Archive for the ‘Mampir Ngombe’ Category

Sekilas Tentang Kasus Video Porno

Posted 21 Jun 2010 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Kemarin simbah membaca dua buah hadits yang setidaknya membantu simbah untuk memahami kasus pidio porno mirip artis. Hadits tersebut adalah :

Pertama: Dari Yazid bin Nu’aim bin Hazzal dari Bapaknya ia berkata, “Ma’iz bin Malik adalah seorang anak yatim yang diasuh oleh bapakku. Dan ia pernah berzina dengan seorang budak wanita dari suatu kampung. Bapakku lalu berkata kepadanya, “Datanglah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kabarkan kepada beliau dengan apa yang telah engkau lakukan, semoga saja beliau mau memintakan ampun untukmu.” Hanyasanya ayahku menginginkan hal itu agar Maiz mendapatkan jalan keluar, lalu ia bergegas menemui Rasulullah.
Ma’iz lantas berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah berzina, maka laksanakanlah hukum Kitabullah terhadapku!”

Beliau berpaling darinya. Maka Ma’iz mengulangi lagi, “Wahai Rasulullah, aku telah berzina, maka laksanakanlah hukum Kitabullah terhadapku!” Beliau berpaling. Ma’iz mengulanginya lagi, “Wahai Rasulullah, aku telah berzina, maka laksanakanlah hukum Kitabullah terhadapku!” Ia ulangi hal itu hingga empat kali. Read More

Sebab Kebahagiaan

Posted 10 Mar 2010 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Syahdan, tersebutlah kang Dulkamid yang hidupnya terkenal kesrakat secara dhohir. Adalah kekayaannya berupa rumah reyot hampir rubuh, sepeda onthel yang rantainya rajin lepas, baju berjumlah tujuh -nanti dulu…- maksudnya tujuh tambalannya, sebuah tempat tidur Spring Bed tanpa “S” (baca: Pring Bed) alias lincak dari bambu yang lebih terkenal dengan sebutan tempat tidur ‘kelas tinggi’ karena banyak “tinggi”nya (tinggi=kutu busuk bin bangsat) dan sejumlah lima juta ripis – nanti dulu…- maksudnya berupa utang. Tak seorangpun ibu dan tak juga sampeyan yang sedang menggendong anaknya menginginkan anaknya menjadi semisal si Dulkamid. Keunggulan satu-satunya yang dimiliki adalah kejujurannya. Tapi banyak orang mencibir, kejujuran tak membuat dia kaya.

Sebab Kebahagiaan - Happy Morning

Sebab Kebahagiaan


Read More

Pagar Moral

Posted 19 Dec 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Adalah Kang Mondhol dan Kang Jebol (bukan nama sebenarnya), dua orang sohib simbah di masa co-ass yang cukup akrab pergaulannya dengan simbah. Pertama kali masuk co-ass, simbah belum begitu akrab dengan mereka. Hingga akhirnya dikarenakan sering satu rombongan dan jaga bersama nginep di RS, keakraban itu mulai terbentuk.

Pagar Moral

Pagar Moral Kehidupan


Pada suatu ketika, bersama sekian co-ass yang lain simbah dan 2 sohib ini jaga di bagian Obsgyn. Pada saat jaga, simbah dan sohib-sohib ditempatkan di satu ruangan yang sebenarnya secara normal hanya muat 5 orang. Namun karena keterbatasan tempat, akhirnya dimuati sebanyak 9 orang. Kasur kapukpun dijejer biar muat.
Read More

Husnuzhon

Posted 12 Oct 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Beberapa kali simbah ikut Jum’atan akhir-akhir ini, sang khatib hampir selalu membahas yang namanya bencana alam yang sedang menimpa beberapa daerah di tanah air. Gaya dan karakter materinya hampir sama, yakni memvonis korban. Hampir semua penceramah, tidak hanya di khutbah, membahas bencana yang terjadi sebagai adzab yang dikirim Allah. Yang sekaligus tersirat makna bahwa korban bencana alam adalah pihak yang pantas dihukum. Apalagi ada kyai mengaitkan jam terjadinya yakni pukul 17.16 dengan nomer surat dan ayat dalam Al Qur’an, yakni surat 17 (Al Isra) ayat 16. Wah.. ini mah gaya gathuk enthuk. Setali tiga duit sama dukun klenik.

