Pahlawan atau Lawan?

Posted 25 Nov 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Siapapun warga Indonesia yang mengaku WNI akan sepakat jika Pangeran Diponegoro itu adalah Pahlawan Nasional. Walaupun perjuangan beliau saat itu belum menasional. Tapi jika sampeyan tanyakan kepada Jendral De Kock atawa kepada pemerintah kolonial Londo saat itu, Pangeran Diponegoro adalah pemberontak yang pantas ditumpes, dan bukanlah seorang pahlawan.

Hal ini juga berlaku buat tokoh yang lainnya. Kang Karmo Dungkel yang mantan aktivis PKI dan masih menyimpan sederet atribut komunis di rumahnya, jika ditanya siapakah Pahlawannya, dengan mantabhnya dia akan menjawab DN. Aidit. Kita tahu tokoh yang satu ini berada di deret nomor puncak dari daftar pengkhianat bangsa yang berniat merobohkan sendi bangsa dan negara.

Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad saw yang cukup membuat banyak orang terkagum-kagum akan akhlak dan budi pekertinya yang diakui baik oleh lawan maupun kawan pun, tak cukup membuat seseorang -dengan pengetahuan yang dimilikinya- terkagum. Jangankan terkagum, justru malah sebagian oknum menggambarnya dengan karikatur yang dianggapnya pantas. Tentu saja kepantasan menurut yang dia ketahui dari data yang tercekok ke kubangan otaknya.

Itulah pahlawan. Sebutan buat satu sisi kehidupan, entah bagian mana sisi itu. Yang jelas sebutan pahlawan, akan menutut sebutan pemberontak atau musuh di sisi yang lain. Seseorang yang disebut pahlawan, harus siap disebut dengan sebutan sebaliknya oleh pihak sisi yang berlawanan.

Preman pasar Cakung yang tubuhnya penuh tatoo itu adalah musuh buat masyarakat. Oleh Polisi (yang baik) disebut sebagai penyakit masyarakat, walau ada juga sebagian (entah besar atau kecil) polisi yang menyebut preman ini sebagai income sabetan. Namun walaupun preman merupakan sampah masyarakat, saat dia pulang ke rumah isteri dan anaknya yang sedang kelaparan menunggu sang bapak pulang membawa sesuatu untuk dimakan, sang preman mendadak menjadi pahlawan buat anak dan isterinya yang sedang kelaparan.

Begitulah satu sebutan atau gelaran jika diberikan oleh manusia. Seseorang memberikan gelar berdasarkan sisi yang memberikan efek terhadap dirinya. Jika efeknya baik, maka sebutan pahlawanlah yang terlontar. Jika efeknya buruk buat diri dan golongannya, maka sebutan preman atau pemberontaklah yang dilontarkan. Bahkan penghargaan Nobel yang katanya bertaraf internasionalpun, tak serta merta tokoh yang menerima gelar sebagai Tokoh Perdamaian akan diterima semua pihak sebagai tokoh pembawa damai. Akan ada segolongan orang di sisi seberang yang menganggapnya sebagai tokoh Perusak Perdamaian. Sehingga penghargaan Nobelpun sebenarnya bisa dinilai sebagai upaya satu pihak untuk menghantam definisi pihak lain yang kebetulan ingin dibandemi oleh panitia yang memberikan penghargaan tersebut.

Kaffaa billaahi syaahiidan!! Cukuplah Allah sebagai saksi buat sampeyan, apakah sampeyan pahlawan atau lawan. Sebutan manusia bisa salah. Maka jadilah orang baik atau pahlawan, atau siapapun yang berunsur shaleh, berdasarkan kriteria Yang Maha Kuasa. Kalau nuruti kriteria panitia pemberi penghargaan, maka sampeyan hanya akan jadi pahlawan buat satu sisi hidup manusia saja, yakni panitianya. Dan memang kita tidak akan menjadi pahlawan buat semua pihak. Karena begitu, maka jadilah pahlawan menurut kriteria yang ditetapkan Sang Khalik.

