
Jalan Pintas
Siapapun orangnya, jika sedang terserang pageblug bin pileren maka akan mengusahakan pilerennya cepat sembuh. Mengingat hal ini, maka tak ada produsen obat ataupun zat penyembuh lainnya yang mengiklankan dirinya bahwa obat produksinya agak lelet mengobati penyakit. Pastilah dengan segala klaim yang seringkali penuh dengan nggedebusan memastikan bahwa obat atau zat penyembuh produksinya bereaksi sangat cepat. Walaupun nantinya setelah obat tersebut dipakai, kesembuhan yang saat ditampilkan dalam iklan obat itu secepat durasi iklannya, ternyata memakan waktu berjam-jam, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun. Tentu saja makin membuat sang penyandang pileren tak sabaran.
Apalagi jikalau kesembuhan yang hendak dicapai oleh sang penyandang pileren itu harus ditempuh dengan ngantri ndaptar di loket RS. Dilanjutkan dengan ngantri urutan pasien di depan pintu sang dokter, dimana ngantrinya sambil menyaksikan deretan orang sesama penyandang pileren yang gak boleh saling mendahului. Setelah antrian itu, dilanjutkan lagi dengan ngantri obat di deret antrian apotik buat nebus resep. Maka baru membayangkan urutan deret antrian yang hendak dijalani saja, sudah membuat sang penyandang pileren makin cekot-cekot kepalanya.
Maka jika tiba-tiba ada sarana penyembuhan yang hanya melibatkan proses sak dumukan, atau sekali tepok, atau sekali nyunyuk di jidat trus dijamin pasien bablas pilerennya, tentulah sarana penyembuhan ini akan digrupyuk abis sampai sumsumnya. Dan itulah yang sedang terjadi di tlatah nJombang sana. Dengan hanya berbekal air putih yang diklaim bertuah sakti, maka serombongan pasien berduyun-duyun secara klaster hendak nyucup air sakti itu. Ada yang melakukan dengan penuh keyakinan, ada yang sipatnya nyoba-nyoba ada juga yang melakukannya demi menghindari jalur antrean dan bentakan yang biasa dia terima di RS.
Dan sarana iklan dari mulut ke mulut rupa-rupanya lebih epektip daripada pasang iklan di tipi di saat primetime yang tentu saja memakan biaya tidak sedikit. Tentu saja beragam komentar terlontar atas kejadian tersebut. Para ulama menyesalkan penomena ini, dengan berpesan agar masyarakat jangan terlibat dengan kesyirikan. Sedangkan ulama lainnya berpendapat penomena ini bukan syirik. Hanya orang sirik yang menganggap air sakti itu syirik, begitu kata ulama yang lain, yang biasanya bergelar kyai dan membuka praktek nyucup mbun-mbunan itu. Sementara itu masyarakatnya bebas memilih, ulama mana yang akan dia ikuti. Pokoknya kalau sesuai keinginannya ya diturut saja. Jan… bubrah kabeh.. 
Ada satu cerita, agak berbau israiliyat, yang simbah juga belum tahu keshahihan kisah ini. Dahulu kala manakala Nabi Nuh membuat perahu dan sudah siap pakai, tiba-tiba orang-orang kepir mengejek dan menghina upaya nabi Nuh ini dengan cara memberaki dan membeoli perahu siap pakai itu. Setiap hari berpuluh bahkan beratus orang beol di perahu besar itu, sehingga tak satu sudutpun dari perahu itu yang tak dikotori dengan sampah biologis primitip itu. Nabi Nuh sedih.
Namun Allah Maha Kuasa, dan tak hendak merepotkan nabi Nuh untuk bersih-bersih kotoran di perahu beliau. Maka syahdan, masuklah seorang tua bongkok yang berpenyakit namun kepir, hendak buang hajat di perahu itu. Karena tertatih dia kepleset dan punggung bongkoknya menimpa tumpukan tinja di perahu itu. Ajaib, bongkoknya langsung tegak dan sembuh. Sedangkan penyakit lainnya yang terkena tinja itu juga ikut bablas hilang. Maka tak sepeminum kopi tubruk, kabar ini tersiar ke mana-mana. Bahwa tinja di kapal nabi Nuh berkhasiat menyembuhkan segala macam penyakit.
Orang-orang kepirpun berduyun-duyun ngeruk tumpukan tinja di kapal tersebut. Semua pasien dengan beragam penyakit tumplek blek, dari penderita wasir, turun berok, sampai mangsuk angin kasep berebut tinja keramat yang sebenarnya adalah tinja mereka sendiri. Maka kapal pun dengan ijin Allah jadi bersih dan kinclong lagi, karena tinjanya dikukut abis oleh sang pembeolnya sendiri-sendiri. Kun fayakun lah…
Masyarakat kita sebenarnya tak jauh beda dengan type masyarakat umatnya nabi Nuh itu. Segala sesuatu yang diklaim menjanjikan ini dan itu yang serba cepat menyelesaikan problem, selalu menjadi buruan, walau sering tak rasional. Padahal kalau mau jujur, segala yang normal dan wajar, pastilah memakan waktu yang normal dan wajar pula. Allah sudah meletakkan keadilan dan keseimbangannya dengan sangat tepat presisinya. Namun Allah juga memberikan sarana jalan pintas. Namun biasanya sarana jalan pintas yang ditawarkan Allah hanyalah berlaku bagi orang dengan kwalitas dan kepantasan tertentu yang memang pantas menerima sarana jalan pintas tersebut.
Mengingat masyarakat kita masih suka yang nganeh-nganehi tersebut, simbah ada usul buat Dinas Kebersihan DKI yang selalu dipusingkan dengan sampah. Cobalah bikin isu dengan melibatkan beberapa gelintir orang yang mengaku penyakitnya sembuh gara-gara nyiduk sampah di Bantar Gebang sebanyak tiga ember besar yang ditaruh di bawah tempat tidurnya. Simbah yakin, jika testimoni ini dibikin heboh, gunungan sampah di Bantar Gebang akan kukut diangkuti member masyarakat jalan pintas ini ke kamarnya masing-masing… 