Hampir selama sepuluh hari simbah pulang kampung. Blog jadi gak terurus. Banyak komen yang kesandung moderasi, lha karena kebanyakan komentator anyar. Mohon maap bagi para penanya yang belum kejawab pertanyaannya. Juga bagi penanya yang kebetulan pake email antah berantah, mohon maap kalo gak kejawab. Karena email jawaban simbah dianter pulang lagi sama kurirnya yahoo. Jadi tolong emailnya ditulis dengan baik dan benar.
Lima hari di kampung, simbah dikejutkan dengan penomena tanaman hias yang namanya jenmanii. Kebetulan memang kemarin sedang ada pameran tanaman hias di kampung simbah. Hampir di semua prapatan, pertelon maupun proliman orang-orang sama ngetuprus membicarakan tanaman yang namanya jenmanii dan gelombang cinta. Walah, apalagi ini? Aromanya sih keliatannya seperti saat musim lohan, cupang dan ternak jangkrik beberapa tahun yang lalu. Muncul mak bedunduk, lalu ilang mak plekethis.
Hampir semua bibir terngowoh-ngowoh membicarakan pantastisnya harga yang bisa dicapai oleh beberapa lembar godhong bin daun tanaman anthurium itu. Untuk jenis kobra, 3 lembar daun bisa terjual 55 juta ripis. Untuk jenis pepaya per potnya dilego 17,5 juta ripis, dan untuk jenis sirih perdaunnya bisa mencapai 2,5 juta ripis. Harganya memang ngedab-edabi tenan.
Sampai-sampai ada golongan elit alias ekonomi sulit ikut-ikutan main di bisnis ini, terpaksa njual sapinya dua ekor untuk beberapa pot godhong ini. Konon isterinya gak rela, muring wal marah, walhasil tanaman hasil njual sapi itu dioseng-oseng karena saking nggondoknya. Cerita tersebut populer di kampung simbah, bahkan dengan cengengas-cengenges, klumpukan petan ibu-ibu menceritakan tragedi oseng-oseng pilu tersebut dengan mantabhnya.
Di balik benar tidaknya kisah tersebut, booming tanaman hias yang harganya menggila ini ditanggapi dengan beragam pendapat. Ada yang seneng, karena terbuka mata pencaharian yang baru bagi masyarakat. Ada juga yang menanggapi dengan dingin, sambil komen, “Tunggu aja beberapa bulan lagi, paling cuma jadi rambanan pakan wedhus.”
Yang jelas kalo dulu ada barang mahal mau dibayar, biasanya terjadi dialog antara penjual dan pembeli :
Pembeli : Walah, kok harganya jutaan, duit semua itu kang?
Penjual : Emangnya pake daun?
Nah sekarang hal itu bisa dijawab oleh pembeli : “Nyoh, tak beli pakai godhong… jenmanii kang…?”
Itulah kisah seonggok daun wal godhong. Bertahun-tahun yang lalu daun itu sudah ada. Lewat begitu saja tak bernilai ekonomis. Lalu entah apa yang bermain di pasaran, tiba-tiba seiket rambanan bisa bernilai ratusan juta. Sayangnya masyarakat endonesa ini masih suka latah. Saat musim A, semua bermain A. Saat musim B semua sibuk main B. Tak beda dengan sekarang saat musim tanaman hias, baik anthurium, adenium, hookeri, aglaonema dan lain sebagainya.
Bagi penghobi yang duitnya sudah turah mblasah, harga daunnya lebih berharga dari lembaran soekarno hatta. Sedangkan bagi masyarakat awam yang lebih banyak bermain sebagai spekulan, maka berlaku aturan ‘siapa cepat dapat’, sambil menanti musim lewat untuk menangguk untung berlipat. Sedangkan bagi yang berharap musim godhong ini jangan lekas berlalu, mereka menganggapnya seperti “Forex Trading”. Saat ini harga godhong lagi naik, maka lakukan aksi jual. Mbesok pas harga anjlok, lakukan aksi hunting dan belanja.
Mungkin sebagian dari sampeyan saat ini malah belum tahu perihal godhong yang mahal ini. Tak masalah, simbah juga baru tahu kemaren. Setidaknya, itulah satu sisi dunia dengan segala pariasinya. Dan Rupanya ada sesuatu di mata orang yang bukan ahlinya bernilai rendah, bahkan tak bernilai… padahal jika jatuh ke tangan ahlinya, benda remeh itu ternyata bernilai tinggi. Ayam jago disebari mutiara mutu manikam di halaman satu, dan disebari tongkol jagung di halaman yang lain, tentu akan lebih memilih jagung dan meninggalkan butiran mutiara. Karena memang pahamnya itu.
Orang yang paham sinetron berseri tak akan mau meninggalkan satu seri pun, meski ninggal sholat maghrib berkali-kali. Buat yang paham udud, daripada sedekah mangatus ripis, mending klepas-klepus, sledabh-sledubh ngematne urip. Buat yang paham zina, mending kumpul gratis, enak, empuk eyub, ketimbang nikah yang ribet dan bertanggung jawab. Buat yang paham nilai dunia, mending dunia dieksplorasi, dinikmati, dikangkangi, senti demi senti, jangan disisai meski semili….
Buat yang mau paham akherat, coba pahami, pelajari…. maka siapa tahu sampeyan menemukan satu nilai yang tak ada bandingannya dengan semua nilai yang sudah sampeyan pahami sekarang…. mumpung deket Romadhon… ![]()
Popularity: 9%

Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 




tumben nmr wahid
bisnis apa aja yg sukses bikin orglain jd kabita (kepengen), jaman dulu musim wartel, trus warnet, trs konter isiulang pulsa, blah..blah..
sampai pada puncaknya wartel sepi pengunjung krn byk yg dah punya hp. warnet dimana2, mekso urip meski tempatnya seseg, malah skrg tiap berdiri ruko salahsatu kaplingnya ada warnet. sedangkan konter hp nasibnya sama dengan bisnis tsebut di atas.
mbok yao bisnis yg beda dg tetangganya gitu loh..
jgn salah kira lho, saya tidak bisnis dari ketiganya 
kok saya jd sewot? hehe..
waduh… gara2.. lelet dot com kalah rek..!!!
Selamat menyambut datangnya bulan ramadhan…
“

Assalamualaikum wr.wb
Semoga kita bisa tingkatkan Iman Amal dan Ilmu di Ramadhan tahun ini…..
Niat itikaf Insya Alah
khas mbah dokter, nuwun mbah
wahhh bener banget mbah…pas aku dolan nyang Solo kapa kae, konco-koncoku podo crito kahanan iki. Bahkan koncoku liyane ono sing ngedol konter hapene ning matahari mung dinggo bisnis godhong iki….
welkom bek Mbah. Oalah, aku di Jkt ki merantau tinggal di kost2an kecil, gak sempet ngurusi godong-godongan
selamat menyambut bulan ramadhan, semoga kita lebih belajar esensinya dan tidak sekedar ritualitas ya Mbak? leres mboten?
bentar lagi bulan ramadhan mbah…. mohon maaf lahir batin ya… met menjalankan puasa ramadhan
wealah, ketinggalan koment..jebol wing nyang nomer wolu..yo wis, ..rasane oseng-oseng godhong jenteni koyo opo mbah?? pingin nyicipi inyonge..
ini pak okebebeh, saya kasih resep masaknya, ntar bisa dicoba masak sendiri
TUMIS JENMANII
Bahan
300 g Daun jenmanii
50 gm kobis
1 tangkai cabe merah, iris tipis
2 siung bawang merah , iris tipis
1 siung bawang putih , iris tipis
1 sdm ebi [dihaluskan]
minyak
garam
Cara
1. Panaskan minyak. Tumiskan bawang merah dan bawang putih, cabe merah dan udang kering sehingga harum
2. Masukkan daun jenmanii , kobis, cili dan garam. Aduk rata.
3. Bila telah layu angkat, dan hidangkan
endingnya elegan tenan …
marhaban ya ramadan
assalamualaikum
wah mbah dipo…baru kali ini kulo gk mudeng inti Bumbu Urip khususon yg ini..
fenomenanya aku dah paham babagan jemani + gelombang cinta niku,,(ten sragen juga sudah kesirep sihir kyk gitu)
tapi kok rodo dereng mudeng inti sarinya
afwan nggih mergo ra mudengnya
Mbahmu : simbah cuma pingin memahamkan, bahwa segala sesuatu memiliki nilai, baik obyektif maupun subyektif, sebagaimana nilai godhong yang tadinya sama sekali tak dilirik. Yang mampu menilai sesuatu adalah ahlinya. Coba sampeyan baca 5 alinea terakhir… disitu intisarinya tersirat dan tersurat.
hiks……godhong kok nganti jutaan….gek ngerti mbah.
iku dhite metu godhonge apa godhong sing metu dhite..
*bingung mode on
Koq bareng yo Mbah. Sak wulan muput iki neng Lap Banteng yo lagi gayeng pameran Flora dan Fauna. Yo ono anthurium, aglonema lan
adenium. Tapi sak elingku gak semahal yang di kampung Simbah.
*) Mboten kesupen ngaturaken sugeng nindakaken siyam romadhon kagem Mbah Dipo. Nyuwun pangapunten sedaya kalepatan. BTW, punopo sampun mangayubagya putra pambarepipun Kang Mas Suparjo ingkang lahir kala 17 Agustus 2007 ?
we…telat
kemarin cuma ngoprak-ngoprak up date postinga..eh usah baru aku telat koment ….sugeng shoimun mbah…mohon aaf lahir batin untuk semua..kalo ada salah maafin yah…

matur nuwun mbah. rencang kulo sedo. nyuwun dungane..
mbah dipo bentar lagi kan mau romadon, maafkan apabila ada salah” kata ya mbah, mohon maaf lahir batin ya.
assalamu’alaikum mbah..kula nuwun..
gara2 ana pameran..neng lapangan..trus kembang bisa payu larang..pot nang ngarep umah..ilang kabeh mbah..ana sing nyolong mbah..nek ngerti payu larang..ya di umpetna kamar ya mbah?
Mboten kesupen ngaturaken sugeng nindakaken siyam romadhon kagem Mbah Dipo. Nyuwun pangapunten sedaya kalepatan.
*copypastemodeon*
pantesan mas ku di solo minta dikirimin kembang dari sini…tibakne mau jualan to heheheh..tapi gak tak kirimi juga..wong ning kene yo larang regane…trus yo opo gak rusak nyampe kono?
[...] membaca tulisan mbah Dipo di sini, saya jadi teringat ketika awal Agustus kemarin menyempatkan untuk pulang kampung ke rumah ibu di [...]
Seperti RS bilang.
Trends Sesaat
waregg…tenan
seporsi piro mbak..