Jika Allah Mengijinkan

Posted 17 Nov 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Bukan lantaran malas simbah tidak posting dalam beberapa hari ini. Bukan lantaran kebanyakan ngowoh, simbah tak menulis judul baru di blog ini. Namun justru simbah sedang getol-getolnya nulis sampai beberapa judul. Targetnya sehari satu judul.

Namun tulisan-tulisan yang sudah simbah tulis itu bukan untuk diposting di media maya ini. Akan tetapi tulisan simbah ini ditujukan agar bisa dibaca di dunia nyata, alias diterbitkan menjadi sebuah buku.

Sebenarnya simbah ingin menyisakan satu atau dua tulisan buat dibeber di geber maya ini. Tapi ternyata kesibukan yang makin bertambah akibat bertambahnya dua pegawai baru simbah di jagad perbakulan, membuat simbah hanya menyisakan energi sisa yang takutnya hanya akan menghasilkan tulisan yang ra mutu babar blas. Sehingga akhirnya simbah menahan diri untuk tidak nulis dulu. Karena sebagaimana inti pesan kanjeng nabi, dari pada ngomong yang gak baek, lebih baik diem.

Untuk itu, simbah hanya mohon doa restunya, agar simbah segera bisa merampungkan tulisan yang “jika Allah mengijinkan” akan diterbitkan menjadi buku ini. Tentu saja buku ini berisi omyangan, glenikan dan grundelan simbah yang sebenarnya kurang mbejaji jika dibukukan. Maka jika sampeyan kurang suka dengan semua tulisan simbah di blog ini, simbah jamin makin blokekan wal mukokan jika membaca buku simbah nanti. Namun jika nekat mau mbaca, simbah pesen agar terlebih dahulu minum obat anti mabok, karena sampeyan akan mengalami perjalanan panjang ke alam yang hung liwang-liwung dan antah berantah.

Selamat menunggu..

Powered by ScribeFire.

Lokalisasi

Posted 04 Nov 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip
Lokalisasi

Lokalisasi

Sewaktu simbah masih kecil, suasana kampung simbah adalah kampung yang sangat permisif terhadap yang namanya judi. Seluruh aparat dari sejak ketua RT, RW sampai kepada kanjeng Lurah, semuanya adalah anggota perkumpulan yang biasa disebut sebagai PKK, alias Paguyuban Keplek Kasut. Keplek adalah istilah buat cara mbanting kartu jembrek, sedangkan istilah Kasut dipakai untuk cara mengocok kartu domino wal jembrek tersebut.

Setiap kali ada hajatan, baik itu hajatan sepasaran bayek, yakni perayaan kelahiran bayi, maupun acara mantu alias pernikahan, pada malam harinya digelarlah acara Perkeplekan dan Perkasutan dengan gegap gempita. Dalam radius tiga rumah ke depan, belakang dan ke samping dari rumah si sohibul hajat, semuanya dipinjam dan disandera menjadi kasino-kasino tiban. Bukan hanya itu, acara tahlilan ataupun acara nunggu jenazah dikuburkan pun tak lepas dari peran serta para member PKK yang dengan setianya menunggu acara baca doa hewes-hewes bubar, lalu ajang tahlilan pun segera berubah menjadi ajang pesta judi yang meriah. Komplit sudah, aroma surga dan neraka seakan menjadi bertetangga dekat. Read More

Sokeh? It’s Okeh…

Posted 30 Oct 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Pertengahan tahun sembilanpuluhan, simbah dikejutkan oleh cerita salah seorang guru simbah yang menceritakan perihal Mie “insya Allah” Ayam. Kenapa disisipi kata “Insya Allah” di tengahnya? Hal ini tak lain dan tak bukan dikarenakan status kata Ayam yang dilekatkan setelah kata Mie itu meragukan.

