Archive for the ‘Pengaosan’ Category

“Haram” yang Haramnya tidak sama dengan Haram

Posted 25 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Tentunya sampeyan sudah pada tahu, bahwa para Kyai MUI sudah mengharamkan 2 hal yang selama ini menjadi polemik. Yakni rokok dan Golput. Untuk rokok, salah seorang kyai MUI menerangkan bahwa keharamannya tidak sebagaimana babi. Jadi memiliki perbedaan. Rincian perbedaannya diterangkan dengan sangat njlimet sampai simbah gak mudeng babar blas. Tetapi keharamannya dilandasi bahwa kemadharatannya lebih besar dari manfaatnya.

Kyai NU dan beberapa ormas Islam lainnya gak sependapat kata “Haram” digunakan untuk memfatwai rokok. Haram yang bukan sebagaimana haramnya babi itu sudah ada kriteria tersendiri, yakni “makruh”. Jadi tak perlu menggunakan kata “Haram” jikalau ada kata lain yang lebih bisa mengakomodasi pengertian tidak diperbolehkannya merokok itu.

Alasan yang memakruhkan ini juga masuk akal, walaupun kang Jupri salah seorang teman simbah yang gak suka dengan kyai NU ini nyeletuk, “Halah, itu kan karena banyak kyai NU yang sudah nggathok ngudud kayak lokomotip sepur. Bilang aja gak mau ninggal klangenan.”

Read More

Yang Tegang, Yang Asyik

Posted 16 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe, Pengaosan

Sebagaimana biasa Kang Paidul bersama wadyabalanya sesama penggemar pilem kungpu sedang berkumpul menyaksikan salah satu pilem kungpu yang disewanya dari pisidi rental. Adegan demi adegan dilewatinya. Hingga sampailah pada satu keadaan dimana sang lakon jagoan terdesak dan hampir koit diterjang musuh. Semua penonton tercekam tegang. Dumadakan muncullah Kang Pailul. Sambil prengas-prenges dia nyeletuk dengan koplonya :

“Halah gak usah tegang, itu entar lakonnya selamat, tapi nantinya dibunuh juga oleh boss penjahat…”
katanya sambil nyruput secangkir coklat tubruk.

“Woo, lha semprul… “ kata kang Paidul marah-marah yang juga diikuti gerutuan wadyabalanya. “Kamu kalo udah pernah nonton mbok diem tho. Mbikin gak asik aja. Awas kalo nyobrot lagi, jotos sisan…”

Begitulah adanya. Keasyikan nonton pilem akan sirna manakala jalannya pilem tiba-tiba di-spoiled oleh oknum yang sudah pernah nonton, apalagi spoilednya amat trocoh. Read More

Oh, Pak Penghulu

Posted 24 Dec 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip, Pengaosan

Minggu-minggu terakhir ini jika sampeyan mau memperhatikan gang-gang di pinggir jalan di Jakarta, akan tampak yang namanya umbul-umbul janur disertai nama pasangan pengantinnya berderet seperti bendera merah putih di saat agustusan. Sewaktu simbah menyusuri jalanan di daerah Pondok Kopi dan wilayah Semper, tak sampai jarak seribu tombak sudah melewati hampir sepuluh umbul-umbul janur. Yang berarti setidaknya ada sepuluh pasang anak manusia sedang dinikahkan hari itu.

Tak salahlah jika bulan ini disebut sebagai musim kawin. Bukan lantaran hawa dingin yang cocok buat bulan madu pasangan pengantin, namun karena ketakutan orang menjalankan acara nikah di bulan Muhamram lah yang menjadi penyebab. Ada yang menyangkal pendapat ini dengan mengatakan bahwa banyaknya acara pernikahan di bulan ini lantaran bulan Dzulhijjah adalah bulan haram,yakni bulan baik yang dimuliakan oleh Allah. Tentu saja ini merupakan pendobosan publik yang membodohkan. Karena yang namanya bulan haram itu ada empat, tiga di antaranya berurutan. Yakni Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Jadi jika memang yakin bahwa pernikahan yang pating drindil itu karena menepati bulan haram seharusnya musim kawin itu akan berlanjut sampai Sasi Suro alias bulan Muharram nanti. Namun kenyataannya saat masuk bulan Muharram,aktifitas kawin mengawinkan pun libur sebulan penuh, terutama bagi orang javanese van ndesonese.

