Langganan RSS Simbah

RSS FeedJika tulisan simbah ini bermanfaat monggo langganan RSS atau lewat e-mail Simbah arep kirim otomatis setiap simbah ada tulisan baru.


Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah…

16 responses to “Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan?”

  1. CICITMU

    Ada doa yang diajarkan rasul tuk berlindung dari syirik,: “Allahumma inna na’udzubika min annusyrika bika Syaian na’lamuh wa nastagfiruka lima la na’lamuh”
    kalo sudah berlindung namun “perasaan” tetap saja ada hal yang mengganjal kalaulah ada syirik yang bersemayam dihati iki piye mbah?? wedi aku mbah. matur nuwun tuk responnya.

    Nb:semenjak kasus “foto perempuan” itu kok simbah jarang/tidak pernah menyisipkan gambar tuk ilustrasi/menyamankan otak kanan pembaca pada postingannya simbah. ya usul aja simbah tuk mungkin dipertimbangkan.
    ikhlas tuh susah tenan yo mbah.
    salam ukhuwah mbah.

    Mbahmu : memang kita justru harus jangan merasa aman dari syirik, dengan itu kita akan selalu waspada. Kalo dah merasa aman dari syirik, biasanya justru sebenarnya dia malah sedang berkubang dalam kesyirikan… Naudzubillah.

    Tentang gambar, simbah usahakan.. soalnya terus terang, koneksi lelet tenan. Kesuwen. Marai suwe postingannya… :(

  2. joko

    kata-kata munafik juga sudah berubah aeri ya mbah? :-/

  3. koeaing!

    iang djelas poen, Vietnam lebi berani daripadah Oost-Indie…

  4. iway

    kalo soal bersilat lidah bukannya orang indonesia jagonya ?? kho ping ho, bastian tito, s.h mintardja :d

  5. Djigoer

    kata sirik juga banyak diartikan.. iri, dengki atau jeles.. /:)

  6. Fazlurrahman

    mbah… kalo fitnah itu lebih kejam daripada tidak memfitnah.. gimana mbah?

    Mbahmu : betul itu, karena ngomen itu lebih baik daripada tidak ngomen.. :D 

  7. agorsiloku

    thx pencerahannya. Memang, karena fitnah lebih banyak membunuh dari pada pembunuhan itu sendiri. Fitnah lebih banyak membunuh karakter dari pada jasad itu sendiri. Pun artinya tuduhan tidak berdasar, bisa lebih kejam dari membunuh. Jadi, logis saja kok artinya tuduhan tak berdasar sehingga dosanya besar. Dan syirik, termasuk dosa yang tidak diukur lagi besarnya. Soalnya kagak bakal diampuni (kecuali sempat tobat). Salam, agor.

    Mbahmu : tentang fitnah yang berarti kata dusta, sudah ada ayatnya sendiri, yakni ayat ttg “Haditsul Ifki”.. disitu yang jadi korban fitnah adalah A’isyah r.anha. Coba dibuka surat An Nuur… :)

  8. agorsiloku

    Jadi fitnah juga berarti dusta. So, “dusta” lebih kejam dari pembunuhan. Nggeh, akur deh.
    Presiden Irak, Sadam Hussein (alm) difitnah Presiden Amerika bahwa Irak membangun dan punya senjata nuklir.
    Kata “difitnah” diganti dengan kata “didustai” ; artinya kurang lebih sama.
    Tapi bukan di situ persoalannya, Mbah.. berapa banyak kematian, penderitaan, dimusuhi, dan akhirnya digantung (meski dengan pengadilan kasus lain) yang terjadi.
    Jelas bahwa fitnah memang memiliki potensi dan pembuktian yang jauh lebih besar dari pembunuhan itu sendiri. Memiliki efek yang betul-betul superjahat dan simultan.
    Tapi, kalau fitnah dimaknai sebagai “menyekutukan” dan lebih besar dosane, piye toh mbah, aku ora ngarti, soalnya kan yang itu udah nggak perlu pakai kata “lebih” lagi, mbo nggak bakalan diampuni. jadi tidak perlu ada kata superlatif…
    eh.. maap mbah. Kok ngeyel ya. “Dasar badung”

    Mbahmu : hehehe.. ngeyel gak papa kok kang..nambah ilmu :D Coba dilihat lagi, di tulisan ini simbah tidak hendak membantah adanya fitnah (sebagaimana pengertian orang Indonesia) yang dosanya bisa melebihi pembunuhan. Tapi simbah ingin menjelaskan, bahwa penggunaan 2 ayat yang banyak dipakai sebagai dalil bahwa “fitnah itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan” tidak pas. Karena kata fitnah disitu maknanya tidak bisa dibawa kepada makna kata dusta atau tuduhan dusta. Atau fitnah disitu tidak bisa dimaknai sebagaimana orang Indonesia biasa memaknai kata fitnah. Kata fitnah di 2 ayat dlm surat Al Baqoroh itu “makrifat”… sudah tertentu.