Simbah kadang mencoba memposisikan diri seandainya simbah korbannya, pasti sangat sakit jika di saat kehilangan harta benda, sanak family, lalu tiba-tiba divonis dengan perkataan, “Emang pantes diadzab elo pade.” Dan ngomongnya di depan mimbar, didengar ratusan bahkan ribuan orang.
Read More

Atas Nama Kemiskinan

Posted 06 Oct 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe, Selingan

Karena aku miskin dan merasa miskin
Maka angkotku tak perlu taat rambu
Kejar setoran lebih perlu
Maka ku ngetem seenak brutu
Kalian yang sekilo meter di belakangku jangan menggerutu
Ini juga demi anak isteriku

Karena aku miskin dan merasa miskin
Maka ku tak mampu beli mobil
Hanya motor itupun mencicil
Jalan mobil ku srobot dan kuambil
Pecicilan di jalanan macam si kancil
Kupikir tak apa karna ku miskin dan ekonomi labil
Read More

Kiamat

Posted 03 Oct 2009 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip, Mampir Ngombe

“Kapan Kiamat datang?” tanya Kang Harjo Linthing.

“Yo embuh,” jawab Lik Giman Mbako. “Gak ada yang tahu itu, kecuali Gusti Allah.”

“Halah, sebentar lagi kiamat juga dateng, biasanya datengnya bareng nyi amat,” sahut Kadi Semprul sambil nglekar. “Kalo nggak percaya silakan ditunggu deket lincak situ..hehehe..”

Glodakk..!! Kadi Semprul bablas njlungup didhupak Kang Harjo Linthing.

“Dapurmu kuwi, ditanya serius malah njawabnya ngomyang,” bentak Kang Harjo Linthing.

Kejadian di atas adalah fiktif. Nama dan tokohnya juga fiktif. Tapi percakapan model di atas pernah terjadi. Kalo di dunia pilem, biar mengangkat temanya jadi lebih riil, di posternya diembel-embeli “Diinspirasi oleh Kisah Nyata.” Read More

Apa atawa Bagaimana?

Posted 10 Jul 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Belum lama ini simbah menyaksiken satu acara di tipi tentang seni menyantap sushi. Makanan ala Jepang dan nJepangi banget ini ditayangkan dengan penuh seni. Simbah sebut nJepangi karena sesuai dengan karakter orang Jepang yang serba kemrungsung, sampai-sampai yang namanya makan gak nunggu dimasak. Pokoke langsung santlap. Mak nyuk…

Yang makan pun keliatan mantabh. Padahal yang namanya ikan laut, jangankan mentah, yang sudah mateng saja kadang amisnya masih nempel di tenggorokan. Maka simbah berusaha mendalami, bagaimana orang-orang Jepun itu bisa menyantap daging ikan yang amis itu dengan penuh kenikmatan.

Lain sushi lain lagi dengan jengkol. Makanan tradisional yang aromanya berpotensi memancing keusuhan ini termasuk makanan yang masih susah simbah mengerti mengapa disebut lezat oleh penggemarnya. Bahkan bibi simbah sendiri dan sebagian anggota keluarga simbah menjadikan jengkol ini sebagai cemilan wal snack di saat senggang. Tapi simbah yakin, jika mau belajar menikmati pasti akan ketemu juga titik kelezatannya.
Read More

Kabar Duka

Posted 13 Apr 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Sekitar pukul 11.15 siang ini simbah menerima SMS dari sohib yang turut mengarsiteki tampilan blog simbah ini, yakni Kang Nurudin Jauhari. Bunyinya sebagai berikut :

Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji’un. Ibunda telah wafat, semoga amal dan ibadah beliau diterima di sisi-Nya dan yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin.

Memang sejak beberapa minggu terakhir, kang Nurudin sangat rajin berkonsultasi via HP dengan simbah perihal kesehatan ibundanya. Bahkan tampak di mata simbah, kang Nurudin adalah sosok sahabat yang sangat perhatian pada ibundanya, sehingga rela berhari-hari menunggui di RS Dr. Sarjito Jogja.

Namun ikhtiar adalah jalan wajib yang harus ditempuh, sementara keputusan tetap berada di tangan-Nya. Untuk itu, simbah melalui blog ini mengucapkan :

Turut berduka cita atas meninggalnya ibunda dari Nurudin Jauhari, semoga segala kebaikannya mendapatkan pahala yang lebih baik. Dan keluarga yanag ditinggalkan mendapatkan pahala yang besar atas kesabarannya.

