Petan (hurup ‘e’ dibaca seperti pada kata tempe) adalah satu aktifitas fisik yang dulu biasa dikerjakan oleh para simbok-simbok. Bahasa Indonesianya masih embuh ra ruh. Tapi biasa diartikan mencari kutu, meskipun seringkali berburu uban pun bisa dikatakan petan.
Aktifitas ini boleh dibilang nyenengkeh. Para simbok bisa bertahan petan berjam-jam. Jika nemu endog tumo atau biasa disebut “lingso”, langsung diklethus sambil terdengar bunyi “klethuk”. Demikian juga jika nemu anak kutu yang berjuluk “kor”, babat habis dengan sekali klethus. yang belum biasa ngliat memang njijiki. Tapi para simbok itu menjalaninya dengan penuh hikmat kebijaksanaan.
Yang mbikin makin betah dari ritual petan ini adalah content tambahannya, yakni ngrumpi wal nggosip. Sambil klethas-klethus mlithesi kor dan lingso, simbok yang dipetani gundhulnya itu nyrocos ngrasani tetangga-tetangganya. Mulai dari Lik Wongso Kampret yang barusan mbeli motor, sampai Yu Galiyuk Brongkos yang anaknya hamil di luar nikah dionceki sampai habis. Kadang pembicaraan yang tadinya terdengar dari jauh, tiba-tiba bisa berubah pating glenik, bisak-bisik sambil sesekali nyekikik.
Hebatnya lagi, grup petan ini kadang terbentuk menjadi kubu-kubu tersendiri. Kubunya mbok Kenyik, mbok Suminten dan mbok Darmi berbeda dengan kubunya yu Kenyung, yu Giyah dan yu Ginem. Bahkan saling ngrasani kubu satu dengan yang lainnya. Maka ini semakin membuat petan menjadi aktifitas yang enak dicoba dan perlu. Ngungkuli ngeblog mungkin.
Ketika tipi mulai merebak sampai ke desa, aktipitas petan mulai memudar. Simbok-simbok mulai dikenalkan dengan sinetron dan inpotainmen. Gairah petan tersalurkan dengan melihat acara inpotainmen tersebut. Karena contentnya serupa dengan content tambahan petan, yakni ngrumpi dan nggosip. Padahal semula inpotainmen itu kan suatu acara yang berisi informasi di dunia hiburan, namun rupa-rupanya ngrasani menjadi menu pokok. Sehingga aktifis petan pun terpuaskan rasa dahaganya disitu.
Petan dan inpotainmen adalah dua hal yang secara materi no problem. Gak ada masalah. Namun content nya lah yang nantinya menyebabkan masalah. Jika dengan petan akhirnya mbikin warga sak RT resah karena gosip yang dihembuskan ternyata pitnah, maka petan disini adalah penyakit.
Inpotainmen pernah dinyatakan haram. Sebenarnya tanpa adanya fatwa dari ulama manapun, yang namanya nyebar fitnah dan ghibah itu hukum asalnya haram. Tapi karena baju inpotainmen itu berlapis, maka memang membutuhkan format fatwa yang tidak gebyah uyah. Poro simbok dan pelaku ghibah jadi risih mendengar fatwa itu. Maka fatwa tersebut cuma jadi bahan tertawaan.
Nasib yang sama menimpa fatwa haramnya Bank Konvensional. Sebenarnya ribanya lah yang diharamkan. Namun karena Bank itu seakan sudah identik dengan riba, maka cap haram menimpa kata Bank, meski selengkapnya disebut Bank Konvensional untuk membedakan dengan Bank Syariah.
Ghibah dan riba umum diketahui keharamannya. Namun ketika terbalut kata Bank, Infotainmen atau Petan, khalayak umum perlu memilah sebenarnya apa yang diharamkan. Ketika tak paham dalam memilah, yang ada adalah rasa curiga. Kemarin Bank diharamkan, lantas inpotainmen, besok apa lagi ya? Apakah nantinya akan muncul fatwa haram buat Petan?
Bank, Inpotainmen, dan Petan tak bisa dihukumi halal atau haram tanpa mengetahui contentnya. Hal serupa juga terjadi pada MLM, koperasi, Kredit, hutang piutang, bahkan juga pada polygami yang sekarang sedang marak dibahas. Kadang satu kata identik dengan content nya. Namun pengindentikan belum tentu sinonim. Hamburger tadinya identik dengan daging babi, karena ham sendiri adalah daging babi. Tapi nyatanya tidak demikin di negeri ini. Hamburger tanpa babi lebih banyak dijual daripada yang berbabi.
Dalam hal pengidentikan, maka itu makanannya ahli marketing. Satu keharaman manakala dimarket dengan bagus, akan dilahap khalayak rame tanpa curiga. Manakala datang fatwa haram, masyarakat terhenyak, marah-marah karena terlanjur menyatu dengan keharaman. Demikian juga dengan kehalalan. Manakala perang marketing berhasil mengidentikkanya dengan identitas yang menjijikkan, maka khalayak akan memandang rendah dan jijik. Manakala dikasih tahu bahwa itu halal, semua kaget.
Belajar dari Petan and the gank ini, maka pelajarilah halal dan haram dari sumber hukumnya, bukan dari kemasan marketingnya. Karena halal haram bukan diukur dari keberhasilan marketing.
Popularity: 5%

Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 




Melihat wong ndeso jaman Kang Kombor cilik dulu pada petan di tangga, kelihatannya asyik benar. Mereka seperti kethek yang pada petan. Tapi ya bener kata Simbah, kalau sudah pada jejer undhuk-undhukan itu, ngrasani liyan yang jadi topik pembicaraan. Seumur-umur belum pernah ndengar kelompok petan mbahas cara ngasih rabuk biar tanaman padi menghasilkan panen yang melimpah.
Mbahmu :Â Lha kalo mbahas cara ngasih rabuk itu bukan kelompok petan, tapi kelompok Petani kang…
wah dadi inget waktu jaman piyek mbah, tp gak ono acara gosip..soale tumone di peditox, meh nggosip kepiye wong ambune gak nguati je.
Mbahmu : wah peditox…. itu aksi bumihangus itu…
Â
Hahaha. Nice posting.
di masa depan, petan akan disambi ngeblog
Mbahmu : ngomen akan disambi nglethus lingso…
Â
Loh… apa pada gak sadar kita ini, sebenarnya nge-blog memang mengikuti palsapah-nya Petan itu… Jal dipikir… sama toh. bisa ngomongken apa saja. wis jan plek tenan kuwi.
Mbahmu : bedanya petan gak terpengaruh gempa di Taiwan…
Â
sak sejatine “ahli marketing” sing simbah sebutken meniko yak yo setan dalam wujud lain tho mbah ?
Mbahmu : boleh jadi pakdhe
Â
wah nih dah naik kelas nih, ngelmu haqiqat ya mbah
setuju mbah yang perlu diperhatikan adalah contentnya bukan covernya, bungkus bisa macem-macem tapi kalo isinya babi ya haram, gitu ya mbah 

anyway, kalo didis itu artinya apa ya mbah dokter?? secara kedokteran sehat ga sih makan telur kutu n teman2nya
Mbahmu : didis itu wis lali simbah…. kalo gak salah mlithesi ndog tumo pake kuku dua jempol kita… mak “klethuk”.. mantabh…
Mending makan telur ayam atau telur puyuh saja kang…
Â
Sebenarnya apa sih pilosopi dari petan itu? adakah unsur tolong menolong? mencari tumo yang mengganggu di kepalanya simbok2 itu? ato hanya karena ada unsur ‘ngrasani liyan’ kemudian kegiatan petan memetani itu diketawain?
Kalo konsep petan ini diterapkan dalam kehidupan sehari2 gimana? misalnya ada kawan yang mempunyai kekeliruan dalam hal apa maka yang lain bisa mengingatkan. Nasehat menasehati istilah lainnya.
Gimana mbah?
Mbahmu : lha kalo petan dilihat dari sisi itu maka baik….
Baik buruknya tergantung konten. Jadi bisa terjadi pro dan kontra macem polygami ituh mungkin
Â
lah hukum dasar atau sumber hukum-e ngeblog apa mbah? halal apa haram nih?
Mbahmu : ngeblog ya kayak petan itu…
Â
petan itu ada lagunya loh mbah..dodok brok, metani borok..rokkkk..wah inyong lali lagune, wis jaman bahulak jee..simbahe kelingan gak?
Mbahmu : wah baru tahu kalo petan ada soundtracknya…. entar beredar juga merchandise nya…
Â
betul ituw…ngeblog, sarana pengganti petan.. xixixi
jaman sekarang masihkah ada yang kutuan…anak abg sekarang lebih sering liat be-ef dibanding ngliat kutu
Mbahmu : ada kesamaannya kang… sama-sama ndelok barang ra kathokan…
kelingan iklan pembasmi Tumo..”peditox…mbasmi tumo..sak endhog-endhog-e..”…timbang petan luwih cepet nggawe serit mbah..
Mbahmu : kiat biar gak kutuan… tanya saja sama Kang Buto Rambutgeni..
wis wareg mbah ?
wis entuk pirang klethusan …
kono siji kenen siji
Mbahmu : gak diklethus pakdhe… diceplok saja…
Â
ning ra sempat ngrasani, lha wong aku karo nangis mergo sirahe pegel kon dingkluk ro mireng terus.
Mbahmu : kok iso ketularan ki opo turu bareng?
Benar benar…. PETAN FENOMENA
Mbahmu : perlu menteri perambah gundhul…
Â
sambi petan, ngracik tamba lara kuning : gedhang mas + tumo….
Mbahmu : jarene wong-wong kuwi, luwih manjur nganggo undur-undur kang…
Â
[...] Sebenarnya spam-spam itu bisa terhapus secara otomatis. Tapi yang namanya mesin ternyata gak bisa dipercaya 100%. Lha komen-komen dari sohib-sohib pembaca pun ternyata ada yang mblasuk masup situ. Mungkin dari IDnya, emailnya atau IP addressnya berpotensi spam. Makanya langsung kejaring. Ini menyebabkan simbah harus metani satu-satu dulu sebelum di delete spamnya. [...]
Mas petan & the gank-nya permisi saya ambil buat multiply saya di http://ragambudaya.multiply.com ya… tenkyu
hahaha.. ono-ono wae kakang iki…..