Ikhlas, satu kata yang gampang diucap tapi susah dipraktekkan. Padahal ini menjadi salah satu syarat penting diterimanya satu amalan. Karena amal yang yang diterima oleh Gusti Allah itu, selain harus ada contohnya dalam agama, harus dilandasi rasa ikhlas ini. Lha ini yang susah.
Amalan yang ikhlas adalah amalan yang ditujukan hanya untuk mencari ridho dan rahmat Allah. Tidak ada tujuan lain kecuali itu saja. Jadi amalan ikhlas itu sebenarnya bertendensi juga, yakni mencari ridho dan rahmat Allah. Ada orang yang berpendapat, bahwa jika kita beramal agar kita masup surga maka amalan kita itu gak ikhlas. Soalnya masih ada embel-embel selain Allah, dan masih ada keniatan buat makhluk, yakni surga. Hmmm, apa betul begitu ya?
Ada juga yang mengatakan, bahwa jika kita beramal soleh dan menjauhi maksiat karena takut masup neraka, maka itupun gak ikhlas. Karena ada ketakutan kepada selain Allah, ketakutan pada makhluk, yakni neraka. Weh… rodo abot ki. Hare gene kok postingane abot... ![]()
Seyogyanya sebelum mengatakan ikhlas dan gak ikhlas kita merujuk kepada apa Firman Allah mengenai hal ini. Pertama di satu hadits Qudsi yang shahih, riwayat Imam Muslim. Di hadits Qudsi itu Allah berfirman kepada surga : “Adapun engkau wahai Surga, merupakan tempat Rahmat-Ku. Aku merahmati denganmu pada siapa saja yang Aku Kehendaki…” (Riyadhus Shalihin, Bab Keutamaan Kaum Rendah dan Orang Fakir dari Kaum Muslimin).
Di hadits itu Allah menyatakan bahwa surga adalah bentuk dari Rahmat-Nya. Bahkan di hadits lain Nabi saw menegaskan, bahwa seseorang itu masuk surga itu dikarenakan Rahmat Allah. Maka meskipun surga itu makhluk, itu merupakan bentuk Rahmat-Nya. Sehingga apabila seseorang beramal dengan berharap masuk surga dengan amalnya itu, sebenarnya tidak mengurangi kadar ikhlasnya. Karena amalan yang ikhlas itu sendiri adalah amalan yang ditujukan untuk mencari dan berharap Ridho dan rahmat Allah.
Coba perhatikan ayat ini : “Berlombalah (bersegeralah) kepada ampunan dari Tuhan kalian dan (bersegeralah) kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi…” (S. Al Hadid ayat 21). Ha wong kita ini disuruh berlomba dan bersegera menggapai surga. Dan ini perintah Allah. Tentunya menggapainya dengan amal, bukan dengan ngowoh, ngeces, ngorok sehari penuh. Maka beramal dengan berharap masup surga itu tetap masih dalam koridor ikhlas, yakni menggapai ridho Allah dan Rahmat-Nya yang diwujudkan dengan Surga.
Adapun takut kepada neraka itu tertuang didalam surat Al Baqoroh ayat 24 : “Maka jika kalian tak memperbuatnya, dan kalian tidak akan bisa memperbuatnya (yakni membuat ayat/surat tandingan Al Qur’an) maka takutlah kalian kepada Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi orang yang kafir.”
Takut neraka adalah perintah Allah pada ayat itu. Maka takut kepada neraka tidaklah mengurangi kadar ikhlas satu amalan. Karena takut kepada neraka adalah satu perintah. Ha wong gak usah diperintah takut saja, kalo sudah meruhi sendiri, nanti lak pating jondhil. Girap-girap gak karuan…
Yang susah itu adalah menjaga agar amalan kita tak bertujuan kepada makhluk. Riya’ (pamer), sum’ah (suka kemasyhuran), umuk, ujub (mengherani diri sendiri) hasad, dlsb… merupakan penyakit hati yang bisa merusak amal. Kadang-kadang setelah kita beramal, kita merusaknya secara gak sadar dengan ucapan-ucapan kita. Contohnya begini:
- Seorang ibu-ibu tanya pada seorang ustadz di satu pengajian yang dihadiri ratusan peserta : “Tadz mau nanya, tadi malam pas saya sholat tahajud, ha kok ada kecoa liwat. Saya digremeti sampai kegelian. Tapi saya tetap coba tenang. Namun tetep agak terganggu… saya khawatir sholat saya gak diterima Allah, Gimana ini ustadz? “ Pertanyaan biasa, tapi berpotensi menjadi ajang umuk tentang sholat tahajudnya, tentang ketegarannya ngadepi gremetan kecoa dan tentang kelembutan hatinya yang kawatir amalnya gak diterima. Kita gak bisa langsung menghukumi, tapi simbah bilang ini berpotensi umuk dan pamer amal.
