Semasa simbah masih menuntut ilmu di bagian Psikiatri, simbah diharuskan untuk tinggal beberapa waktu di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Satu metode terapi yang saat itu menarik bagi simbah adalah terapi wawancara dalam satu komunitas. Terapi ini hanya diikuti oleh penderita yang sudah mengalami proses penyembuhan yang lumayan bagus. Sedangkan bagi pasien yang masih ngomak-ngamuk, gampang ngidoni (meludahi), dan rawan anarki belum boleh menjalani sesi terapi ini.
Terapi ini sebenarnya lebih mirip satu diskusi di antara penderita kejiwaan. Satu persatu penderita diajak berkomunikasi, dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan, dan dianalisa semua isi pembicaraan mereka untuk menilai derajat keparahan penyakit kejiwaan masing-masing pasien. Moderatornya adalah seorang dokter yang mengarahkan pertanyaan-pertanyaan pada pasien.
Nah, pada saat simbah mengikuti jalannya terapi ini, di hadapan simbah ada beberapa penderita yang dianggap pantas ikut terapi tersebut. Namun rupanya hanya 4 peserta yang aktif memberikan tanggapan pertanyaan. Yakni (bukan nama sebenarnya) si Bahlul, si Katro, si Ndimik dan si Uceng. Ada satu pertanyaan yang wajib mereka jawab, yakni : Apa yang menyebabkan mereka harus menjalani perawatan di Rumah sakit Jiwa itu?
Dimulai dari Jawaban si Bahlul, kader partai besar di negeri ini yang rada slewah dan sering Sardi (Sarape Ndadi). Dia jawab : “Walah dok, lha yo embuh wong-wong itu. Saya kan sebenarnya gak paham kenapa saya dirawat disini. Ha wong saya itu sehat wal ngapiat kok. Saya itu kan kemarin mencoba mengibarkan bendera Partai, tapi saya gak sreg. Yo langsung tak cabuti semua bendera sak ndeso. Lha karena hawanya sumuk, saya cuma cawetan thok. ha kok saya digrupyuk orang sekampung… saya lawan dok, tak uyuhi sisan… lha wong senjata saya cuma itu. Lha trus embuh, tahu-tahu saya sudah dirawat disini. Padahal saya gak edyan kok dirawat disini.”
Sementara si Katro, salah seorang mantan Mahasiswa ITS yang Sarno (Sarape Keno) memberikan jawaban cukup canggih : “Perkenankan saya bicara di forum yang kita hormati ini. Secara perspektif kekinian, sebenarnya saya pribadi menyangkal adanya analisa komprehensip yang mendeklarasikan bahwa diri saya menderita gejala kejiwaan yang kronis dengan eksaserbasi akut. Tapi inilah fakta pahit yang harus disandang oleh seorang titisan Pangeran Samber Nyowo sekaligus pewaris yang syah tahta suci kerajaan vatikan.”
Si Ndimik lain lagi jawabannya, “Saya itu memang salah kok dok. Sebenarnya kesalahan saya itu sepele. Cuma ndangdutan saja. Tapi saya salah, ha wong saya ndangdutannya malam-malam di tengah jalan lagi. Lagian saya ndangdutan sambil bugil.. hehehe.. Ya pantes orang ngirim saya ke sini. Saya memang salah kok dok.. hehehe…”
Yang terakhir adalah jawaban si Uceng. Dia pasien kambuhan, sudah kembola-kembali keluar masup RSJ, “Wah, yang jelas saya memang kemarin saya kumat dok. Pendopo kelurahan tak isingi. Lha pendopo kok mirip mbese.. hehehe. Tapi saya sudah baik lho dok sekarang. Saya kangen anak isteri saya…kasihan gak ada yang ngurus…”
Itulah jawaban para pasien yang lantas dijadikan bahan analisa. Si Bahlul yang menyangkal dan menyatakan dirinya sehat-sehat saja itu masuk RSJ karena ngamuk di tengah malam. Sambil telanjang dia cabuti bendera-bendera partai Banteng. Dengan penyangkalannya itu menandakan dia masih belum sembuh dan masih perlu dirawat intensif.
Tak beda dengan si Katro sang titisan Pangeran Samber Nyowo, pewaris syah tahta suci kerajaan vatikan. Meskipun omongannya ndakik-ndakik sampai tembus langit sap pitu, tapi wahamnya yang parah itu menandakan masih jauh dari sembuh.
