<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pitutur 6.0 &#187; Bumbu Urip</title>
	<atom:link href="http://www.pitutur.net/category/bumbu-urip/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pitutur.net</link>
	<description>Teman, Teman dari Teman, Mmusuh dari Musuh</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 Mar 2013 02:43:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.1</generator>
		<item>
		<title>JALAN TAQWA</title>
		<link>http://www.pitutur.net/jalan-taqwa.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/jalan-taqwa.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2012 03:39:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/jalan-taqwa.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar 2 bulan yang lalu simbah menghadiri acara gathering distributor Herbal di satu Hotel di ibukota. Simbah bersyukur, karena di acara itu simbah menginap bersama satu kawan baik dari Surabaya yang sudah lama tidak ngobrol. Dari sekian banyak topic obrolan, ada satu tema obrolan yang simbah anggap paling berkesan. Dan simbah tergerak untuk berbagi melalui [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.pitutur.net/masyarakat-jalan-pintas.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: Masyarakat Jalan Pintas'>Masyarakat Jalan Pintas</a> <small>Siapapun orangnya, jika sedang terserang pageblug bin pileren maka akan mengusahakan pilerennya cepat sembuh. Mengingat hal ini, maka tak ada produsen obat ataupun zat penyembuh lainnya yang mengiklankan dirinya bahwa...</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar 2 bulan yang lalu simbah menghadiri acara gathering distributor Herbal di satu Hotel di ibukota. Simbah bersyukur, karena di acara itu simbah menginap bersama satu kawan baik dari Surabaya yang sudah lama tidak ngobrol. Dari sekian banyak topic obrolan, ada satu tema obrolan yang simbah anggap paling berkesan. Dan simbah tergerak untuk berbagi melalui tulisan ini.</p>
<p>Adalah Pak Mahmud (bukan nama sebenarnya) sohib simbah tersebut, memiliki seorang isteri yang didiagnosa oleh dokter menderita penyakit kanker leher rahim atau Ca Cervix stadium III. Vonis penyakit ini dirasa oleh sohib simbah seakan bagaikan ketokan palu hakim yang memvonis hukuman mati pada terdakwa. Karena tidak yakin, pak Mahmud mencari dokter lain untuk memastikan. Dan dua dokter lain yang ditemuinya ternyata menyimpulkan hal yang sama.</p>
<p>Akhirnya pak Mahmud mau tak mau menerima kesimpulan diagnose tersebut, yang memang disertai serangkaian pemeriksaan laboratorium yang mendukung. Beliau lalu menanyakan berapa biaya tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi penyakit istrinya tersebut. Dokter menyebut angka hingga 80 jutaan untuk serangkaian tindakan dan kemoterapi yang dibutuhkan. Dengan catatan, bahwa tindakan tersebut tidak menjamin istrinya sembuh total.<span id="more-522"></span></p>
<p>Pak Mahmud faham. Lalu disiapkannya uang puluhan juta tadi. Bukan untuk digunakan sebagai biaya terapi, namun dia sedekahkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan, semisal: Panti Asuhan, fakir miskin serta kaum dhuafa. Jumlah yang dia sedekahkan sama persis dengan jumlah biaya terapi yang disebutkan oleh dokter. Dan isterinya dibawa pulang ke rumah, lalu diterapi menggunakan herbal yang selama ini bisnisnya dia tekuni.</p>
<p>Waktu pun berlalu. Setelah jarak sekian bulan pak Mahmud melihat kondisi istrinya membaik. Akhirnya diajaklah kontrol ke dokter yag dulu merawatnya. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, seluruh dokter yang merawatnya sepakat menyimpulkan bahwa kanker serviksnya sama sekali tak dijumpai jejaknya. Subhanallah…!!</p>