Berbicara masalah urusan kawin mengawinkan, maka kita tak bisa lepas dengan yang namanya pejabat pencatat pernikahan dari Kantor Urusan Agama (KUA) yang biasa disebut dengan Pak Penghulu. Perlu diketahui bersama bahwa fungsi utama dihadirkannya Penghulu dalam acara pernikahan adalah semata-mata sebagai pejabat negara yang mencatat dan memberikan kekuatan hukum legal bagi pernikahan yang berlangsung, sehingga pernikahan tersebut syah menurut agama dan undang-undang yang berlaku. Sedangkan yang namanya menikahkan itu adalah tugas dari bapaknya si pengantin perempuan.

Pada prakteknya yang namanya penghulu ini mendadak berubah menjadi raden Ngabehi yang mengambil alih semua peran dalam acara pernikahan. Dari sejak menikahkan,mencatat, mengatur dan bahkan menyutradarai jalannya acara pernikahan bak sutradara tiban. Sehingga acara akad nikahpun jadi seperti sinetron atau opera sabun deterjen yang tak berbusa. Sampai-sampai bermunculanlah ide-ide baru yang disisipkan dalam acara nikah yang sebenarnya bukan merupakan rukun nikah, tapi dijejalkan dengan paksa. Akibatnya publik awam beranggapan bahwa itu adalah wajib, karena yang nyuruh pak Penghulu yang dianggap paham dalam urusan agama.

Di antara perkara yang dijejalkan itu adalah saat akad nikah akan dijalani, sang mempelai perempuan disuruh minta ijin dulu pada bapaknya untuk menikah dengan pria pilihannya. Ini sebenarnya acara yang ngoyoworo, lucu dan kadang mbikin simbah ngempet ngguyu. Ha wong bapaknya sudah nyewa gedung jutaan ripis, nyewa sonsistem dolby stereo serta tata panggung berhias sinar laser, semuanya jelas mengindikasikan kalau bapaknya jauh-jauh hari (tanpa Nurudin) sudah mengijinkan dan bahkan menyiapkan semuanya, kok ya masih dijejali lagi acara ketoprakan mubadzir yang namanya “minta ijin”. Coba bayangkan jika tiba-tiba bapaknya njawab, “saya tidak mengijinkan nduk”…. Apa nggak kaget para tamu undangannya. Tiwas dandan berjam-jam, minjem gelang kalung tetangga buat kondangan, ha kok gak jadi nikah. “Tiwas ngamplopi,” begitu mungkin pikiran para tamu undangannya melihat acara pernikahannya gagal total.

Di antara perkara yang kadang dibikin-bikin dan ini didukung oleh pihak keluarga pengantinnya adalah diulang-ulangnya ucapan ijab kabul karena dianggap tidak syah lantaran alasan yang mengada-ada. Ada yang menganggap tidak syah karena saat pengantin laki-laki mengucap lafal ijab kabul disela dengan batuk. Ada yang menganggap tidak syah karena ucapan ijab kabulnya tidak lancar. Ada yang menganggap tidak syah karena antara ucapan sang bapak dan pengantin laki-laki jaraknya lebih dari dua detik. Sehingga saat si bapak selesai mengucap lafal menikahkan, sang pengantin laki diberi kode untuk segera menyambut. Ada juga yang menganggap tidak syah lantaran ucapan ijab kabulnya agak tergagap karena gugup. Alangkah sialnya jika pengantin lakinya seorang yang memang gagap. “Ssaa..sa.. ya te…te.. teri..terr….terima…nnnn…nik..nikahnya……..” GLODAAK!!! Sampai lebaran kucing gak akan syah nikahnya lantaran perlu diulang lagi dan diulang lagi.