Dalam satu kejadian yang diceritakan oleh guru ngaji simbah, salah seorang sohib yang biasa langganan Mie Ayam itu, dirisaukan oleh Mie Ayam langganannya yang biasa lewat tak kunjung tiba. Karena tak sabar menunggu, didatangilah rumah tempat tinggalnya. Setelah diketok dan dikulonuwuni beberapa kali tak menyahut, sang sohib mencoba menengok ke belakang rumah si penjual mie. Hwarakadah… tak dinyana dan disangka, di belakang rumah si penjual mie ayam tersebut bertumpuk beberapa puluh kepala tikus wirok. Dan ternyata si tuan rumah alias sang penjual mie itu sedang ngirisi daging tikus buat campuran tambahan daging ayam untuk menu Mie Ayamnya. Mantabhhh… (jika sampeyan lagi makan Mie Ayam saat mbaca ini, jangan mukok ngenggon/muntah di tempat). Read More

Rejeki Berkah, Mau???

Posted 16 Oct 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Siapapun tentu mengharapkan keberkahan dalam rejekinya. Termasup juga simbah. Hampir tiap hari simbah meminta pada Sang Maha Pemberi Rejeki agar diberi 3 hal dalam rejeki, yakni halal, baik dan berkah. Tapi mungkin sampeyan gak pernah terpikir bahwa yang namanya rejeki berkah itu ternyata belum tentu semua orang mampu menerimanya. Simbah adalah salah satu orang yang berusaha belajar akan hal ini. Terutama dari apa yang simbah alami sendiri. Begini ceritanya…

Tentunya sampeyan semua sudah tahu, bahwa simbah pada postingan yang terdahulu memulai bisnis permen dengan modal awal 30 juta ripis. Untuk memenuhi kebutuhan modal itu, simbah merelakan menjual mobil simbah yang baru simbah beli belum sampai 6 bulan. Mobil itu simbah beli dari ngumpul-ngumpulin duit plus pinjeman dari sanak saudara. Mobil tersebut adalah mobil kebanggaan, karena sepanjang sejarah keluarga, belum ada satupun ahli keluarga simbah yang mampu beli mobil. Maka tak mengherankan, walau sudah punya mobil, simbah belum bisa nyetir. Sekali pegang setir, cat samping mobil simbah langsung baret-baret nyrempet pager depan klinik. Ditambah lagi, untuk pergi ngantor simbah gak perlu mobil, karena simbah makan, minum, tidur dan kerja ya cukup distu-situ juga.

Rejeki Berkah

Dengan kondisi demikian mobil banyak ndongkroknya. Maka di saat butuh modal,opsi yang langsung terpikir adalah jual mobil. Opsi ini ditentang orang tua. Tapi simbah nekat, mengingat nilai bisnis yang dijanjikan juga besar.

Setelah mobil dijual, bisnis mulai berjalan. Simbah waktu itu hanya sebagai pemodal, yang menyerahkan bisnis dan urusannya sepenuhnya pada kenalan baru simbah. Tiga bulan pertama keuntungan dibagi, cukup lumayan. Berikutnya agak lumayan. Tapi menjelang yang ketiga, mulailah seret. Kenalan simbah yang ngurusi bisnis ini mulai berkilah macem-macem. Ujung-ujungnya kenalan simbah ini nggeblas bablas angine, lari tak tentu rimbanya. Modal pokok belum balik, keuntungan sama sekali gak nutup. Belakangan baru diketahui bahwa kenalan simbah ini juga melarikan duit orang lain puluhan juta.Tidak hanya satu orang, bahkan sampai lima orang lebih, yang jika ditotal nilainya bisa ratusan juta.

Di kondisi seperti itu, beberapa pihak menyesalkan tindakan simbah yang menjual mobil kebanggaan keluarga. Kondisi saat itu adalah yang terberat buat simbah. Namun waktu itu simbah masih tetep bisa husnudhan dan baik sangka dengan ketetapan Allah yang demikian itu. Dan berharap suatu ketika ada pelajaran di balik semua carut marut yang sedang terjadi.