<p>Simbah tercekat mendengar penuturan kisah ini langsung dari pelakunya. Bahkan kabar gembira tak berhenti sampai disitu. Setelah dinyatakan kankernya menghilang, sang isteri hamil dan melahirkan seorang bayi yang sehat. Mantebh tenan..</p>
<p>Satu nasehat sempat terungkap dari pak Mahmud:</p>
<p><i>“Uang 80 juta itu jika saya serahkan dokter untuk terapi, saya sudah tahu ujung hasil akhirnya bagaimana. Maka saya memilih untuk menyerahkan itu kepada Allah, yakni dengan sedekah tersebut. Dan Allah memberikan hasil lebih baik maakala uang itu saya sedekahkan di jalan Nya.”</i></p>
<p>Simbah berpikir, ini adalah jalan khusus. Tak semua orang diberi jalan sebab kemudahan dari arah ini. Namun ini sejalan dengan pesan dari firman Allah di Surat At Tholaq:</p>
<p><b>“Barangsiapa bertaqwa pada Allah, Dia akan berikan jalan keluar”</b></p>
<p>Hanya saja apa yang dikerjakan oleh sohib simbah ini bukanlah satu amalan yang bisa digeneralisir ke semua orang. Karena tingkat ketakwaan orang berbeda-beda dan keyakinan orang juga berbeda. Dikhawatirkan dengan kisah ini orang akan terinspirasi lalu ikut-ikutan namun tanpa diiringi keyakinan yang cukup. Bahkan yang banyak terjadi justru malah diiringi dengan usaha <b>‘MENGUJI ALLAH’</b>. Naudzubillah.</p>
<p>Padahal dengan adanya musibah itu sebenarnya kitalah yang diuji. <i>Bukan kita melakukan amalan coba-coba lalu menunggu hasil dan mendikte Allah hasilnya harus begini dan begitu. Inilah yang disebut menguji Allah.</i> Dan kebanyakan manusia melakukan hal ini.</p>
<p>Adapun sohib simbah ini, saat istrinya belum menderita sakitpun merupakan orang yang sangat dermawan. Kedermawanannya bukan lantaran saat isterinya sakit tersebut. <i>Jalan yang dia tempuh pun karena dilandasi keyakinan siap menerima apapun hasil yang Allah berikan. Entah itu ajal atau kesembuhan yang diberikan pada isterinya.</i></p>
<p>Pelajaran yang dapat simbah petik disini adalah, <b>rejeki dan jalan keluar yang Allah sediakan kepada orang yang bertaqwa itu selalu luar biasa dan selalu dari jalan spesial. Hanya orang dengan kualitas spesial yang pantas diberi rejeki spesial. Jika amalannya masih amalan orang rata-rata pada umumnya, maka rejekinya juga dari jalur umum.</b> Dan kita diberi kesempatan untuk menjadi spesial dengan banyak kesempatan. Salah satunya dengan menjalani puasa di bulan Ramadhan nanti.</p>
<p>Allah perintahkan puasa dengan harapan agar kita menjadi taqwa. Bukan untuk menjadi gubernur, atau orang kaya, atau orang tajir, atau orang berkuasa…… semua itu remeh dan jalur biasa. Allah jadikan kita menjadi orang bertaqwa dengan puasa, agar kita spesial di hadapan Allah. Sehingga Allah bisa berikan hal-hal spesial yang tidak diberikan-Nya kepada manusia yang masih menapaki jalur umum. <u><i>Dan semoga kitalah hamba yang spesial itu.</i></u></p>
<div class="zemanta-pixie"><img class="zemanta-pixie-img" alt="" src="http://img.zemanta.com/pixy.gif?x-id=c86788fb-a4d0-8ae4-8476-ae44ac4200e9" /></div>
<img src="http://www.pitutur.net/?ak_action=api_record_view&id=522&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.pitutur.net/masyarakat-jalan-pintas.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: Masyarakat Jalan Pintas'>Masyarakat Jalan Pintas</a> <small>Siapapun orangnya, jika sedang terserang pageblug bin pileren maka akan mengusahakan pilerennya cepat sembuh. Mengingat hal ini, maka tak ada produsen obat ataupun zat penyembuh lainnya yang mengiklankan dirinya bahwa...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/jalan-taqwa.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahlawan Kurang Tanda Jasa</title>
