Warga Baru

Posted 27 Apr 2009 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip, Selingan

Kamis lalu, tepat pukul 04.20 pagi simbah dipaksa nangis lagi dengan hadirnya satu warga baru yang sudah 9 bulan ini menghuni alam rahim yang Allah titipkan di perut istri simbah. Bayi perempuan berbobot 3,7 kg ini pecah tangisnya di tanggal 23 April 2009, tepat sebagaimana HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang simbah hitung dari HPMT simboknya. Tak terlalu cepat ataupun terlalu lambat barang seharipun. Mudah-mudahan ini pertanda bahwa sang jabang bayi nantinya menjadi orang yang disiplin dan tepat waktu.

Dan sebagaimana doa-doa simbah terdahulu terhadap anak simbah, semua simbah harapkan akan menjadi manusia yang menjadi sebab diturunkannya hidayah dan rahmat bagi seluruh alam. Harapan simbah tak berlebihan. Karena anak adalah “Kemungkinan Tak Terbatas”. Tak ada yang menyangka jabang bayi yang lemah dan mewekan itu setelah dewasa ternyata ada yang tumbuh dan berkembang menjadi pribadi semacam Hitler atau Fir’aun. Dan juga tak ada yang menyangka, jabang bayi yatim di tanah Mekkah beberapa abad yang lalu ternyata setelah dewasa menjadi orang yang namanya paling banyak disebut di dunia, yakni Baginda Nabi Muhammad saw.

Simbah gak tahu anak-anak simbah nantinya menjadi bagaimana. Tapi simbah sangat berpegang pada hukum Allah yang mendasari keputusan takdir, yakni hukum sebab akibat. Maka simbah usahakan simbah membuat sebab-sebab yang baik pada diri anak-anak simbah. Semoga dengan memulai sebab-sebab yang baik secara maksimal, Allah turunkan akibat yang baik pada anak-anak simbah.

Memiliki 5 anak memang bukan hal yang ringan. Beberapa teman sejawat simbah bahkan ketar-ketir melihat simbah. Ha wong dia beranak satu saja sudah ngetung-ngetung berapa jumlah duit yang dia butuhkan buat mewujudkan anaknya menjadi orang yang sukses. Dia sebut angka sampai sekian “M”. Lha kalo lima anak wah… lima kali sekian “M”. Busyet dah, kata dia.

Anak tidak mengurangi rejeki orang tua dan juga tidak menambahnya. Anak membawa rejekinya sendiri. Kalaupun orang tua seperti ketambahan rejeki, itu hanya ’seperti’ saja. Hakikatnya, itu adalah rejeki anak yang memang Allah titipkan lewat orang tuanya.

Mohon doanya agar warga baru ini menambah jumlah populasi orang solehah sedunia. Amin

Level Kenikmatan

Posted 20 Apr 2009 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Beberapa hari terakhir ini simbah lihat buah belimbing di depan rumah simbah tampak gede-gede dan menguning. Hampir tiap hari anak-anak memetik dan merasakan nikmatnya belimbing itu. Tadinya buah belimbing merupakan buah paporit simbah. Baru mendengar namanya saja sudah kemecer. Apalagi jika melihat orang rujakan sembari sesekali ndulit sambel rujaknya, wah makin kotos-kotos saja…

Namun setelah memiliki pohon sendiri, simbah mulai merasakan yang namanya belimbing itu biasa-biasa saja. Malahan simbah terhitung jarang makan buah belimbing walaupun hampir setiap hari di kulkas selalu tersedia. Malahan justru para tetangga yang seringkali menikmati buah belimbing simbah.

Sebenarnya tidak hanya simbah yang merasakan hal serupa. Hampir semua pemilik pohon buah-buahan ataupun hal yang lain pasti akan merasakan hal serupa. Yu Ginem yang memiliki kebun duren di belakang rumahnya, akan menganggap makan duren bukanlah hal yang luar biasa. Mungkin justru Yu Ginem akan lebih tertarik pada buah ciplukan yang tumbuh liar di kebon Kang Jemprit dimana kang Jemprit sendiri tiap hari sibuk nebasi pohon Ciplukan itu karena dianggap mengganggu.

Orang menamai penomena ini dengan kata “bosan”. Pokoknya kalau sudah punya sendiri malah jadi bosen. Beda keadaannya manakala masih berada di harapan atau angan-angan atau cita-cita. Si Badu yang lama memimpikan punya PS sendiri itu merasakan keasyikan yang sangat manakala belum punya PS sendiri dan hanya nebeng di rumah tetangganya. Justru keasyikan itu menjadi menghilang di saat dia bisa mengangkangi sendiri PSnya yang dibelikan oleh simboknya setelah menjual wedhus kesayangannya. Walaupun di minggu-minggu awal dia masih merasakan keasyikan yang sama seperti di rumah tetangganya.

Begitulah kehidupan. Justru kenikmatan segala sesuatu dalam hidup ini bisa lebih terasa manakala segalanya masih dalam harapan dan cita-cita. Manakala harapan dan cita-cita itu tercapai, seseorang mengalami proses pendataran dan selanjutnya penurunan di dalam hal level kenikmatannya.

Cobalah sampeyan temui kaum gembel wal kere, lalu berikanlah pada mereka selembar uang dua puluh rebuan. Maka sampeyan akan dapati ekspresi wajah kegembiraan yang tiada tara yang tak sampeyan dapati di wajah seorang Pengusaha Konglomerat sekaligus merangkap Taleg (Anggota Legislatip) jika diberi nominal uang yang sama. Sang Konglomerat Taleg tadi baru akan menunjukkan ekspresi wajah yang sama jika yang diberikan adalah sekoper penuh uang gambar Soekarno Hatta. Level kenikmatan uang duapuluh ribuan ripis sudah lewat.

Sampeyan temtu ingat grup-grup musik dunia semacam The Beatles atau Rolling Stones, dimana pada saat segalanya sudah bisa mereka nikmati yang terjadi adalah ketiadaan harapan dan cita-cita. Harapan dan cita-cita adalah satu hal yang baru bisa diwujudkan NANTI saat dia mampu mencapainya. Di lepel keadaan dimana segalanya bisa diwujudkan SEKARANG justru membuat seseorang tak bisa bercita-cita dan berharapan. Segala sesuatu yang bisa dinikmati bisa diwujudkan saat itu juga, apapun itu. Ujung-ujungnya adalah seseorang menjadi pribadi yang tak mudah lagi dipuaskan. Karena lepel kenikmatan yang tadinya bisa memuaskan dia sudah dilewati semua.

Di keadaan seperti itu, sebagaimana sudah sampeyan tahu, orang-orang yang sudah memuncaki lepel kenikmatan dunia itu mencoba mencari kenikmatan di jalan lain. Ada yang mencoba kenikmatan di alam narkotika, morpin dan narkoba lainnya. Yang lebih ekstrim adalah seperti pasangan suami istri kaya, yang merasa sudah menikmati apapun yang ada di dunia ini. Hanya saja ada satu yang belum pernah dia rasakan dan penasaran dengan rasanya, yakni merasakan Mati alias Dut van Modiyar. Pasangan gendheng tapi kaya ini bunuh diri bareng-bareng karena penasaran dengan yang namanya mati. Opo gak koplo…

Meski begitu ada juga perkecualiannya. Simbah teringat satu acara di TV AXN yang saat itu menampilkan Dylan Wilk, yakni seorang yang bisa menjadi orang terkaya nomer 9 di Inggris di usia 25 tahun. Jian, hebat tenan, siapapun pasti pingin begitu. Di awal masa sugehnya, kang Dylan menghabiskan duitnya untuk koleksi mobil sport mewah yang memang digilainya. Yang namanya Ferrari dan sedulurnya menjadi target langganannya. Tak luput juga BMW, Mercy dan lainnya. Namun menurut pengakuannya, semua itu tak menjadikan dirinya menemukan arti hidup. Kesenangan memiliki mobil-mobil mewah itu hanya bertahan paling lama 6 minggu. Lalu semuanya jadi BIASA lagi.

