Simbah lanjutkan poin testimoni yang cerdas :
3. Jika ingin menunjukkan bahwa bahan herbalnya yang berkhasiat, jangan melaporkan testimoni yang ternyata pemakaiannya dikombinasi dengan obat kimia sintetis.
Satu contoh kasus: simbah pernah kedatangan pasien mengeluhkan penyakit jantung. Dia berobat ke ahli jantung. Diberi obat lalu dikonsumsi dengan teratur. Setelah minum secara rutin selama 3 hari, dia bilang ke simbah belum ada perubahan apa-apa. Lalu dia pergi ke pengobatan alternatip. Dia diberi ramuan jamu herbal yang katanya ampuh buat ngreparasi jantung. Baru sehari minum katanya sudah baikan.
Simbah nanya, “Selama minum jamu itu obat dari dokter jantung masih diminum apa nggak?”
Dia jawab, “Masih mbah.”
Kasus seperti di atas tak bisa digunakan untuk memvonis bahwa obat dari dokter tak manjur babar blas, sedangkan herbalnya jos gandos khasiatnya. Karena seringkali satu terapi obat, membutuhkan waktu untuk mencapai hasil khasiat yang diinginkan. Sebagaimana kasus penyakit typus, pasien seringkali mengalami turun panas pada hari ketiga setelah diterapi. Jadi tidak langsung sim salabim panasnya turun, bahkan makan waktu sampai 3 hari. Ada pasien simbah yang katanya kena typus sudah 3 hari dirawat di RS belum turun panasnya. Setelah diberi jamu yang bahannya dari cacing, langsung turun. Sampeyan tak bisa mengatakan bahwa obat bahan cacingnya itu yang menurunkan panasnya. Karena memang terapi typus baru memberikan hasil setelah 3 hari.
Kalau ingin mengatakan bahan herbal dari pengobatan alternatip itu yang lebih berkhasiat, seharusnya obat dari dokter dihentikan. Lalu ambil jeda beberapa hari, barulah dikonsumsi herbalnya dan ditunggu khasiatnya. Hal ini akan menghasilkan testimoni yang baik dan bisa dipakai untuk modal penelitian lebih lanjut dari bahan herbal yang bersangkutan.
4. Kesembuhan harus terukur secara obyektif juga.
Jika penegakan diagnosa harus terukur, demikian juga manakala mengaku sudah sembuh. Kesembuhan haruslah terukur secara obyektif, bukan kesembuhan subyektif. Jika dengan konsumsi satu bahan herbal seseorang mengaku kankernya sembuh, kesembuhan dari kanker itu bukanlah dilihat secara subyektif saja. Haruslah ada satu tindakan biopsi ataupun scan ataupun pemeriksaan obyektif yang menyatakan bahwa kankernya sudah tak berbahaya lagi.
Seringkali pemakai herbal hanya menyatakan kesembuhan dirinya hanya dengan menggunakan kata-kata “sudah sembuh”. Sedangkan ukuran sembuhnya tak ada. Pernyataan sembuh yang baik harusnya melampirkan data-data pemeriksaan laboratorium pasca terapi yang bisa dibandingkan dengan hasil lab sebelum terapi.
Namun hal ini masih memiliki kendala. Penggunaan laboratorium masih dimonopoli oleh ahli pengobatan medis. Sedangkan kaum herbalis tak punya akses untuk memberikan pengantar bagi penilaian obyektif kesembuhan pasiennya. Untuk itu harus ada kerjasama antara dokter medis dan juga herbalis. Agar satu penyakit tegak diagnosanya dengan pemeriksaan obyektif, sekaligus kesembuhanya pun dinyatakan dengan pemeriksaan obyektif.
Kalo testimoni pengguna herbal sudah makin cerdas, ini akan memberikan modal yang bagus bagi ahli farmasi dan farmakologi untuk meneliti satu bahan herbal. Tentu saja akan dilakukan riset dan penelitian untuk mencari bahan aktif dan sekaligus mencari cara agar bahan herbal tersebut bisa dimasyarakatkan.
Sayangnya masih banyak ahli herbal yang seringkali justru bersikap memonopoli keahliannya. Yakni dengan cara menyembunyikan bahan apa yang ada di dalam ramuannya. Dia berprinsip :
“Sudahlah, jangan banyak cingcong, unthal saja jamu saya. Yang penting sampeyan bagas waras. Lha kalo isinya apa jamu saya, itu rahasia saya tho.”