    Adapun perihal fitnah dalam artian bahasa indonesia yang mengarah kepada satu kedustaan atau kesaksian palsu, bukan di ayat itu dalilnya. Namun di tempat lain. Bahkan ada juga hadits shahih yang menerangkan tentang kabaair (dosa besar), dimana disitu disebutkan oleh Nabi saw : Syirik, durhaka pada orang tua, dan juga SAKSI PALSU… kata saksi palsu (syahadatu Zuur) ini diulang-ulang Nabi saw berulang kali.

    Pesan yang ingin simbah sampaikan dari postingan ini bukan hendak membantah bahwa fitnah (dalam artian kedustaan atau saksi dusta/palsu) itu lebih kejam dari pembunuhan. Dan simbah yakin gak akan ditemui hal itu di tulisan simbah. Namun simbah lebih mengarahkan agar masing2 dalil di dalam Al Qur’an dipakai sesuai aturan. Fitnah yang diarahkan George Bush itu memang akibatnya lebih kejam dari pembunuhan. Namun tak semua fitnah seperti itu. Makanya tidak pas berdalil dengan ayat2 yang simbah tulis di postingan itu.

    Simbah menunjukkan surat An Nuur itu pun bukan dalam rangka menunjukkan bahwa fitnah di dalam al qur’an itu diartikan dengan tuduhan dusta. Namun agar dipahami, bahwa kata fitnah (dalam artian yg dipahami orang Indonesia) itu memiliki dalil tersendiri yang mana tidak disebut fitnah dalam bahasa Al Qur’an, namun disebut sebagai “Hadiitsul Ifki”…. Maka pakailah dalil pada tempatnya… :) Itu pesan tersirat dari postingan simbah… :)>-

    Semoga mafhum adanya.. :) Dan terus kasih masukan ke simbah…

  9. fazlurrahman

    mbah… setuju mbah ngomen itu lebih kejam baik daripada tidak ngomen… jadi ak ngomen lagi…

    bethul kata djigoer.. harusnya mbah posting lagi ya… ttg syirik yang udah berubah arti sekarang…jadi iri, jeles, ra senengan, lan sapanunggalane…

    Mbahmu : lha itu kan yang namanya Homophone, tulisan beda, makna beda, tapi kedengaran sama… macem sarat dengan syarat, bang dengan bank… 

  10. Saifullah Kamalie

    Tentang “Fitnah itu Lebih Kejam daripada Pembunuhan”, saya telah menulis sebuah makalah dengan judul “Fitnah Itu Lebih Kejam Daripada Pembunuhan”: Sebuah Gejala Faux Amis Dalam Penerjemahan.

    Makalah tersebut telah didiskusikan di Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah, Jakarta dan Universitas Negeri Jakarta. Juga dimuat di Jurnal Kordinat, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Atas penilaian sebuah tim, tulisan saya di jurnal itu memperoleh “award” dan sejumlah uang yang lumayan.

    Insya Allah tulisan itu akan saya cari kembali filenya, siapa tahu di antara rekan ada yang berminat membacanya.

    Yang jelas “fitnah” dalam bahasa Indonesia memang jauh berbeda maknanya dengan “fitnah” dalam bahasa Arab. Celakanya, kedua ayat dalam surah al-Baqarah tersebut sering dikutip para khatib Jum’at ketika mereka membahas “fitnah” dalam pengertian bahasa Indonesia. Dosa sih memang tidak, tetapi kasihan, mereka memperlihatkan kebodohannya tentang bahasa Arab.

  11. rakhmad

    innalillahi w innailaihi rojiun:o:o:x:x:x:x

  12. rudi

    mbah bagus fi:-\

  13. dede

    betul itu.

  14. rama

    minta tolong yah, apa doa bagi seseorang yang di fitnah…

    trima kasih..

  15. ade harun

    fitnah itu sangat menyayat hati dan bisa menimbulkan kejahatan hati dan bisa merenggangkan ukhuwah silaturahmi
    bagi siapapun maka kita harus menjaga mulut kita
    :):):):(:d:”>:-?[-(

  16. Tuty Yosenda

    mati aku … kemarin aku barusan memfitnah temanku sebelum dia berangkat ujian ! ;-)

Leave a Reply