Hidupnya jadi agak lebih hidup di saat dia dimintai bantuan mbangun rumah gelandangan sebanyak dua biji, yang biaya pembangunannya sebesar harga tiket pesawatnya.. Glodaak.. Dia tersadar. Kenikmatan hidup  tidak hanya dengan cara memuaskan diri. Maka melihat wajah kepuasan orang yang dibangunkan rumah olehnya menjadikan hidupnya lebih berarti. Ketika dia pulang, dia melihat mobilnya dengan pandangan berubah. Dia memandang deretan mobilnya dengan pandangan jijik. Satu mobilnya yakni BMW seri M3 dijualnya dan diwujudkan menjadi 60 rumah bagi gelandangan di Filipina sekaligus dia namai komplek rumah itu dengan nama kampung M3 sesuai nama seri mobil BMW yang dia jual itu.

Melihat beberapa kenyataan di atas, apabila sampeyan memiliki sekian banyak harapan dan cita-cita yang belum terwujud, bersyukurlah dan kejar cita-cita itu. karena itulah yanag membuat sampeyan merasakan hidup. Gusti Allah melarang orang berputus asa atawa berputus harapan. Orang yang putus harapan selalu dikaitkan dengan orang yang tak punya harapan. Dan penyebab orang tak punya harapan ternyata ada 2, orang yang merasa tak bisa mewujudkan harapan dan orang yang segala harapannya sudah terwujudkan hingga bingung harapan mana lagi yang akan diwujudkan.

Maka agar orang bisa terus punya harapan, carilah harapan yang tidak bisa diwujudkan di dunia. Hanya orang-orang beriman yang bisa memiliki harapan seperti itu. Karena mereka tidak menanamkan harapan sepenuhnya pada dunia. Taapi di alam yang hanya diyakini oleh orang yang dipanggil oleh Allah sebagai “Wahai orang-orang yang beriman…..!”

Kabar Duka

Posted 13 Apr 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Sekitar pukul 11.15 siang ini simbah menerima SMS dari sohib yang turut mengarsiteki tampilan blog simbah ini, yakni Kang Nurudin Jauhari. Bunyinya sebagai berikut :

Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji’un. Ibunda telah wafat, semoga amal dan ibadah beliau diterima di sisi-Nya dan yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin.

Memang sejak beberapa minggu terakhir, kang Nurudin sangat rajin berkonsultasi via HP dengan simbah perihal kesehatan ibundanya. Bahkan tampak di mata simbah, kang Nurudin adalah sosok sahabat yang sangat perhatian pada ibundanya, sehingga rela berhari-hari menunggui di RS Dr. Sarjito Jogja.

Namun ikhtiar adalah jalan wajib yang harus ditempuh, sementara keputusan tetap berada di tangan-Nya. Untuk itu, simbah melalui blog ini mengucapkan :

Turut berduka cita atas meninggalnya ibunda dari Nurudin Jauhari, semoga segala kebaikannya mendapatkan pahala yang lebih baik. Dan keluarga yanag ditinggalkan mendapatkan pahala yang besar atas kesabarannya.

Sobrot.. eh Sroboot !!

Posted 31 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Seperti biasa, sepulang sholat Jum’at simbah pulang rame-rame bersama jamaah sholat yang keluar dari masjid dengan wajah seperti orang bangun dari tidur panjang. Lha pigimanah tidak, ha wong khotibnya berkhotbah dengan cara mbaca dengan nada deklamasi anak TK tanpa menengok ke jamaah. Padahal jamaahnya banyak yang sudah pada semaput, sang khotib masih asyik menyelesaikan deklamasinya yang kudu rampung itu. Karena gak sabaran, serombongan jamaah di pojokan masjid berteriak amin setiap sang khotib sampai pada tanda titik di kalimat khotbahnya. Jadi macam doa yang diamini saja.

Untungnya sang khotib paham. Ucapan amin oleh serombongan jamaah di pojokan masjid diterima dengan baik sinyalnya oleh sang khotib. Meskipun hanya ucapan “Amin”, namun sebenarnya pesan lengkapnya sebagai berikut : “Pak khotib, sampeyan sudah keterlaluan lamanya khotbah. Sudahlah, segera selesaikan. Sudah banyak yang semaput tuh..!!”

Di luar masjid cukup panas. Lha kebetulan ada yang jualan es cendol gilar-gilar asal Jepara. Dan sang penjual belum kedatangan satu pembelipun. Maka simbah segera memesan dua bungkus es cendol itu. setelah memberikan uang limaribu ripis, simbah meminta si thole Hanif, anak sulung simbah, buat nunggoni sang penjual mbikin es. Simbah sendiri pergi ngambil motor yang diparkir di klinik.

Simbah kembali lagi ke penjual es cendol untuk menjemput thole Hanif dan es cendholnya dengan mengendarai belalang tempur simbah. Ternyata disitu sudah ada pembeli lain yang herannya malah sudah menggenggam es cendhol 2 bungkus, sementara thole Hanif babar blas belum terlayani. Sang penjual cendhol malah senyam-senyum cengengesan menyapa simbah : “Maaf mbah, diselani sebentar…!”

Ah, apa pulak ini maksudnya.. “Diselani sebentar.” Kata-kata yang keluar dengan enteng tapi saat itu terasa gak mutu babar blas. Ternyata pesanan es cendhol 2 bungkus simbah diserahkan oleh penjual itu ke pembeli yang belakangan datang. Pembeli itu seorang pemuda tegap, berpakaian rapi, berkacamata yang mengesankan seorang eksekutip muda yang otaknya cukup mewarisi kepintaran sang raja kumlot. Dengan 2 bungkus es cendhol di tangannya simbah memandangnya dengan pandangan yang mengandung pesan. “Ente goblog amat sih bung. Mentang-mentang pembelinya anak kecil ente srobot ajah. Pigimanah ente punya hati nurani? Begini ya warga negara Genthonesia yang berotak raja kumlot?”

Dengan pandangan semacam itu, rupa-rupanya si pembeli tukang srobot itu agak gerah juga. Entah mengapa tiba-tiba dia serahkan es cendol itu kepada thole Hanif yang segera disambutnya dengan senang hati. Tanpa ucapan apapun simbah langsung pergi meninggalkan pembeli dan penjual es cendhol itu dengan tarikan gas motor yang agak simbah kencengin, dimana mengandung pesan : “Lain kali jangan begitu lagi ya Broer..!”

Simbah heran, ha wong hanya antrian beranggota 2 potong saja kok nekat nyrobot. Lha gimana kalo antriannya sepanjang sepur?? Kejahatan srobot ini juga diperparah oleh si pelayan atau penjual atau petugas yang mau melayani orang yang nyobrot eh.. nyrobot. Seharusnya yang melayani itu justru menegur dan menasehati, “Kang, sampeyan jangan nyrobot. Ayo urut yang bener.” Bukan malah melayani dan bersama-sama mendholimi hak orang yang dilangkahi antreannya.

Lha kalo antreannya cuma antrean es cendhol sih efeknya paling cuma ngempet dahaga. Tapi apabila antreannya antrean yang vital, macem antre urutan operasi, antrean nebus obat di apotik yang bersifat darurat segera ditebus, antrean mertombo sakit gigi yang sudah sedhut senut, wah bisa berabe. Lha kalo yang dilangkahi antreannya gak terima bisa dibacok gundhul sampeyan. Gimana tidak, melangkahi antrean alias main srobot yang membahayakan jiwa dan membuat penderitaan orang lain tentu saja akan menuai reaksi orang yang ingin selamat jiwanya dan beres urusannya.

