DONGENG DARI SANG GURU
Tersebutlah seekor anak singa yang terpisah dari induknya sejak lahir. Ganasnya belantara membawanya kebingungan menyambung hidup di rimba raya. Akhirnya terdamparlah dia di satu kelompok kambing. Karena si singa masih mungil, rombongan kambing tidak takut. Malah disambut dan diterima hidup bersama ditengah kawanan kambing itu.
Akhirnya si singa belajar hidup sepenuhnya dari kambing. Dia belajar makan rumput, belajar mengembik, belajar hidup berkelompok ala kambing, bahkan mengadopsi perilaku dan tata cara hidup kambing keseluruhannya. Meskipun dengan bersusah payah, karena dia memang bukan seekor kambing.
Setelah beberapa lama, jadilah dia seekor singa dewasa yang pinter bersuara embek-embek, doyan makan rumput, bahkan muntah-muntah ngliat daging, bermain dan bergaul dengan kambing dengan akrab, dan tentu saja kawanan kambing amat suka ria. Khusus pada singa ini, kawanan kambing tak perlu takut dan khawatir.
Syahdan… kabar berita perihal singa berperilaku kambing ini terdengar oleh Singa senior. Tadinya sang singa senior tidak yakin kebenaran beritanya. Maka dicarinya singa cap kambing itu untuk melihat langsung. Diintainya kawanan kambing yang ditengahnya ada singa cap kambing itu. Saat singa senior menampakkan diri, maka kawanan kambing itu segera ngibrit ketakutan. Termasuk singa cap kambing itu, karena dia melihat kawan-kawannya lari ketakutan saat melihat makhluk aneh, berambut gondrong, bertaring dan mengaum keras-keras.
Singa senior baru percaya. Ternyata ada juga singa cap kambing itu. Bukan hanya isapan jempol saja. Maka yang perlu dilakukan sekarang adalah mengembalikan pemahaman singa cap kambing itu akan jati dirinya yang sesungguhnya. Agar bisa makan ala singa, mengaum ala singa, bergaul ala singa dan hidup ala singa.
Guru simbah menerangkan, singa cap kambing itu adalah gambaran mayoritas umat Islam sekarang ini. Dari sejak lahir kehilangan identitas Islamnya. Cara merayakan kelahiran, cara menamai anak, cara mendidik, cara makan, cara minum, cara bergaul dan bahkan cara hidupnya jauh dari identitas Islam. Karena rupanya sudah lama umat ini kehilangan induk. Akhirnya dipelihara dan dibesarkan dengan cara orang-orang yang disebut guru simbah sebagai orang kapir. Satu-satunya yang masih Islam cuma agamanya.
Saat ada orang Islam yang sungguh-sungguh menjalani Islam dengan segala atribut dan identitasnya, singa cap kambing… eh orang Islam yang kehilangan identitas ini malah ketakutan. Sama takutnya dengan orang-orang kapir saat melihat orang Islam yang sungguh-sungguh menjalani Islamnya itu. Ibarat kambing melihat singa lapar.
Keberadaan orang Islam yang kehilangan identitas itu amat penting bagi kawanan kambing musuh Islam. Maka upaya mengembalikan identitas keislaman akan selalu mendapat tantangan. Yang ada adalah upaya pengaburan identitas. Menunjukkan identitas dianggap primordialisme (mbuh ki panganan opo…). Jenggot, sorban, gamis, jilbab dlsb, dianggap identitas arab, tak ada kaitannya sama Islam. Maka orang lantas bicara soal esensi. Identitas dhohir tak perlu, yang penting esensinya apa.
Padahal saat ini orang pun tahu, jus jeruk dengan jus rasa jeruk itu beda. Jus jeruk adalah jeruk yang dibikin jus, sehingga 100 persen kandungannya adalah jeruk, hanya saja terblender jadi jus. Sedangkan jus rasa jeruk, itu hanyalah minuman bergula, bahkan gulanya pun tak alami, ditambahi esens dan aroma jeruk. Yang satu menyehatkan, yang satu bisa meracuni.
Ajaran islam dengan segala identitas dan atributnya tentunya lain dengan ajaran yang cuma diambil esensinya saja, meskipun ada beberapa ajaran Islam yang memang bisa sekedar diambil esensinya, walopun tentu saja mendatangkannya secara utuh akan lebih baik. Ha wong umat Islam itu disuruh Islam secara kaffah. Kaffah itu ya keseluruhan. Dari rasa, warna, aroma sampai sak ampasnya….. semuanya Islam. Sedangkan yang cuma diambil esensnya saja trus dicampuri tetek bengek racun yang akhirnya rasa, aroma, warna dan wujudnya menyerupai aslinya… tetep itu bukan Islam yang sesungguhnya.
Itu pitutur guru simbah saat simbah masih rajin meguru pada beliau. Lha monggo, silakan diambill yang benernya saja.
>-


















Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 







Wah.. selama ini.. saya kira diri saya kambing.. ternyata saya singa.. makasih mbah.. from now on.. i’m gonna be a lion.. a true lion within.. (bakale abot tenan iki..)
Mbahmu : mangkanyah… kita perlu belajar hakekat diri kita..
Komen Sik trus di WOCO
Mbahmu : iki lak komen khas ala O’on… ha kok dinggo….
Â
Mbah nek singone tangi, trus opo yo mangani wedhus2 kapir kuwi to mbah? singone wis lali carane nyakar lan nyakot, ki piye….
Mbahmu : singo ki tangine yen wis kelingan carane nyakar lan nyakot… yen rung kelingan carane nyakar lan nyakot yo masih terlena…
tuh singa pasti turunan mbah Singodimejo
Mbahmu : turunane Simba kuwi…
Â
makane mbah singo ala kambing kuwi aneh yooo,,,,,,,singo seng brewoken lan jenggoten, trus suarane kenceng, jantan, malah diwedeni…. yo koyo wong islam sing model koyo singo ala wedhus mbah ,jenggot dowo disebut teroris, clono ngatung disebut extrimis,,, nyunnah disebut fundamentalis….jan jane ne wong koyo ngene kie sing uwis keno sipilis = sekulerisme, Pluralisme lan Liberalisme …wis jan
Mbahmu : hmmmmm…Â
wah-wah… abot tenen materine..

opo maneh kok singa cap wedhus mbah, sing jelas2 singa pun juga digiring dadi wedhus. dengan iming2 supermi, singa tadi dikatakan sebagai “wedhus nyasar”
Mbahmu : yah… ini masalah sudut pandang kang
.
jus jeruk ≠jus rasa jeruk.
Islam ≠Islami.
Mbahmu : pancen ngaten…
Â
Abot Mbah..
Mbahmu : halah… mung dongeng kok..
Â
Mbahmu : Miss ki artine mleset bin luput … ha wong barang luput kok ditiru…
Â
wah..untuk yang satu ini aku agak kurang setuju mbah. Identitas dan atribut yang adalah hasil akulturisasi Islam dengan arab,harus kita bedakan dengan identitas Islam sebagai agama. Kalo jenggotan, celana cingkrang, dan lain-lain (kecuali untuk hal yang menutupi aurat) yang katanya Islami, itu dianggap sebagai bagian dari Islam. wah…aku pikir harus ada pemikiran lagi. Islam tidak hanya masalah atribut mbah, bahkan Islam juga tidak bisa dinilai dari atribut…piss ah..
Mbahmu : lha simbah ki cuma mbaca hadits bunyinya gini :
“Selisihilah kaum musyrik, cukurlah kumis dan peliharalah jenggot!” (HR. Muslim)
“Selisihilah kaum majusi, cukurlah kumis dan peliharalah jenggot!” (HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)
dadi miara jenggot ki bagian dari perintah Islam, dan merupakan atribut sebagai penentu identitas kemusliman utk membedakan dgn non muslim. Sedangkan kathok cingkrang, itu perintah juga, bahkan disertai ancaman bagi yang tak mau menjalaninya. Terlalu banyak haditsnya jika ditulis disini semua.
Betul Islam tak bisa dinilai dari atribut, namun yang jelas Islam memerintahkan pakai atribut. Ini wajar. Ha wong cah TK saja pakai atribut kok, sampai ke tingkat pegawai, karyawan, tentara, polisi, bahkan paguyuban tukang ojek pun tak ketinggalan. Mengabaikan atribut sangat menjadi perhatian dalam Islam, apalagi ada hadits yg berbunyi :
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan kaum itu..”
So, itu dasar-dasar penting yang diwariskan Nabi saw pada muslimin… piss juga