		<link>http://www.pitutur.net/pahlawan-kurang-tanda-jasa.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/pahlawan-kurang-tanda-jasa.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 03:06:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Jasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/pahlawan-kurang-tanda-jasa.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ajaran baru. Identik dengan seragam baru, buku baru dan kelas baru bagi kalangan siswa sekolah. Bagi kalangan orang tua, tahun ajaran baru adalah saatnya invest ke dunia pendidikan. Keperluan apapun bagi sekolah anak harus tersedia. Bahkan urusan sekolah jadi prioritas utama. Sudah lazim difahami, di tahun ajaran baru beberapa klinik biasanya menjadi agak sepi. [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ajaran baru. Identik dengan seragam baru, buku baru dan kelas baru bagi kalangan siswa sekolah. Bagi kalangan orang tua, tahun ajaran baru adalah saatnya invest ke dunia pendidikan. Keperluan apapun bagi sekolah anak harus tersedia. Bahkan urusan sekolah jadi prioritas utama.</p>
<div id="attachment_502" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-502" href="http://www.pitutur.net/pahlawan-kurang-tanda-jasa.jsp/guru-pahwalan-tanpa-tanda-jasa"><img class="size-medium wp-image-502" title="Guru - Pahwalan Tanpa Tanda Jasa" src="http://www.pitutur.net/wp-content/uploads/2011/07/Guru-Pahwalan-Tanpa-Tanda-Jasa-300x509.jpg" alt="Guru - Pahwalan Tanpa Tanda Jasa" width="300" height="509" /></a><p class="wp-caption-text">Guru - Pahwalan Tanpa Tanda Jasa</p></div>
<p>Sudah lazim difahami, di tahun ajaran baru beberapa klinik biasanya menjadi agak sepi. Yang berobat biasanya yang memang sakitnya sudah <em>setengah mati.</em> Sakit yang ringan masih bisa ditahan dan <em>dibanjeli </em>obat sekadarnya dari warung. Masalahnya duit yang ada dipakai untuk biaya sekolah yang tak bisa ditawar lagi.</p>
<p>Pagi ini, simbah melihat iklannya Dedy Mizwar yang menyebutkan bahwa sekolah gratis. Bahwa sarana sekolah disupport dengan dana BOS. Agak <em>semedhot</em> melihat iklan ini. Karena kenyataan yang simbah temui tak seindah iklan tersebut. Terutama karena simbah mengalami sendiri bahwa sekolah SD pun masih dijejali dengan segala macem trik dari guru.. maaf.. oknum guru, yang banyak mencoreng wajah pendidikan dasar negeri ini.</p>
<p><span id="more-500"></span></p>
<p>Adalah anak kedua simbah sekolah di satu sekolah yang ‘berbau’ agama. Dengan nama kearaban, yakni “Madrasah Ibtidaiyah Negeri” alias Sekolah Dasar dalam <em>bahasa dewek.</em> Dengan harapan, akhlak anak simbah bisa menjadi baik sebagaimana visi dan misi dari sekolah tersebut.</p>
<p><em>Hananging wal hanamun</em>, beberapa kejadian membuat simbah miris menyaksikan sepak terjang para pelaku pendidikan di Madrasah anak simbah tersebut. Ada beberapa kasus yang menyesakken dada simbah, namun simbah ulas dua kasus saja yang cukup membuat cicak pun kepleset jatuh karena terkejut mendengarnya… (halah).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertama, kasus tabungan</strong></span>. Sudah menjadi kelaziman bahwa anak kita dididik untuk mau hemat dan menabung. Satu pendidikan yang luhur. <em>Walakin</em>, niat baik berhemat dan menabung ini dimanfaatkan oleh “system oknum” sekolah yang hendak mengais rejeki dengan cara tidak luhur.</p>