Dan urusan antre ini bukan urusan kaya atau miskin, bukan pula masalah elite atau kere. Simbah pernah menghadiri acara nikahan dimana acara makannya adalah prasmanan yang dihadiri tamu-tamu undangan esklusip kelas eksekutip. Di satu sudut, simbah mencoba antrean kambing guling. Baru berapa langkah antrean berjalan, tiba-tiba ada 3 ibu-ibu bergiwang mencorong, berlipstick ala nyi Blorong, dan berbaju ala sundel bolong menyrobot tepat di depan simbah. Simbah langsung ilang napsu makan dan pergi dari antrean itu. Ha wong sugeh-sugeh kok kelakuannya idiot gitu.

Belum lagi di satu sudut yang lain, ada antrian es krim yang cukup kacau antriannya. Simbah saksikan sendiri nyonya-nyonya besar dan nona-nona kecil berdesakan dengan baju kondangannya yang necis, tapi desak-desakannya tak ada bedanya dengan kaum pakir miskin yang ngantri daging korban. Bahkan stand es krimnya mau roboh kalau petugasnya tidak segera membentak tamu undangan yang kesurupan hendak meraih es krim itu.

Lha kaum sugehnya saja begitu, maka pantas saja jikalau ada yang namanya pembagian sedekah, zakat, daging korban, angpau atau apapun namanya, selalu berbuah kerusuhan. Ngantrilah yang bener, maka hak sampeyan gak akan ada yang mendholimi.

“Haram” yang Haramnya tidak sama dengan Haram

Posted 25 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Tentunya sampeyan sudah pada tahu, bahwa para Kyai MUI sudah mengharamkan 2 hal yang selama ini menjadi polemik. Yakni rokok dan Golput. Untuk rokok, salah seorang kyai MUI menerangkan bahwa keharamannya tidak sebagaimana babi. Jadi memiliki perbedaan. Rincian perbedaannya diterangkan dengan sangat njlimet sampai simbah gak mudeng babar blas. Tetapi keharamannya dilandasi bahwa kemadharatannya lebih besar dari manfaatnya.

Kyai NU dan beberapa ormas Islam lainnya gak sependapat kata “Haram” digunakan untuk memfatwai rokok. Haram yang bukan sebagaimana haramnya babi itu sudah ada kriteria tersendiri, yakni “makruh”. Jadi tak perlu menggunakan kata “Haram” jikalau ada kata lain yang lebih bisa mengakomodasi pengertian tidak diperbolehkannya merokok itu.

Alasan yang memakruhkan ini juga masuk akal, walaupun kang Jupri salah seorang teman simbah yang gak suka dengan kyai NU ini nyeletuk, “Halah, itu kan karena banyak kyai NU yang sudah nggathok ngudud kayak lokomotip sepur. Bilang aja gak mau ninggal klangenan.”

Read More

Sayembara

Posted 18 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Selingan

Boleh dibilang njanur gunung atawa numbeni, bahwa simbah pada kesempatan kali ini ingin memberikan sesuatu kepada pembaca setia blog ini. Sebagai penyambung lidah dari pihak yang menerbitkan buku simbah, kali ini simbah bekerjasama dengan pihak penerbit (atau sebenarnya lebih tepat penerbit bekerjasama dgn simbah… halah, kewolak walik yo ben lah) ingin memberikan kesempatan bagi pembaca buku Republik Genthonesia untuk bersama-sama mengikuti lomba Resensi Buku.

Ngresensi itu gimana tho? Terus terang simbah juga belum pernah melakukannya. Hanya saja bagi sampeyan yang berminat disediakan hadiah sebagai berikut :

1. Juara 1 : uang tunai senilai Rp 500.000,- dan satu paket buku senilai Rp 700.000,00
2. Juara 2 : uang tunai senilai Rp 400.000,- dan satu paket buku senilai Rp 600.000,00
3. Juara 3 : uang tunai senilai Rp 300.000,- dan satu paket buku senilai Rp 500.000,00

Caranya pigimanah?

Resensi aja buku simbah, yakni Republik Genthonesia. Lalu kirimkan lewat pos ke:

PRO-U Media
d.a. Jln. Jogokariyan 35, Yogyakarta 55143, dengan mencantumkan “LOMBA RESENSI” di pojok kiri atas amplop.

Resensi harus karya sendiri, bukan hasil nunggu wahyu turun, karena wahyu gak pernah turun lagi. Juga bukan hasil njiplak pake kertas karbon, apalagi hasil potokopian… gak kreatip blas.

Panjang resensi minimal 2 (dua) halaman A-4, 1,5 spasi, font Arial 12.

Resensi akan memiliki bobot penilaian lebih jika sudah pernah dimuat di media cetak, blog, atau media massa lainnya. Yang jelas jangan memakai media penampakan.. ndak medheni bocah. Bukti pemuatan adalah dengan mencantumkan potokopi atau link website yang dipakai untuk ngresensi.

Sayembara ini ditutup tanggal 15 Agustus 2009.

Selain buku Republik Genthonesia, sampeyan juga boleh ngresensi buku lainnya untuk kategori non fiksi yakni Ada Singa Dalam Dirimu, karya Asa Mulchias. Bagi yang suka Nopel bisa ngresensi buku fiksi :

1. Tembang Ilalang, karya MD. Aminudin
2. Kabar Bunga, karya Marsiraji Thahir

Semuanya terbitan Pro U Media. Untuk mendapatkan bukunya silakan hubungi alamat dan nomor berikut :

TB. Gunung Agung, Gramedia, Toga Mas,
Tisera atau di Jakarta 08128024672 / 02168991133, 0213153928,
02193042604, Depok 08129209922, Bandung 08122118475 / 08122221475,
Surabaya 0813650643322, Medan 0811647932, Makasar 04115705302,
085299519800, Semarang 081328784604

Atau bisa didapatkan melalui pemesanan ke kantor Pro-U Media, Jl. Jogokariyan 35, Yogyakarta. Telp. 0274-376301

Jika sampeyan meragukan kandungan judul postingan ini, silakan dikroscek ke alamat ini :

http://proumedia.blogspot.com/2009/03/lomba-resensi-buku-pro-u-media.html

Agar tidak ragu bahwa apa yang simbah sampaikan ini benar adanya, bukan kabar manuk, gosip, kasak-kusuk, glenikan, atau omyangan tak bermakna. Selanjutnya …selamat mengikuti.

Yang Tegang, Yang Asyik

Posted 16 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe, Pengaosan

Sebagaimana biasa Kang Paidul bersama wadyabalanya sesama penggemar pilem kungpu sedang berkumpul menyaksikan salah satu pilem kungpu yang disewanya dari pisidi rental. Adegan demi adegan dilewatinya. Hingga sampailah pada satu keadaan dimana sang lakon jagoan terdesak dan hampir koit diterjang musuh. Semua penonton tercekam tegang. Dumadakan muncullah Kang Pailul. Sambil prengas-prenges dia nyeletuk dengan koplonya :

“Halah gak usah tegang, itu entar lakonnya selamat, tapi nantinya dibunuh juga oleh boss penjahat…”
katanya sambil nyruput secangkir coklat tubruk.