Setuju Mbah Dipo. Bahkan kyai-kyai talkeh (nguntal okeh) sedari dulu sudah banyak yang mengajari makan rumput. Ada pula yang meletakkan aji-aji sing isine limang perkoro di atas dua perkara yang harus dipegang teguh oleh ummat.
Delok wae dhelo maneh tanggal 14, nom-noman Islam akeh sing melok palentinan (mbuh acoro jahiliyyah opo kae). Nek ora melok palentinan dikiro ora gaul. Halah gombal-gambil, ndhik jaman SMP mbingek Kang Kombor wis ngece konco-konco sing dho ndilati silite wedhus melok palentinan gak ngerti maknane. Mlebu jaman SMA lan kuliah nganti saiki, rung tahu sing jenenge melok palentinan. Gene yo Kang Kombor jik urip lan ora kurang gaul.
Mbahmu : hehehe… sampeyan iku lho, bahasane marai ngguyu..
 khas jogja, yen diwoco si Thukul mesti dikomentari : Ndeso
… tapi bener sampeyan kang… 
Aji2 limang perkoro ki Koncosilo kae yo? Opo liyane ono maning?
Sekali lagi setuju Mbah.
Ono sing usil ngomong jare pake jilbab ki mung tiru-tiru budaya ne wong Arab yang notabenenya wong asing bagi orang Indonesia. Nek konsisten mbok yo sing dho nganggo jeans kae yo diurusi. Jeans khan yo dari asing, pakaian ne penambang emas jaman ‘Gold Fever’ neng Amerika mbiyen kae.
Debat kusire, nek urusan asing-asingan (bentuk kata yang aneh yo Mbah?), mesthine Amerika luwih asing. Arab khan mung kulon kono ( ‘o’ dibaca seperti lokomotif). Lha Amerika rak kulon kono (‘o’ dibaca seperti Suharto).
Mbahmu : budaya ki gaweyan menungso, dari kata budi daya… kalo syareat itu perintah Allah, bedakan itu, kalo berhasil membedakan maka sip…
Oentoeng ik poenja djoeloek mingsih berbaw Islamie…
terus terang nggih mbah, kula tiyang bodho, di adhepi tembung esensi wae bingung. menawi mboten klentu lho mbah, islam lan budhaya arab niku kan mboten sami… lha ingkang kita turut menika ajaran islam napa budhaya arab ??
mangga dipilah-pilah pundi ingkang budhaya arab, pundi ingkang ajaran islam.
Mbahmu : budaya arab sing simbah ngerteni ki beberapa kang : mbunuh bayi perempuan hidup-hidup karena malu, azlam (tebakan pakai panah), tathoyyur (nggantung nasib lewat burung), polygami sampai lebih dari 10 isteri, mewariskan istri pada anak untuk dinikah, minum khamr, perempuan pakai baju yang mbledeh dadane ketok ranum, tawaf telanjang keliling ka’bah, bikin aturan ttg nama2 onta, menganggap sial barang2 tertentu, dlsb… coba sampeyan baca tarikh arab ttg hal ini, daftarnya panjang sekali.
Begitu Al Qur’an turun semua berubah. Dari sejak cara lairan, makan, minum, halal haram, berpakaian, bergaul, tidur, kencing dan lain sebagainya. Hampir semua budaya asli arab sudah PUNAH, kecuali yg sejalan dengan Al Qur’an.
islam=singa? wew
Mbahmu : ada 2 tokoh besar Islam yg dijuluki Singa : pertama adalah Hamzah bin Abdul Mutholib paman Nabi saw, sang Singa Allah (Asadullah), kedua adalah Omar Mochtar, sang pahlawan Libya yang memerangi penjajah Italia, gelarnya : Lion of The Dessert…
songolimo ne sampeyan ki diganti singolimo wae sam…
Â
….