<p>Bayangkan, setelah kenaikan kelas kemarin, tabungan dibagikan. <em>Dumadakan</em> ada pengumuman yang menyebutkan bahwa tabungan anak-anak dipotong 10% untuk alas an yang tidak jelas juntrungnya. <em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Hwarakadah</em>….. baru kali ini ada orang naruh duit bukannya berkembang namun menyusut. Simbah cukup kasian pada seorang ibu yang menabung hingga 4 juta ripis di sekolah itu. Dia kena potong 400 rebu ripis untuk alasan yang gak jelas.  Satu jumlah besar untuk satu pungutan yang jelas-jelas liar. Simbah sendiri yang gak gableg duit kena potong  sembilan belas rebu ripis, karena tabungan Cuma 190 rebuan. Tetep saja simbah gak ikhlas didzholimi segitu.</p>
<p><em>Muda menabung, tua beruntung</em>. <strong>Murid muda menabung, oknum sekolah yang tua yang beruntung. </strong></p>
<p>Banyak yang mengeluh, namun tak banyak yang mau bersuara. Kasus satu keluarga di Surabaya yang jujur lalu kemudian diajur oleh tetangganya cukup memberikan trauma untuk ngomong jujur apa adanya. Kasus bu Prita, juga cukup membuat orang gak berani nulis di media. Makanya, inipun simbah beraninya ngomyang dengan identitas Madrasah yang masih anonym. Namun sukur-sukur ada pegawai dinas pendidikan atau depag yang masih punya hati mau melacak dan mengusut, dengan seneng hati simbah memberikan informasi dengan jelas.</p>
<p><strong>Kedua, kasus buku Pelajaran</strong>. Simbah gak tahu, apakah ada larangan sekolah menjual buku ke muridnya. Namun kelihatannya larangan itu ada. Karena pihak Madrasah ini juga melakukan hal yang sama dengan cara tersembunyi. Modus operandinya cukup rapi dan akan mudah berkelit tatkala diusut.</p>
<p><em>Modus operandinya begini</em>:</p>
<p>Madrasah tersebut menetapkan buku-buku yang dipakai untuk pegangan siswa. Buku-buku pelajaran tersebut adalah buku-buku yang dipesan dari penerbit yang jauh dan sulit dicari di Jakarta ini. Maka saking sulitnya, setelah menjelajah ke sekian toko buku, orang tua murid tetep kelabakan <em>nggak nemu</em> buku-buku yang direkomendasikan pihak Madrasah.</p>
<p>Setelah <em>setengah modar</em> nyari buku dan akhirnya nyerah, pihak Madrasah datang bak pahlawan penolong dengan mengatakan,</p>
<p><strong>“Bapak-bapak ibu-ibu, buku tersebut bisa dibeli dengan mudah di koperasi sekolah”</strong></p>
<p>Hwarakadah… Inipun mash berlapis perlindungannya. Buku tersebut tidak dijual di koperasi Madrasah Ibtidaiyah nya, namun di Madrasah Aliyah yang <em>letaknya berdampingan</em> dengan Madrasah Ibtidaiyah tersebut. <em>Bayangkan, sekolah MAN jualan buku untuk MIN.<br />
</em><br />
Harga keseluruhan buku yang harus dibeli adalah 250 rebu ripis. Ya … seperempat juta untuk buku anak setingkat SD. Mbah Dedy Mizwar boleh berkoar terus di iklan, anak SD bukunya gratis karena ada BOS. Tapi anak simbah dan temen-temennya tetep bayar karena oknum BOSOK.</p>
<p>Pertanyaan pentingnya: kemana simbah harus lapor untuk kasus seperti ini? Apakah untuk jalur MIN tidak ada BOS karena jalurnya beda dengan SD Negeri umum? Simbah tunggu masukan dari pembaca pitutur semua.</p>
<p>*Buat simbah sendiri, harga buku segitu tidaklah berat. Tulisan ini mewakili orang tua murid yang penghasilannya seret dan hidup kurang beruntung dan menyekolahkan anaknya ke Madrasah tersebut.</p>
<div class="zemanta-pixie"><img class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/pixy.gif?x-id=2f3291ef-4fa9-83a8-b6e8-68edbf14e656" alt="" /></div>
<img src="http://www.pitutur.net/?ak_action=api_record_view&id=500&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/pahlawan-kurang-tanda-jasa.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Peduli Sampeyan?</title>