- Pas sedang adem-ademnya liburan bareng di puncak, satu rombongan orang sedang membicarakan dahsyatnya hawa dingin disitu. Tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Wah ini semua gak seberapa. Waktu saya wudhu di dekat Ka’bah pas haji kemaren, gigi saya hampir kemrutuk saking dinginnya. Tapi saya tahan. Nah jamaah yang lain itu pada ndrodog kedinginan…” Ungkapan ini biasa juga, namun berpotensi umuk, nunjukin bahwa dia sudah munggah kaji dan kuat ngadepi dingin.
- Seorang mubaligh sedang menerangkan pada peserta pengajian, tentang bab tawadhu, dia bercerita, “Saat saya dipanggil bapak presiden ke istana kemarin, saya gak nyangka, saya yang dhoif ini diundang oleh beliau. Bahkan pada kesempatan itu saya diberi waktu untuk memberi tausiyah…” Sebenarnya ingin bercerita tentang tawadhu’, namun dia mencontohkan dirinya. Ini justru berpotensi umuk dan ujub. Kalo salah niat, bisa dipakai buat naikkan tarip amplopnya. Ha wong pernah ngisi pengajian di istana presiden je… mosok taripnya biasa, kudu punjul..
Lha, riya’ itu memang musuhnya ikhlas. Padahal riya’ itu syirik kecil. Makanya kita gak pernah tahu, amalan mana dari yang sudah kita amalkan itu yang diterima dan diganjar oleh Allah. Sudah berapa banyak ganjaran dan pahala kita dengan amalan kita… semua gak tahu.
Popularity: 12%

Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 




hemoh-hemoh, paling abot bin abot….
Mbahmu : Abot kancane Costello…
Â
Mbah.. ono sebagian wong nek sodaqoh ke orang2 susah ditambahi pikiran ngene “Mugo2 suatu saat nek aku pas entuk kesusahan, ganti ono wong sing mbantu”
Piye jal mbah?
Mbahmu : ada hadits mafhum maknanya gini : Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut mau menolong/meringankan beban saudaranya…Â Dadi gak usah diniati kayak gitu, entar pasti akan ditulungi juga sama Gusti Allah..
yo kuwi,hayo sopo sing ngomong islam gampang…..? La nggango klambi anyar lan apik sering ben kethok keren didelok wong, ujung2 dadi riya’. Nglakoni kabeh amalan wajib lan sunah, e ngerti-2 mak njekethek, cuma dadi fatamorgana wae koyo debu diatas batu kena air hujan.Blas rak mbekas. lha kabeh dilakoni tapi jebule jero atine bedo karo amalane.Piye carane noto ati ben bener……
binuuuung aku, piye jal…?
Mbahmu : kudu dilatih terus kang… insya Allah digampangne Gusti Allah..
Â
jarene ikhlas ki abot yen durung di kerjakne mbah…
yen wis dikerjakne, ra krasa abote
jarene mak plonggg…ilang sing ngabot-ngaboti
Mbahmu : sing marai abot ki, mbareng wis dilakoni lan ikhlas, ternyata suatu ketika amalan itu tetep bisa jadi rusak gara2 diumukne dan diundat….
Â
yen jik abot berarti gak ikhlas… jarene lho, jarene… aq no yo ra dong…
Mbahmu : ora kabeh ngono kang..
Soalnya saat Nabi saw lan sahabat perang Badar itu, dijalani dengan abot juga… dan ternyata bisa ikhlas… 
makane kudu sinau ilmu ikhlas yo mbah……..koyok film kiamat sudah dekat kae
Mbahmu : sinau pilem yo Ndes…
niat ingsun nulis kommen kanthi ikhlash kerana Allah Tangalaa …
Mbahmu : lho.. kang edy nganggo nawaitu barang…
diseneni ustadzmu lho kang… 
mbah, materi2 blog-e simbah juga rawan umuk bin ujub lho… opo maneh bab mertombo.. wah jangan2 menunjukkan kalo simbah ni dokter paling sakti
nauzubillah… ojo nganti mbah… ikhlaskan niatmu sodaraku…. 