Yang Tegang, Yang Asyik

Posted 16 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe, Pengaosan

Sebagaimana biasa Kang Paidul bersama wadyabalanya sesama penggemar pilem kungpu sedang berkumpul menyaksikan salah satu pilem kungpu yang disewanya dari pisidi rental. Adegan demi adegan dilewatinya. Hingga sampailah pada satu keadaan dimana sang lakon jagoan terdesak dan hampir koit diterjang musuh. Semua penonton tercekam tegang. Dumadakan muncullah Kang Pailul. Sambil prengas-prenges dia nyeletuk dengan koplonya :

“Halah gak usah tegang, itu entar lakonnya selamat, tapi nantinya dibunuh juga oleh boss penjahat…”
katanya sambil nyruput secangkir coklat tubruk.

“Woo, lha semprul… “ kata kang Paidul marah-marah yang juga diikuti gerutuan wadyabalanya. “Kamu kalo udah pernah nonton mbok diem tho. Mbikin gak asik aja. Awas kalo nyobrot lagi, jotos sisan…”

Begitulah adanya. Keasyikan nonton pilem akan sirna manakala jalannya pilem tiba-tiba di-spoiled oleh oknum yang sudah pernah nonton, apalagi spoilednya amat trocoh. Read More

Masyarakat Jalan Pintas

Posted 16 Feb 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe
Jalan Pintas

Jalan Pintas

Siapapun orangnya, jika sedang terserang pageblug bin pileren maka akan mengusahakan pilerennya cepat sembuh. Mengingat hal ini, maka tak ada produsen obat ataupun zat penyembuh lainnya yang mengiklankan dirinya bahwa obat produksinya agak lelet mengobati penyakit. Pastilah dengan segala klaim yang seringkali penuh dengan nggedebusan memastikan bahwa obat atau zat penyembuh produksinya bereaksi sangat cepat. Walaupun nantinya setelah obat tersebut dipakai, kesembuhan yang saat ditampilkan dalam iklan obat itu secepat durasi iklannya, ternyata memakan waktu berjam-jam, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun. Tentu saja makin membuat sang penyandang pileren tak sabaran.

Apalagi jikalau kesembuhan yang hendak dicapai oleh sang penyandang pileren itu harus ditempuh dengan ngantri ndaptar di loket RS. Dilanjutkan dengan ngantri urutan pasien di depan pintu sang dokter, dimana ngantrinya sambil menyaksikan deretan orang sesama penyandang pileren yang gak boleh saling mendahului. Setelah antrian itu, dilanjutkan lagi dengan ngantri obat di deret antrian apotik buat nebus resep. Maka baru membayangkan urutan deret antrian yang hendak dijalani saja, sudah membuat sang penyandang pileren makin cekot-cekot kepalanya.

Maka jika tiba-tiba ada sarana penyembuhan yang hanya melibatkan proses sak dumukan, atau sekali tepok, atau sekali nyunyuk  di jidat trus dijamin pasien bablas pilerennya, tentulah sarana penyembuhan ini akan digrupyuk abis sampai sumsumnya. Dan itulah yang sedang terjadi di tlatah nJombang sana. Dengan hanya berbekal air putih yang diklaim bertuah sakti, maka serombongan pasien berduyun-duyun secara klaster hendak nyucup air sakti itu. Ada yang melakukan dengan penuh keyakinan, ada yang sipatnya nyoba-nyoba ada juga yang melakukannya demi menghindari jalur antrean dan bentakan yang biasa dia terima di RS.

Dan sarana iklan dari mulut ke mulut rupa-rupanya lebih epektip daripada pasang iklan di tipi di saat primetime yang tentu saja memakan biaya tidak sedikit. Tentu saja beragam komentar terlontar atas kejadian tersebut. Para ulama menyesalkan penomena ini, dengan berpesan agar masyarakat jangan terlibat dengan kesyirikan. Sedangkan ulama lainnya berpendapat penomena ini bukan syirik. Hanya orang sirik yang menganggap air sakti itu syirik, begitu kata ulama yang lain, yang biasanya bergelar kyai dan membuka praktek nyucup mbun-mbunan itu. Sementara itu masyarakatnya bebas memilih, ulama mana yang akan dia ikuti. Pokoknya kalau sesuai keinginannya ya diturut saja. Jan… bubrah kabeh.. :(

Ada satu cerita, agak berbau israiliyat, yang simbah juga belum tahu keshahihan kisah ini. Dahulu kala manakala Nabi Nuh membuat perahu dan sudah siap pakai, tiba-tiba orang-orang kepir mengejek dan menghina upaya nabi Nuh ini dengan cara memberaki dan membeoli perahu siap pakai itu. Setiap hari berpuluh bahkan beratus orang beol di perahu besar itu, sehingga tak satu sudutpun dari perahu itu yang tak dikotori dengan sampah biologis primitip itu. Nabi Nuh sedih.

