Racun Hedonis
Setidaknya ada 5 keluarga yang selama ini bekerja di perusahaan kecil simbah, dengan penghasilan per bulan berkisar antara 1 hingga 1,4 juta. Angka sebesar itu bukanlah apa-apa jika dibanding dengan jumlah pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk tinggal di Jakarta. Maka tak heran jika mereka sampai saat ini masih istiqomah ngekasbon pada perusahaan yang nantinya ditutup dengan potongan gaji mereka.
Ada yang menarik dari perilaku pengeluaran para buruh itu. Beberapa bulan lalu simbah menawarkan HP pada mereka untuk komunikasi lapangan. Simbah menawarkan bantuan dengan kisaran 200 hingga 300 rebu ripis buat membeli HP CDMA atau kalau mau GSM bekas. Saat simbah tawarkan pada mereka, simbah kaget dengan jawaban mereka…..
“Pak, kalau HP yang ada MP3 dan kameranya itu berapa ya? Saya mau yang itu saja….” Kata salah seorang pegawai yang berposisi sebagai sales. Glodaak..!! HP dengan kriteria yang sales maksud itu, saat itu harganya mencapai satu bulan gaji mereka. Bukan simbah gak mau ngasih, tapi apa yang dimaksud sudah melenceng dari tujuan semula. Simbah bermaksud dengan adanya HP komunikasi lapangan jadi mudah. Jadi sekedar maksud fungsional saja, mengingat gaji pegawai yang kecil.
Beberapa waktu sebelumnya, seorang kawan simbah kebobolan rumahnya oleh pembantu rumah tangganya. Duit sekian juta ilang. Rupanya ditilep oleh si Denok yang ngebet punya HP buat nggedabrus ngalor ngidul. Karena si Denok masih termasup kalangan gedibal pitulikur yang mlarat ngempet, diampunilah dosanya. Namun ternyata blunder masih berlanjut. Diawali dengan ketakutan salah seorang anak dari kawan simbah yang saat malam-malam kencing ke mbese, dia mendengar bunyi tawa cekikikan seorang wanita bak kuntilanak dikitikin. Misteri suara tawa cekikikan wanita tengah malam itu terungkap, di saat sang kawan menerima print out billing tagihan telepon bulanannya. Tertera tagihan dua juta ripis lebih. Satu jumlah yang membuat kaget, mengingat mereka jarang memakai telepon rumahnya. Usut punya usut ternyata suara cekikikan tengah malam itu adalah suara si Denok yang tengah asyik nggedabrus pakai telepon sang juragannya. Sekali pakai tagihannya bisa nyampai ratusan rebu ripis. Kali ini si Denok tak diampuni. Melarat, gedibal pitulikur, tapi maunya hedonis.
Tiga hari lalu simbah mengangkat tukang cuci baru. Seorang wanita dari kalangan yang terbuang. Konon anaknya tiga. Yang sudah simbah lihat baru satu, yakni anak yang kedua. Seorang anak kecil dengan pakaian lusuh, dengan ingusnya yang khas yang selalu bergelayut. Anak pertamanya katanya sudah SD kelas 4. Sedangkan yang membuat hati hampir meledak adalah kisah anak ketiganya. Saat dia hamil anak ketiga, dia gak punya duit. Ditawarlah anak yang masih di dalam kandungan itu oleh satu keluarga yang konon belum dikaruniai momongan yang tinggal di Tanjung Priok. Sang ibu mengiyakan. Anak ketiga yang berjenis kelamin perempuan itu sekarang sudah berujud televisi kecil yang metangkring di kontrakannya, serta uang tiga juta ripis dan biaya perawatan kehamilan dan persalinannya sebagai tukar gulingnya. Mengingat simbah juga masih punya momongan berumur baru setahun, simbah mau nangis mendengar kisah sang ibu buruh cuci itu.
Simbah gak habis pikir, apa enaknya nonton tipi jika saat nonton tipi itu lantas terkenang si anak yang saat ini ditangan orang lain akibat ditukargulingkan dengan tipi itu. Belum lagi jika mengingat adanya jaringan penjual manusia yang berkeliaran mencari mangsa.
