Posted 04 Dec 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Hipertensi atau tekanan darah tinggi tak selamanya identik dengan sakit kepala. Meskipun pada banyak kasus, hipertensi dikeluhkan penderitanya karena adanya sakit kepala.
Namun pada suatu hari, simbah kedatangan pasien wanita yang sudah lanjut usia yang kedatangannya sebenarnya hanya ingin memeriksa tekanan darahnya saja. Jadi saat itu simbah ya nuruti saja ngecek tekanan darahnya. Setelah simbah ukur tekanan darahnya, ternyata hasilnya luar biasa tinggi, yakni 220/130 mmHg.
Simbah : Welhadalah, tensinya tinggi ni bu, 220/130. Ini bahaya lho.
Pasien : Ah mosok, salah kali ngukurnya. Ha wong saya gak mumet babar blas tu dok.. Gak sakit kepala, gak pusing, ha wong biasa saja lho.
Simbah : tekanan darahnya harus diturunkan itu bu. Saya kasih obat ya…
Pasien : Ha wong saya gak sakit kok dikasih obat. Saya kan cuma mau ngecek tekanan darah aja dok. Read More
Posted 28 Nov 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Minggu pagi kemarin simbah kedatangan seorang anak kecil berumur sekitar 7 tahunan, yang dengan memelasnya menengadahkan tangan dan keluar dari mulut mungilnya kalimat :
“Pak sedekahnya pak, sedekahnya pak…… “
Simbah lalu masuk ke dalam rumah, karena kebetulan ada beberapa potong biskuit lezat milik anak-anak. Begitu simbah keluar, si anak sudah gak ada. Eh, rupanya sedang melafalkan mantra serupa di rumah sebelah. Simbah panggil saja anak laki yang saat itu memakai kopiah haji itu.
“Hai, sini… ini ada makanan enak buat kamu. Dimakan ya…,” kata simbah mbujuki. Anak itu datang dan mengambil roti biskuit tersebut. Kesempatan itu simbah gunakan untuk bertanya :
“Rumah kamu dimana? Kok minta-minta sih… uangnya mau kamu pakai buat apa?” tanya simbah
“Saya tinggal sama engkong mbah, uang ini mau saya pakai buat uang sekolah,” jawab anak itu. Sayang, jawabannya tidak lugu. Seperti apalan yang memang sengaja disiapkan kalo ada pertanyaan seperti pertanyaan simbah itu.
“Ah, kamu ada-ada saja. Gini aja, kalo kamu lapar, atau butuh makan, jangan minta-minta ya. Main kesini aja, entar simbah siapin makanan. Tapi jangan minta-minta ya… apa gak malu?” Read More
Posted 26 Nov 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan
Lima hari yang lalu simbah dikagetkan dengan satu SMS yang masup ke HP simbah. Isinya sebenarnya njelehi, yakni SMS berantai. Tapi entah mengapa sore itu di saat simbah menerima SMS tersebut, ada keinginan untuk menanggapinya. Padahal biasanya kalo ada SMS semacam itu simbah gak pernah nggubris babar blas. SMS tersebut bunyinya begini (simbah kutip apa adanya termasuk salah ketiknya):
Dari 085656595xxx :
Seoran anak kecil ditemukan di aceh barat, ditubuh anah itu terdapat tulisan nama allah dan anak itupun bisa bicara dengan binatang apapun, ini tanda kiamat dunia ini hampir dekat, sebarkan brita ini ke 10 orang, insyaallah dalam jangka 10 hari anda akan mendapat rezki besar, kalau tidak akan mendapat kesulitan tiada henti, ini amanah jangan diremehkan, kabar ini datang dari Tgk Hasbi Amin, wakil M.P.U. aceh barat, Terima kasih
Read More
Posted 21 Nov 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Sudah beberapa hari ini simbah merasakan hawa yang sangat sumuk menggempur di klinik simbah. Sehari bisa ganti kawos dalem sampai tiga kali. Baru gebyar-gebyur ciblon, keluar kamar mandi langsung gembrobyos berpeluh keringat. Belum lagi nyamuk ganas melepaskan serangan bertubi-tubi tak kenal ampun. Temtu saja nyamuk khas Batavia yang sudah kebal disemprot, diasap, dielektrik maupun dihalangi obat nyamuk gosok.
