaknai sohih, atau bisa juga dimaknai “it’s oke”. Jadi kalau rekan sesama perguruan belum memberikan referensi atawa belum tahu menahu status kesokehan satu warung, lapak atau penjual keliling, maka kita tak berani ngemplok wal ngonsumsi di tempat itu.

Yang simbah ceritakan di atas adalah kejadian lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Di jaman repormasi yang hanya bisa menurunkan pak Harto ini, ternyata tim investigasi dari stasiun-stasiun tipi swasta lebih berani menguak kondisi acakadut perdagingan di tanah air. Daging masih merupakan lambang kemakmuran bagi bangsa yang masih agak kere ini. Maka bisa mengkonsumsi daging adalah impian kemakmuran bagi semua lapisan masyarakat. Pasar konsumen daging pun bertingkat. Mulai dari lapisan kalangan atas yang hanya mau makan daging hewan bule yang disembeleh dengan cara bule, sampai lapisan kalangan bawah yang mau makan daging apa saja asalkan judulnya daging.

Sang produsen paham pasar. Fakta menunjukkan, pasar terbesar adalah kalangan bawah yang cekak anggaran. Kalangan cekak anggaran ini lebih permisif terhadap semua jenis daging. Selain semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang sudah dihapal sejak TK, semboyan lain dari kalangan cekak anggaran ini adalah “Walau berbeda-beda, yang penting murah juga”. Jadi gak peduli apakah daging glonggongan, daging gonggongan, ataupun daging wirok, asalkan tak meneror isi dompet, disikat tanpa ampun.

Belakangan ini, di tanah Sumatera disinyalir beredar obat mengandung babi. Banyak orang terkaget-kaget, kok ya tega babi dicampur ke obat. Padahal jika sampeyan paham dunia farmasi, yang namanya babi itu sangat akrab dengan yang namanya obat. Sampeyan gak akan dapati obat yang melabeli kandungannya dengan kata-kata : mengandung congor babi. Padahal babi bisa berkeliaran di cangkang kapsul, larutan infus plasma expander, tablet, soft capsul, dlsb.

Dalam hal menyebutkan kandungan, Jamu lebih dituntut jujur daripada obat. Beberapa produsen jamu bahkan menyebutkan label halal dalam hal cangkang kapsulnya. Sedangkan dunia obat farmasi terlalu sombong untuk disentuh perihal zat-zat tambahan yang dicampur aduk ke dalam obat bikinannya. Obat hanya dituntut menuliskan zat aktifnya yang sayangnya juga masih tak semua pabrikan obat mau menuliskan zat aktif generiknya. Jangankan mau menuliskan zat tambahannya, zat utamanya saja gak mau nulis.

Hal ini diperparah dengan fakta bahwa sebagian besar pasien berpaham “yang penting sembuh”. Semua hal yang diawali dengan kata “yang penting…” menuntut tindakan menghalalkan segala cara. Cara gak penting, yang penting tujuan tercapai. Padahal Allah tak pernah mempedulikan hasil. Keberhasilan yang dituntut Allah selalu berkaitan dengan kualitas cara. Keberhasilaan adalah kualitas cara. Sejauh mana cara yang ditempuh berkualitas, maka itulah keberhasilan. Berkualitas maksudnya : sesuai dengan syareat.

Jika di level kere beredarnya Mie “Insya Allah” Ayam ini dialasani karena faktor ekonomi yang cekak, maka di level obat farmasi yang gak mau mencantumkan zat tambahan dan bahan campurannya mau dialasani apa? Ha wong genah pemilik pabriknya sugeh-sugeh orangnya. Takut miskin?

Yang jelas doanya orang yang ada barang haram di perutnya gak akan didengar. Simbah pernah ditanya, “Lha kalo kita gak tahu gimana mbah?” Simbah jawab, “Kalau sampeyan minum cairan yang ternyata baygon cair, padahal sampeyan gak tahu kalau itu baygon cair, kira-kira sampeyan keracunan gak?”

Powered by ScribeFire.

Share and Enjoy:
  • Lintas Berita
  • Digg
  • del.icio.us
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • BlinkList
  • LinkedIn
  • Live
  • Ma.gnolia
  • Pownce
  • TwitThis
  • YahooMyWeb
  • Print this article!
  • E-mail this story to a friend!