Herannya lagi, respon yang muncul pada tetangga kanan kiri adalah respon yang kurang baik. Mereka memandang rendah wanita yang terbuang itu. Sehingga yang tadinya banyak yang mempekerjakan wanita itu, sekarang hanya tinggal satu yang mau. Memang perbuatan menjual anak itu bukanlah hal yang baik, tapi simbah kok melihatnya bukan dari perbuatannya itu. Tapi lebih kepada keseluruhan aspek, dimana sebenarnya si ibu itu juga korban.
Saat simbah bertanya berapa tarif mencuci sebulan, dia menjawab “Kalau mencuci dan setrika, 300 ribu pak. Kalau mencuci saja 150 ribu,” kata ibu itu menyebutkan jumlah angka yang nilainya senilai dengan sekali kongkow di satu rumah makan di Jakarta. Jumlah itu dicapainya dalam waktu sebulan nyuci.
Si Denok, si ibu dan juga salah seorang sales simbah itu merupakan korban gaya hidup. Mungkin kalau cuma sekedar miskin saja, mereka sudah biasa. Karena dari sejak kecil mereka sudah mlarat ngempet. Tapi saat mereka tinggal di Jakarta, pahitnya kemiskinan makin terasa dengan adanya gaya hidup ala Firaun dan Qarun yang berseliweran di sekeliling mereka. HP dan televisi mungkin bukan barang yang urgen untuk mereka miliki. Namun karena itulah yang mereka lihat tiap hari ditenteng orang kaya dan dimiliki orang borju. Dan dengan menenteng serta memiliki barang-barang tersebut, setidaknya mereka sudah mencicipi sensasi menjadi kaya. Dan barang-barang itulah yang wajib bin fardhu ain harus dimiliki saat pulang kampung lebaran nanti, untuk menunjukkan pada orang di kampung bahwa di Jakarta dia telah sukses.
Orang-orang miskin saat ini benar-benar kehilangan pegangan dan partner. Dulu masih ada kyai atau ustadz yang mau mengobati kepahitan hidup mereka dengan wejangan yang empuk eyup dan menyejukkan. Namun jebulaknya dibalik wejangan empuk eyup dan menyejukkan itu, si kyai dan si ustadz pun rupanya juga bergaya hidup tak beda dengan si Bajirut sang juragan shabu yang rajin ndugem.
Beberapa ustadz yang kehidupannya disorot, dengan terang-terangan menunjukkan bahwa hidup mereka sudah makmur. Punya ini dan itu. Sambil menunjukkan apa yang sudah mereka punyai, mereka bercerita dengan penuh nada nostalgia bahwa dulunya mereka melarat. Makan susah, minum pun gelisah. Akhirnya dengan penuh perjuangan yang gigih, sang ustadz pun terentaskan dari neraka kemiskinannya. Maka sudah saatnya sekarang mengenyam kesuksesan. Kesuksesan adalah hidup cukup. Hidup cukup yang dimaksud adalah kaya. Cukup buat merayakan ulang tahunnya di cafe remang-remang dengan makanan seharga gaji nyuci sebulan.
Jika sukses hidup menurut ustadz atau kyai adalah hidup cukup dan turah mblasah, dan bukannya kesuksesan menghantarkan umat menuju kepada hidup jujur, kerja keras, akhlak karimah, kesederhanaan dan sifat terpuji lainnya, maka satu-satunya harapan bagi orang miskin untuk mengadu pun punah.
Racun hedonisme sedang merambah ke semua lini. Ustadz dan kyai pun kena juga. Satu-satunya harapan adalah mencari partner yang benar-benar partner. Gaya hidup yang dicontohkan suri tauladan uswatun hasanah Kanjeng Nabi saw adalah hidup yang sederhana. Sayangnya kebanyakan para pewaris Nabi, yakni ulama, hanya mewarisi hafalan sabda-sabdanya yang lantas dilantunkan macam tape recorder. Sedangkan gaya hidupnya masih mewarisi gaya si Bajirut, dengan maksud dan tujuan hidup yang tak beda. Tapi simbah yakin, itu gak semua. Hanya saja mencari perkecualian memang bukan pekerjaan yang mudah.
Powered by ScribeFire.

















Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 








kaping pisan
/
mesakne tenan bangsaku iki.. jan bener diganti dadi Republik Ndeso wae..
Mana Peran Negara???????????????
menjadi miskin memang gak enak tenan…makanya banyak yg pingin merasakan “sensasi menjadi kaya”…dan karena namanya “sensasi”, tentu cara mendapatkannya pun “boleh” menghalalkan segala cara, termasuk nipu dan nyolong…
dan ngomong-ngomong soal “peran negara”, memang kayaknya gak bisa semua harus diselesakan oleh si “negara” ini…
tapi menurutku pejabat negara sungguh keblinger ketika ia membenturkan “orang kaya” dan “orang miskin” ketika memutuskan utk menaikkan harga BBM….
orang miskin itu sudah susah tanpa harus dibentur-benturkan dengan orang kaya, jadi perbuatan “membenturkan” keduanya utk membenarkan alasan kenaikan BBM itu sungguh anarkis….
tugas si (pejabat) negara adalah membuka kesempatan bagi semua warga untuk menjadi kaya, bukan menjadikan mereka semua kaya, apalagi mendorong sikon sosial ke arah anarkisme.
inyong soyo suwe moco tulisane sampean, dadi miris ati inyong mbah..
wah.. wah.. aku yo wis keracunan kieh…
gimana nggak keracunan , wong banyak penyebar racun , selain iklan ternyata orang2 sekitar kita pegang peran utama.
nah si noni tadi nya jujur pol… tapi liat anak majikan masih kelas 5 udah punya hape yg bisa bikin pilem….jadi nya
punya keinginan intuk memiliki , dengan cara apa pun dia lakukan , angan2 nya nanti ne wis punya hape yang bisa bikin pilem mau di bawa kekampung….temen maen si noni jadi ngiler….setalah ada gambar nya di hape si noni.
dari satu menjadi tiga lalu menjadi tujuh , ahir nya banyak deh yang keracuna…mula2 keracunan hape ,
terus meningkat dan meningkat ke yang lebih wah lagi , mereka nggak peduli ini halal atau haram , yang penting aku bisa seperti mereka, yang penting aku punya barang yang seperti di iklan itu titik.
life style dan racun hedonis kadang yang membuat urat malu kita terputus….
mari berbenah Mulai dari yang kecil mulai dari diri sendiri mulai dari sekarang
iyai… kl untuk beli hape kenapa kok uang spt tiada artinya. padahal kal dibelikan beras bisa untuk makan berbulan2…
Jadi miskin itu menyakitkan Mbah, at least di dunia ini.
Masyarakat kebanyakan sudah bosan menjadi miskin, diinjak dan dipameri bondo donyo terus-terusan.
Memang benar, target hidup sekarang lebih pada isi perut dan gengsi.
*menyindir diri sendiri*
Eh, sampun dangu (maleh) mboten sowan, lha kok genti domain toh.
*update RSS reader*
gak jadi ganti hp ah… malu sama simbah…
padahal tadine aku mau ganti hape lebih apik..

mandan gak jadi lah
mbah nek hp jatah kantor piye mbah …iso jeprat jepret gratis lagi…kekekekekek
madep ngalor racun, madep ngidul racun. dimana sih space yang ndak ada iklannya, semua ruang yang berpotensi menjadi iklan ditempeli iklan konsumtif. “Endonesah masih dalam taraf berkembang” begitu katanya, tetapi hah kok yang ditawarkan baang - barang hedonis itu yah ??!
oallah….jangan2 si
ryan jadi begitu juga karna keracunan hedonis….!
kontrakan nya sebulan harga nya sama dengan gajih kopral jono .
ne banyak yang begini , jangan salah kan ibu mengandung ya mbah…..?
trus…. ada apa sih semua ini ? krisis ekonomi ato krisis spiritual mbah , bingung …!
saya terkesan dg quote yg dibuat om bre-redana di kolom kompas 2 minggu y.l. “war kills man. luxury kills mankind. at once, it kills the body and the soul”
hedonis=kehidupan luxurious to lak an mbah?
HPku saja cuma 300rebu
sudah kapok beli HaPe mahal, lha pada akhirnya cuma dipake buat nelpon sama eSeMeS
“
Wah, ini kok persis seperti yang aku alami ya mbah, masalah hape. Karena kita tau napasnya dia, dikasih alternatip hape low-end (baca; bisanya nelpon + sms + radio), eh, katanya kalo pas di lapangan inget anak kan kita bisa liatin poto anak yang dihape. Alasannya mantep bener ya… Dikasih tau efek finansialnya dia bisa berbulan2, tetep aja ngeyel. Begitu hape dah dibeli, dipegang cuma 2-3 bulan, dilego lagi… Lha tinggal nyisa hutangnya, kerasa sampai berbulan2 kemudian…
Tapi gaya hedonis emang nyakot ke semua orang, gak peduli seberapa kuat napasnya, kalo dah kena hanya masalah waktu.
bondo ra digowo mati yo mbah
wah2…

klo yg nama ne hedonisme emg gak bisa ato susah bwt dihindarin !
manusia emang rakus , maklum punya nafsu..
yg terbaik yg bisa kita lakukan adalah mempertebal iman dan taqwa kita pada Yang Maha Kuasa agar kita senantiasa memperoleh jalan yg benar dan lurus !
wah.. marakke isin neng awakku dewe ijek seneng katutan hedonis, angel pancenan…
mbah… mungkin yen awake dhewe sing tuwo2 iso ngempet


sing angel kuwi nyegah anak2 ben ora dadi korban iklan.
kaya anakku saben nang tv ono iklan mesti ngomong “pa besok belikan itu ya!!!”
durung maneh nang sekolah (padahal isih TK) ora sing tuwa (sing padha ngeterake anake) orang sing enom (konco2ne anakku) sing diomongke bab bondo donya…