Maka dengan sisa semangat yang masih ada, simbah rintis usaha baru yang menggabungkan permen dengan mainan. Simbah mulai dari tiga sales. Ternyata sales yang satu merupakan penjahat kelamin kelas gedibal pitulikur. Akhirnya tinggal 2 sales yang beroperasi. Lalu masuklah sales lain menjadi pengganti. Ha kok ternyata setelah masuk satu sales baru, salah satu sales lama simbah juga nggedibal pitulikur kelakuannya. Ngrampoki dagangan simbah sampai hampir kukut. Walhasil tinggal 2 sales lagi yang beroperasi.

Dalam kondisi demikian, simbah juga merintis cabang di Solo yang dikelola oleh adik simbah. Sang adik simbah suruh belajar ke Jakarta. Setelah paham dan melihat cara kerja bisnis ini di Jakarta, simbah suruh adik simbah pulang ke Solo dengan sekalian titip uang sekian juta. Lha ndilalah… di perjalanan pulang si adik simbah dirampok orang duitnya. HP plus duit sekian juta ludes. Dada simbah saat itu lumayan nyeseg. Di saat seperti itu, simbah tetep memohon pada Allah agar diberi rejeki yang halal, baik dan berkah. Walaupun simbah belum menjumpai dimana berkahnya jika melihat peristiwa pahit yang menimpa simbah bertubi-tubi itu.

Dua tahun berselang. Mobil ndongkrok simbah yang kesehariannya hanya simbah kendarai buat ngeluarin dan masukin lagi ke emper itu, telah berujud menjadi bisnis yang hasilnya dimakan oleh lebih dari sepuluh keluarga, baik suami, isteri maupun anak-anaknya. Sales di jakarta ini ada 4 orang. Semuanya berkeluarga. Ditambah dengan pembungkus dan rekan kerja simbah, semuanya makan dari bisnis simbah ini.

Di Solo, ada 3 sales yang semuanya bisa mendapat rejeki rutin dari usaha rintisan adik simbah disana. Sekaligus bisa menambah pemasukan buat orang tua, disamping uang pensiunan yang tak seberapa besar. Di Solo adik simbah juga menerima uang modal bulik yang diPHK untuk membesarkan bisnis, sekaligus mempekerjakan bulik biar tak nganggur dan mendapat penghasilan tambahan rutin.

Dalam tulisan yang lalu, simbah pernah menerangkan bahwa ciri keberkahan rejeki adalah rejeki tersebut bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak orang, dipakai tidak berkurang dan bahkan bertambah manakala dipakai. Rupa-rupanya peristiwa sial wal naas bin mengenaskan yang menimpa simbah bertubi-tubi itu adalah dalam rangka “MEMBERKAHKAN” rejeki simbah, yang tadinya berupa mobil kebanggaan yang hanya mampu disawang-sawang, diumuki, diusap-usap dan hanya memuaskan kesenangan napsu satu keluarga, menjadi satu rejeki yang bisa manpangati puluhan keluarga, mencukupi hajat hidup orang banyak, yang turut didoakan keberadaanya oleh banyak bibir yang turut memakan nikmatnya rejeki yang sampai pada mereka.

Nah sekarang kita bahas pertanyaan di atas. Mungkin sampeyan sering minta diberi rejeki yang berkah. Padahal, mungkin saat ini di rumah sampeyan banyak rejeki yang tidak berkah pating tlecek yang manpangatnya hanya buat memuaskan dapurane satu atau beberapa gelintir orang saja. Jika sampeyan konsekwen dengan isi doa sampeyan, maka bersiaplah untuk dioprek dan diobok-obok rejeki sampeyan oleh Kekuatan Tangan Yang Maha Berkah, yang barangkali diawali dengan hal-hal pahit untuk menguji kesungguhan doa dan permintaan sampeyan bahwa sampeyan bener-bener minta rejeki yang berkah.