jaman wis akhir,
jaman wis akhir,
bumine goyang,
bumine goyang…………
Mbahmu : meh tancep kayon kang…
Â
Mbah, soal celono nggantung iku nek gak salah munine:
. Nek Aku gak sombong kan yo gak popo clonoku gak cingkrang.
sakjane aku yo rodo gak mudeng, opo hubungane pakaian sampai matakaki karo sombong. Jawaban sementara, Isbal adalah symbol kesombongan bagi budaya arab setara karo wong jowo ngelingkis lengen baju utowo malangkerik (nek salah benerno yo mbah).
Kalau demikian budaya asli jawa sing sejalan dengan Qur’an kan gak harus diganti budaya arab kan Mbah. Contoh:blangkon gak harus diganti sorban, beskap & jarit gak perlu diganti jubah ala arab.
ngono kan mbah?
btw sampeyan lek pas praktek gak gawe sorban kan mbah?
Mbahmu : leres sampeyan kang.. makanya dipaham dulu perintahnya, kalo bisa cuma diambil esensinya ya ambil, tapi kalo memang disuruh ndatangkan utuh ya datangkan utuh. Jubah gamis ki esensinya baju panjang, siwak ki esensinya kebersihan mulut, kalo mau diganti baju panjang lainnya ya sudah sesuai esensi, atau gosok gigi pake odol juga sudah sessuai esensinya…. namun kalo mau mendatangkan utuh, dalam hal ini lebih utama dalam syareat…
Mbuh ki… kok podo slenco ngalor ngidul… gak nyambung karo topik.. OOT kabeh ki…Â
Ttg isbal dan sombong, sombong itu definisinya 2 miturut hadits : memandang rendah manusia dan menolak kebenaran. Kalo simbah sih terima saja perintah berkain di atas mata kaki, daripada ntar dicap sama Allah menolak kebenaran…
mbah… neng tlatah djowo yo ono sing nduwe gelar singo2nan..yen ra salah ‘Lion on The Table’ iku gelare simbah Singo Dimejo…
Mbahmu : tapi ada juga yang berjuluk Singo Edan… opo yo iku?
Â
Mbah bukannya gamis, jubah, sorban, cadar pancenne nyaman dipakai untuk daerah seperti arab yg panas dan sembribit. Koyok wong jowo yang merasa pas dengan jaritan lan sarungan.