“Woo, lha semprul… “ kata kang Paidul marah-marah yang juga diikuti gerutuan wadyabalanya. “Kamu kalo udah pernah nonton mbok diem tho. Mbikin gak asik aja. Awas kalo nyobrot lagi, jotos sisan…”

Begitulah adanya. Keasyikan nonton pilem akan sirna manakala jalannya pilem tiba-tiba di-spoiled oleh oknum yang sudah pernah nonton, apalagi spoilednya amat trocoh. Read More

Bedah Buku

Posted 03 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

lading-bedahSebagaimana sampeyan sudah ketahui, Indonesia ini terdiri dari banyak suku dan etnis. Masing-masing suku memiliki kabudayan dan bahasa masing-masing. Dan masing-masing bahasa memiliki kekhasan dalam hal intonasi kata, artikulasi hurup, maupun cara pengucapan kalimatnya. Maka orang Batak dengan orang madura tak akan sama dalam mengucapkan kata. Orang Jawa dengan orang Sunda tak akan sama dalam bertutur kata. Sehingga lahirlah kata “medhok”. Jangan tanya simbah etimology kata ini, ha wong memang simbah juga gak mudeng babar pisan.

Sebagian pembaca blog ini mengomentari bahwa tulisan simbah sangat medhok jawanya. Padahal kata medhok biasanya dilontarkan untuk menilai sesuatu yang didengar, bukan yang ditulis. Gak papalah, ini mungkin hanyalah satu gejala majas yang simbah juga gak mudeng babar pisan.

Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, huruf “d” atau “dh” dikenal dalam bahasa jawa dan diucapkan dengan logat yang berbeda. Demikian juga huruf “t” berbeda dengan “th”. Belum lagi tambahan kata dalam berbahasa seperti kok, ha wong, thik, no, naknu, dlsb, yang menambah tekanan makna dalam penggunaannya. Hal ini sempat menggelitik seorang sunda, yang selalu terkekeh ketika mendengar temannya yang jawa sedang berbicara.

“Kenapa sih sampeyan selalu ketawa mendengar saya ngomong?” tanya seorang jawa pada temannya yang sunda.

“Ah enggak. Saya cuma geli aja denger kamu gak bisa ninggalin kata “no” dan “ik” kamu. Coba saja dengar omongan kamu, “Iyo ik”, “Yo ora no”, “Gede tenan ik”….. hehehehe “ kata sang sunda sambil ketawa.

“Udahlah, itu sih memang sudah gawan dari bayek. Lha kamu sendiri gak bisa ninggalin kata “mah”….. “ kata si jawa.

“Ah… itu mah gampang……” kata sang sunda mengelak sambil tetep memakai kata “mah” nya.

Maka untuk urusan medhok ini, simbah merupakan salah seorang jawa tulen yang lidahnya masih terjangkiti gejala medhok akut. Sampai-sampai sebelum simbah mengatakan darimana asal muasal simbah, orang langsung sudah pada tahu kalau simbah berasal dari jawa ndeso.

Tadinya hal ini membuat simbah males untuk nggedabrus di muka umum. Namun setelah simbah mengamati dan mendengar langsung beberapa maestro yang ahli di bidangnya yang berasal dari tlatah jawa, rupa-rupanya sebagiannya masih terjangkit penyakit medhok ini, maka jadi pede lah simbah. Sebut saja beberapa nama semisal maestro pilem Garin Nugroho, dimana nama “Nugroho” yang tak ditulis “Nugraha” menunjukkan dia orang jawa, bukannya sunda. Dan kejawaannya makin konangan ketika kita mendengar logat obrolannya. Lalu  ada Hermawan Kertajaya sang maestro marketing, walaupun namanya tak ditulis “Kertojoyo” tetap tak bisa menutupi logat jawanya yang akut. Dan yang tak kalah maestronya juga adalah pakar revolution yakni Tung Desem Waringin. Walau namanya babar blas gak nyrempet jawa sama sekali, namun jikalau sudah mendengar beliau ngomong orang langsung bisa menebak logat etnis mana yang dipakai dalam bicara.

Dibanding dengan tiga nama yang simbah sebut, simbah hanya baru mewarisi medhoknya doang. Maestronya belum sama sekali. Dan mengapa simbah bicarakan hal ini? Karena sebentar lagi simbah akan nggedabrus di porum bedah buku rame-rame. Namanya juga rame-rame, maka beberapa penulis dihadirkan untuk membedah bukunya masing-masing. Walaupun sebenarnya kata “Bedah” tak cukup wangun untuk dipakai, karena kata bedah biasanya dipakai untuk mengupas tuntas dari kulit bin cover sampe jeroan isi buku. Namun karena rame-rame, maka penulis mungkin hanya bisa nyolek dan sedikit nyudhet agar pembaca bisa membedah sendiri jeroan bukunya di rumah masing-masing.

Maka jika sampeyan di malem minggu kok merasa kurang gaweyan dan nglamun jorok sendirian, maka simbah saranken untuk segera membuang lamunan joroknya dan bergegas ke acara bedah buku simbah di Islamic Book Fair Senayan, pada tanggal 7 Maret 2009 pukul 7 malem. Dan dengarkan logat medhok simbah yang akan merongrong telinga sampeyan dengan akutnya. Tak ada salahnya minum obat anti mabok duluan agar tak muntah di tempat.

Masyarakat Jalan Pintas

Posted 16 Feb 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe
Jalan Pintas

Jalan Pintas

Siapapun orangnya, jika sedang terserang pageblug bin pileren maka akan mengusahakan pilerennya cepat sembuh. Mengingat hal ini, maka tak ada produsen obat ataupun zat penyembuh lainnya yang mengiklankan dirinya bahwa obat produksinya agak lelet mengobati penyakit. Pastilah dengan segala klaim yang seringkali penuh dengan nggedebusan memastikan bahwa obat atau zat penyembuh produksinya bereaksi sangat cepat. Walaupun nantinya setelah obat tersebut dipakai, kesembuhan yang saat ditampilkan dalam iklan obat itu secepat durasi iklannya, ternyata memakan waktu berjam-jam, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun. Tentu saja makin membuat sang penyandang pileren tak sabaran.

Apalagi jikalau kesembuhan yang hendak dicapai oleh sang penyandang pileren itu harus ditempuh dengan ngantri ndaptar di loket RS. Dilanjutkan dengan ngantri urutan pasien di depan pintu sang dokter, dimana ngantrinya sambil menyaksikan deretan orang sesama penyandang pileren yang gak boleh saling mendahului. Setelah antrian itu, dilanjutkan lagi dengan ngantri obat di deret antrian apotik buat nebus resep. Maka baru membayangkan urutan deret antrian yang hendak dijalani saja, sudah membuat sang penyandang pileren makin cekot-cekot kepalanya.

Maka jika tiba-tiba ada sarana penyembuhan yang hanya melibatkan proses sak dumukan, atau sekali tepok, atau sekali nyunyuk  di jidat trus dijamin pasien bablas pilerennya, tentulah sarana penyembuhan ini akan digrupyuk abis sampai sumsumnya. Dan itulah yang sedang terjadi di tlatah nJombang sana. Dengan hanya berbekal air putih yang diklaim bertuah sakti, maka serombongan pasien berduyun-duyun secara klaster hendak nyucup air sakti itu. Ada yang melakukan dengan penuh keyakinan, ada yang sipatnya nyoba-nyoba ada juga yang melakukannya demi menghindari jalur antrean dan bentakan yang biasa dia terima di RS.