Namun Allah Maha Kuasa, dan tak hendak merepotkan nabi Nuh untuk bersih-bersih kotoran di perahu beliau. Maka syahdan, masuklah seorang tua bongkok yang berpenyakit namun kepir, hendak buang hajat di perahu itu. Karena tertatih dia kepleset dan punggung bongkoknya menimpa tumpukan tinja di perahu itu. Ajaib, bongkoknya langsung tegak dan sembuh. Sedangkan penyakit lainnya yang terkena tinja itu juga ikut bablas hilang. Maka tak sepeminum kopi tubruk, kabar ini tersiar ke mana-mana. Bahwa tinja di kapal nabi Nuh berkhasiat menyembuhkan segala macam penyakit.

Orang-orang kepirpun berduyun-duyun ngeruk tumpukan tinja di kapal tersebut. Semua pasien dengan beragam penyakit tumplek blek, dari penderita wasir, turun berok, sampai mangsuk angin kasep berebut tinja keramat yang sebenarnya adalah tinja mereka sendiri. Maka kapal pun dengan ijin Allah jadi bersih dan kinclong lagi, karena tinjanya dikukut abis oleh sang pembeolnya sendiri-sendiri. Kun fayakun lah…

Masyarakat kita sebenarnya tak jauh beda dengan type masyarakat umatnya nabi Nuh itu. Segala sesuatu yang diklaim menjanjikan ini dan itu yang serba cepat menyelesaikan problem, selalu menjadi buruan, walau sering tak rasional. Padahal kalau mau jujur, segala yang normal dan wajar, pastilah memakan waktu yang normal dan wajar pula. Allah sudah meletakkan keadilan dan keseimbangannya dengan sangat tepat presisinya. Namun Allah juga memberikan sarana jalan pintas. Namun biasanya sarana jalan pintas yang ditawarkan Allah hanyalah berlaku bagi orang dengan kwalitas dan kepantasan tertentu yang memang pantas menerima sarana jalan pintas tersebut.

Mengingat masyarakat kita masih suka yang nganeh-nganehi tersebut, simbah ada usul buat Dinas Kebersihan DKI yang selalu dipusingkan dengan sampah. Cobalah bikin isu dengan melibatkan beberapa gelintir orang yang mengaku penyakitnya sembuh gara-gara nyiduk sampah di Bantar Gebang sebanyak tiga ember besar yang ditaruh di bawah tempat tidurnya. Simbah yakin, jika testimoni ini dibikin heboh, gunungan sampah di Bantar Gebang akan kukut diangkuti member masyarakat jalan pintas ini ke kamarnya masing-masing… :D

Tribute to Bush : Pro dan Kontra

Posted 16 Dec 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe, Selingan
Sebagaimana sudah diketahui bersama, bahwa Presiden Amerika Serikat yang namanya mirip bunyi kenthut untuk telinga orang Indonesia, yakni “Bush”, dibalang tapuk sandal eh… sepatu oleh salah seorang audience yang konon sedang mabuk. Tentu saja aksi ini mengundang komentar pro dan kontra dari berbagai pihak. Tak ketinggalan kalangan bakul underground pasar Paingan yang sibuk ngeciwis membicarakan aksi berani pelempar sepatu itu.

Salah seorang wartawan koran “Pitutur Times” yang terbit di negeri entah berentah, menangkap komentar para tokoh underground yang terangkum dalam tulisan berikut ini.

Komentar Pro :

1. Saya setuju terhadap tindakan memberi penghargaan pada si Bush dengan cara lemparan sepatu mawut itu. Itu sudah sepantasnya dianugerahkan pada tokoh haus darah itu. (Drs. Gendro Sutejo, MM, Hansip Pasar Paingan).

2. Tindakan tepat, untuk orang yang tepat, di saat yang tepat. (Mbah Gableng, penjual akik bersertifikat)

3. Tak ada ucapan yang pantas selain ucapan, Selamat, Anda layak untuk dibalang. (Mpok Patimeh, bakul pecel non formalin).