Mungkin keberkahan rejeki sampeyan harus diawali dengan ilangnya mobil kinclong kesayangan sampeyan yang hanya berjok dua, hanya bisa dikendarai 2 orang, dan selalu ketangkep pulisi di jalur three in one. Atau diawali dengan ilangnya cocakrowo sampeyan yang siulannya bernilai jutaan ripis yang kemerduannya hanya bisa didengar oleh telinga kiri sampeyan, karena yang kanan sudah setengah budeg. Atau diawali dengan matinya ikan arwana sampeyan yang sampeyan yakini menjadi sumber rejeki. Yang jelas keberkahan rejeki yang sampeyan minta akan diawali dengan mengeliminasi rejeki yang tak berkah yang mungkin malah paling anda sayangi, dan dengan Tangan Yang Maha Berkah diberkahilah rejeki itu agar manpangat buat banyak orang. Mau?

Kumpul Bakdan

Posted 14 Oct 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Tak dinyana dan tak direncana, ternyata sudah cukup lama simbah tidak menulis di blog ini. Diawali dengan sibuknya simbah ngurus Klinik baru yang menyebabkan simbah kepontang-kepanting harus berangkat pagi dan pulang petang. Lalu ditambah dengan kesibukan baru ngurus anak-anak yang harus simbah lakukan, dikarenakan simboknya anak-anak ternyata diketahui sedang isi lagi rahimnya dengan calon jabang bayi anak kelima. Maka praktis tak ada aktifitas online sama sekali.

Maka hari ini simbah mulai lagi nawaitu niat ingsun ndumuki kibord, menyusun aksara yang mudah-mudahan manpangati bagi yang mau mbaca. Dan ternyata memang agak berat. Sebagaimana hukum Newton tentang kelembaman, dimana benda berusaha mempertahankan keadaannya, maka demikian juga simbah…. Jian males pol mau memulai nulis kayak gini. Read More

The Story of Nanto Bendhot

Posted 22 Aug 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Salah seorang teman kecil simbah yang masih sangat simbah inget sampai saat ini adalah si Nanto Bendhot. Perawakannya kecil, sekecil isi otaknya yang selalu diisi dengan hal-hal mesum. Koleksi pisuhannya sak jagad abuh. Dari cara misuh ala tukang becak sampai pisuhan tukang kepruk dikuasainya. Tak ada orang yang ditakutinya, kecuali si Yoto anaknya mbah Bonjor yang tinggal di kelas satu SD selama 4 tahun. Ya …4 tahun, satu waktu yang cukup buat mencapai gelar S1. Nantho Bendhot pernah dikoploki sampai babak bundhas oleh si Yoto karena urusan ejek mengejek. Dan mulai saat itu, posisi Nanto Bendhot melorot menjadi perusuh eselon dua, setingkat dibawah Yoto.

Sewaktu sedang booming munculnya club anak-anak muda yang suka kongkow macem Groanjal, Plethrex, Comanche, atau Lhelhembhoet, si Nanto Bendhot ini sudah ikut aktif dalam gank-gank seperti itu. Dan bisa dipastikan dia adalah member termuda karena memang masih kelas 3 SD di antara member lainnya yang rata-rata sudah seusia anak SMA. Tapi dalam hal nenggak ciu, belen atau mansion tak diragukan lagi, si Nanto Bendhot pantas dimasukkan dalam member paling haus. Read More

Sebab Akibat

Posted 08 Aug 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Jika sampeyan ngisi bengsin ke pom bengsin yang katanya “Pasti Pas” tapi harganya gak pernah Pas karena selalu naik terus itu, sampeyan pasti akan selalu ketemu dengan tulisan “Dilarang Merokok” atau “No Smoking”. Buat kang Durmogati yang jebolan SMA Inpres, tulisan itu gampang dipahami. Namun buat kang Durmogandul yang cuma jebolan SD karena utheknya agak jebol itu, tulisan itu susah dimengerti.

