Puasa Arofah Bareng Saudi?
Polemik kapan dilaksanakannya puasa Arofah memang sedang rame-ramenya. Jika mendasarkan kepada beberapa fatwa ulama yang memfatwakan bahwa puasa Arofah dilaksanakan sesuai wilayah hukum dan sesuai keputusan pemerintah setempat, maka puasa Arofah tidak harus selalu bertepatan dengan 9 Dzulhijjahnya Saudi (Mekkah).
Pertanyaannya, apakah puasa Arofah itu harus bareng dengan tanggal 9 Dzulhijjahnya Saudi?? Sebagian muslimin berpendapat demikian. Mengapa? Karena mereka mendasarkan bahwa puasa Arofah itu harus bertepatan dengan dilaksanakannya wukuf di padang Arofah. Bisakah itu dijalankan oleh muslimin di seluruh dunia, dan haruskah pas tanggal 9 Dzulhijjahnya Saudi??? Marilah kita bahas.
Namun sebelumnya, kita harus paham dulu kapan dilakukannya ritual wukuf tersebut. Sebagian ulama sepakat bahwa waktu wukuf yang disunnahkan dan dicontohkan Nabi saw adalah sejak tergelincirnya matahari, sampai terbenam matahari. Namun sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Bin Baz, waktu wukuf dapat juga dilakukan dari sejak terbit fajar tanggal 9 Dzulhijjah, sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Sehingga menurut beliau, durasi waktu wukuf tersebut adalah 24 jam.
Dari kedua pendapat yang menjelaskan durasi waktu wukuf tersebut, kita bisa melihat adanya 2 kemungkinan berkaitan dengan puasa Arofah.
Kemungkinan Pertama : jika durasi waktu wukuf adalah dari sejak Dhuhur sampai matahari terbenam (Maghrib), maka pendapat yang mengatakan bahwa “Puasa Arofah HARUS dilaksanakan bertepatan dengan dijalankannya wukuf di Padang Arofah” adalah “Hal Yang Mustahil” bisa dijalankan oleh umat Islam di seluruh dunia. Mengapa? Karena Durasi wukufnya hanya setengah siang, alias sekitar 6 jam doang. Belahan bumi macem propinsi Papua atau Negara Papua Nugini gak akan pernah bisa menjalani puasa Arofah. Mengapa? Karena selisih waktu mereka dengan pelaksanaan wukuf adalah 6 sampai 8 jam. Jadi saat di daerah papua ini matahari tenggelam, di Padang Arofah baru masuk Dhuhur, dan wukuf baru mulai. Maka seumur hidup muslimin yang tinggal di Papua tidak akan pernah mengalami yang namanya Puasa Arofah bertepatan dengan pelaksanaan wukuf di Arofah. Jadi menuntut keseragaman harus ngikut Tanggal atau rukyat Saudi adalah IMPOSSIBLE, jika alasannya agar puasa Arofah bisa mbarengi wukuf.
Kemungkinan Kedua : Jika durasi wukuf itu adalah sejak terbit fajar tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbit fajar 10 Dzulhijjah waktu Saudi, maka durasi wukuf adalah 24 jam. Dengan demikian seluruh belahan bumi manapun, baik yang kalendernya sama dengan Saudi atau tidak, bisa menjalani Puasa Arofah sekaligus mbarengi waktu wukuf. Maka penyeragaman tanggal dengan kalender Saudi adalah TIDAK PERLU, karena puasa Arofahnya pasti bisa mbarengi waktu wukuf.
Kesimpulannya :
1. Pelaksanaan puasa Arofah bisa mbarengi waktu wukuf di padang Arofah tanpa harus menyamakan kalender dengan Saudi, dengan pemahaman bahwa waktu wukuf adalah dari terbit fajar 9 Dzulhijjah sampai terbit fajar 10 Dzulhijjah alias 24 jam.
2. Jika yang dipakai adalah pemahaman bahwa durasi waktu wukuf itu dimulai sejak Dhuhur sampai Maghrib, maka Puasa Arofah yang harus mbarengi wukuf di Arofah hanya bisa dilakukan oleh belahan bumi yang “kebagian” durasi waktu wukuf. Mengingat syariat islam harus bisa dilakukan oleh seluruh umat manusia di muka bumi, maka pendapat bahwa puasa Arofah harus mbarengi wukuf di sini menjadi Impossible.
Jadi…. jalankanlah puasa Arofah sesuai keyakinan dan ilmu yang sampai pada kita…. Wallahu a’lam.

















Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 








Alhamdulillah…. tambah elmu neh
ooooooooooooo……….
ooooooooooooo……….
lha dua pendapat itu yang lebih kuat yang mana mbah?
ehh, sori mbah…. salam kenal nggih….
mbah, perbedaan penentuan 10 Dzulhijjah antara Indonesia dan Arab Saudi sebenarnya telah ada yang “memprediksi” secara ilmu astronomi, saya cuplikkan dari blognya pakdhe Rovicky (yang merupakan dongengan mas Ma’rufin):
makasih mbah atas pencerahannya
aku poso sesuk ae. nek gak lali
Cocok mbah
terus bagaimana dengan orang/makhluk yang ada diluar bumi ? Mereka mengikuti aturan yang mana ya ? 
Assalamuallaikum wr wb