Mbahmu : iyo le…
. Penyakit umuk bin ujub itu penyakit pokok buat dokter kok
memang begitu keadaan dhohirnya. Makanya saling menasehati yo…
Perihal tulisan di mertombo, semuanya berdasar ilmu kedokteran yang simbah pelajari. Itu ilmu Allah juga.. jadi kalo ada manfaatnya alhamdulillah, bukan simbah yang mbikin sembuh… 
Al-Fudhail berkata, “Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar.”
Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?”
Dia menjawab, “Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah.” Kemudian ia membaca ayat, (artinya): “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110)
iki dudu hasil nonton pilm mbah
Mbahmu : nah kalo ini nyamleng….
Kalau begitu paling bagus kalau kita diam saja ya, Mbah.
Mbahmu : Diam itu niatnya ikhlas gak… kalo gak ikhlas podo wae kang….
Karena diam itu juga amalÂ
mbah mau undang-undang pengajian.
temanya kok ya pas dengan kondisi negara kita.
semoga dengan menghadiri kajian ini kita bisa tambah ilmu yang manpangat. aamiin.
————————–
HADIRIRAH! TERBUKA UNTUK UMUM
Silaturahmi Akbar
ULAMA & UMMAT
SEBAB-SEBAB TURUNNYA MUSIBAH DAN AZAB SERTA JALAN KELUARNYA
Bersama Ulama Ahli Hadits dari Yordania
Murid-murid senior Syaikh Al-Albani rahimahullah
Syaikh Salim Bin ‘Ied al-Hilali
Syaikh Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid al-Halabi
Syaikh Dr. Muhammad Musa Alu Nashr
Masjid ISTIQLAL, Jakarta
Sabtu, 10 Februari 2007
09.00 – Dhuhur
Hadiri pula Silaturahmi & Tabligh Akbar :
KEMBALI kepada Al-QUR’AN & AS-SUNNAH
DENGAN PEMAHAMAN SALAFUS SHALIH
Jakarta Islamic Centre, Jakarta Utara
Ahad, 11 Februari 20007
09.00 – Dzuhur
RUTE ANGKUTAN UMUM ke Jakarta Islamic Centre:
KP. Rambutan PAC07/P8, Cawang/Cililitan P8A, Blok M PAC65/P89
Ciputat PAC135, Bekasi PAC25/P40, Cikarang Mayaraya,
Cikampek Warga Baru, Tangeran Bus AJA
Kemudian naik KWK 06, Jurusan Semper, turun di JIC
Informasi:
0815 8863 543
0812 9040 267
0812 1055 616
0812 1055 891
Penyelenggara:
Yayasan Imam Bukhari, Jakarta
Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor
——————————————-
Mbahmu : datanglah dengan ikhlas…
mbah- Dipo ingkang kinurmatan,
ngendikane Kiai Sudrun, ikhlas itu adalah memberi dengan tanpa memikirkan mengko entuk opo. Kowe wis menehi kanthi ikhlas yen rasane atimu kaya wong ngising. Plung laaaap, lega.
Menopo inggih mbah, ingkang Kiai Sudrun ngendika menika? Nuwun
Mbahmu : nggih kirang langkung kados makaten. Tapi wong ngising meniko taksih gadhah pangarepan lhe… pangarepan mulesipun ical…
Â
Mbah.. iki ono kasus bedo.. nek kelangan barang, trus ono sing ngomong “wis ikhlaske wae..” nek ngono kui piye juntrungane..
Mbahmu : ada mafhum hadits yang bunyinya : Apa saja yang hilang dari orang beriman, baik itu dicuri, kena bencana dlsb, maka niainya sedekah di sisi Allah…
Bahagialah jadi orang beriman… 
hhmmm…paling susah ikhlas dan khusu’ ya mbah
Mbahmu : iya.. itu latihan terus seumur hidup…
ikhlas itu gumantung niat mbah… meski cuma niat, terkadang kita merasa berat ya mbah?
Mbahmu : mangkane dilatih terus dengan amal kang…
lha itu mbah, soalnya masih ada ucapan ” olo delenge”. Contohnya kalo ngikut takziah karena “yo olo delengen nek ra ngetok”
Mbahmu : nah… niate kareben dideleng wong tho…
.. Yo kuwi didikan masyarakat yang mementingkan penampilan dhohir….Â
yo olo delenge nek ra komen ning kene
klo diem aja gimana mbah, tapi mestine yo nggo mbatin barang…piye jal
Mbahmu : lha sampeyan nopo kuat jeng diem terus?