Herannya sang pasien justru malah suka pada ahli herbal yang buka praktek dengan menanamkan prinsip demikian. Semakin akut bermain-main dengan yang rahasia-rahasia, semakin asyik mengkonsumsi jamunya. Apalagi kalo diumuki sama dukun herbalnya, “Ini herbal yang tahu cuma 2 orang di dunia. Satu saya sendiri. Yang kedua adalah guru saya yang sekarang praktek di Tibet sana.”
Lhaladalah, opo ra mangtabh..Mbuh dia dikasih ati celeng, apa uyuh kirik atau bahan hewani lainnya yang diklaim herbal gak masalah. Yang penting mak greng!!
Saran simbah, kalau ada ramuan kok ditutup-tutupi dan berkesan eksklusif dan rahasia harusnya kita makin curiga. Sayangnya kita hanya bersikap begitu pada obat-obat kimia sintetis saja. Padahal justru obat kimia sintetis sedang tertib-tertibnya menuliskan kandungan senyawa aktip di kemasannya. Sedangkan kalau bahan herbal kita permisif. Nggak ditulis apa isinya gak masalah. Akhirnya ada saja bajingan tengik yang memanfaatkan sisi gelap kebodohan konsumen herbal ini yang lantas mencampur bahan obat kimia sintetis ke dalam bahan herbal atau jamu. Ini karena saking permisifnya konsumen dengan apa yang namanya bahan alami sehingga gak mau tau bahan apa yang dikopyok di dalamnya.
Semoga tulisan berantai tentang Terapi Herbal dari simbah bermanfaat.
Seri Terapi Herbal
Salah Kaprah Terapi Herbal Bagian Pertama
Salah Kaprah Terapi Herbal Bagian kedua
Popularity: 50%



Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 




perdana
@Djigoer: istilah anyar…versi lain dari pertamax..
kalo macam² gurah itu gimana mbah??
Sangat bermanfaat Mbah, karena hal seperti ini melekatnya erat di masyarakat. Jauh sebelum medis datang, herbal sudah bertandang *maksa biar berima*
Yang saya tangkap dari artikel Mbah, herbal juga sama hebatnya dengan kimia sintetis, whichever cocok dengan kondisi pasien saat itu. Hanya sayang buzzword ‘herbal’ sering dijadikan label pemasaran dengan dibarengi penanaman pemahaman yang salah.
Self-control masyarakat memang kurang. Kadang wes ada yang mau ‘modern’ dengan berobat secara medis pada umumnya, namun desakan dari paman/pakde/mbah/mertua untuk menggunakan obat herbal yang entah beneran herbal atau tidak, atau beneran herbal tapi entah obat apa bukan, jauh lebih kuat dibandingkan inisiatif tadi. Akhirnya ngalah aja, back to nature.
Saya juga pro herbal, tapi gak sampe mania. Kadang risih juga melihat 1 obat herbal yang bisa menyembuhkan sederetan penyakit-penyakit top ten.
Dengan ulasan seperti artikel ini, selain mengajak kita untuk back to nature, juga untuk mengajak untuk go mature. *berima lagi*
Disclaimer:
Komentar ini tidak bersambung
Semakin lama,semakin penasaran…
mbah ! yg ke empat nanti ngulas salah kaparah terapi “jin” nggiih
tulisan berantainya mohon dilanjutkan mbah.. lebih cepat lebih baik..

mbahh.. komenku kok mlebu moderasi terus..?
@Joko: Gurah bukan herbal om..
Lagian simbah gak begitu paham, jadi gak bisa menjelaskan… 
@embuh: Embuh ki kok selalu masuk moderasi. Mungkin sampeyan dianggap virus spam yang mengancam..
@ondra: Terapi jin itu terapi kambing hitam… Insya Allah nanti dibahas juga
Tambah Mumet tambah Herbal Tambah Cepet Tambah Buyar
terapi uyuh gimana mbah…terus terapi banyu towo?
mbah, mbok mbahas tentang imunisasi dan vaksin… biar jelas.. apa dari babi atau dari apa…
Kayaknya perlu diterbitken UU mengenai Malpraktek Pengobatan Alternatip. Kasihan Korps Dokter (tentu dokter yang baik, karena seperti di bidang lain, ada juga dokter yang mungkin tidak memegang kode etik kedokteran) sering kali sudah bekerja sesuai SOP tapi krn ndelalah memang kondisi pasien yang sudah sangat parah tidak tertolong, di cap malpraktek.