Dan sarana iklan dari mulut ke mulut rupa-rupanya lebih epektip daripada pasang iklan di tipi di saat primetime yang tentu saja memakan biaya tidak sedikit. Tentu saja beragam komentar terlontar atas kejadian tersebut. Para ulama menyesalkan penomena ini, dengan berpesan agar masyarakat jangan terlibat dengan kesyirikan. Sedangkan ulama lainnya berpendapat penomena ini bukan syirik. Hanya orang sirik yang menganggap air sakti itu syirik, begitu kata ulama yang lain, yang biasanya bergelar kyai dan membuka praktek nyucup mbun-mbunan itu. Sementara itu masyarakatnya bebas memilih, ulama mana yang akan dia ikuti. Pokoknya kalau sesuai keinginannya ya diturut saja. Jan… bubrah kabeh.. :(

Ada satu cerita, agak berbau israiliyat, yang simbah juga belum tahu keshahihan kisah ini. Dahulu kala manakala Nabi Nuh membuat perahu dan sudah siap pakai, tiba-tiba orang-orang kepir mengejek dan menghina upaya nabi Nuh ini dengan cara memberaki dan membeoli perahu siap pakai itu. Setiap hari berpuluh bahkan beratus orang beol di perahu besar itu, sehingga tak satu sudutpun dari perahu itu yang tak dikotori dengan sampah biologis primitip itu. Nabi Nuh sedih.

Namun Allah Maha Kuasa, dan tak hendak merepotkan nabi Nuh untuk bersih-bersih kotoran di perahu beliau. Maka syahdan, masuklah seorang tua bongkok yang berpenyakit namun kepir, hendak buang hajat di perahu itu. Karena tertatih dia kepleset dan punggung bongkoknya menimpa tumpukan tinja di perahu itu. Ajaib, bongkoknya langsung tegak dan sembuh. Sedangkan penyakit lainnya yang terkena tinja itu juga ikut bablas hilang. Maka tak sepeminum kopi tubruk, kabar ini tersiar ke mana-mana. Bahwa tinja di kapal nabi Nuh berkhasiat menyembuhkan segala macam penyakit.

Orang-orang kepirpun berduyun-duyun ngeruk tumpukan tinja di kapal tersebut. Semua pasien dengan beragam penyakit tumplek blek, dari penderita wasir, turun berok, sampai mangsuk angin kasep berebut tinja keramat yang sebenarnya adalah tinja mereka sendiri. Maka kapal pun dengan ijin Allah jadi bersih dan kinclong lagi, karena tinjanya dikukut abis oleh sang pembeolnya sendiri-sendiri. Kun fayakun lah…

Masyarakat kita sebenarnya tak jauh beda dengan type masyarakat umatnya nabi Nuh itu. Segala sesuatu yang diklaim menjanjikan ini dan itu yang serba cepat menyelesaikan problem, selalu menjadi buruan, walau sering tak rasional. Padahal kalau mau jujur, segala yang normal dan wajar, pastilah memakan waktu yang normal dan wajar pula. Allah sudah meletakkan keadilan dan keseimbangannya dengan sangat tepat presisinya. Namun Allah juga memberikan sarana jalan pintas. Namun biasanya sarana jalan pintas yang ditawarkan Allah hanyalah berlaku bagi orang dengan kwalitas dan kepantasan tertentu yang memang pantas menerima sarana jalan pintas tersebut.

Mengingat masyarakat kita masih suka yang nganeh-nganehi tersebut, simbah ada usul buat Dinas Kebersihan DKI yang selalu dipusingkan dengan sampah. Cobalah bikin isu dengan melibatkan beberapa gelintir orang yang mengaku penyakitnya sembuh gara-gara nyiduk sampah di Bantar Gebang sebanyak tiga ember besar yang ditaruh di bawah tempat tidurnya. Simbah yakin, jika testimoni ini dibikin heboh, gunungan sampah di Bantar Gebang akan kukut diangkuti member masyarakat jalan pintas ini ke kamarnya masing-masing… :D

Akhirnya Terbit Juga!

Posted 02 Feb 2009 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Setelah melewati penantian tak seberapa lama, akhirnya sebuah buku yang merupakan kumpulan celotehan dan gerundelan isi otak dari simbah terbit juga. Cukup mengherankan simbah, buku yang tadinya simbah kira cuma beberapa halaman saja, ternyata setelah terbit terdiri dari 200 an halaman lebih.

Dengan terbitnya buku ini, simbah merasa seperti memasuki babak baru dalam kehidupan simbah. Yakni menjadi seorang Penulis, satu profesi yang tak pernah disebut anak-anak SD di saat mereka ditanya mau jadi apa kelak saat besar nanti. Konsekwensinya, simbah yang biasanya bekerja membedah bisul, kutil ataupun mbedah koreng, saat ini simbah mau tak mau ditugasi membedah buku. Maka otomatis simbah akan dituntut untuk tampil di muka publik.

Terus terang untuk urusan yang satu ini, yakni tampil di muka publik, adalah  hal yang paling menggelisahkan simbah. Dari sejak TK sampai kuliah, yang namanya “maju ke tampil” adalah pekerjaan yang selalu ingin simbah hindari. Grogi dan gugup adalah bawaan lahir yang bermanifest amat memalukan saat simbah waktu kecil tampil di muka teman-teman TK untuk menyanyikan lagu “Balonku Ada Lima” yang simbah nyanyikan berputar-putar gak habis-habis macam CD mbundhet. Karena setelah syair… “Meletus balon hijau DOOR, hatiku sangat kacau”, simbah menyambungnya dengan bait : “Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru”. Tak mengherankan lagunya gak tamat-tamat diiringi dengan tawa Bu Kus (alm) guru TK simbah yang ngakak habis mendengar lagu tak bertepi itu.

Konsekwensi dari tampil di muka publik adalah identitas simbah menjadi terkuak. Walaupun sebenarnya identitas simbah bukanlah misteri buat Boeng Koeaing, kang Okebebeh, Cak Andi Nur, ataupun sang maestro web design yang selalu mengoprek blog simbah dengan mantabhnya, yakni Bang Johar a.k.a Nurudin jauhari.

Selanjutnya simbah tak lupa berterimaksih kepada pihak penerbit yakni Pro-U Media yang telah berkenan menerbitkan kumpulan tulisan simbah ini. Sungguh merupakan satu kehormatan bagi simbah bahwa pihak Pro-U Media menerbitkan buku ini tanpa mengubah satu hurup pun, walaupun tentu saja itu mengubah ejaan EYD menjadi Ejaan Yang Dikacaukan. Dari penulisan hurup “P” yang hampir selalu menggantikan hurup “F” atau “V”, ataupun ejaan yang senantiasa mengacaukan antara homofon, homograf ataupun homonim.

Akhirnya, dengan segala kekurangan di sana-sini simbah mempersembahkan buku ini dalam rangka tawashaubil haqqi wa tawashau bish shobri, yang ujungnya tak lain dan tak bukan demi menggapai Ridho Illahi.

Judul Buku :  Republik Genthonesia, Maju Perut Pantat Mundur
Penulis      :  Mbah Dipo
Penerbit    :  Pro-U Media
Tebal        :  254 Halaman
Harga        :  Rp 30.000,-

Untuk mendapatkannya sampeyan bisa kontak ke agen-agen sbb:

Agen Agen

Jabodetabek : Bursa Nurul Fikri 021-7863803,
Fatahillah 021-7374426, Salsabila 081311312251, I’tishom 021-68991133, Fauzi
021-93042604, Media Dakwah 021-3153928, Bandung: Irfan 08122118475,
Mufti 08122221475, Jawa Timur : Media Idaman 0817376443, Semarang : Gunawan 081328784604, Abdullah 081575174573, Solo : Al-Faza 08121542776, Sumsel 08197853290, Makasar: Abd. Rosyid 0411-883205, Mutiara Ilmu 085299519800, Medan : Jhon Hendri 061-77120281, Riau : Alfiyah 081365518837. Yogyakarta : Hatta 081392587101, Sarana Hidayah 0274-521637, Afif 081578824633, Sadar Ilmu 08121590416.

Dapat juga kontak ke Penerbit Langsung.