Aku jadi bingung, dgn identitas dan atribut seperti yg simbah maksud lantas akan menunjukkan dhohir kekaffahan.
Piss ah!!
Mbahmu : terserah sampeyan budhe, niku lak asumsi sampeyan. Wong simbah ki bingung juga, sampeyan ki ngomentari tulisan ingkang pundi?
 Yang jelas Allah sampun paring pitedah :
“…… Dan apa-apa yang dibawa Rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa-apa yang kalian dicegah Rasul darinya maka cegahlah….” (Surat Al Hasyr ayat 7)
Tapi saya juga masih latihan amal terus lho budhe… piss juga…
Â
@ARIS :
Bener Kang, menurut PP No.10 tentang larangan polygami bagi pegawai negeri memang oleh duwe bojo LORO yen bojo pertama LARA berkepanjangan dan tidak/kemungkinan kecil sembuh.
mbah..dogeng nge marai angel turu
Mbahmu : turu kok angel, ndadak diajari sik po piye ben pinter…
Â
wah… lha kalo Singa yang asli main “aum” ya yang lari ga cuma domba-dombanya to Mbah… singa berbulu domba jg jadi ikut lari. Alih-alih menyadarkan, malah menakuti. BUkannya kita diperintahkan menyeru kepada kebaikan dengan cara sebaik-baiknya? bukan asal mbengok saja?
Menurutku yo mbah, justru cara yang tepat itu ya seperti yang simbah lakukan ini. Bikin blog, nyumbang pikiran, sekaligus nyumbang konsultasi kesehatan. Itu pasti ga bikin singa berbulu domba lari ketakutan.
kalo waton njeplak, aku yo canggih
Mbahmu : nggih mas… sebetulnya gak ada yang mengaum kok, sama sekali belum…
Jadi gak perlu lari..
 Lagian simbah juga masih perlu ngaca juga kok… 
Hehehe, dari semua komentar yang masuk, sudah menggambarkan isi dari artikel Simbah ini
Mbahmu : isine opo kang..?
 Coba sampeyan gambarne…
Â
Bung Karno pernah nulis di Majalah Panji Islam hampir 80 tahun yang lalu, judulnya ” ISLAM SONTOLOYO ” yang mana masih relevan dengan kasus Islam saat ini.
Mbahmu : itu tulisan jaman bung Karno masih awam kang… coba sampeyan baca CAPITA SELECTA nya M. Natsir jilid satu mulai halaman 429 Terbitan Bulan Bintang, cetakan 3 tahun 1973. Disitu dijelasken dgn cara seksama bahwa tulisan Bung Karno itu menggambarkan keawamannya ttg Islam. Lagian itu tulisan sudah dibantah oleh banyak penulis di antaranya K.H.Siradjudin Abbas, M.Natsir dan A. Hasan… dari situlah Bung karno mau belajar islam melalui surat2an sama A. Hasan… trus dijadikan brosur oleh A. Hasan dgn nama “Surat-surat Islam dari Endeh” di tahun 1936.
Yang jelas menurut simbah, Nasakom lebih Sontoloyo….
Â
Ehh mbahh..olehe ngumpamaake wis bener…tapi kok olehe mbandingke ora pas yo…soale kuwi macane mung siji trus ning kalangane wedus sing akehh..padahal ketoke macane yo uakih mbahh…malah mungkin luwih akeh yen dibandingke karo sing macan banget
Mbahmu : sak ndonya po sak opo ki?
Ha wong simbah gak pernah ngadain sensus kewan je…
Â
Assalaamualaikum…
Sungguh kita sudah tak kenal lagi kepada ALLAH
Mbahmu : wa ‘alaikumsalam….. Ada nasehat ulama bunyinya begini :
“Barangsiapa dengan sengaja menghina adab Islam, ia akan terjauh dari hidayah untuk mengikuti sunnah. Barangsiapa meremehkan sunnah, ia akan terjauh dari hidayah untuk mengamalkan perkara yang wajib. Dan barangsiapa meremehkan perkara yang wajib, ia akan terjauh dari MA’RIFATULLAH….” (diambil dari Al I’tidaal fii Maratibir Rijaal)Â
lah…yen wedhuse sing cap singa piye mbah? opo ora ngrusak paugeran juga?
Mbahmu : ngene wae kang, coba sampeyan baca tafsir Ibnu Katsir Surat At Taubah (9) ayat 29, nah disitu dijlentrehkan secara panjang lebar, pertanyaane sampeyan kejawab tuntas disitu…
Semula aku kira ini Domba. Domba yg rela berbagi susu demi kesehatan manusia domba yg ikhlas berbagi bulu demi kehangatan yg diamanati jadi khalifatullah. Domba yang sangat yakin bahwa dirinya tidak akan kedinginan karena Yang Maha Pengasih pasti akan menumbuhkan kembali bulunya. Domba yang yakin bahwa bentuk Rahman dan Rahim Allah kepada para domba itu, salah satunya melalui penggembalaan Manusia yang memeras susu dan mencukur bulunya.
Duh Gusti, Ampuni mereka. Mereka masih mengira bahwa NamaMu adalah hakikatMU. Mereka masih mengira bahwa berada di jalan yang Engkau sediakan bagi mereka adalah tujuan perjalanan itu sendiri. Maafkan mereka kalau masih memberhalakan “Ismu” dan lupa akan “Musamma”
Mbahmu : hmmm.. “mereka” itu siapa kang?
  Keliatannya ini dongeng yang lain ya…
 Sip… simbah juga suka yang ini 
nek tak angen2, sakjane Abu Jahal, Abu Lahab, biyen nganggo klambi model arab apa blangkon ya… Au ah elap, jangan2 pakean mereka sama juga sama para sahabat. Jadi ngeri nih, pahala mung sithik, tapi ngrasani sing gak nganggo gamis… suwe2 lak entek pahalaku. Nyuwun ngapunten Gusti…
Mbahmu : mangkane ojo seneng angen2 kang
. Klambine sahabat jelas bedo karo klambine wong musyrik, termasuk Abu Jahal Al Ndlogoki karo Abu Lahab Al Bajinguki… doh kono doh kene.. 3 hal yang selalu Rasul saw pesan agar beda identitas dgn mereka : orang Musyrik, Syetan dan ahli kitab…. 
Simbah setuju kita gak usah ngrasani siapa-siapa, ngrasani ki dosa..
Simbah nggih nyuwun ngapunten..
Selamatkan domba – domba yang tersesat !!!!!
Mereka tidak hanya menyeret domba domba, bahkan sudah jelas itu gajah, kijang, kura – kura, ikan pun juga diseret. Termasuk singa yang notabene raja hutan … diseret juga.
mbah …. mugo2 ae onok singo sing wani nyokot ….
Mbahmu : wayahe mangan yo mangan, wayahe ngombe yo ngombe, wayahe turu yo turu, wayahe nyokot yo nyokot….
mbah dipo….
piss ah
Mbah kalo partai islam perlu ndak mbah ?:
Mbahmu : wah, simbah bukan ahli politik praktis kang… yang jelas Nabi saw merubah kondisi dan keadaan masyarakat dengan amal nyata, berpolitik juga, namun politik ala Nabi
Mbah… sy ini org super bodo.. lha agama aja mung dari buku…
matursuwun si mbah banyak bagi2 ilmu.. moga terus banyak mahluk yg berhati serupa mbah..
Mbahmu : wah, kalo spesies macem simbah ini banyak, dunia cepet kiamat jeng… mending satu aja….
Â
sampeyan rodo aneh he mbah, mosok wong islam digambarno singo sing mangan wedus, lha islam iku rahmatan lil alamin he.. islam iku koyo dene wit ringin sing guedhue bueanget sing nang ngisore iku kabeh iso ngiyup… lah.. sampeyan aneh-aneh ae mbah… he.. he.. he..
Mbahmu : Pasukan Perdamaian kae lak nganggo ukoro “Perdamaian” yo kang..
… gawane sego pincuk, gondomono, bantal guling, lan orkes campur sari opo malah nggowo bedhil, panser, tank, granat, bom, lan rudal?? Pasukan perdamaian karo pasukan perang bedane opo yo? Pasukan perdamaian Indonesia kae kok sebelum diberangkatkan malah latihan perang yo?
wah.. aneh aneh wae.. 
he.. he.. he.. simbah cerdas he… tapi aku sansoyo bingung mbah. lha jarene ngajak damai nanging kudu adus ludiro dhisik. berati nek ngono ora ono damai sing ora linambaran ludiro. ngono mbah

