Husnuzhon
Beberapa kali simbah ikut Jum’atan akhir-akhir ini, sang khatib hampir selalu membahas yang namanya bencana alam yang sedang menimpa beberapa daerah di tanah air. Gaya dan karakter materinya hampir sama, yakni memvonis korban. Hampir semua penceramah, tidak hanya di khutbah, membahas bencana yang terjadi sebagai adzab yang dikirim Allah. Yang sekaligus tersirat makna bahwa korban bencana alam adalah pihak yang pantas dihukum. Apalagi ada kyai mengaitkan jam terjadinya yakni pukul 17.16 dengan nomer surat dan ayat dalam Al Qur’an, yakni surat 17 (Al Isra) ayat 16. Wah.. ini mah gaya gathuk enthuk. Setali tiga duit sama dukun klenik.
Simbah kadang mencoba memposisikan diri seandainya simbah korbannya, pasti sangat sakit jika di saat kehilangan harta benda, sanak family, lalu tiba-tiba divonis dengan perkataan, “Emang pantes diadzab elo pade.” Dan ngomongnya di depan mimbar, didengar ratusan bahkan ribuan orang.
Satu contoh kasus saja, sewaktu di jalan raya mendadak ada pemuda sok jagoan bergaya bromocorah, naik motor dengan ugal-ugalan bak orang buta warna, karena lampu merah diterjang seenak udel. Dasar lagi apes atau memang hukum sebab akibat berlaku, tiba-tiba ban depannya nggiles muntahan orang gila dan keplesetlah si jagoan bromocorah tadi dengan mantabhnya. Sudah wajahnya nyungsep di parit, motornya babak bundhas lagi. Dalam kondisi seperti itu saja yang paling bijaksana adalah memberikan pertolongan dengan segera. Karena kalo tidak, sang korban bisa-bisa mati ngenggon (di tempat). Masalah akhirnya si pemuda itu nantinya dinasehati, itu entar ajalah. Tapi tentu saja nasehat diperlukan, biar nantinya tidak ugal-ugalan.
Padahal sebenarnya bencana yang menimpa ini merupakan ujian BAGI SEMUA. Bagi yang kena musibah Allah ingin menguji seberapa sabar hamba-Nya menanggung ketentuan yang Dia tetapkan. Mengeluh apa tidak dengan jatah yang diberikan-Nya, kufur apa tidak dengan adanya nikmat yang masih Allah berikan di tengah bencana tersebut, dan sederet pertanyaan ujian yang ingin dilihat Allah jawabannya dari orang yang diuji-Nya.
Sedangkan bagi kita yang tidak kena musibah, kita diuji bagaimana respon kita kalau saudaranya kena musibah, mau mbantu apa kagak, mau menenangkan apa menyalahkan, mau meringankan apa malah memberatkan? Ujian Allah itu ditunggu jawabannya dari kita yang masih terhindar dari bencana. Kalau gagal ujian, tidak menutup kemungkinan justru berikutnya kita tidak diuji dengan “selamat dari bencana”, bahkan mungkin kitalah yang akan diuji dengan “ditimpa bencana”.
Cobalah berhusnuzhon dengan berbaik sangka pada saudara kita yang terkena bencana. Caranya bisa bermacam-macam, asal jangan langsung memvonis kalo bencana yang menimpa merupakan kiriman adzab. Ini menyebabkan yang mau nyumbang jadi males. Lah gimana mau simpati mau mbantu kalo korbannya dicap sebagai orang yang pantas dihukum?
Saat ini simbah hanya bisa berhusnuzhon bahwa ini adalah jalan yang diberikan Allah untuk memberikan derajat syahid bagi saudara-saudara muslim yang kematiannya menurut hadits shahih bisa masuk kategori syahid, yakni mati tertimpa. Tentu saja yang mati lagi nyabu di diskotek trus ketimpa sound system sampai duut van modiyar nggak termasuk kriteria ini. Yang jelas mari kita bantu saudara kita yang tertimpa bencana sebagai jawaban ujian Allah bagi kita. Biar saudara kita yang tertimpa bencana bisa menjawab ujian Allah dengan kesabaran mereka dengan support bantuan dari kita.


















Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 







per setunggil..
ya. wajib berhudznudzhan. bukankah bukti kasih sayang Allah adalah dengan memberikan musibah sebagai penghapus dosa. bukankah mendapatkan musibah di dunia jauh lebih ringan daripada mendapat musibah di akhirat. semoga kepada saudara2 yang di padang diberikan kesabaran.
sarujuk mbah.. berhusnuzhon..
saya gak setuju mbah!
kalo menurut saya, kita harus berkhusnudzon / berbaik sangka kepada mereka..
(trus ndasku di jenggung simbah)
“wooo… lha yo kui sing tak omongke, kowe teko2 ngacung trus protes”
Iya mbah saya sangat prihatin dgn adanya email yg berseliweran yg mengaitkan musibah dgn nomer dan surat Al Quran…dan yg lebih memprihatinkan lagi banyak yg percaya sehingga mereka yakin kalo musibah itu memang pantes buat hukuman bagi yg tertimpa musibah…
Ho oh yo mbah…. melas nemen, nek udah kena bencana, masih di ’sukur’ ke…
tapi saya rasa bencana itu bukan cuman buat padang thok mbah… itu semacem pertanda dari Gusti pengeran, “nyoh, ki lho… padang pariaman sing adhem ayem iso di goncang koyo ngono, opo meneh nek daerah sing maksiatnya banyakk… siap-siap ae!”
supaya kita lebih rumangsa dan niat tobat ya mbah…
Mohon maaf ikut nimbrung tp sebagai muslim saya musti mengingatkan satu hal :
1. bencana terjadi sebagai UJIAN
diujikan kepada mu’min dan muttaqiin, orang yang
“selalu” menajalankan perintah dan menjauhi larangan
‘azza wa jalla (apakah anda termasuk golongan ini,
saya rasa kemungkinannya, wong koe masih suka lirik
cewek bahenol dijalan).
2. bencana terjadi sebagai TEGURAN
teguran diberlakukan kepada muslim, mu’min, dan
muttaqiin yang biasanya jalan lurus trus belok
dikiiit. contoh : habis liat cewek bahenol dijalan
(kagak sengaja neh) dia engga istighfar. pasti dite-
gur yg sifatnya langsung seperti kesandung, masuk
lubang, dll.(apakah anda termasuk golongan ini?)
3. bencana terjadi sebagai ADZAB ( na’udzubillah min
dzalik).
adzab diturunkan kepada orang yg dzolim dan selalu
melakukan kedzoliman ini.
contoh :
a. makan pisang goreng 2 ngaku cuma satu.
b. harta waris yg seharusnya 1 bagian untuk laki-
laki dan 0,5 bagian untuk perempuan tapi di
warisin semua untuk perempuan yang anak pertama.
adzab turun tanpa perduli ada mu’min ato kafirin.
bagi mu’min otomatis dapat pahala jihad
fisabilillah. wat yg kafir yaah da pada tau
tempatnya kan. klo kaya kebanyakkan manusia yg
masih suka lirik-lirikan so pasti direndem dulu dah.
Yang mau saya tegaskan para guru, ‘alimul ambiya, semua “BELAJAR AGAMA” beliau bertanggung jawab atas yg mereka ucapkan. ANDA menjudge seperti ini pun pasti akan dimintai pertanggungan jawab walau sekecil apapun.
(pahamin ni surah az zalzalah ayat 7 & 8 )
bos-bos pade yg dah pada kumentar belajar ngaji ente-ente pade sebelum musibah dateng…
wassalam,
yogo
@yogo: Ehm.. terimakasih komentar dan ilmunya.
Hanya saya masih belum paham kalimat anda yang ini “ANDA menjudge seperti ini pun pasti akan dimintai pertanggungan jawab walau sekecil apapun.