		<link>http://www.pitutur.net/apa-peduli-sampeyan.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/apa-peduli-sampeyan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Jan 2011 23:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[Kebesaran Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Peduli]]></category>
		<category><![CDATA[Pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[Tiket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/apa-peduli-sampeyan.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Simbah masih inget pertama kali naik mongtor mabur adalah saat pulang dari Surabaya menuju ke Jakarta. Bukan kegirangan yang simbah alami, tapi ketegangan penuh kendesoan. Sak umur-umur kendaraan paling bagus yang simbah kendarai tetaplah ngambah lemah. Lha ini tiba-tiba dipersilaken naik kendaraan yang menclok ngabyantara dirgantara. Apa yang simbah alami saat ngurus tiket di bandara [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_460" class="wp-caption alignleft" style="width: 293px"><a rel="attachment wp-att-460" href="http://www.pitutur.net/apa-peduli-sampeyan.jsp/apa-peduli-sampean-gullivers-travels-poster"><img class="size-full wp-image-460" title="Apa Peduli sampean - Gulliver's Travels Poster" src="http://www.pitutur.net/wp-content/uploads/2011/01/Apa-Peduli-sampean-Gullivers-Travels-Poster.jpeg" alt="Apa Peduli sampean - Gulliver's Travels Poster" width="283" height="256" /></a><p class="wp-caption-text">Apa Peduli sampean - Gulliver&#39;s Travels Poster</p></div>
<p>Simbah masih inget pertama kali naik <strong>mongtor mabur</strong> adalah saat pulang dari <strong>Surabaya menuju ke Jakarta</strong>. Bukan kegirangan yang simbah alami, tapi ketegangan penuh kendesoan. Sak umur-umur kendaraan paling bagus yang simbah kendarai tetaplah ngambah lemah. Lha ini tiba-tiba dipersilaken naik kendaraan yang menclok ngabyantara dirgantara.</p>
<p>Apa yang simbah alami saat ngurus tiket di bandara mirip si Durahman yang lagi latihan sholat. Jika inget bagaimana si Durahman menjalankan sholat, simbah jadi kemekelen. Si Durahman ini blas gak bisa sholat sendiri. Bisanya ngikut atau nebeng gerakan sholat orang disampingnya. <em>Tersebutlah satu hari dia sholat sunnah bareng marbot masjid</em>. Sang marbot kala itu sedang pilek, tak heran di sela-sela sholat sekali-sekali suara batuk, dehem dan bersin menggema kenceng di dalam masjid. Herannya bersin, dehem dan batuknya sang marbot dianggap gerakan dan bacaan sholat bagi si Durahman. Sehingga saat sang marbot bersin, si durahman ikut-ikutan bersin, demikian juga saat dehem atau batuk. Tak pelak si marbot menjalankan sholatnya sambil ngempet ngguyu. Sedangkan simbah yang dibagehi cerita hanya bisa ketawa kemekelen.<span id="more-455"></span></p>
<p>Di <strong>bandara Surabaya</strong> itu, simbah mendadak kayak si Durahman yang lagi ikut-ikutan sholat. Lha yang namanya check-in, bayar airport tax dan boarding ya baru sekali itu. Jadi agar tak dikira blo’on simbah menjalani semua prosesi itu sambil clingukan mereka yang sudah melewati proses itu di depan simbah. Ibarat makmum yang sedang sholat rubuh-rubuh gedhang.</p>