aku seneng ngrungokno lagune sheila on sepen iku… kayla song. eh.. jare sopo suk mben ono lagon sing iso ngalahno bedhil…

Mbahmu : yen bingung, coba sampeyan aras lan sinau isi surat Al Baqoroh ayat 251, nyritakne perang antarane Dapid (Nabi Dawud a.s) nglawan Goliath (Jalut). Sisan tepsire kang. Yen ra nduwe Tepsir Ibnu Katsir, nganggo Kitab IBRIZ susunan Kyai Rembang kae yo rapopo.. monggo..
nggg.. mbah, aku moco komen-komen nang ndhuwur iku, dadi eling unen-unen “awaludin marikfatullah”, jarena awale agama iku ngenali allah dhisik. sing aku kudu takok karo sampeyan yo mbah, carane makrifat iku piye yo mbah…
yo nek dipikir-pikir, wong saiki okeh sing kewalik, nglakokno agama dhisik tembe “rumongso” kenal gustine. durung ngerti sopo sing disembah nanging wis wani nyembah, durung ngerti tujuane mlaku, nanging wis playon nang dalan. piye iki mbah…
yo bener seh jarene si wong dau wan, okeh wong nganggep asma dadi gustine. padahal jane iku ning dudu iku kan mbah. ono paweling soko sesepuh, jarene ajo nyembah lafadh, ojo nyembah shalat, ojo nyembah agama. ojo ngiro-iro, mergo gusti iku tan keno kinoyo opo… dadi sing iso crito gusti iku bla bla bla, tak pikir kaspo yo mbah…
he lah.. mugo-mugo iso podho nompo pepeteng ben iso ndelok pepadang…



he.. he.. he.. simbah cerdas he… tapi aku sansoyo bingung mbah. lha jarene ngajak damai nanging kudu adus ludiro dhisik. berati nek ngono ora ono damai sing ora linambaran ludiro. ngono mbah

aku seneng ngrungokno lagune sheila on sepen iku… kayla song. eh.. jare sopo suk mben ono lagon sing iso ngalahno bedhil…