Dan perkara yang membuat makin miris adalah biaya nikah yang ditetapkan oleh pihak KUA yang tidak jelas juntrungnya. Ada yang bilang lebih transparan tarif short time gang Dolly daripada nikah resmi. Sebenarnya yang menjadi penyulit adalah keharusan datangnya pak Penghulu ke tengah acara akad nikah. Padahal jika acara nikah dijalankan,lantas KUA hanya berfungsi sebagai pencatat, maka akad nikah tak harus dihadiri Penghulu. Pernikahan cukup didaftarkan dengan menghadirkan saksi ke KUA. Namun karena masyarakat dicekoki pemahaman bahwa acara akad nikah harus dihadiri penghulu dari KUA,maka akhirnya muncullah biaya transport untuk menghadirkan penghulu. Biaya transport inilah yang akhirnya menjadikan biaya nikah jadi melambung. Karena biaya transport yang dikehendaki pak Penghulu seringkali harus ditetapkan dengan nego bak bakul ayam. Ada yang kena sejuta, setengah juta, bahkan yang sial adalah jika pak Penghulu sudah buka harga empat juta. Mau ditawar berapapun kenanya tetap di atas sejuta ripis. Kasian juga Lik Sarmin yang sudah bujang lapuk ngempet nikah karena tak kuat menghadirkan penghulu ke acara nikahnya.

Ada satu kisah nyata di komplek simbah di tahun 2007 saat komplek simbah kena banjir. Salah seorang warga mengadakan acara pernikahan di tengah suasana banjir yang melanda. Pak Penghulu pun dihadirkan. Karena suasananya sedang banjir, jalan yang ditempuh pun penuh keklebusan dan basah. Selepas akad nikah diucap dan Pak Penghulu pamitan, mendadak pak Penghulunya bilang dengan setengah berbisik pada sohibul hajat, “Maaf pak, berhubung keadaan banjir seperti ini, saya mohon kebijakan dari bapak untuk memberikan ‘uang banjir’ pada kami. Bapak tahu sendiri kan, cukup susah mencapai daerah sini dengan suasana banjir kayak gini. Paling tidak 200 rebu pak”. Sekali lagi : GLOODAAKK !!!
Salah seorang kawan simbah simbah masih bisa bersyukur dengan nyeletuk, “Untung cuma kena uang banjir 200 rebu, untung gak diminta uang klebush, uang laundry dan uang becek.” Oh… pak penghulu. Simbah yakin, tak semua begitu.

Powered by ScribeFire.

Kesetiaan

Posted 22 Jun 2008 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Dalam satu riwayat disebutkan satu percakapan yang menarik antara Abu Bakar r.a dan anaknya. Sebagaimana difahami, salah seorang anaknya Abu Bakar yang laki-laki masuk Islamnya belakangan setelah perang Badar. Sehingga di saat perang Badar si anak berperang di pihak musyrikin, melawan bapaknya yang berperang bersama kaum mukminin. Berkatalah si anak:

“Wahai bapak, dulu di saat perang badar, aku memiliki kesempatan untuk membunuhmu, dan aku yakin jika aku lakukan maka engkau pasti sudah terbunuh.”

“Lantas apakah yang menghalangi dirimu untuk melakukannya wahai anakku?” tanya Abu Bakar.

“Aku masih memiliki rasa sayang kepadamu. Itulah yang membuat diriku ragu.”

“Itulah sifat kemusyrikan wahai anakku. Loyalitas dan kesetiaan kepada tuhan kalian bisa kalah dengan kecintaan kalian pada yang lain. Sungguh jika aku berada di posisimu saat itu, sudah aku tebas lehermu.” Read More

Dakwah Buat Siapa?

