Pitutur 2.0

teman, teman dari teman, musuh dari musuh

Kemakmuran

Bagi sampeyan yang tinggal di tlatah Solo dan sekitarnya, dan saat ini setidaknya berusia 25 tahun, tentu masih ingat yang namanya Bancakan Weton. Satu ritual yang diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dengan menyajikan satu nampan nasi tumpeng yang dihiasi sayur gudhangan binti urap plus telor ayam yang ukurannya cukup menggetarkan jiwa. Betapa tidak, bagaimana sampeyan bisa membayangkan sebutir telor ayam yang dibagi dengan bilangan empat kwadrat…?

Dengan menu Bancakan Weton yang sangat sederhana itu, simbah masih inget bagaimana nasi bancakan itu cukup dahsyat menggoncang lidah ndeso kita. Sehingga jika ada panggilan undangan buat menghadiri bancakan weton ini, segera saja semua berandal cilik seumuran simbah waktu itu berlomba berkumpul untuk merubungi nasi tumpeng sederhana itu. Terus terang, yang paling menggoda dari menu bancakan saat itu bukanlah nasi urapnya. Namun hampir semua anak-anak saat itu sepakat, telor seperempat kwadrat yang mungil itulah yang menjadi daya tarik paling kuat buat menyedot ketertarikan para member bancakan itu. Sehingga seringkali anak-anak saat itu menjadikan telor ayam seperempat kwadrat itu sebagai hidangan penutup, yang akan habis dengan sekali klamut. Simbah masih inget si Yadi Lemu dan Surono Nggople yang nangis kenceng karena telor ayam seperempat kwadrat yang sedianya dieman-eman buat “Gong Penutup”, jatuh bersimbah tanah gara-gara sengaja disenggol oleh konconya yang sirik karena telornya lebih dulu disantap sebagai pembuka.

Meskipun hanya bervolume seperempat kwadrat, telor ayam masih merupakan makanan mewah saat itu. Sehingga kalau di satu perhelatan makan-makan dihidangkan telor ayam utuh, maka itu merupakan lambang kemakmuran buat sang tuan rumah. Dan segera akan menjadi pembicaraan di tengah masyarakat, dengan ragam komentarnya.
“Wuedyan tenan, ingone ndog utuh…. sedep tenan, “ kata mbah Dermo sang pengamat kuliner.

Waktu berlalu. Kasta telor yang tadinya menduduki area ningrat, semakin merosot tergantikan oleh lawuh pauh (lauk pauk) yang bernuansa daging. Tadinya daging merupakan menu sakral, yang hanya bisa dinikmati setahun dua kali, yakni di saat hari raya lebaran dan kurban. Kalaupun ada tambahan selain di 2 waktu itu, biasanya daging ayam tambahan ini berasal dari ayam mbah buyut yang kena ayan, lalu masih sempat disembelih daripada mati mubadzir. Dengan hadirnya kemampuan rakyat yang makin bisa beli daging, Bancakan Weton tidak lagi menjadi acara yang menarik. Walaupun di saat terakhir simbah melihat menu bancakaannya, telor seperempat kwadratnya sudah ditingkatkan volumenya menjadi telor ayam separo. Namun anak-anak mendatangi acara bancakan ini dengan ogah-ogahan.

Dari pengamatan simbah, yang namanya kemakmuran itu seringkali diwujudkan dalam jenis lauk yang dikonsumsinya. Orang mengkonsumsi makanan seringkali hanya untuk menunjukkan derajat kemakmurannya. Ketika melihat orang yang makan dikelilingi lauk serba daging, masyarakat menilainya sebagai orang yang sukses. Awalnya begitu. Sehingga target makan bagi orang sukses adalah bisa makan dengan daging.

Namun ketika diketahui bahwa banyak penyakit yang bisa dimunculkan oleh menu yang serba daging, orang-orang mulai kaget. Rupa-rupanya lambang kemakmuran mereka membawa petaka. Lambang kemakmuran mereka merupakan sumber penyakit yang menakutkan semisal stroke, hiperkolesterolemia, hypertrigliseridemia, asam urat, jantung koroner dan penyakit mematikan lainnya. Dan makanan ndeso macam gudhangan binti urap, tempe (yang enak dibacem dan perlu), tahu, dan lainya yang tadinya dipandang dengan pandangan rendah, ternyata malah mengandung zat yang bersahabat bagi tubuh sehat. Akhirnya terangkatlah derajatnya, ibarat kere munggah bale.