“Lha iya tho kang, ha wong udud saja kok dilarang di POM bengsin. Itu kan hak asasi kita buat nyedot nikotin sepuas kita. Ya terserah kita tho….” Demikian kata kang Durmogandul pada kang Durmogati.

“Hak asasi gundhulmu mlocot itu, “ sergah kang Durmogati. “Ha genah kelakuan kamu itu membahayakan banyak jiwa. Lha kalo yang melayang cuma jiwamu karena dibrakoti nikotinmu itu ya gak masalah. Tapi kalo menyangkut keselamatan orang banyak, hanya karena nuruti nepsu ududmu yang kliwat-kliwat itu, ya tentu saja gak bisa dibiarkan.”

“Halah kang… Apa sudah ada data statistik yang akurat, bahwa ngudud di POM bengsin itu pasti bisa menyebabkan kobongan? Ha wong saya sledap-sledup berulang kali di POM bengsin juga gak pernah kobongan. Saya kira kok belum ada data yang mencatat adanya kobongan yang disebabkan udud di POM bengsin. Kalaupun ada cuma sedikit, dan itu tak menunjukkan korelasi positip antara kebakaran dan ngudud…”
kata Durmogandul mengelak.

“Wooo…dasar cah slewah. Lha apa kamu harus nunggu ada data bahwa 8 dari 10 POM bengsin njeblug gara-gara ududmu…?? Kalau yang njeblug paru-parumu sih sukur ngalkamdulilah…!”
bentak kang Durmogati. Read More

Racun Hedonis

Posted 31 Jul 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Setidaknya ada 5 keluarga yang selama ini bekerja di perusahaan kecil simbah, dengan penghasilan per bulan berkisar antara 1 hingga 1,4 juta. Angka sebesar itu bukanlah apa-apa jika dibanding dengan jumlah pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk tinggal di Jakarta. Maka tak heran jika mereka sampai saat ini masih istiqomah ngekasbon pada perusahaan yang nantinya ditutup dengan potongan gaji mereka.

Ada yang menarik dari perilaku pengeluaran para buruh itu. Beberapa bulan lalu simbah menawarkan HP pada mereka untuk komunikasi lapangan. Simbah menawarkan bantuan dengan kisaran 200 hingga 300 rebu ripis buat membeli HP CDMA atau kalau mau GSM bekas. Saat simbah tawarkan pada mereka, simbah kaget dengan jawaban mereka…..

“Pak, kalau HP yang ada MP3 dan kameranya itu berapa ya? Saya mau yang itu saja….” Kata salah seorang pegawai yang berposisi sebagai sales. Glodaak..!! HP dengan kriteria yang sales maksud itu, saat itu harganya mencapai satu bulan gaji mereka. Bukan simbah gak mau ngasih, tapi apa yang dimaksud sudah melenceng dari tujuan semula. Simbah bermaksud dengan adanya HP komunikasi lapangan jadi mudah. Jadi sekedar maksud fungsional saja, mengingat gaji pegawai yang kecil. Read More

Benar-benar Ada

Posted 28 Jul 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Beberapa hari yang lalu simbah ngajak anak-anak jalan-jalan sambil jajan makanan kecil buat si thole dan si gendhuk. Saat itu anak-anak minta dibelikan es krim. Dan kalau melihat betapa lahapnya anak-anak simbah makan es krim, simbah jadi teringat masa kecil simbah, dimana untuk bisa menikmati yang namanya es krim itu dibutuhkan satu mujahadah kelas wahid.