(pahamin ni surah az zalzalah ayat 7 & 8 )
Menjudge yang bagaimana maksudnya? Mohon dijelaskan agar nantinya saya dan anda bisa mempertanggungjawabkan di akherat..
seingatku yang namanya adzab itu hanya untuk umat sebelum umate kanjeng nabi muhammad, mereka yang membangkang di lalab habis yang tersisa hanya mereka yang tunduk patuh( surat karo ayate lali..), untuk umate kanjeng nabi adzab ditangguhkan ila yaumil akhir) so apapun bentuk bencana adalah ujian atawa teguran bagi kita kita yang masih ambekan baik yang tertimpa maupun yang menyaksikan
maturnuwun mbah
Matur nuwun mbah, yang meninggal karena bencana, sudahlah jadi rahasia Allah. Bagiku, meninggal karena Gempa lebih baik daripada meninggal kena serangan jantung waktu bersama selingkuhan atau histeris lagi nonton Kangen Band. Prajurit Pandawa lima lebih terhormat jika mati terkena panah Bhisma daripada kena sruduk Kurawa dan Bhismapun lebih suka mati oleh Khresna (tau knapa).
Nah yang (dalam tanda petik) “selamat” tentunya ada pada kriteria diuji, diingatkan, dihukum, diazab bahkan ada yang diberi rahmat.
Melihat kelakuan orang pasca gempa yang meninggikan harga ticket pesawat, kirim makanan kadaluarsa, terus hanyut dalam duka, menyalahkan pemda, pemerintah pusat, belum lagi nanti kirim bahan bangunan yang tak layak pakai (bahan baku mengandung asbes), ternyata kita masih terbiasa dengan maksiat (ma’af yg ini jadi suudzon).
suwe ra komen..husnuzhon wae aku
ikut nyimak mbah. komen dikit ea mbah. gempa bumi utawi lindhu utawi bumi gonjang ganjing itu masa goro goro. semar gareng petruk bagong bersendau gurau layaknya tukang becak ngobrol tentang siapa yg akan jadi menteri. Gempa bumi di padang sudah ketentuan Nya dan belum ada pawang gempa bumi yang sanggup memindah gempa ke t4 lain layaknya pawang hujan. tugas kita yg tdk kena musibah adalah menolong mereka bukan dgn omdo/ omong doang yg hanya akan ditertawakan oleh semar gareng petruk bagong.
astagfirulLahaladzhim, matur nuwun “pencerahanipun” mbah, sakderengipun kawulo ugi gadah gagasan menawi musibah namung dipun dawahaken dumateng panggenan ingkang umatipun sami damel dhosa.
pas mbah lanjut…..
Sikap ‘MENYALAHKAN KORBAN’ biasanya diidap org yg tdk bisa /merasa tdk bertanggung jwb untuk mbantu. Bagi lembaga2 sosial, pekerja kemanusiaan, saat mendengar suatu bencana yg di pikiran mereka adalah bagaimana MEMBANTU KORBAN SECEPATNYA’, hingga tdk sempat berfikir ‘BAGAIMANA MENYALAHKAN KORBAN’, seperti para penceramah itu.
Setiap musibah yang terjadi itu bisa jadi ujian dan tidak menutup kemungkinan adzab dari Allah.. banyak sekali kisah2 dalam Al Qur’an tentang kaum2 terdahulu yang Allah adzab dengan gempa, banjir, angin dan lain2 karena berbuat kesyirikan, kemungkaran dan mendustakan Rasul-Nya. Lalu bagaimana dengan bencana yang terjadi dinegeri kita? jawabannya bisa ujian, bisa juga adzab. kenapa? Kita lihat sendiri bagaimana dinegeri kita ini tumbuh subur kesyirikan dan kemaksiatan. Dan kalaulah bencana2 yang terjadi adalah sebuah adzab, maka tidak serta merta menunjukkan bahwa korban dari bencana tersebut adalah orang fajir seluruhnya, karena sebuah adzab ketika menimpa sebuah kaum itu terkena kepada orang fajir maupun orang yang shalihnya. Yang terpenting bagi kita adalah hendaknya setiap diri dapat mengambil hikmah dari musibah ini dan segera bertaubat kepada Allah atas segala dosa, karena tidaklah sebuah negeri tertimpa sebuah musibah kecuali karena dosa dan maksiat penduduk negeri tersebut.. Allahu A’lam.