Begitulah, yang namanya kemakmuran, ukurannya selalu berubah. Pencanangan mewujudkan masyarakat yang Adil dan Makmur sudah ada sejak jaman Majaphit. Lalu digaungkan lagi dijaman orba dengan Program Pelitanya. Tapi bagaimanakah wujud kemakmuran itu dan bagaimana menggapainya, banyak yang kebingungan. Simbah melihatnya seperti kuda yang dipasangi rumput segar di depan matanya, lalu sang kuda mengejar dengan penuh semangat, berlari dengan makin cepat, namun jarak dia dengan rumput itu tak berubah. Sayangnya sang kuda tidak sadar dan menyangka bahwa dia makin dekat dengan rumput segar itu.

Gambaran simbah di atas akan klop dan terjadi pada sampeyan semua, manakala yang namanya kemakmuran itu adalah satu sarana untuk mencukupi kebutuhan hawa napsu. Karena hawa napsu tidak akan pernah cukup dengan yang ada. Diberi satu gunung emas pun akan kepingin punya dua, dan seterusnya. Namun kemakmuran akan gampang terwujud, manakala yang dimaksud adalah memakmurkan hati manusia. Mencukupi kebutuhan hati. Kemakmuran sudah dekat dan bahkan setiap hari terwujud pada mereka yang hatinya qona’ah, merasa cukup dengan apa yang bisa dia raih. Merasa cukup bukan berarti tidak punya keinginan lebih. Yang merasa cukup adalah sang hati, tapi manusia dikaruniai nafsu yang akan memacunya untuk memiliki lebih. Nafsu tidak boleh dimatikan. Dialah yang nantinya dengan sendirinya memasukkan rasa kurang pada manusia. Remnya adalah qona’ah. Jika sampeyan bisa menjaga stabilitas pedal rem dan pedal gas nafsu dengan disertai permainan kopling yang cantik, sampeyan bisa melaju di tengah kehidupan dengan harmonis. Itulah kemakmuran yang sesungguhnya.

Tapi kebanyakan manusia lebih suka mewujudkan dan mementingkan kemakmuran dengan simbol-simbol materi. Dengan bentuk rumah, jenis mobil, jenis lauk,stelan jas, jenis stick golf dan lain sebagainya. Manusia yang mementingkan mewujudkan kemakmuran dengan bentuk materi,kebanyakannya adalah manusia yang sedang mengelola kesan makmur. Mereka lebih suka terlihat makmur daripada menjadi makmur itu sendiri. Hal ini bukan berarti tidak boleh memiliki materi. Milikilah materi yang memang sampeyan butuh untuk memilikinya. Tunaikan kewajibannya, lalu berqona’ahlah hati sampeyan. Selamat menggapai kemakmuran… :)

Powered by ScribeFire.

Yang Membantu Simbah


Pingin Tau setiap simbah posting baru?
Kenapa tidak Langganan RSS simbah aja,
atau lewat email kawat di form ini
di jamin cespleng


17 Comments

Comment oleh Jauhari #
17 Jul 2008 at 10:21 am

Tak Komen Sik mbah :D

 
Comment oleh ulan #
17 Jul 2008 at 10:51 am

aku jadi pengen telur 4 kwadrat.. =P~

Comment oleh Mbah Dipo #
18 Jul 2008 at 8:58 am

Jangan mburog yayi… Entar jadi ngenthutan lho ;))

 
 
Comment oleh embuh #
17 Jul 2008 at 11:02 am

menjaga stabilitas pedal rem dan pedal gas niku maksudte gas pol rem pol ngoten Mbah..? ;)

Comment oleh Mbah Dipo #
18 Jul 2008 at 8:56 am

Njaluk kejlungup po piye? :p

 
 
Comment oleh adipati kademangan #
17 Jul 2008 at 4:34 pm

wah jaman biyen mbah … ingon ndog wutuh wes diarani Wuedyan.
opo maneh ingon daging. Nanging yen kemakmuran kuwi njur miturut napsu, yo ora bakal keturut kuwi sing ateges makmur

Comment oleh Mbah Dipo #
18 Jul 2008 at 9:01 am

Ingon daging diarani ‘ndoro tuan’..