salam kenal mbah…
matur suwun sanget pencerahanannipun
suwun infonya mbah
saya poso sekarang, tapi shalat kamis, boleh kan mbah?
jadi pasnya hari apa mbah?
mbah update terus nih, mantabs…..
Menurut data yang simbah peroleh dari RHI yang simbah kutip di atas, disebutkan bahwa :
Di Saudi pada Minggu, 9 Desember 2007 ghurub terjadi pada pukul 17:39 Waktu Makkah sedangkan Ijtimak terjadi pada pukul 20:42 Waktu Makkah. Tinggi hilal -5°15′ di bawah ufuk saat matahari terbenam.
Maka yang terjadi saat 9 Desember kemarin di Saudi adalah Ijtimak/Konjungsi BAKDAL GHURUB.
Ini tak beda jauh dengan yang ditulis di Blog Pakdhe Rovicky yang menyebut ijtimak/konjungsi pukul 17.41 GMT, yang artinya pukul 20.41 waktu saudi. Jadi saat matahari tenggelam di saudi, Konjungsi atau Ijtima itu belum terjadi, Ha kok tau-tau ada yang ngaku sudah nglihat hilal trus langsung dipercaya. Nyinau etungan njlimet, memet, dan akurat jadi muspro gak kepakai, gara2 ada yang ngaku lihat hilal.
Bedanya adalah terletak pada definisi ijtima qoblal ghurub.
dalile kadis sing endi iku?
jika sampeyan puasanya rebo, maka saat kita sahur trus masuk shubuh utk puasa, di saudi masih wukuf… setidaknya puasanya masih mbarengi wukuf….
weh…bin baz itu kan yang ngluarin fatwa bahwa matahari yang mengelilingi bumi..
mbah jare sodara2 ku yg di HT yg lebaran kamis …bidah munkar….piye mbah
aku poso rebo riyoyo kemis…jumat yo riyoyo maneh heheheh tapi riyoyo cilik wae
/
mesakne MATAHARI yo..mbah…!

habis tergelincir Trus klelep…!
tengkyu mbah.. jadi tambah tau…
Sahur-sahur!!…
pusing… wingi aku poso. saiki piye yo …. sahur opo ora …. kalau ragu, tinggalkan aja deh.
mantabss mbah jadi tambah pengetahuan nih, ikut arahan masyekh dakwah aja ahhh

Siiip Mbah……memang kalau sesuatu itu kita fahami berdasarkan ilmunya, kita bisa jadi lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan.
Nuwun mbah…
Jadi Puasanya RABU mbah? aku blas ra mudeng je…
Khan Bodone aku Yakin Kemis dadi khan poso pas 9 Dhulhijah/Rabu? opo salah iki pemahamanku?
perbedaan begini membuat bingung masyarakat umum wal awam. mereka melihat kelompok ini qurban tanggal 18 Des, yang satunya lagi tanggal 19 desember, yang lain lagi tanggal 20 desember. mereka bingung mau puasa arofah kapan. mau tanggal 17 kok pengikutnya sedikit, tanggal 18 yang katanya ngikutin arab kok ya bertentangan dengan ormas2 besar di indonesia, tanggal 19 kok di arab dah qurban. karena takut dosa karena salah milih, mereka “pilih aman” dengan sekalian aja gak puasa, kan puasanya “cuman” puasa sunnah, jadi gak dosa meninggalkannya. juga ga sholat ‘ied karena sunnah juga.
jadi lama-lama kalo perbedaan ini terus terjadi, bisa-bisa yang sunnah-sunnah begini ditinggalkan oleh muslimin akar rumput.
jadi inget pepatah “gajah sama gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah”.
bukan… iku syaikh utsaimin…
pdhl saya puasa sekarang lho mbah…
piye iki? sah pa ndak ya…
wah.. kalo masalah orang ninggalin amalan sebenarnya itu karena orangnya, bukan karena perbedaannya.
Coba lihat ibadah sholat, dari takbirotul ihrom sampe salam terdapat ratusan perbedaan, baik gerakan maupun bacaan. Tapi kita tak perlu kawatir orang ninggal solat karena beda cara solat. Yg gak mau solat itu kan karena males aja, bukan karena adanya perbedaan.
Nabi mengisyaratkan bolehnya perbedaan, namun melarang umatnya berpecah-belah. Perbedaan dan perpecahan adalah 2 hal yang berbeda..
podho…
sinau sing sregep sik, ben ngelmune tambah…
wong lebaran kok repot-repot, bangsa endonesah ki kemaruk karo sing jenenge perbedaan. aku malah pengen ada perbedaan sejumlah 30, jadi saya bisa berlebaran selama 1 bulan hehehehehehe ….
Sekarang lebih yakin yang mana … kalo yakin hari ini lebaran ya lebaranlah hari ini, kalo yakin besok lebaran … ya lebaranlah besok.
puasa arafah kok pake alesan takut haram … Gusti Allah mboten sare mbah, Laa tak khuduhu sitatuw wala naum.
hehehe nggak mau comment cuma mau ngomong hai ~kabur
mbah, sebetulnya siapa sih yang mempunyai kewenangan untuk menetapkan hal-hal seperti ini? pemerintah, ormas, individu, siapa saja?
suwun
yang mutusi pemerintah berdasar musyawarah semua pihak