Mbahmu : yen bingung, coba sampeyan aras lan sinau isi surat Al Baqoroh ayat 251, nyritakne perang antarane Dapid (Nabi Dawud a.s) nglawan Goliath (Jalut). Sisan tepsire kang. Yen ra nduwe Tepsir Ibnu Katsir, nganggo Kitab IBRIZ susunan Kyai Rembang kae yo rapopo.. monggo..
Mathuk mbah… aku wis moco. Iyo bener nek ngono iku. Lha saiki yen jamane perang iku ora nganggo bedhil, yo opo carane nglawan mbah ? Saiki ra’ perang iku nganggone coro alus, lha yen digempur nganggo coro kasar kan ra’ mathuk no mbah…
Mbahmu : perang coro kasar isih ono kang. Muslimin dibantai wong Budha neng Thailand, dibantai wong Hindu neng Kashmir, dibantai wong salib neng Philipina, Iraq lan Afghanistan, dibantai wong Yahudi neng Palestina… ah.. tapi mungkin simbah sing paranoid ding…
Simbah setuju yen perang coro alus kudu ditandhangi kanthi alus.. 
mbah, clono, klambi, jam, setut, hanpon, konputer, speda onthel, numpak montor, mangan hamburger, hotdog, lan sak panunggalane… islam kan hamboten wonten ajaran ngagem pernik2 punika wau, niku sadoyo wau rak instrumen-e (walah opo meneh kie)tiysang kafir… trus pripun niku mbah ? berarti kulo sithik2 taksih mengandung SINGO CAP WEDHUS nggeh mbah ? ….