Beda dengan si Ndimik sama si Uceng. Keduanya menyadari letak kesalahan mereka hingga harus dirawat di RSJ. Namun si Uceng agak meragukan, karena dia sudah apal metode terapi yang diterapkan, sehingga harus ditelisik lebih lanjut agar bisa diketahui dia pura-pura berlaku begitu untuk siasat agar keluar dari RSJ atau memang sudah sembuh betul.
Ada satu pelajaran berharga yang bisa simbah ambil dari metode terapi itu bagi orang yang mengaku waras. Bahwa mereka yang waras tapi kelakuannya edan, mbejad, mbajing dan korup, jika mereka mau menyadari bahwa kelakuannya itu adalah salah, melanggar aturan, melanggar norma kesusilaan dan benar-benar sadar akan hal itu, maka itu modal awal yang penting bagi jalannya mertobat.
Tapi jika para koruptor, pelacur, model porno, pemabok, penjudi, bromocorah, masturbator, dan pelaku maksiat bejad lainnya itu justru melakukan rasionalisasi dengan mencari pembenaran dan pengesahan akan tindakan maksiatnya, sudah barang tentu ini justru akan melanggengkan kemaksiatan mereka. Jauh dari pintu tobat, meskipun pintu tobat dibentang dan dibuka lebar-lebar oleh Allah sampai hari Kiamat.
Melecehkan Allah, melecehkan aturan Allah, meninggalkan dan justru menginjak-injak kehormatan syareat akan terus langgeng, manakala si pelaku masih nemu alasan dan berkedok dengannya. Tentu saja itu hanyalah alasan di dunia. Mungkin mereka pendebat yang ulung yang gak ada seorangpun yang bisa mengalahkan gaya debatnya. Semua argumen bisa dijungkir balik dengan kemahiran debatnya. Namun jika semuanya itu dijadikan modal untuk semakin melanggengkan kemaksiatannya, maka dia sebenarnya sedang menutup pintu mertobat buat dirinya sendiri, yang sebenarnya telah dibuka oleh Allah.
Sholat, puasa, jilbab, haji, zakat dan seluruh aturan Allah bisa didebat. Toh jika kita melanggar aturan-Nya besoknya masih bisa makan, masih sehat wal ngapiat, malah masih bisa nantang Allah. Bahkan semakin menantang dan melanggar aturan-Nya, justru semakin tambah kaya dan lancar saja rejekinya. Maka kebenaran buat dirinya akan diletakkan pada kemenangan berdebat. Kebenaran adalah kemenangan berdebat dan cara berdebat. Padahal semua ini akan semakin menjauhkan dirinya dari kebenaran itu sendiri. Karena sebenarnya apa yang dia sebut sebagai kemenangan berdebat itu adalah kemenangan cara dia merasionalisasikan kebejadan dan kemaksiatan yang dia lakukan.
Semoga kita terlindungi dari hal ini. Karena Allah itu Maaliki yaumiddiin (Yang Merajai Hari Aturan). Pada saat itu Allah lah yang menguasai perbantahan dan perdebatan. Hanya aturan Allah dan standart-Nya yang dipakai. Kelihaian kita mendebat dan mencari pembenaran kemaksiatan kita, akan dipatahkan oleh Allah. Dan yang terpenting lagi, pelaku maksiat yang melakukan pembenaran akan kemaksiatannya itu sebenarnya jiwanya sedang sakit.
Popularity: 8%

Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 




saiki jamane jaman edan
sing ora edan ora keduman
sing edan ora katokan
sak bejo bejane wong, sing nastiti lan waspodo
sing eling marang Gusti Allah kang Murbeng Dumadi
Mbahmu : wah kang O’on kedisikan….
mbah..aku golekno tombo mertobat mbah..resepe opo wae?? mengko aku tak golek dhewe nyang apotik..pernyataan iki gendheng opo ora iki mbah??


Mbahmu : rodo sarno…
Â
Kallaa inna l-insaana la yathghaa. Ar ra`aahus -taghnaa
Mbahmu : shodaqollah…..
Â
Setubuh mbah..eh setujuh…banyak wong edian yang masih berkeliaran..meskipun ga mudo bahkan pake jas dan dasi…
Mbahmu : Yang waras bajunya thok ya kang…?
Â
sehat ≠waras.