Sehari gak ngeblog aja dadi blangkemen kok…. 
matoer noewoen boeng doctor, kowe nambahin ilmoe ik dengen ikhlass…
Mbahmoe : wach.. ichlass tidaknja simbah beloem tahoe poen….
itoe rahasija ilahi..Â
Yen ngeblog piye mbah? koyone rodo angel gae ikhlas, soale luweh nyedeki ambu-ambune narsis hehehe
Mbahmu : wah… kembalikan saja pada yang ngeblog.. niatnya apa?
Wah jan, nek urusan ikhlas ki pancen abot bin sulit. Semoga Allah menggampangkannya untuk diriku.
Mbahmu : amiin Bleh… eh mbah…
Padet
Apane? Isine to yo!
Mbahmu : padet, sekel, cemekel… halah, kuwi lak gethuk lindri…
Â
Mbah, aku yen sholat nang omah, cukup moco surat Ikhlas karo Al-Kautsar. Yen nang mejid mocone Al A’laa karo Al Ghasyiyah. Nek nang omah, cukup donga sakperlune, nek nang mesjid yo wirid komplet. Rawatibe yo tertib. Masalahe, yen nang mesjid kondisine mendukung iso khusyuk. Yen nang omah, lagi tekbir wae wis dibengoki anake. Lha iki yo jebul potensi umuk to mbah? Jare pak kiai, riya iku biso anjalari syirik yo?
Mbahmu : nggih mangkanya sholatnya di mesjid saja…
 Riya itu sendiri syirik kang.. syirik kecil 
mbah ikhlas knapa susah buangat ya…..




aku udah coba baca buku tentang ikhlas tetep aja parakteknya susah
padahal aku takut neraka,,,
dan aku mau surga
dadi sebenernya ikhlas itu opo to mbah ?
saya ingin mendalami agama islam

tolong donk kasih tau saya siapa atau dimana saya bisa belajar agama islam yang menjadi panutan atau bisa membimbing
thANK u
Mbahmu : niat yang baik jeng..
Ini satu langkah maju, semoga disambut langkah ini oleh Allah swt dengan mempertemukan pembimbing yang sampeyan cari. Maap, simbah tidak bisa menunjukkan secara detil hal ini… takut nantinya malah salah tunjuk..
Â
Jare Pak Ustadz, urusan ikhlas bukan masalah nyumbange pake nama Hamba Allah atau terang-terangan nama jelas.
Sing nganggo nama Hamba Allah bisa ikhlas betul, bisa juga jatuh ke ujub. Sing nama jelas bisa jatuh ke pamer, bisa juga ikhlas betul.
Intine, bagi mukhlisin, mau diketahui orang atau tidak (amal yang dilakukannya) bukan variabel yang mempengaruhi hatinya. Wong2 do weruh monggo, ra weruh yo ora popo.
Ning yo kuwi, ikhlas ki cen angel tenan. Jangan2 wong2 do weruh monggo (pas nyumbange akeh), ra weruh yo ra popo (malah alhamdulillah, wong pas nyumbange sithik).
Bener tho Mbah, jare yang tahu hati kita ikhlas cuma kita sama Allah. Bahkan malaikat sendiri tidak tahu. Malaikat hanya nyathet sholat kita, tidak nyathet apakah sholat kita ikhlas atau enggak karena memang gak tahu.
Mbahmu : nggih… leres.. malaikat gak tahu isi hati kita..
mbah mo nanyak kenapa pake “seyogyanya” kenapa gak pake semarang atawa surabaya atawa jakarta
pripun meniko mbah…?
mas, boleh disadur artikelnya? makasih ya…
yo emang kudu koyo ngunu
dewek iki kudu iso ikhlas
sukses ikhlas sukses islam
sy ingin punya rasa ikhlas yg istiqomah n masuk sampe k hati.sepertinya kl u beramal insya ALLAH g ada niatan ingin d puji or dliat org2,semua yg dlakukn g pernah sy ingat apakah akan dterima/tdk dah bkn urusan sy lg.Sy ingin ikhlas saat apa yg telah diupayakan lwat doa n usaha ternyata blm terwujud.ALLAH lbih tau yg trbaik u umatnya sementara qt lebih brfikir sesaat dan condong ke nafsu.Hal ini yg ingin sy dterpkan dlm hidup terkait dg “IKHLAS”…
nderek tanglet mbah…, bilih sedoyo puniko sampun digariske gusti pengeran, punopo ngamal ikhlas tiyang punopo klebet?? yen mekaten kan akhire LA KHAULA WALA KUATA ILLABILLAH…
SUWUN…
ijin mbah mo tak post ke FB