Mbahmu : meniko alat ingkang ngagemipun mboten mbutuhaken ajaran…
Ibarat wedhus lan singo ingkang sami2 butuh papan ngeyup, papan paomben dlsb…
Ehmm…hidup adalah pilihan. Setiap apa yang kita lakukan adalah merupakan pilihan kita, termasuk beridiologi,apapun.
Menjadi seorang muslim bukan berarti harus menjadi orang lain.Budaya muslim jawa “tidak harus” di paksakan menjadi seperti budaya muslim di arab, eropa, africa atau amerika biarkan berkarakter seperti budaya jawa yang agung.
Setiap budaya punya ciri khas masing-masing. akan tetapi seandainya ada orang yang ingin mengikuti budaya mereka ya…monggo, toh hidup ini adalah pilihan, tidak ada hak orang lain untuk tidak setuju.Biarkan saja. dengan catatan ” tidak mengganggu kepentingan umum”.
ga usah mempermasalhkan yang gitu-gitu….(atribut) ga penting tau….!!
Mbahmu : kata sampeyan ==> (atribut) ga penting tau….!!
Dan itu juga pemahaman berjuta orang di Indonesia. Tapi kenapa mereka yg masup TNI itu beratribut, jadi PNS beratribut, masup perusahaan asing maupun lokal beratribut, masup sekolah beratribut, TK pun beratribut, sampai paguyuban pemulung pun beratribut..?? bahkan ada yg ribet… hari senin atribut dan seragamnya begini, selasa begitu, rabu begono, kamis beginu. Dan manut, bahkan mungkin sampeyan juga. Cobalah sekali2 orang2 itu masup kerja tak beratribut dan tak berseragam karena dianggep gak penting…. jangan sehari atau dua hari, mau gak ya? Padahal gak pake seragam dan atribut kantor kan gak mengganggu kepentingan umum ya.. Semoga tak ada yang mempermasalahkan ini.
Esensi…sekali lagi esensi !!!
Nek diterangke Simbah ki mbok dha nggugu, rasah kakean protes ngalor ngidul.
Arep ngangsu ilmu kok ndadak nganggo protes…
Ehmmm….menarik sekali ya….(Tapi kenapa mereka yg masup TNI itu beratribut, jadi PNS beratribut, masup perusahaan asing maupun lokal beratribut, masup sekolah beratribut, TK pun beratribut, sampai paguyuban pemulung pun beratribut..??)
Well,menurut saya semua yang sampeyan sebutke kuwi adalah urusan profesi/occupaton, yang tidak ada urusan sangkut pautnya dengan berideologi/berfaham SEorang, itu semua di lakukan untuk kepentingan “disiplin” atau dengan alasan “keberlangsungan sistem sebuah perusahaan atau institusi”.. atribut itu justru penting (bagi TNI,pak polisi dll) sementara ISTILAH (ATRIBUT) GA PENTING yang aku bicarakan adalah ” atribut keagamaan/ideologi” bukan atriut-atribut sembarang kalir di atas. Masih menurut saya: bahwa kita ga penting nyebut diri kita beragama apa (islam,kristen, katolik, budha, hindu lan liyo-liyane… )yang penting esensi nya (saya lebih tertarik istilah INI)
Energi kita banyak tersedot hanya untuk ngurusi hal-hal tetek bengek yang tidak penting misalnya hal-hal yang berhubungan dengan pertentangan siapa umat terbaik? (khoirunnas fil ardhl)umat islam menjawab dengan sombong : umat terbaik, ya umat islamLAH …ya terang aja orang yahudi dan nasrani akan dongkol trus jotos-jotosan ga penting GITU wong dalam konsep mereka, merekalah orang-orang pilihan.
Belum lagi urusan syiah-sunni, perbedaan madzhab, politik islam, cara beritual yang berbeda dll…
Bener kata orang “CAPEK DEEEEHHG”
Ehmmm….menarik sekali ya….(Tapi kenapa mereka yg masup TNI itu beratribut, jadi PNS beratribut, masup perusahaan asing maupun lokal beratribut, masup sekolah beratribut, TK pun beratribut, sampai paguyuban pemulung pun beratribut..??)
Well,menurut saya semua yang sampeyan sebutke kuwi adalah urusan profesi/occupatIon, yang tidak ada urusan sangkut pautnya dengan berideologi/berfaham SEorang, itu semua di lakukan untuk kepentingan “disiplin” atau dengan alasan “keberlangsungan sistem sebuah perusahaan atau institusi”.. atribut itu justru penting (bagi TNI,pak polisi dll) sementara ISTILAH (ATRIBUT) GA PENTING yang aku bicarakan adalah ” atribut keagamaan/ideologi” bukan atriut-atribut sembarang kalir di atas. Masih menurut saya: bahwa kita ga penting nyebut diri kita beragama apa (islam,kristen, katolik, budha, hindu lan liyo-liyane… )yang penting esensi nya (saya lebih tertarik istilah INI)
Energi kita banyak tersedot hanya untuk ngurusi hal-hal tetek bengek yang tidak penting misalnya hal-hal yang berhubungan dengan pertentangan siapa umat terbaik? (khoirunnas fil ardhl)umat islam menjawab dengan sombong : umat terbaik, ya umat islamLAH …ya terang aja orang yahudi dan nasrani akan dongkol trus jotos-jotosan ga penting GITU wong dalam konsep mereka, merekalah orang-orang pilihan.
Belum lagi urusan syiah-sunni, perbedaan madzhab, politik islam, cara beritual yang berbeda dll…
Bener kata orang “CAPEK DEEEEHHG”
wahh.. ternyata gw singa


tapi ga nyangka. gw kira dongeng bneran, cz gw gi cari dongeng bwt tugas. ternyata.. bukan dongeng belaka
salut deh, buat mbah
btw, masa manggil mbah doang? nama di akte sapa tuw?
UAPIIIIIIIIIK CERITANE AQ JADI PRIHATIN


:
d:”>
/
/


“




Sumpah gue jadi mumet nich,tapi aq jadi seneng,kan jadi tambah
pengetahuan….OK Thx 4 all
Visit us at http://airsetitik.tk
Satu kata: ceritanya bagus-bagus.
Btw, minta kesempatan numpang nyebar info: mari berbagi cerita untuk dinikmati bersama di http://www.dunia-cerita.net
Kali aja, bisa difilmkan atau dinovelkan berkat komentar tambahan pada alur ataupun penokohan bahkan sketsa ceritanya.
Makasih.
DASAR PENGGANGGU