Kontak

Telp/Fax. 0274-376301, e-mail :
proumedia@gmail.com, SMS, 0274 – 7447222 Atau dapatkan di Toko Buku Gunung Agung, Gramedia, Toga Mas, dan toko buku lainnya.

Ganti Angka Tahun

Posted 31 Dec 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Dalam seminggu ini ada 2 kali pergantian tahun. Yakni dari tahun 1429 Hijriyah ke 1430 Hijriyah dan dari tahun 2008 ke 2009 masehi. Seperti biasa masyarakat lebih terfokus untuk menyambut pergantian tahun masehi daripada tahun hijriyah.

Buat simbah ganti tahun ataupun ganti bulan atau hari merupakan peristiwa penting. Bahkan jika mau merunut ke satuan waktu yang lebih kecil, yakni pergantian jam ataupun detik, merupakan hal yang pantas dicermati. Bukan hanya pergantian detik dari pukul 23.59.59 ke pukul 00.00.00 saja yang pantas diamati.

Waktu selalu bergerak maju, meninggalkan detik yang berlalu. Sedetik lalu adalah merupakan sejarah bagi detik sekarang. Demi kepentingan perhitungan, manusia memberinya angka. Hijriyah baru mencapai angka 1430, lebih sedikit dari masehi yang sudah mengangkai sampai 2009. Namun tentu saja angka tahun masehi masih kalah dengan jumlah angka yang berhasil dicantumkan tahun China maupun tahun Jepang. Juga tak ketinggalan, tahun saka pun sudah menorehkan angka yang tak kalah banyak.

Sampeyan pribadi boleh memiliki kalender pribadi dengan perhitungan sampeyan sendiri. Mau sampeyan angkai dari sejak sampeyan lahir sampai sekarang pun tak ada yang protes. Sampeyan namai tiap tahunnya sebagaimana orang China menamai tahun dengan nama tahun munyuk, tahun wedhus, tahun celeng, ataupun nama anggota ragunan lainnya pun sah-sah saja. Ha wong semuanya tinggal kesepakatan saja. Sepakat mau dihitung sejak kapan, dihitung berdasar apa, diangkai berdasar apa, toh yang namanya waktu gak pernah menolak dengan nama dan angka yang kita berikan.

Jadi sungguh geblek orang-orang yang menyandarkan nasib dan peruntungan berdasarkan nama dan angka tahun yang pemberiannya berdasar kesepakatan bersama. Orang yang menyandarkan nasib hidupnya kepada nama, angka dan perhitungan tahun adalah orang yang membutuhkan adanya kambing hitam bagi kegagalan yang disebabkan kesalahan dirinya dengan menyalahkan waktu.

Dalam syariat memang ada waktu-waktu yang berharga bak intan permata, ada juga waktu yang biasa-biasa saja. Malam lailatul qadar adalah waktu bak gelas permata. Sedangkan hari-hari lain ibarat gelas biasa. Namun semua itu hanyalah gelasnya saja, belum ada isinya. Jika sampeyan haus, maukah sampeyan diberi gelas permata yang kosong? Hilangkah dahaga sampeyan dengan cuma disodori gelas kosong yang terbuat dari permata?

Bandingkan dengan waktu biasa yang ibarat gelas terbuat dari tempurung kelapa. Namun gelas tempurung itu berisi es dawet gilar-gilar mantabh. Maka sudah pasti dahaga pun bisa hilang diringi dengan secuil komentar… “mak nyosss..”

Itu hanyalah permisalan. Waktu yang baik yang tak diisi dengan amal yang baik hanya akan menghasilkan kekosongan yang tak bermanfaat. Bayangkan saat malam lailatul qadar datang, tapi sampeyan cuma mlungker ngowoh sambil bikin peta dunia di bantal, apakah sampeyan jadi mulia di malam yang mulia itu? Malamnya memang mulia, tapi sampeyan cuma jadi satu dari sekian juta manusia yang membangkai, yang tak jadi mulia walau di malam yang mulia.

Lihatlah di hari yang biasa yang tak diembel-embeli dengan nama hari mulia, saat ijabah, saat makbul ataupun bulan mulia, namun sampeyan di setiap detik yang berlalu diisi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Simbah jamin sampeyan akan menjadi manusia mulia walaupun waktunya tak dinamai waktu yang mulia.

Kemuliaan, keberuntungan, kebangkrutan, kesialan, ataupun kebahagiaan kita tidaklah tergantung pada mulianya atau sialnya waktu. Justru kitalah dengan perbuatan amal kita bisa menyebabkan waktu menjadi mulia, lantaran kita mengisi waktu yang ibarat gelas kosong itu dengan kemuliaan. Jangan malah terbalik.

Semoga tahun ini menjadi mulia karena kita sepakat mengisinya dengan kemuliaan.

Powered by ScribeFire.

Oh, Pak Penghulu

Posted 24 Dec 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip, Pengaosan

Minggu-minggu terakhir ini jika sampeyan mau memperhatikan gang-gang di pinggir jalan di Jakarta, akan tampak yang namanya umbul-umbul janur disertai nama pasangan pengantinnya berderet seperti bendera merah putih di saat agustusan. Sewaktu simbah menyusuri jalanan di daerah Pondok Kopi dan wilayah Semper, tak sampai jarak seribu tombak sudah melewati hampir sepuluh umbul-umbul janur. Yang berarti setidaknya ada sepuluh pasang anak manusia sedang dinikahkan hari itu.

Tak salahlah jika bulan ini disebut sebagai musim kawin. Bukan lantaran hawa dingin yang cocok buat bulan madu pasangan pengantin, namun karena ketakutan orang menjalankan acara nikah di bulan Muhamram lah yang menjadi penyebab. Ada yang menyangkal pendapat ini dengan mengatakan bahwa banyaknya acara pernikahan di bulan ini lantaran bulan Dzulhijjah adalah bulan haram,yakni bulan baik yang dimuliakan oleh Allah. Tentu saja ini merupakan pendobosan publik yang membodohkan. Karena yang namanya bulan haram itu ada empat, tiga di antaranya berurutan. Yakni Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Jadi jika memang yakin bahwa pernikahan yang pating drindil itu karena menepati bulan haram seharusnya musim kawin itu akan berlanjut sampai Sasi Suro alias bulan Muharram nanti. Namun kenyataannya saat masuk bulan Muharram,aktifitas kawin mengawinkan pun libur sebulan penuh, terutama bagi orang javanese van ndesonese.

Berbicara masalah urusan kawin mengawinkan, maka kita tak bisa lepas dengan yang namanya pejabat pencatat pernikahan dari Kantor Urusan Agama (KUA) yang biasa disebut dengan Pak Penghulu. Perlu diketahui bersama bahwa fungsi utama dihadirkannya Penghulu dalam acara pernikahan adalah semata-mata sebagai pejabat negara yang mencatat dan memberikan kekuatan hukum legal bagi pernikahan yang berlangsung, sehingga pernikahan tersebut syah menurut agama dan undang-undang yang berlaku. Sedangkan yang namanya menikahkan itu adalah tugas dari bapaknya si pengantin perempuan.

Pada prakteknya yang namanya penghulu ini mendadak berubah menjadi raden Ngabehi yang mengambil alih semua peran dalam acara pernikahan. Dari sejak menikahkan,mencatat, mengatur dan bahkan menyutradarai jalannya acara pernikahan bak sutradara tiban. Sehingga acara akad nikahpun jadi seperti sinetron atau opera sabun deterjen yang tak berbusa. Sampai-sampai bermunculanlah ide-ide baru yang disisipkan dalam acara nikah yang sebenarnya bukan merupakan rukun nikah, tapi dijejalkan dengan paksa. Akibatnya publik awam beranggapan bahwa itu adalah wajib, karena yang nyuruh pak Penghulu yang dianggap paham dalam urusan agama.