<p>Yang paling mendebarkan adalah di saat melewati detektor. Walaupun aman-aman saja, simbah teringat pengalaman seorang sohib yang diinterogasi petugas bandara di luar negeri gara-gara saat lewat detektor alarmnya berbunyi nyaring. Setelah digeledah ditemukanlah seonggok batu dan logam di kantongnya. Setelah ditanya macem-macem dilepaslah sang sohib karena memang tampangnya tak mirip teroris sama sekali. Dan memang sang sohib tak bisa menjelaskan alasan mengapa ada seonggok batu dan logam di kantongnya. Karena menurut pengakuannya batu dan logam itu bercokol di kantongnya gara-gara kebelet ngising. Sesuai kebiasaan jawanya, sebutir batu yang dikantongi konon terbukti mujarab buat menahan rontoknya sang beol. Namun sial, dia tak menemukan sebutir batu pun. Yang ada hanya seonggok kerikil dan uang logam. Sesuai pepatah “tak ada batu, krikil pun jadi” maka dikantonginya lah krikil dan logam itu, yang berbuah terdeteksi di detektor airport. Kira-kira jika sampeyan ditanya petugas keamanan bandara di njaban rangkah sono apa sampeyan mau bilang,</p>
<blockquote><p>“ I’m sorry sir, I used this krikil for ngempet ngising. So Don’t worry about that!”</p></blockquote>
<p>Sesampai di dalam pesawat, kebetulan simbah mendapat kursi di posisi pinggir dekat jendela. Sehingga pemandangan keluar pesawat sangatlah jelas terpampang di samping simbah. Tak lama kemudian pesawat sudah mencapai ketinggian sekian ribu kaki. Di saat itulah simbah menyaksikan -untuk pertama kalinya- satu pemandangan dahsyat tiada tara. Awan berarak diterpa sinar matahari senja. Tampak megah, indah sekaligus mencekam. Mata simbah tak henti-henti memandangi pemandangan dahsyat tersebut. Pemandangan yang tak akan di dapat jika simbah tidak naik ke angkasa setinggi sekian ribu kaki tersebut.</p>
<p>Yang simbah tidak pahami adalah kebanyakan penumpang tak begitu menggubris pertunjukan alam dahsyat yang terpampang di kiri kanan mereka. Simbah pikir mungkin mereka sudah bosen, karena sudah pernah melihat pemandangan serupa berulangkali. Sedangkan bagi simbah, itu pertama kalinya seumur-umur menyaksikan fenomena pemandangan awan senja yang dahsyat, yang membuat simbah berulangkali mengucap takbir dan tasbih. <strong>Terus terang simbah mau menangis menyaksikan keindahannya</strong>.</p>
<p>Simbah yakin fenomena alam indah nan mencekam ini sudah ada bahkan sebelum pesawat ditemukan manusia. Dia ada diciptakan Sang Pencipta, walau dulu tak ada yang menyaksikan ciptaan indah itu. Sekarang sudah sekian banyak manusia yang diberi kesempatan naik ke emperan langit dan dapat menyaksikan ciptaan Allah. Rata-rata bagi yang pertama melihat, decak kagum kenggumunan akan terlontar sebagaimana simbah. Seterusnya biasa saja. Yah.. begitulah sifat manusia. Ketakjubannya membutuhkan dosis yang selalu meningkat.</p>
<p><em>Di angkasa yang lebih tinggi sana</em>, sebenarnya terbentang pemandangan alam yang lebih menggetarkan hati dan nyali. Keindahan penuh kesunyian, dibungkus cahaya remang-remang kesendirian. Semua sudah ada sekarang, berpuluh bahkan berjuta kali keindahannya dari yang sudah pernah dilihat oleh manusia. Semuanya terbentang belum tersentuh ataupun terlihat oleh mata manusia yang hampir selalu sombong dan tak tertakjubkan kecuali oleh yang belum pernah terlihat. Dan semua sudah diciptakan, dibentang, dan digelar, walau sampeyan malam ini ngowoh dan tak melihat pertunjukkan indah itu lewat di atas ubun-ubun sampeyan. Dan Sang Pencipta tak peduli apakah ciptaan indahnya ini kelak akan terlihat mata hamba-Nya atau tidak. Yang jelas keindahan itu tersaji tiap hari di angkasa sana.</p>
<p>Maka sebenarnya kita pantas malu, karena setiap kali ada sesuatu yang unik dan unggul yang kita miliki, kita ingin memamerkannya di depan semua mata. Kepandaian, kekuatan, kekayaan, kekuasaan, kelihaian, kecerdasan, dan lain sebagainya seharusnya dimiliki bukan untuk dipamerkan. Namun selayaknya dibelanjakan dengan penuh tanggung jawab. Diamalkan dengan penuh keindahan, lalu bersikaplah sebagaimana Sesembahan sampeyan… Apapun yang aku kerjakan, inilah yang seharusnya. Kalian mau lihat atau tidak, apa peduli kalian? Aku tak tambah untung kalian saksikan dan kalian takjubi.</p>