 
 
Comment oleh dyt #
17 Jul 2008 at 9:43 pm

:d.. kok yo pas yo mbah…, pas moco pas aku lagi berusaha “naik kelas” :-\

Comment oleh Mbah Dipo #
18 Jul 2008 at 8:54 am

Naik kelas? Oo.. Ikut tahun ajaran baru ini ya? :d

 
 
Comment oleh sibolang #
18 Jul 2008 at 9:58 am

sing lemu-lemu berarti tondo naik kelas..sampean termasuk berarti mbah..mantabss

 
Comment oleh moenthy #
19 Jul 2008 at 10:06 pm

itu lah mbah….musuh terbesar kita adalah NAFSU , berulang kali aku perangin si NAFSU itu , kadang menang kadang kalah… banyak kalah nya mbah…masa tetangga ku jajanan nya “kapece” (KFC) , aku jajan colenak anu loh di cocol enak , ketan ama souce nya…..( souce nya bumbu pecel ).
one day….aku jajan rada heboh , dari mulai burger , pizza ,pokok nya yg berbau kemakmuran…. .
pake baju bermerek , tas delsey…, lah kok malah terasa ini bukan AKU yg sesungguh nya….!
duh…gusti ….astaqfirllah….aku koq nurutin nafsu , koq mau di ledek setan alas….!
yes….sir…ternyata rasa makmur itu ada di dalam diri kita sendiri….iya toch….!
thank alot buat peng ingat2 nya dok…!

 
Comment oleh putu #
20 Jul 2008 at 10:27 pm

tenan kok mbaah, saiki wis makmur wong omahe sukoharjo. ning aku yo nggumun. nek mbiyen bancaan ndoge diporo nembelas saiki malah diporo 34, kabeh podo bengok2 arep makmurne rakyat. dadi ne wong makmur kuwi tambah bodho yo Mbah. opo apike awake dewe nggawe partai “Partai Pitutur Untuk Orang Setengah Gila” ning ora sah nganggo negoro. Negara-ne ndonya akherat Visi-ne “hasanah” Misi-ne “ngamal soleh” Tujuan akhir-e “surgo” (orang ketang mung emperane).

 
Comment oleh Djigoer #
21 Jul 2008 at 9:57 am

mbah.. terlepas dari topicnya, saya kok jd kangen selametan njuk balike di gawani besek (soko anyaman) bukan kardus, plastic ataupun styrofoam… hahaha.. njerone di lapisi dong njati, contentnya basement full sego (dari beras jatah PNS), njuk duwure, srondeng, sambel goreng, acar, ndog.. hahaha.. what a wonderful life..

 
Comment oleh sluman slumun slamet #
25 Jul 2008 at 2:39 pm

sekarang pake ndog seprapat ya jadi rasan-rasan sakjagad
:D

 
Comment oleh moenthy #
27 Jul 2008 at 10:24 pm

si mbah lama banget… udah 10 hari nih…..!
bosen baca masalah korupsi , partai2 gurem , dhani maia ,gosip selebretis….!
bosen nih mbah…..! artikel nya kek mbah…..!

 
Comment oleh Aryo Sanjaya Subscribed to comments via email #
04 Aug 2008 at 4:52 pm

Kulo nggih tesik eling Mbah, endog dideleh tangan kiwo, tangan tengen ngiris-ngisir nggae peso.

Nggen kulo Demak Mbah, dadi nggeh mboten kacek adoh.

*keluar topik bahasan*

 
Comment oleh Mat #
11 Aug 2008 at 2:55 pm

:-?:-w;) jadi inget kenangan masa lalu yang indah, saat rebutan bancakan dg telor 4kwadrat

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Subscribe to comments via email
Your Comment (smaller size | larger size)

Smileys:
:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.