Posted 12 Feb 2008 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Jika sampeyan akrab sama Al Qur’an, maka sampeyan akan dengan cepat mengenal ayat ini :

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja buat mereka, apakah engkau beri peringatan mereka ataukah tidak engkau beri peringatan, tidaklah mereka akan beriman.” (Surat Al Baqoroh ayat 6)

Muncul pertanyaan, lantas apakah lalu orang-orang kepir itu gak usah didakwahi saja? Ha wong didakwahi, diingatkan, dikasih tahu ataupun tidak ya mbelgedhes gak berubah sama sekali. Diomongi sampai bibir jontor akhirnya toh juga gak jadi baik. Lantas bagaimana kaitannya ayat itu dengan seruan buat berdakwah? Read More

Bertuhan Tapi Tak Beragama?

Posted 30 Jan 2008 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Trend yang sekarang marak berhembus di kalangan jahiliyah mutakhir adalah adanya paham yang mempercayai Tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya. Hmmm… mumet juga nggagas paham koplo bin koclok ini. Memang itu hak masing-masing sampeyan untuk berpaham kayak gitu. Dan hak simbah juga untuk mengatakan itu paham koplo bin koclok.

Jika penyakit paham ini mulai menyerang sampeyan, dan sampeyan mungkin sreg, cobalah sampeyan pikir, jangan sambil mengerutkan dengkul, karena otak sampeyan bukan disitu. Miturut simbah, orang yang percaya pada tuhan, tapi tak percaya pada agama-Nya, berarti ada 2 kemungkinan : Read More

Sunnah Yang Telah dilupakan (2) : Sunnah saat hujan

Posted 09 Jan 2008 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Hujan merupakan nikmat Allah. Dengan hujan Allah menurunkan banyak nikmat ke muka bumi. Dengan hujan Allah menghidupkan bumi yang gersang. Meskipun dengan hujan juga Allah dapat mengirimkan adzab, sebagaimana yang menimpa umat Nabi Nuh as.

Sehingga tidaklah mengherankan, manakala mendung datang, Rasulullah saw tampak cemas dan khawatir. Kecemasan dan kekhawatiran beliau sirna dan berubah menjadi kegembiraan manakala hujan benar-benar turun. Saat mendung datang, beliau khawatir jangan-jangan yang turun nantinya adalah adzab dari Allah. Begitu turun hujan, maka yakinlah beliau bahwa ternyata rahmat dan berkah Allah lah yang turun.

Saat hujan turun, ada beberapa amalan ibadah yang khas dikerjakan oleh Rasulullah saw. Dan kekhasan amalan ini hanya saat hujan turun saja. Sedangkan di saat biasa, dimana tidak turun hujan, amalan khusus ini tidaklah dikerjakan. Apa sajakah amalan tersebut? Sudahkah kita mengetahui dan mengamalkannya? Read More

Sunnah Yang Telah dilupakan (1) : Adzan Shubuh

Posted 08 Jan 2008 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Amalan sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw, jika lama tidak diamalkan oleh umat, maka suatu saat umat tidak lagi kenal dengan sunnah tersebut. Bahkan apabila ada sebagian umat yang mengamalkan lagi Sunnah-sunnah yang lama ditinggalkan tersebut, maka pastilah muncul tuduhan-tuduhan yang miring terhadap pengamal sunnah tersebut. Akan muncul cap dan tudingan sebagai pelaku aliran aneh, sempalan ataupun tudingan aliran sesat. Padahal yang diamalkan tersebut sebenarnya merupakan amalan sunnah, namun telah dilupakan umat dan ditinggalkan.

Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah saw, bahwa agama ini datang dengan asing, dan nantinya akan dianggap asing lagi sebagaimana awal datangnya. Hanya saja Rasulullah saw memberitahukan kepada kita, bahwa sungguh beruntunglah mereka yang mau menghidupkan amalan sunnah yang telah asing di kalangan umat tersebut. Adakah kita termasuk orang asing yang dianggap beruntung oleh Nabi saw? Marilah kita lihat. Read More

Puasa Arofah Bareng Saudi?