Di antara perkara yang dijejalkan itu adalah saat akad nikah akan dijalani, sang mempelai perempuan disuruh minta ijin dulu pada bapaknya untuk menikah dengan pria pilihannya. Ini sebenarnya acara yang ngoyoworo, lucu dan kadang mbikin simbah ngempet ngguyu. Ha wong bapaknya sudah nyewa gedung jutaan ripis, nyewa sonsistem dolby stereo serta tata panggung berhias sinar laser, semuanya jelas mengindikasikan kalau bapaknya jauh-jauh hari (tanpa Nurudin) sudah mengijinkan dan bahkan menyiapkan semuanya, kok ya masih dijejali lagi acara ketoprakan mubadzir yang namanya “minta ijin”. Coba bayangkan jika tiba-tiba bapaknya njawab, “saya tidak mengijinkan nduk”…. Apa nggak kaget para tamu undangannya. Tiwas dandan berjam-jam, minjem gelang kalung tetangga buat kondangan, ha kok gak jadi nikah. “Tiwas ngamplopi,” begitu mungkin pikiran para tamu undangannya melihat acara pernikahannya gagal total.

Di antara perkara yang kadang dibikin-bikin dan ini didukung oleh pihak keluarga pengantinnya adalah diulang-ulangnya ucapan ijab kabul karena dianggap tidak syah lantaran alasan yang mengada-ada. Ada yang menganggap tidak syah karena saat pengantin laki-laki mengucap lafal ijab kabul disela dengan batuk. Ada yang menganggap tidak syah karena ucapan ijab kabulnya tidak lancar. Ada yang menganggap tidak syah karena antara ucapan sang bapak dan pengantin laki-laki jaraknya lebih dari dua detik. Sehingga saat si bapak selesai mengucap lafal menikahkan, sang pengantin laki diberi kode untuk segera menyambut. Ada juga yang menganggap tidak syah lantaran ucapan ijab kabulnya agak tergagap karena gugup. Alangkah sialnya jika pengantin lakinya seorang yang memang gagap. “Ssaa..sa.. ya te…te.. teri..terr….terima…nnnn…nik..nikahnya……..” GLODAAK!!! Sampai lebaran kucing gak akan syah nikahnya lantaran perlu diulang lagi dan diulang lagi.

Dan perkara yang membuat makin miris adalah biaya nikah yang ditetapkan oleh pihak KUA yang tidak jelas juntrungnya. Ada yang bilang lebih transparan tarif short time gang Dolly daripada nikah resmi. Sebenarnya yang menjadi penyulit adalah keharusan datangnya pak Penghulu ke tengah acara akad nikah. Padahal jika acara nikah dijalankan,lantas KUA hanya berfungsi sebagai pencatat, maka akad nikah tak harus dihadiri Penghulu. Pernikahan cukup didaftarkan dengan menghadirkan saksi ke KUA. Namun karena masyarakat dicekoki pemahaman bahwa acara akad nikah harus dihadiri penghulu dari KUA,maka akhirnya muncullah biaya transport untuk menghadirkan penghulu. Biaya transport inilah yang akhirnya menjadikan biaya nikah jadi melambung. Karena biaya transport yang dikehendaki pak Penghulu seringkali harus ditetapkan dengan nego bak bakul ayam. Ada yang kena sejuta, setengah juta, bahkan yang sial adalah jika pak Penghulu sudah buka harga empat juta. Mau ditawar berapapun kenanya tetap di atas sejuta ripis. Kasian juga Lik Sarmin yang sudah bujang lapuk ngempet nikah karena tak kuat menghadirkan penghulu ke acara nikahnya.

Ada satu kisah nyata di komplek simbah di tahun 2007 saat komplek simbah kena banjir. Salah seorang warga mengadakan acara pernikahan di tengah suasana banjir yang melanda. Pak Penghulu pun dihadirkan. Karena suasananya sedang banjir, jalan yang ditempuh pun penuh keklebusan dan basah. Selepas akad nikah diucap dan Pak Penghulu pamitan, mendadak pak Penghulunya bilang dengan setengah berbisik pada sohibul hajat, “Maaf pak, berhubung keadaan banjir seperti ini, saya mohon kebijakan dari bapak untuk memberikan ‘uang banjir’ pada kami. Bapak tahu sendiri kan, cukup susah mencapai daerah sini dengan suasana banjir kayak gini. Paling tidak 200 rebu pak”. Sekali lagi : GLOODAAKK !!!
Salah seorang kawan simbah simbah masih bisa bersyukur dengan nyeletuk, “Untung cuma kena uang banjir 200 rebu, untung gak diminta uang klebush, uang laundry dan uang becek.” Oh… pak penghulu. Simbah yakin, tak semua begitu.

Powered by ScribeFire.

Kapal Bocor

Posted 22 Dec 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Beberapa waktu lalu simbah mendapat kabar bahwa beberapa perusahaan leasing mobil di Jakarta ini terancam kukut. Penyebab yang langsung dituding adalah krisis keuangan global. Karena sampai saat ini kata-kata “krisis keuangan global” adalah kata-kata ampuh untuk dijadikan biang kerok segala macam kejadian yang gak mbejaji. Tersiar pula kabar bahwa beberapa perusahaan tekstil dan industri lain mulai memanggil karyawan-karyawannya untuk ditawari memilih satu diantara 2 opsi. Yakni pilih mundur teratur atau mundur kabur. Jika mundur teratur akan disangoni walau gak mitayani. Tapi kalau mau bertahan, diramalkan di awal tahun 2009 perusahaan akan kolaps dan karyawan jangan harap dapat pesangon apapun, karena pemilik perusahaannya gak bakalan mampu dan justru memilih kabur dari tanggung jawab.

Kang Waluyo Pithut, salah seorang pemilik showroom mobil di bilangan Jatinegara mulai menggerutu, “Sebetulnya krisis ini apa tho penyebabnya? Katanya semua ini gara-gara Amerika Koplo. Gara-gara kelakuan mbejat segelintir jidat saja kok mbikin dunia jungkir balik,” keluhnya.

Simbah sendiri gak begitu paham perihal teori-teori ekonomi yang dipakai oleh ahli-ahli ekonomi dunia itu. Tapi yang jelas segala bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dipakai, ternyata berujung pada krisis keuangan global seperti sekarang ini. Hampir semua ahli ekonomi menyusun kebijakan ekonominya untuk menyejahterakan rakyatnya. Semua negara menerapkan kebijakan ekonominya berdasarkan saran ahli-ahli ekonominya. Namun melihat krisis keuangan yang sekarang ini sedang melanda, timbul rasa skeptis pada diri para ahli ekonomi itu. Jangan-jangan segala macam bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dijalani dan diubal-ubal ajarannya itu sebenarnya semuanya hanyalah sekumpulan “Bull” yang ketemu “Shit” alias omdo. Maka tak heran jika lantas para ekonom mulai mengevaluasi segala macam teori ekonomi yang sebelumnya dipegang menjadi setengah agama itu, baik teori ekonomi kapitalis, sosialis, komunis maupun yang cuma pringas-pringis.

Menurut kang Waluyo Pithut yang memang tak pernah mengenyam sekolah sampai tamat dan tak pernah belajar teori ekonomi yang ndakik-ndakik, segala bencana ekonomi dunia saat ini sebenarnya diawali oleh perangnya si Bush lawan Saddam Husein yang melibatkan rakyatnya. Perang yang akhirnya membahayakan ekonomi Amerika Koplo, didukung oleh meroketnya harga minyak dunia dan perilaku korup yahudi amerika dengan sistem ribanya, menjadi ramuan manjur buat membangkrutkan dan memberantakkan tatanan ekonomi dunia.

