OBAT HALAL
Simbah yakin juga, bahwa jikalau kasus ini menimpa sebagian besar muslimin Indonesia, mereka akan menolak jika dikasih obat paru-paru ataupun hati celeng. Mengapa? Ya temtunya ini dikarenakan Celeng adalah binatang yang haram dikonsumsi.


Tapi apa jadinya manakala dengan sentuhan teknologi, si celeng tersebut bisa berubah wujud menjadi bungkus kapsul, campuran tablet atau bahkan menjadi bahan baku obat tersebut? Apalagi wujud celeng itu sudah jadi pil, kapsul atau tablet bahkan sirup?
Lha apa memang obat-obatan yang kita konsumsi sehari-hari itu mengandung Celeng bin babi? Nah, itulah yang kita gak tahu. Hanya saja potensi untuk itu besar sekali. Bahan obat seringkali susah dipisahkan dengan yang namanya gelatin. Gelatin ini bisa dari bahan sapi, bisa juga dari babi. Hanya yang jelas peredaran gelatin dunia cenderung didominasi oleh gelatin babi. Selain lebih ekonomis, proses pembuatannya pun lebih cepat.
Gelatin bermain di cangkang kapsul, atau di tablet dengan peran sebagai emulsifier, penstabil dan fungsi aditif lainnya. Jadi gelatin itu bukan zat obatnya itu sendiri, tapi hanya campuran obat. bahkan bisa menjadi bahan campuran dalam infus, plasma ekspander maupun bahan sirup.
Itu belum cukup. Jika sampeyan ngonsumsi suplemen dimana disitu disebut mengandung ekstrak hati sebagai suplemen tambah darah, lha hati binatang apa itu? Jangan-jangan hati celeng? Pabriknya khan gak pernah bilang ke kita.. Jika kita minum minuman suplemen yang mengandung TAURIN, harusnya kita bertanya, taurin itu apa? Taurin itu protein hewani, masalahnya… hewan apa yang diambil taurinnya itu..??
Masyarakat kita masih masa bodoh dan memang masih bodoh tentang hal ini. Yang dikejar dari pengobatan adalah “Yang Penting Sembuh”. Jadi fokusnya adalah hasil, sehingga mengabaikan proses. Maka untuk sembuh segala cara ditempuh, sehingga menghalalkan segala cara. Biar sembuh kalo perlu minum uyuhnya sendiri, makan tahinya sendiri atau makan tahi kebo bule, ngunthal paru celeng, ngemplok undur-undur, bahkan kalau perlu merdukun. Tapi seandainya yang dipentingkan adalah proses, maka hal ini tidak akan terjadi. Prosesnya hala dulu, masalah kesembuhan Allah yang beri.
Yah, jangankan untuk sehat… untuk cari makan saja masyarakat kita masih mementingkan hasil kok. Yang penting hasilnya banyak. Masalah itu hasil dari korupsi, maling, nggorok leher orang, makan harta orang miskin, dari melacur, jual kehormatan… semua gak penting. Yang penting hasilnya…
Sampeyan juga gitu ya..??


















Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 







heheeh….hijo mbah…tempoh2 sahadja …..
jah namanja djoega manoesia, tapi haroesnja soeda moelai diboewang itoe kebiasa’an boeroeknja boeng…
trus gimana mbah?? secara kita ini kan user, kalo dokter sudah ber-titah??
mbah coba mbahas masalah kerokan. bojoku seneng banget karo sing siji iki soale …
heheheh.. lu mau tau alasanya kenapa dipilih celeng atau babi, karena diolah untuk menjadi gelatin lebih mudah dan lebih murah tapi kalau dengan sapi mahal pengolahan dan lama pembuatannya. yah harga obat nya sudah mahal kalo kapsulnya mahal juga yah berat juga dong aku sih liat dari sisi ekonomis nya, kalo takut haram yah elo makan puyernya saja pembungkus gelatin nya lu buang resiko nya pahit pahit tuh lidah n mulut.
untungnya gue nggak pusingin hal seperti itu. btw ada yang pernah buat gelatin dari ikan ???
Mbahlu : kapsul tanpa gelatin sekarang sudah banyak diproduksi. Kualitasnya tak kalah dgn kapsul bergelatin. Yah, simbah pusing dikit gak papa lah
daripada pusingnya lama tanpa batas…
Â
waduh mbah memang bener sih, kalo semua musti kudu jelas asal usulnya. Halal Haromnya, lha tapi kalo mikir itu thok, lha apa ndak cepet mati itu pasien. Lha mengko keluarga pasien protes sama pak/bu dokter. kan kasian pak/bu dokter to. kalo selanjutnya pak/bu dokternya gak laku lagi gara-gara protes kita, kan kasian sanak saudaranya. kalo gitu piye mbah…
wah tambah mumet ya mbah….
“
“
“