Sementara itu di tipi teriakan “Stop Global Warming” selalu diserukan cah-cah nom yang suka metongkrong, dengan gaya serius mengkampanyekan anti pemanasan global, tentu saja di ruangan ber-AC yang boleh jadi berfreon…. hlaladalah.. Read More
Posted 15 Nov 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Adalah guru ngaji simbah menceritakan satu kisah yang sarat dengan makna. Yakni kisah tentang penghuni penjara. Syahdan ada satu rutan alias penjara dihuni oleh 500 napi. Suatu ketika diumumkanlah, bahwa kepala rutan memberi kesempatan pada penghuninya untuk keluar dari rutan tersebut. Tentu saja kesempatan ini disambut dengan gegap gempita oleh 500 penghuni rutan tersebut.
Hanya saja kesempatan keluar dari penjara itu sangat terbatas. Yakni dengan cara membuka salah satu pintu keluar penjara yang sempit, yang hanya seukuran tubuh orang dewasa yang berjalan miring. Lamanya pintu dibuka hanyalah 10 menit. Setelah itu pintu ditutup lagi. Maka yang keluar penjara dianggap lepas, sedangkan yang tinggal akan menjalani masa hukumannya lagi.
Pertanyaannya, kira-kira berapa napi yang bisa keluar dari rutan tersebut dengan memanfaatkan waktu keluar yang disediakan?
Read More
Posted 12 Nov 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Beberapa minggu menjelang puasa kemarin simbah menyempatkan pulang kampung. Sebagaimana biasa kalo pulang kampung, simbah menyempatkan mampir ke Pasar Gede buat hunting jajan pasar yang gak pernah simbah jumpai di Metropolitan. Kalopun ada di Jakarta, harganya mesti muahal pol. Jajanan ndeso
tapi harganya gak ndeso babar pisan.
Selepas blanja, simbah keluar pasar dan mengambil motor simbah yang ada di parkiran. Saat mau mbayar uang parkir pada petugasnya, simbah dibikin kaget secara sekonyong-konyong, walaupun tidak koder. Ternyata petugas parkirnya adalah si Paimo (bukan nama sebenarnya), salah seorang konco kuliah simbah di kedokteran.
“Lhadalah, kang… ha kok kowe tho jebulnya…..Gimana kabarnya?”
“Weh, masya Allah.. mingsih inget aku tho mbah. Tak kira sudah lupa. Yah ginilah mbah nasibku sekarang… Ngupoyo upo, yang penting halal.” katanya sambil tersenyum. Read More
Posted 08 Nov 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Di satu malam saat simbah mbungkusi dagangan, datanglah tetangga sebelah ikut nimbrung mbantu mbungkusi. Gak ada yang nyuruh dan gak ada yang minta, tau-tau dia mbantu proses mbungkusi sambil ngobrol bercanda dengan sebagian pegawai. Sinambi mbungkus, sang tetangga – sebut saja Pardi Kenyung – tiba-tiba nyeletuk :
“Wah, enak ya mbah sampeyan. Punya modal gede buat mbikin usaha kayak gini. Duit ngalir teruuss… gak kaya saya yang gak gableg modal..”
“Apa betul kamu gak punya modal kang? Mosok sih gak punya sama sekali..?” tanya simbah. Read More
Posted 31 Oct 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan
Saat simbah masih kerja di rumah sakit, simbah sering menemui adegan dimana pasien dibentak, dimarahi dan disalahkan baik oleh dokter senior, dokter yunior, bahkan oleh perawat. Adalah beberapa waktu yang lalu simbah menemui kejadian konyol dimana simbah mengirim seorang pasien untuk dicek darahnya di laboratorium. Untuk kebutuhan itu pasien harus puasa 12 jam, sebelum diambil darahnya.
Pagi hari jam 9 si pasien tiba di satu RSUD di Jakarta ini. Saat tiba di lab, petugas laboratoriumnya bertanya, “Sudah puasa bu? Mulai puasa jam berapa?”
Si ibu yang tua dan memang dari kalangan tak mampu itu menjawab,“Sudah bu. Tadi malam saya mulai puasa jam 10 malam.”
“Lho.. kok jam 10 malam?” tanya petugas lab heran. “Harusnya mulai jam 9 malam bu, kan lama puasanya 12 jam. Gimana sih ibu ini? Kalo puasa jam 9 malam kan pas jam sekarang darah bisa diambil.”
“Jadi gimana ini bu?”