Kelakuan Amerika Koplo yang dengan tak sopan mengangkangi negara-negara kecil tak bersenjata demi minyak, hampir tiap hari ditayangkan di tipi. Kelakuan mbejat Amerika koplo dengan segala kelicikannya hampir setiap hari dipertontonkan di hadapan kang Waluyo Pithut sang pemilik showroom, pada Pak Min si penjual sego kucing, pada Lik Gemblong seorang pengusaha odhong-odhong, atau pada pejabat semi penjahat yang memegang keputusan dan kebijakan. Semuanya tak sadar, bahwa tontonan yang dipertunjukkan Amerika Koplo di tipi itulah yang akhirnya mengukut showroomnya Kang waluyo Pithut, mengancam harga bandeng di segonya Pak Min, menggerogoti kempolnya Lik Gemblong yang mengayuh odhong-odhong tanpa penumpang dan membuat jidat pejabat terembat lantaran puyeng mikir tuntutan rakyat yang sekarat.

Kanjeng Nabi menggambarkan perilaku Amerika Koplo itu ibarat serombongan idiot yang sedang melobangi dasar perahu karena hendak mengambil air di bawahnya, lantaran jikalau harus turun naik ngambil air terlalu jauh jaraknya. Sedangkan kita semua ini adalah penumpang di perahu tersebut, namun hanya bengong ngowoh melihat keidiotan sang pembocor perahu tanpa ada yang mengingatkan atau menegur. Di antara penumpang perahu itu ada yang sedang sholat, ada yang sedang doa hewes-hewes, ada yang sedang ndikir, ada yang sedang mbaca kitabullah, namun tak satupun yang menegur perilaku sang idiot yang sedang melobangi perahu. Manakala perahu mulai karam, semua panik. Pertunjukan koplo sang idiot rupanya membahayakan banyak jiwa dengan karamnya kapal. Sang ahli sholat heran, ha wong dirinya rajin sholat kok ikut karam. Sang tukang doa juga heran, ha wong tiap hari mendoa sapu jagad kok juga ikut mau karam. Sang ahli ndikir dan baca kitabullah juga kaget, ha wong selama ini selalu basah lidahnya mengingat Allah kok mau karam juga. Semuanya lupa, karamnya mereka itu lantaran tak ada satupun yang menghentikan upaya idiot sang pembocor kapal.

Salah seorang pasien simbah pernah bertanya, “Mbah, ha wong gara-gara segelintir orang kok semua harus nanggung. Kok bisa begitu itu gimana nalarnya?”

Simbah jawab, “Sampeyan tahu kan, komplek kita ini dulunya tak ada yang namanya polisi tidur. Semua pemakai jalan bisa berjalan dengan mulus tanpa harus ngerem-ngerem menghindari gajlugan polisi tidur. Lalu tiba-tiba ada seorang idiot bergaya Palentino Rosi lewat hampir nyerempet seorang anak kecil yang sedang main di jalan. Dari situlah orang berpikir untuk memasang polisi tidur walau sebenarnya bisa ditempuh dulu dengan menasehati pemakai jalan itu. Namun karena tak ada yang amar makrup nahi mungkar dipasanglah polisi tidur, bahkan sampai ada yang masang polisi nungging karena saking tingginya. Saya tanya sampeyan, jika sudah dipasangi polisi nungging itu, yang kena gajlugan apakah cuma si begajul ngebut ala Palentino Rosi tadi atau semua pemakai jalan termasuk yang ati-ati? Bahkan mbah Wiryo Setliko yang ngonthel dengan kecepatan siput pincang pun terpaksa kena gajlugannya si polisi tidur itu.”

“Masuk akal juga.” Kata pasien simbah tersebut.

Memang harus ada upaya amar makruf nahi munkar kepada para penguasa dunia, bahwa yang mereka upayakan saat ini adalah upaya idiot membocori kapal yang bisa menimbulkan bencana karam global. Amar makruf nahi munkar lah yang menyelamatkan kapal dunia dari bencana karam global. Memang masih ada ratusan juta bahkan milyaran bibir yang berdoa, berdikir, menengadahkan tangan minta keselamatan pada Penguasa Alam Semesta. Namun Sang Pencipta sudah memberi isyarat pada kita semua, “Kalian sendiri bisa menyelamatkan nasib kalian. Ada upaya yang bisa kalian tempuh, mengapa tidak kalian tempuh? Mengapa kalian suruh Aku menyelesaikan masalah kalian, sementara jalan penyelesaian sudah Aku tunjukkan pada kalian?”

Powered by ScribeFire.

Tribute to Bush : Pro dan Kontra

Posted 16 Dec 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe, Selingan
Sebagaimana sudah diketahui bersama, bahwa Presiden Amerika Serikat yang namanya mirip bunyi kenthut untuk telinga orang Indonesia, yakni “Bush”, dibalang tapuk sandal eh… sepatu oleh salah seorang audience yang konon sedang mabuk. Tentu saja aksi ini mengundang komentar pro dan kontra dari berbagai pihak. Tak ketinggalan kalangan bakul underground pasar Paingan yang sibuk ngeciwis membicarakan aksi berani pelempar sepatu itu.

Salah seorang wartawan koran “Pitutur Times” yang terbit di negeri entah berentah, menangkap komentar para tokoh underground yang terangkum dalam tulisan berikut ini.

Komentar Pro :

1. Saya setuju terhadap tindakan memberi penghargaan pada si Bush dengan cara lemparan sepatu mawut itu. Itu sudah sepantasnya dianugerahkan pada tokoh haus darah itu. (Drs. Gendro Sutejo, MM, Hansip Pasar Paingan).

2. Tindakan tepat, untuk orang yang tepat, di saat yang tepat. (Mbah Gableng, penjual akik bersertifikat)

3. Tak ada ucapan yang pantas selain ucapan, Selamat, Anda layak untuk dibalang. (Mpok Patimeh, bakul pecel non formalin).

4. Salut. Sungguh berani. Dua acungan jempol tak cukup buat si pelempar sepatu. Selamat berlatih untuk lemparan berikutnya, semoga sukses dan tepat sasaran. (Kyai Ngaidin, penjual bunga plus doa dan jopa-japunya)

Selain komentar yang pro, berikut adalah komentar yang kontra.

Komentar Kontra :

1. Saya sangat tidak setuju dengan tindakan pelemparan sepatu itu. Mengecewakan… Harusnya kan pas di jidatnya… ha kok luput!! Mengecewakan….! (Bang Somali, centeng pasar Paingan)

2. Saya tidak setuju. Saya sangat tidak setuju kalau si pelempar sepatu dikatakan mabok. Justru dia sedang waras-warasnya dengan derajat kesadaran tinggi. Jika makin sadar, mungkin granat yang dia lempar. (Mang Pi’i, mantan penjual Ciu).

3. Saya sangat menentang aksi pelemparan sepatu itu. saya lebih setuju jika clurit yang dilemparkan. (Cak Kon Peno, pengrajin sekaligus tukang pande besi pasar Paingan).

4. Aksi yang pantas disesalkan. Saya sangat menyesalkan, mengapa tak ada lemparan ketiga setelah dua lemparannya gak kena… (Jang Odeng, mantan aktivis judi lempar dadu).

Itulah sebagian komentar pro dan kontra yang sempat terekam. Nama yang tercatat bukanlah nama sebenarnya sebagaimana yang tertulis di akta kelahiran mereka. Jika anda memiliki komentar pro maupun kontra, silakan tulis saja. Koran “Pitutur Times” dengan senang hati akan memuatnya.

Page 2 of 1812345678...Last →