Sewaktu kecil simbah mempunyai seorang teman yang namanya Gudel. Terlahir dari satu keluarga yang kisah hidupnya cukup memilukan. Bapaknya adalah kawan dekat dari orang tua simbah. Rajin sholat ke mesjid, tapi matinya bunuh diri dengan menggantung diri setelah tamat meminjam dan membaca buku yang berjudul “Hidup Sesudah Mati” karya Bey Arifin (kalau gak salah) dari orang tua simbah. Aneh memang, padahal buku itu isinya bagus. Tapi kok bisa-bisanya menginspirasi bapaknya Gudel buat gantung diri. Atau mungkin beliaunya mau membuktikan isi buku itu. Tapi apapun alasannya, yang jelas si Gudel jadi anak yatim.

Kehidupan si Gudel jadi tidak mudah. Di kalangan anak-anak kecil seusia simbah dia dijuluki “tukang gresek”. Gresek, dengan hurup ‘e’ dibaca seperti kata ‘pesek’, adalah satu perilaku yang dianggap ngisin-isini bin memalukan. Kata itu mengandung maksud memungut sesuatu yang sudah dibuang orang, kalau sekarang mungkin termasyhur dengan kata “Pemulung”. Read More

Kemakmuran

Posted 17 Jul 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Bagi sampeyan yang tinggal di tlatah Solo dan sekitarnya, dan saat ini setidaknya berusia 25 tahun, tentu masih ingat yang namanya Bancakan Weton. Satu ritual yang diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dengan menyajikan satu nampan nasi tumpeng yang dihiasi sayur gudhangan binti urap plus telor ayam yang ukurannya cukup menggetarkan jiwa. Betapa tidak, bagaimana sampeyan bisa membayangkan sebutir telor ayam yang dibagi dengan bilangan empat kwadrat…?

Dengan menu Bancakan Weton yang sangat sederhana itu, simbah masih inget bagaimana nasi bancakan itu cukup dahsyat menggoncang lidah ndeso kita. Sehingga jika ada panggilan undangan buat menghadiri bancakan weton ini, segera saja semua berandal cilik seumuran simbah waktu itu berlomba berkumpul untuk merubungi nasi tumpeng sederhana itu. Terus terang, yang paling menggoda dari menu bancakan saat itu bukanlah nasi urapnya. Namun hampir semua anak-anak saat itu sepakat, telor seperempat kwadrat yang mungil itulah yang menjadi daya tarik paling kuat buat menyedot ketertarikan para member bancakan itu. Sehingga seringkali anak-anak saat itu menjadikan telor ayam seperempat kwadrat itu sebagai hidangan penutup, yang akan habis dengan sekali klamut. Simbah masih inget si Yadi Lemu dan Surono Nggople yang nangis kenceng karena telor ayam seperempat kwadrat yang sedianya dieman-eman buat “Gong Penutup”, jatuh bersimbah tanah gara-gara sengaja disenggol oleh konconya yang sirik karena telornya lebih dulu disantap sebagai pembuka. Read More

Berkaca Pada Tukang Becak

Posted 10 Jul 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Tukang Becak sudah lama tak keliatan lagi di Jakarta. Propesi yang mengandalkan methekolnya otot ini dianggap lebih banyak mendatangkan masalah daripada menyelesaikan masalah. Alasan yang paling banyak mendasari dilarangnya becak beroperasi adalah perihal kesemrawutan yang ditimbulkan oleh becak. Padahal juga tak bisa dipungkiri, kendaraan roda tiga itu merupakan kendaraan yang ramah lingkungan. Bahan bakarnya cuma Blue Energy alias air putih murni ditambah sego kucing limang pincuk, yang cukup buat mancal mesin “3 tak” nya. Yakni “tak” injek, “tak” genjot, dan “tak” gowes pedalnya.