4. Salut. Sungguh berani. Dua acungan jempol tak cukup buat si pelempar sepatu. Selamat berlatih untuk lemparan berikutnya, semoga sukses dan tepat sasaran. (Kyai Ngaidin, penjual bunga plus doa dan jopa-japunya)

Selain komentar yang pro, berikut adalah komentar yang kontra.

Komentar Kontra :

1. Saya sangat tidak setuju dengan tindakan pelemparan sepatu itu. Mengecewakan… Harusnya kan pas di jidatnya… ha kok luput!! Mengecewakan….! (Bang Somali, centeng pasar Paingan)

2. Saya tidak setuju. Saya sangat tidak setuju kalau si pelempar sepatu dikatakan mabok. Justru dia sedang waras-warasnya dengan derajat kesadaran tinggi. Jika makin sadar, mungkin granat yang dia lempar. (Mang Pi’i, mantan penjual Ciu).

3. Saya sangat menentang aksi pelemparan sepatu itu. saya lebih setuju jika clurit yang dilemparkan. (Cak Kon Peno, pengrajin sekaligus tukang pande besi pasar Paingan).

4. Aksi yang pantas disesalkan. Saya sangat menyesalkan, mengapa tak ada lemparan ketiga setelah dua lemparannya gak kena… (Jang Odeng, mantan aktivis judi lempar dadu).

Itulah sebagian komentar pro dan kontra yang sempat terekam. Nama yang tercatat bukanlah nama sebenarnya sebagaimana yang tertulis di akta kelahiran mereka. Jika anda memiliki komentar pro maupun kontra, silakan tulis saja. Koran “Pitutur Times” dengan senang hati akan memuatnya.

Pahlawan atau Lawan?

Posted 25 Nov 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Siapapun warga Indonesia yang mengaku WNI akan sepakat jika Pangeran Diponegoro itu adalah Pahlawan Nasional. Walaupun perjuangan beliau saat itu belum menasional. Tapi jika sampeyan tanyakan kepada Jendral De Kock atawa kepada pemerintah kolonial Londo saat itu, Pangeran Diponegoro adalah pemberontak yang pantas ditumpes, dan bukanlah seorang pahlawan.

Hal ini juga berlaku buat tokoh yang lainnya. Kang Karmo Dungkel yang mantan aktivis PKI dan masih menyimpan sederet atribut komunis di rumahnya, jika ditanya siapakah Pahlawannya, dengan mantabhnya dia akan menjawab DN. Aidit. Kita tahu tokoh yang satu ini berada di deret nomor puncak dari daftar pengkhianat bangsa yang berniat merobohkan sendi bangsa dan negara.

Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad saw yang cukup membuat banyak orang terkagum-kagum akan akhlak dan budi pekertinya yang diakui baik oleh lawan maupun kawan pun, tak cukup membuat seseorang -dengan pengetahuan yang dimilikinya- terkagum. Jangankan terkagum, justru malah sebagian oknum menggambarnya dengan karikatur yang dianggapnya pantas. Tentu saja kepantasan menurut yang dia ketahui dari data yang tercekok ke kubangan otaknya.

Itulah pahlawan. Sebutan buat satu sisi kehidupan, entah bagian mana sisi itu. Yang jelas sebutan pahlawan, akan menutut sebutan pemberontak atau musuh di sisi yang lain. Seseorang yang disebut pahlawan, harus siap disebut dengan sebutan sebaliknya oleh pihak sisi yang berlawanan.

Preman pasar Cakung yang tubuhnya penuh tatoo itu adalah musuh buat masyarakat. Oleh Polisi (yang baik) disebut sebagai penyakit masyarakat, walau ada juga sebagian (entah besar atau kecil) polisi yang menyebut preman ini sebagai income sabetan. Namun walaupun preman merupakan sampah masyarakat, saat dia pulang ke rumah isteri dan anaknya yang sedang kelaparan menunggu sang bapak pulang membawa sesuatu untuk dimakan, sang preman mendadak menjadi pahlawan buat anak dan isterinya yang sedang kelaparan.

Begitulah satu sebutan atau gelaran jika diberikan oleh manusia. Seseorang memberikan gelar berdasarkan sisi yang memberikan efek terhadap dirinya. Jika efeknya baik, maka sebutan pahlawanlah yang terlontar. Jika efeknya buruk buat diri dan golongannya, maka sebutan preman atau pemberontaklah yang dilontarkan. Bahkan penghargaan Nobel yang katanya bertaraf internasionalpun, tak serta merta tokoh yang menerima gelar sebagai Tokoh Perdamaian akan diterima semua pihak sebagai tokoh pembawa damai. Akan ada segolongan orang di sisi seberang yang menganggapnya sebagai tokoh Perusak Perdamaian. Sehingga penghargaan Nobelpun sebenarnya bisa dinilai sebagai upaya satu pihak untuk menghantam definisi pihak lain yang kebetulan ingin dibandemi oleh panitia yang memberikan penghargaan tersebut.