Pingin Tau setiap simbah posting baru?
Kenapa tidak Langganan RSS simbah aja,
atau lewat email kawat di form ini
di jamin cespleng



17 Comments


  1. Glodak… Kata kata kata terakhir langsung TEPAT SASARAN mbah…

  2. Djigoer Reply to this comment

    moco sik agi komen


  3. mbah…kok hora ono fotone..wenenhi wae, foto inyong di friendster inyong or di http://www.okebebeh.blogspot.com itu loh..pas lagi jadi model makan…biar nambah semangat pembaca..he.he..narsis kumat..

  4. semar Reply to this comment

    Assalamu’alaikum mbah, wah jangan2 doa kula dereng terkabul amargi wonten barang “kurang meyakinkan” katut ke eleg (bahasa opo iki) nggih mbah :d


  5. jadi kalo mau sholat di masjid, saya jugah harus menyelidiki dulu apa masjid ini hasil money laundring apa enggak ya mbah?


  6. haduhhh.. goleki obate we angel eram… muter2 sak kutho gak nemu obate.. opo neh sing enek label halale..? wehh..
    selak dut.. mengke pripun Mbah..?


  7. sama dgn beli ayam kentaki di pinggir jalan, sebelum beli pura2 aja mau beli sayap, kalo ga ada ya ga usah beli. entah hoax apa bukan, jualan kentaki tsb dari daging mikimos. so, mending bikin sendiri.

    pengalaman sejak pindah ke solo yang byk penjual masakan daging guk2 dan babi, membuat saya lbh hati2 utk jajan, lagi2 bikin sendiri. insyaallah halalan thoyyiban ;)

  8. wong ndeso Reply to this comment

    mbah trus nek ngono ngombe obate piye mbah ?

  9. djempling Reply to this comment

    :-??Wah, kalo gitu tak siap2 belajar bikin obat tradisionil wae ah…b-)


  10. mbah, koyone dadi wong ra weruh kok serba ewuh … :-w

  11. moenthy Reply to this comment

    alhamdulillah……..untuk mengatasi di bohongin daging
    udah 3 tahun ini aku vegetarian….!
    masalah obat….. paling banter suka ta ulek kencur , ta keprekin jahe….top top nya obat yg ada di tas ya cuma panadol…..insya allah nggak ada kandungan babi nya , pada dasar nya kita musti cerdik memilih makanan biar jadi sehat , ne sehat kan nggak butuh obat,iya toh…? makan yg haram doa kita nyangkut nggak nyampe2
    oalaaaah…pantesan berdoa pengen tajir nggak jadi2,
    apa dulu pernah makan yg haram….? astagfirllah….!


  12. nek ngono tambah ga genah bangsa indonesia ki.halah wong obat ko di campur babi…..trus campurane ki opo toh????buntute,congore,untune po bokonge??????? good luck mbah.

  13. Jingglang Reply to this comment

    Kalau sampeyan minum cairan yang ternyata baygon cair, padahal sampeyan gak tahu kalau itu baygon cair, kira-kira sampeyan keracunan gak?

    Baca itu kok hidup jadi tambah susah ya Mbah? Dulu saya pernah ngaji dikit. Ada kaedah fiqh yang kalo nggak salah berbunyi begini “al ashlu baqaa-u ma kana ‘ala ma kana”. Dari situ selama ini saya berkesimpulan asal label lapaknya itu “mie ayam” kita nggak bakal kena dosa makan haram walaupun sebenarnya itu “mie ayam wal wirok”. Tapi bagaimanapun juga saya mengakui bahwa orang yang lebih hati-hati punya maqam yang lebih tinggi.


  14. sekarang ini kalau mau bakso, lebih baik bikin sendiri aja. lebih mantap rasanya, dan lebih jelas halalnya, Insya Allah /:)


  15. hiii kok njujiki ngono yo, padahal aku yo duwe langganan mie ayam. tapi yok opo maneh masio gak weruh nek onok barang haram nang jerone wetheng paling2 yo bakal dientokno maneh neng septitank saben esuk:d

  16. de Reply to this comment

    wah endinge rodok nggantung ki mbah. nek babi kan gak marai keracunan koyo ngombe baygon Serius ki mbah aku kurang jelas :d


  17. @de: Lha nek sampeyan pas males ngibadah kae pertondho yen sampeyan keracunan barang2 karom budhe….

    Barang karom yen mlebu wetheng marai angel taat, lan marai gampang nglakoni maksiyat.. :)

Leave A Reply

Smileys:
:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



Sak Emploan

  • Ajax CommentLuv Enabled df82993325f26cd5ad448807e4ae1780
  • Add to Technorati Favorites
  • Add to Google
  • Subscribe in NewsGator Online
  • Subscribe in Bloglines
  • Powered by FeedBurner