Tarif yang diberlakukan tukang becakpun sangat rasional. Mereka menetapkan tarif sesuai besaran energi yang dikeluarkan, yang tentu saja sesuai dengan hukum Newton yang melibatkan jarak (s) dan Gaya (F). Jarak Pasar Pon ke Pasar Legi yang cuma sepeminum teh itu tentu saja berbeda taripnya dibanding dengan jarak Pasar Pon ke Palur, yang bisa dibilang berjarak sepeminum limang jimbeng teh. Dan para abang becak ini tidak akan mengambil job yang melebihi batas kesanggupannya, walaupun dijanjikan bayaran sak hohah. Coba saja dia disuruh ngantar sampeyan dari Solo ke Semarang.. Kalaupun dia mau,tentu saja itu disebabkan kekhawatiran bahwa sampeyan makin tambah kumat kenthirnya kalau keinginan itu gak dituruti. Jadi yang waras ngalah saja… :D Read More

Takdir Sebagai Kambing Hitam

Posted 07 Jul 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Jenggot Kambing Hitam

Takdir Sebagai Kaming Hitam

Sudah beberapa kali simbah menerima email konsultasi yang isinya senada dengan bunyi email di bawah ini :

“Mbah, perkenalkan nama saya Gemblong. Saya lahir pada tanggal 7 Mei 1978 jam 02.00 pagi. Saat ini saya sedang membina hubungan dengan gadis bernama Brintik yang lahir pada tanggal 4 Agustus 1982. Menurut simbah, pigimanakah nasib perjodohan kami? Apakah sejodoh,langgeng,… atau malah berantakan?Apakah yang sebaiknya saya kerjakan agar perjodohan kami ini lancar?
Terimakasih atas jawabannya ya mbah…”

Entah darimana sang pembaca mendapat inspirasi buat mengirim email ini. Lagian simbah juga tidak memasang iklan menerima konsultasi nasib. Mungkin ini gara-gara simbah pernah menulis artikel tentang “Membaca Nasib”. Tapi di artikel itu simbah justru tidak mendukung adanya praktek ramal meramal nasib ala dukun-dukun online via SMS itu. Mungkin oknum Gemblong ini cuma mbaca judul tanpa mbaca isinya….

Ditilik dari isinya, secara keseluruhan menggambarkan point pokok isi dari otak para pencari kabar masa depan. Rata-rata pencari kabar nasib, menanyakan hal tersebut. Bagi sampeyan-sampeyan yang masih single, baik berstatus sebagai pejantan tangguh, bujang lapuk, Duren (duda keren), Dublag (Duda hampir nggeblag alias duda udzur), perawan ting-tong, janda kembang ataupun janda kembung, nasib perjodohan maupun hidup sampeyan bukanlah hal yang harus diketahui sekarang. Nasib Masa depan sampeyan dibangun oleh sampeyan sendiri. Sampeyan setiap saat disodori multiple choice yang ketika memilih satu dari sekian pilihan yang disodorkan itu, sampeyan memilihnya dengan sadar dan merdeka. Read More

Kesetiaan

Posted 22 Jun 2008 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Dalam satu riwayat disebutkan satu percakapan yang menarik antara Abu Bakar r.a dan anaknya. Sebagaimana difahami, salah seorang anaknya Abu Bakar yang laki-laki masuk Islamnya belakangan setelah perang Badar. Sehingga di saat perang Badar si anak berperang di pihak musyrikin, melawan bapaknya yang berperang bersama kaum mukminin. Berkatalah si anak:

“Wahai bapak, dulu di saat perang badar, aku memiliki kesempatan untuk membunuhmu, dan aku yakin jika aku lakukan maka engkau pasti sudah terbunuh.”

“Lantas apakah yang menghalangi dirimu untuk melakukannya wahai anakku?” tanya Abu Bakar.

“Aku masih memiliki rasa sayang kepadamu. Itulah yang membuat diriku ragu.”

“Itulah sifat kemusyrikan wahai anakku. Loyalitas dan kesetiaan kepada tuhan kalian bisa kalah dengan kecintaan kalian pada yang lain. Sungguh jika aku berada di posisimu saat itu, sudah aku tebas lehermu.” Read More

Page 3 of 1812345678...Last →