Posted 18 Dec 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Polemik kapan dilaksanakannya puasa Arofah memang sedang rame-ramenya. Jika mendasarkan kepada beberapa fatwa ulama yang memfatwakan bahwa puasa Arofah dilaksanakan sesuai wilayah hukum dan sesuai keputusan pemerintah setempat, maka puasa Arofah tidak harus selalu bertepatan dengan 9 Dzulhijjahnya Saudi (Mekkah).

Pertanyaannya, apakah puasa Arofah itu harus bareng dengan tanggal 9 Dzulhijjahnya Saudi?? Sebagian muslimin berpendapat demikian. Mengapa? Karena mereka mendasarkan bahwa puasa Arofah itu harus bertepatan dengan dilaksanakannya wukuf di padang Arofah. Bisakah itu dijalankan oleh muslimin di seluruh dunia, dan haruskah pas tanggal 9 Dzulhijjahnya Saudi??? Marilah kita bahas. Read More

Idul Adha 1428 Kapan?

Posted 13 Dec 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Setelah melewati Idul Fitri yang penuh perdebatan kapan hari jatuhnya, di bulan ini hal tersebut juga terjadi untuk penentuan Idul Adha. Bedanya, saat ini baik Pemerintah, NU maupun Muhammadiyah akur dalam hal penentuan jatuhnya Ied, yakni hari Kamis 20 Desember 2007.

Namun  beda halnya dengan mereka yang menjadikan Arab Saudi sebagai acuan untuk merayakan Idul Adha. Karena sebagaimana diketahui Kerajaan Saudi Arabia menetapkan hari Idul Adha jatuh pada tanggal 19 Desember 2007 bertepatan dengan hari Rabu. Maka potensi untuk 2 kali berhari raya di negeri ini terbuka lagi. Read More

Haji, Cermin Muslimin Dunia

Posted 06 Dec 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

“Hiyaaa…. buk..plak..dug…ngok..!!!”

Jangan salah, tulisan di atas bukan kutipan kisah silat Khoo Ping Ho. Bukan juga cerita tentang jurus kunyuk melempar buah. Namun sebenarnya itu adalah sepenggal kisah tentang pelaksanaan ibadah haji yang dialami oleh salah seorang rekan sejawat simbah yang berhaji beberapa tahun yang lalu.

Ha kok ada adegan kampleng-kamplengan itu pas njalani ritual apa tho? Trus kok ada “ngok” nya, kayak adegan saru aja…. Tunggu dulu! Itu adalah sepotong adegan di depan Hajar Aswad, dimana seorang jamaah tinggi besar, gothot dan methekol sedang berkompetisi hendak mencium Hajar Aswad. Untuk bisa menciumnya dia harus mengalahkan pesaingnya. Kontan saja sikat kanan, jotos kiri, lalu ...ngok… berhasillah tokoh kita mencium Hajar Aswad dengan penuh kemenangan, setelah menjungkalkan jamaah lain yang lebih kerempeng perawakannya atau lebih gothot (maksud dari gothot  yang iniadalah igone mencothot, alias bengkring alias kurus akut). Jangan harap Jamaah asal Indonesia bisa menang kompetisi ini. Read More

SMS dari Sang Ustadz

Posted 26 Nov 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Lima hari yang lalu simbah dikagetkan dengan satu SMS yang masup ke HP simbah. Isinya sebenarnya njelehi, yakni SMS berantai. Tapi entah mengapa sore itu di saat simbah menerima SMS tersebut, ada keinginan untuk menanggapinya. Padahal biasanya kalo ada SMS semacam itu simbah gak pernah nggubris babar blas. SMS tersebut bunyinya begini (simbah kutip apa adanya termasuk salah ketiknya):