“Lha, salah lo sendiri. Ya pulang aja dan puasa lagi entar malam, mulai jam 9 malam ya. Makanya kalo mau periksa lab disini pengantar laboratnya juga dari sini, jadi tahu prosedurnya. Jangan asal puasa aja. Sudah sono pulang dulu… saya mau melayani pasien yang lain,” kata ibu itu dengan ketus. Yang kontras adalah ibu itu berjilbab rapi dan dipanggil oleh rekan sesama pegawai di rumah sakit itu dengan panggilan bu haji.
Simbah tak habis pikir, harusnya kalo memang mulai puasa jam 10 malam ya diperiksanya entar jam 10 siang. Saat itu baru jam 9 pagi. Harusnya pasien disuruh nunggu satu jam agar bisa diambil darahnya saat itu juga dan bukannya menyuruh pulang si ibu tua itu pulang dan puasa lagi untuk dicek esok hari jam 9 pagi. Jan-jane sing goblog murokab ki sopo tho yo? Read More
Posted 26 Oct 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan
Seperti telah diketahui, baru-baru ini umat Islam dihebohkan dengan munculnya Nabi berdasi dan berpeci. Dengan kumis nyompok ala Saddam Husein, si oknum yang ngaku nabi ini menghapus syareat yang selama diyakini sebagai kewajiban bagi umat Islam. Tentu saja hal ini mendapat reaksi keras. Termasuk juga Den Bagus Panuroto dan Den Bagus Kadasombo yang sore itu jagongan di Cakruk sambil ngematke wedang ronde.
Panuroto : Wedan tenan wong jaman sekarang. Lha ngaku jadi nabi kok gak kreatip blas. Ngobok-obok agama orang sak enak brutunya dewe.
Kadasombo : Lha emang ada cara yang kreatip kang jadi nabi??
Panuroto : Ya harus kreatip lah. Kalo gak ya gak awet. Entar lagi kalo gak dikukut pulisi, ya dibandemi massa yang marah karena ajaran agamanya dihina.
Kadasombo : Welhadalah… emang ada tho tips yang kreatip jadi nabi?? Kreatip yang pigimana itu kang?
Read More
Posted 25 Oct 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan
Dua Pekan sudah kita telah meninggalkan bulan Ramadhan. Dan dua pekan juga kita telah menjalani bulan Syawal. Hiruk pikuk arus mudik dan balik telah reda. Semua telah kembali ke suasana semula.
Di antara saudara-saudara kita ada yang telah selesai menu-naikan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal. Sebagiannya lagi masih tertatih-tatih menjalaninya sehari demi sehari. Semuanya demi meraih keutamaan menda-patkan pahala puasa sepanjang masa.
Suasana Ramadhan benar-benar telah sirna. Tidak ada lagi lantunan suara orang membaca Al Qur’an di masjid-masjid seba-gaimana biasa. Tidak ada lagi mubaligh yang menghasung ja-maahnya untuk mengerjakan sholat malam (yang di bulan Ramadhan biasa disebut shalat tarawih). Jamaah sholat Shubuh telah kembali ke jumlah semula. Jamaah shalat-shalat lainnya juga mengalami hal serupa. Siaran televisi telah kembali ke jam tayang semula. Sudah jarang lagi artis berpeci, sudah langka lagi penyanyi berjilbab. Acara taklim di televisi pun telah digeser oleh acara yang lebih laku nilai jualan iklannya. Nasehat ustadz digeser dengan jam tayang gosip selebritis. Karena nasehat ustadz hanya laku di bulan Ramadhan. Di bulan lain hanya laku saat menguburkan jenazah dan ziarah kubur. Read More
Posted 24 Oct 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Belakangan hari ini simbah sering nglangut wal nglamun sedikit dicampur merenung. Di usia simbah yang sekarang ini, yang notabene memang sudah mambu lemah, simbah merasa belum menghasilkan prestasi apapun di bidang dunia maupun akherot. Rumah belum punya, pekerjaan tetap juga embuh, karir pun gak jelas. Sementara amalan akherot juga tanda tanya besar. Tak ada prestasi apapun yang simbah yakini bisa mengangkat derajat simbah di sisi Ingkang Murbeng Dumadi. Meskipun tentu saja semangat untuk menjadi hamba yang diridhoi Allah tetep saja ada.