Kaffaa billaahi syaahiidan!! Cukuplah Allah sebagai saksi buat sampeyan, apakah sampeyan pahlawan atau lawan. Sebutan manusia bisa salah. Maka jadilah orang baik atau pahlawan, atau siapapun yang berunsur shaleh, berdasarkan kriteria Yang Maha Kuasa. Kalau nuruti kriteria panitia pemberi penghargaan, maka sampeyan hanya akan jadi pahlawan buat satu sisi hidup manusia saja, yakni panitianya. Dan memang kita tidak akan menjadi pahlawan buat semua pihak. Karena begitu, maka jadilah pahlawan menurut kriteria yang ditetapkan Sang Khalik.

Jika Allah Mengijinkan

Posted 17 Nov 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Bukan lantaran malas simbah tidak posting dalam beberapa hari ini. Bukan lantaran kebanyakan ngowoh, simbah tak menulis judul baru di blog ini. Namun justru simbah sedang getol-getolnya nulis sampai beberapa judul. Targetnya sehari satu judul.

Namun tulisan-tulisan yang sudah simbah tulis itu bukan untuk diposting di media maya ini. Akan tetapi tulisan simbah ini ditujukan agar bisa dibaca di dunia nyata, alias diterbitkan menjadi sebuah buku.

Sebenarnya simbah ingin menyisakan satu atau dua tulisan buat dibeber di geber maya ini. Tapi ternyata kesibukan yang makin bertambah akibat bertambahnya dua pegawai baru simbah di jagad perbakulan, membuat simbah hanya menyisakan energi sisa yang takutnya hanya akan menghasilkan tulisan yang ra mutu babar blas. Sehingga akhirnya simbah menahan diri untuk tidak nulis dulu. Karena sebagaimana inti pesan kanjeng nabi, dari pada ngomong yang gak baek, lebih baik diem.

Untuk itu, simbah hanya mohon doa restunya, agar simbah segera bisa merampungkan tulisan yang “jika Allah mengijinkan” akan diterbitkan menjadi buku ini. Tentu saja buku ini berisi omyangan, glenikan dan grundelan simbah yang sebenarnya kurang mbejaji jika dibukukan. Maka jika sampeyan kurang suka dengan semua tulisan simbah di blog ini, simbah jamin makin blokekan wal mukokan jika membaca buku simbah nanti. Namun jika nekat mau mbaca, simbah pesen agar terlebih dahulu minum obat anti mabok, karena sampeyan akan mengalami perjalanan panjang ke alam yang hung liwang-liwung dan antah berantah.

Selamat menunggu..

Powered by ScribeFire.

Sokeh? It’s Okeh…

Posted 30 Oct 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Pertengahan tahun sembilanpuluhan, simbah dikejutkan oleh cerita salah seorang guru simbah yang menceritakan perihal Mie “insya Allah” Ayam. Kenapa disisipi kata “Insya Allah” di tengahnya? Hal ini tak lain dan tak bukan dikarenakan status kata Ayam yang dilekatkan setelah kata Mie itu meragukan.

Dalam satu kejadian yang diceritakan oleh guru ngaji simbah, salah seorang sohib yang biasa langganan Mie Ayam itu, dirisaukan oleh Mie Ayam langganannya yang biasa lewat tak kunjung tiba. Karena tak sabar menunggu, didatangilah rumah tempat tinggalnya. Setelah diketok dan dikulonuwuni beberapa kali tak menyahut, sang sohib mencoba menengok ke belakang rumah si penjual mie. Hwarakadah… tak dinyana dan disangka, di belakang rumah si penjual mie ayam tersebut bertumpuk beberapa puluh kepala tikus wirok. Dan ternyata si tuan rumah alias sang penjual mie itu sedang ngirisi daging tikus buat campuran tambahan daging ayam untuk menu Mie Ayamnya. Mantabhhh… (jika sampeyan lagi makan Mie Ayam saat mbaca ini, jangan mukok ngenggon/muntah di tempat). Read More

Page 1 of 212