Dari 085656595xxx :
Seoran anak kecil ditemukan di aceh barat, ditubuh anah itu terdapat tulisan nama allah dan anak itupun bisa bicara dengan binatang apapun, ini tanda kiamat dunia ini hampir dekat, sebarkan brita ini ke 10 orang, insyaallah dalam jangka 10 hari anda akan mendapat rezki besar, kalau tidak akan mendapat kesulitan tiada henti, ini amanah jangan diremehkan, kabar ini datang dari Tgk Hasbi Amin, wakil M.P.U. aceh barat, Terima kasih
Read More

Rantai Rejeki

Posted 31 Oct 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Saat simbah masih kerja di rumah sakit, simbah sering menemui adegan dimana pasien dibentak, dimarahi dan disalahkan baik oleh dokter senior, dokter yunior, bahkan oleh perawat. Adalah beberapa waktu yang lalu simbah menemui kejadian konyol dimana simbah mengirim seorang pasien untuk dicek darahnya di laboratorium. Untuk kebutuhan itu pasien harus puasa 12 jam, sebelum diambil darahnya.

Pagi hari jam 9 si pasien tiba di satu RSUD di Jakarta ini. Saat tiba di lab, petugas laboratoriumnya bertanya, “Sudah puasa bu? Mulai puasa jam berapa?”

Si ibu yang tua dan memang dari kalangan tak mampu itu menjawab,“Sudah bu. Tadi malam saya mulai puasa jam 10 malam.”

“Lho.. kok jam 10 malam?” tanya petugas lab heran. “Harusnya mulai jam 9 malam bu, kan lama puasanya 12 jam. Gimana sih ibu ini? Kalo puasa jam 9 malam kan pas jam sekarang darah bisa diambil.”
“Jadi gimana ini bu?”

“Lha, salah lo sendiri. Ya pulang aja dan puasa lagi entar malam, mulai jam 9 malam ya. Makanya kalo mau periksa lab disini pengantar laboratnya juga dari sini, jadi tahu prosedurnya. Jangan asal puasa aja. Sudah sono pulang dulu… saya mau melayani pasien yang lain,” kata ibu itu dengan ketus. Yang kontras adalah ibu itu berjilbab rapi dan dipanggil oleh rekan sesama pegawai di rumah sakit itu dengan panggilan bu haji.

Simbah tak habis pikir, harusnya kalo memang mulai puasa jam 10 malam ya diperiksanya entar jam 10 siang. Saat itu baru jam 9 pagi. Harusnya pasien disuruh nunggu satu jam agar bisa diambil darahnya saat itu juga dan bukannya menyuruh pulang si ibu tua itu pulang dan puasa lagi untuk dicek esok hari jam 9 pagi. Jan-jane sing goblog murokab ki sopo tho yo? Read More

Obrolan Nggladrah tentang Nabi Palsu

Posted 26 Oct 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Seperti telah diketahui, baru-baru ini umat Islam dihebohkan dengan munculnya Nabi berdasi dan berpeci. Dengan kumis nyompok ala Saddam Husein, si oknum yang ngaku nabi ini menghapus syareat yang selama diyakini sebagai kewajiban bagi umat Islam. Tentu saja hal ini mendapat reaksi keras. Termasuk juga Den Bagus Panuroto dan Den Bagus Kadasombo yang sore itu jagongan di Cakruk sambil ngematke wedang ronde.

Panuroto :  Wedan tenan wong jaman sekarang. Lha ngaku jadi nabi kok gak kreatip blas. Ngobok-obok agama orang sak enak brutunya dewe.
Kadasombo : Lha emang ada cara yang kreatip kang jadi nabi??

Panuroto : Ya harus kreatip lah. Kalo gak ya gak awet. Entar lagi kalo gak dikukut pulisi, ya dibandemi massa yang marah karena ajaran agamanya dihina.
Kadasombo : Welhadalah… emang ada tho tips yang kreatip jadi nabi?? Kreatip yang pigimana itu kang?
Read More

Page 1 of 212