Seperti biasa Mbah, menunggu artiel gayeng lainnya
*ISDI* mode on
Notes : ISDI = Ikatan Suami Dokter Indonesia
Mbah, aku yo mlebu moderasi terus je..
Nek lafazh “Innal habbatas saudaa’ syifaa-un likulli daa’” itu pemahaman yang benernya bagaimana Mbah? Pernah baca paparannya Kanjeng Syaikh Yusuf Al Qaradlawi kalau nggak salah beliau bilang kaum muslimin harus punya semangat tinggi untuk sehat dan mengupayakan penyembuhan. Begitu saja. Pripun Mbah?
untuk herbal jenis lain udah pada paham mbah…. tapi kadang dari dokter jga kasi saran tambahan buat konsumsi herbal.. yang sering dipasarin model MLM… piye mbah…
…
Herbal vs Non Herbal bin Obat Dokter, Tradisional vs Modern, Tusuk Jarum vs Tusuk Injeksi, Jamu Gendong (Tak Gendong Kemana-Mana …. Mbah Surip) vs Obat Resep etc etc


Bagaimana kalau saling melengkapi, Jamu Palsu banyak, tapi yang tidak palsu dan baik lebih banyak lagi. Dokter mal praktek juga tidak sedikit Dokter yang luar biasa ahli juga banyak …..
Rakyat sebelum ada dokter dan obat2an modern pakainya ya apalagi kalau bukan jamu ne mas jamu neee …..
Tapi begitulah dunia bisnis …..
Persaingan selalu ada, semoga bisa bersaing sehat …. kan begitu mbah ……
Mbah Dipo : Kalo sampeyan baca dengan lengkap, justru di tulisan ini simbah menawarkan konsep saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Sedangkan urusan bisnis, biar dibahas sama ahlinya. Monggo disimak lagi dari seri pertama sampai ketiga. Jangan sepotong2 lah mbacanya.
mbah… postingane kok kayak emosi ya? mbah sekarang memang produk kesehatan alami sedang berkembang. akan ada salah satu suplier produk kesehatan akan membangun tower alias kantor gedung tinggi 26 lantai pada 2010, kok kaya tenan ya mbah suplier iku…
Di bidang dunia herbal (berkaitan dengan efek samping), ada satu teori yang namanya SEES = Side Effect Elliminating Substances, teori itu berbunyi sebagai berikut : suatu tanaman yang mengandung berbagai macam zat aktif (dan memiliki khasiat positif dan negatif), apabila dikonsumsi secara berbarengan (misalnya seluruh daun), maka akan membuahkan khasiat yang saling menetralkan.
Jadi misalnya air tebu (yang produknya berupa gula, tidak baik untuk penderita DM) apabila si penderita ingin minum manis, boleh minum air tebu (tapi jangan gula, yg notabene dari tebu) karena di dalam air tebu terkandung senyawa Saccharant yang bersifat menurunkan gula darah.
Demikian juga misalnya daun teh mengandung kafeina (stimulansia, menaikkan tensi) sekaligus mengandung pula katekina (penurun tensi), shg minum teh tidak berakibat tensi naik…beda dg minum kopi yg hanya mengandung kafeina saja.
Teori ini tidak bisa berlaku di obat sintetik, karena obat sintetis selalu diperlakukan sebagai obat murni.
Kesimpulannya : Obat herbal efek sampingnya bisa diperkecil krn efek saling menetralkan itu, sedang obat sintetik tidak ada fenomena “saling menetralkan” itu, sehingga efek sampingnya lebih besar.
[...] Seri Terapi Herbal Salah Kaprah Terapi Herbal Bagian Dua Salah Kaprah Terapi Herbal Bagian Ketiga [...]
Ga sido komentar lahh, sajake sudah lengkap komentar2 nya. Kulo Rek gambar kucing ” NDEREK WONTEN WINGKING” Mawon……………
infonya sangat membantu saya agar lebih hati hati dalam berobat. Tank
selamat yg dapat prediksi dari kami cuman pulsa>100 di>085278108310
mangstabzz mbah..
Lagi deg deg dhierr amargi si mbok tak kunjung membaik, buka2x dokter google, berharap ada alternate..
Eh nemu yg herbal2x, jdny obat dokter tak tambahi temulawak+kunyit, moga2x ga kontra dan malah berefek buruk : )
Tulisan si mbah ini menghibur dan berilmu ya ^ ^ lanjutkan
Mantep mbah artikelnya…. izin nyimak..
Yen aku percaya karo herbal made in pak mbok. Isine jelas, kunir, asem, suruh ditambah madu.