Sementara itu waktu hidup simbah hidup di dunia tentu saja makin berkurang waktu demi waktu. Makin digerogoti umur. Badan tak sekuat dulu lagi. Lari sekian meter saja sudah mengguk ngos-ngosan. Ngangkat-ngangkat sehari, pegelnya seminggu. Onderdil tubuh juga sudah makin peyok saja. Padahal kekarepan dan cita-cita yang dikejar masih banyak yang belum terwujud. Read More
Posted 08 Oct 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Sudah menjadi kelaziman, bahwa di akhir bulan Romadhon rata-rata muslimin mengalami kemunduran semangat beribadah. Shof sholat makin maju, sampe mepet pak imam. Sementara pusat perbelanjaan mangkin rame. Padahal seharusnya, setelah 3 minggu dicharge batere spiritualnya, semestinya power buat ngibadah mangkin jos gandos, makin semangat dan makin bergairah. Itu ibarat ngecharge batere HP. Sebelum dicharge ya shoack. Begitu dicharge, maka berisi… makin lama makin mantabh. Setelah sebulan batere siap pake lagi.
Lha yang sekarang terjadi, sudah dicharge 3 minggu kok malah loyo baterenya… Ini ada kemungkinan penyebabnya. Pertama, terjadi konslet di listriknya, atau bisa juga penyebab kedua : baterenya sudah bosok. Kenapa bosok? Lha di luar Romadhon saat ada warning “Low Bat” didiemin aja, sampe akhirnya dut van modar. Saking lamanya gak dicash ya dah bacut bosok. Read More
Posted 03 Oct 2007 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip
Suatu ketika simbah pernah menangani pasien yang koma di satu rumah. Pihak keluarga memanggil simbah untuk merawatnya di rumah saja, dengan memasang infus buat pasien. Simbah menolak, dan menyarankan agar pasien dikirim ke RS untuk mendapatkan perawatan yang layak. Pihak keluarga pasien adalah orang mampu. Maka simbah heran, mengapa kok pasien tidak dikirim saja ke RS. Jawaban mereka sebagai berikut :
“Mbah, maap.. bukannya kita gak mau ngirim ke RS, tapi kondisi pasien sudah parah. Toh keliatannya sudah mendekati ajal. Ya kita pasrah saja sih mbah. Mau diambil sekarang pun pasrah saja sama Yang Maha Kuasa. Wong sakitnya juga sudah lama… dan memang gak ada obatnya.”
Kasus semacam ini berulang kali simbah temui. Memang akhirnya pasien meninggal juga, namun ada yang janggal dalam kata “pasrah” yang dikemukakan pihak keluarga. Pernah juga simbah pas jaga ICU ngobrol dengan penjaga pasien yang sedang nunggu bapaknya yang dirawat di ICU karena stroke.
“Bapak sudah lama kena hipertensi mbah, ini stroke yang kedua. Kita berharap bapak bisa pulih, biaya berapapun keluarga gak masalah asalkan sembuh. Ya kita tahu, stroke itu kelainannya bisa permanen. Tapi kita mau bapak dirawat maksimal, siapa tahu Allah menghendaki pulih. Kalo masalah sembuh tidaknya kita pasrah saja.”
Read More
Posted 30 Sep 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Sengaja simbah pake judul agak propokatip, biar sedikit penasaran. Padahal boleh jadi ceritanya tak seseram judulnya. Yang simbah ceritakan ini adalah kisah nyata. Yakni kisah tetangga simbah yang berpropesi sebagai paranormal alias dukun. Ini dukun terkenalnya malah justru di luar daerah simbah. Kalo para tetangga simbah malah nganggepnya wong kurang gaweyan.
Gimana gak kurang gaweyan, ha wong pernah sore-sore dijumpai si oknum ini lagi asik ngudud sledabh-sledubh, anehnya rokok yang diudud ada 2 batang. Yang sebatang diisep sampe nyodok ke pilternya, sedangkan yang satu lagi di taroh di depan mejanya. Sohib simbah nanya :
“Wheladalah, lagi ngapain pakdhe? Kok ngudud saja sampe dobel-dobel… lagi turah duit ya??”
Dia langsung nyahut, “Ssssst…. diem, ini saya lagi ngobrol asik sama jin botol. Lha ini dia sedang udud mantebh di depan saya. Temtu sahaja sampeyan gak bisa lihat. Cuman saya yang bisa lihat.” Read More