Kok kepeneran to mbah? tadi pas berangkat kerja di jalan liat Orgil
dengan gaya minimalis tanpa ada pakaian melekat di badannya. Eh ladalah orgil itu ternyata masuk kewarnet teman saya shg seluruh user net ketakutan dan untung ada pak sulipi eh pulisi yang baik hati mau membujuknya pergi walaupun masih dengan gaya minimalisnya.
rodho oot
mbah menyedihkan sekali ketika suatu saat saya tersangkut di ruangan maya yang justru berisi tentang penyanggahan² hukum Islam dan kebanyakan justru dari Orang Islam sendiri. mungkin ditujukan pada seseorang tapi kok ya merembetnya itu lhoooo
Mbahmu : alhamdulillah masih ada yg sedih, soalnya yang lain itu bangga lho kang. Merasa jadi pembaharu. Sedangkan sampeyan itu dianggep spesies pemeluk agama kolot..
mbah, coba saya ini dicross check ,apa saya waras apa ndak?lha wong titisane pangeran samber nyowo ae ora waras apalagi saya yg cuma titisane pangeran samber gledeg,apa iya dia itu pewaris suci kerajaan vatikan?ko ga ada di daftar silksilahnya ini?saya serius lho mbah coba kapan kapan saya diperiksa tanya jawab lewat ym mbah….aku tau sejarah yg buat monas itu siapa mbah bukan yg selama ini dipelajari si mbah atau pak oke bebeh,yg mbangun monas itu ternyata orang biasa mbah yaitu Kuli bangunan
mbah, coba saya ini dicross check ,apa saya waras apa ndak?lha wong titisane pangeran samber nyowo ae ora waras apalagi saya yg cuma titisane pangeran samber gledeg,apa iya dia itu pewaris suci kerajaan vatikan?ko ga ada di daftar silksilahnya ini?saya serius lho mbah coba kapan kapan saya diperiksa tanya jawab lewat ym mbah….aku tau sejarah yg buat monas itu siapa mbah bukan yg selama ini dipelajari si mbah atau pak oke bebeh,yg mbangun monas itu ternyata orang biasa mbah yaitu Kuli bangunan
banyak orang ga waham…….
eh salah ya paham…waham mah yang 4 orang diatas itu ya mbah?
Mbahmu : sampeyan sehat wal ngapiat lair batin kang… selamat atas momongannya yang baru lair..
Â
agama di buat untuk politik itu yang edan
maksudnya mempolitisir agama aturan yg sudah dibikin ALLAh di politisir demi pembenaran sendiri (YAHUDI)
MUNAFIK
Mbahmu : itulah penyakit kang…
Â
susah…pancen susah dadi menungso, wis dikei dalan terang plus petunjuk – petunjuknya, kok yo malah milih dalan peteng, menungso urip nang ndonya yo memang saderma nglampahi mbah, muga-muga slamat donya akherat mbah
Mbahmu : petunjuk jelas digawe remeng2 dewe, akhire mblasuk… wsi ginaris ngono kang…
Pisanan kroso yen melanggar….suwe kok dadi kebiasaan yo Mbah…?Melanggar kok terasa enak ya…?
Mbahmu : nikmat membawa sengsara…. (judul buku dibaca wong Arab)
Kapan-kapan nulis sing pepak masalah Modal Sakit, Mbah. Perlu juga Modal Edan, Modal-Madul lan sapanunggalane.
Mbahmu : kalo laki2 sekarang kebanyakan modal dengkul mbah, yang perempuan modalnya sedikit naik dari dengkul…
, tapi gak semua ding mbah…
Â
yang pasti, si pasien ni melarikan diri, tapi herannya kagak ada dokter/perawat/petugas lain yang ngejar. sementara ane sama temen ane cuman bengong aja. bilang kagak, yah..?? soale si pasien tadi udah ga terlihat, saking cepatnya dia lari.
yah..akhirnya kite kagak lapor….salah ga yo..??
Mbahmu : wah… jangan2 dia sudah jadi pejabat….. gawat……
Nyadari kesalahan iku memang angel mbah, wis sadar salah trus mulai urip sing bener yo angel mbah, la sing gampang banjur kepriye mbah…..
Mbahmu : kalo bisa ngelingi angele nahan panasnya api jahanam, semuanya bisa mudah kang…
hik..ko suwe 2 ak dadi wedi yo mbah ..anggere bar moco..tambah wedi sansoyo eling nek kakean dosa..hua..huaaa..
bismillah moga2 dosa ku diampuni oleh Nya..amien..
menawi nglanggar aturan Allah langsung keno azab digebuki sak kiyune, mungkin donya ora ono wong olo nggeh mbah… donya ketok mboseni nopo nggeh mbah yen sak isi donyo wong alim thok. pak polisi, jaksa, hakim, pengaacara, sipi LP do podho nggangur. malah Pitutur e mBah Dipo kang mumpuni ra payu… mesakke mBah Dipo nggeh, dadi nganggur soko maringi pitutur kang sae. Nggeh nopo Inggeh mBah ?
Mbahmu : nopo…