<img src="http://www.pitutur.net/?ak_action=api_record_view&id=455&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/apa-peduli-sampeyan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Es Teh Manis</title>
		<link>http://www.pitutur.net/es-teh-manis.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/es-teh-manis.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2011 23:25:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/es-teh-manis.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Di masa SMP, hari dimana simbah disangoni buat uang jajan hanyalah di hari ada pelajaran olah-raga. Tak banyak, tapi lumayan lah. Only 50 ripis. Uang sebesar itu hanya bisa dipakai menebus segelas es teh manis di kedai pak Senen di samping gedung sekolah. Jika kebetulan ada konco yang dermawan, simbah masih bisa menebus sebungkus sego [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.pitutur.net/permen-bisnis-manis.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: PERMEN : BISNIS MANIS'>PERMEN : BISNIS MANIS</a> <small>Dua hari yang lalu Simbah diajak rembugan seorang pelanggan bengkel, yang sering ngobrol di bengkel Simbah. Ini orang juga habis nyunatin keponakannya yang baru berusia 5 tahun di klinik simbah....</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di masa SMP, hari dimana simbah disangoni buat uang jajan hanyalah di hari ada pelajaran olah-raga. Tak banyak, tapi lumayan lah. Only 50 ripis. Uang sebesar itu hanya bisa dipakai menebus segelas es teh manis di kedai pak Senen di samping gedung sekolah. Jika kebetulan ada konco yang dermawan, simbah masih bisa menebus sebungkus sego kucing seharga 50 ripis juga.</p>
<p><strong>Harga es teh manis</strong> ini masih simbah inget benar. Bahkan gambar uang 50 ripisan itu pun simbah juga masih inget. Sehingga memory harga es teh manis ini membuyar di saat simbah berkesempatan mampir di salah satu café di bandara. Yang simbah pesan sama dengan minuman yang dijual pak Senen. Tapi harga yang harus dibayar ternyata melebihi harga obralan sempaknya mbokdhe Goprot yang sepuluh ribu tiga itu. Bahkan 3 kali lipatnya, yakni 30 rebu ripis. Itu 60 kali lipat harga es teh manis pak Senen.<span id="more-439"></span></p>
<p>Simbah tadinya tak memaklumi. Bayangkan saja, 30 rebu ripis hanya untuk segelas es teh manis. Sewaktu kegumunan simbah ini diutarakan ke beberapa konco, mereka malah justru menjuluki simbah ndeso wal katrok.</p>
<blockquote><p>“Oalah mbah-mbah.. ya memang segitu. Gitu aja kok gumun. Biasa itu mbah. Mbok jangan terlalu ndesani tho mbah..” begitu komentar mereka.</p></blockquote>
<p>Di tahun dan bulan yang sama, simbah masih bisa merasakan es teh manis di tempat lain hanya dengan 1500 ripis. Simbah berpikir mungkin harga 30 rebu ripis itu karena harus bayar pajek ini itu, nggaji si ini dan si itu, nyogok si oknum ini dan si oknum itu, serta uang keamanan buat ormas ini dan ormas itu yang harus dikeluarkan oleh pihak café agar usahanya berdiri mantabh. Atau mungkin karena letaknya di bandara, maka es teh manis harus mahal. Karena yang bisa naik mongtor mabur bin airplane itu hanya orang kaya. Jadi kalo dijual murah malah gak bakalan dimasuki konsumen. Karena orang kaya hanya doyan minuman mahal walau hanya es teh.</p>
<p>Rekan simbah yang ahli marketing beda lagi pendapatnya. Kemahalan harga es teh manis itu bukan karena pajak, atau segala tetek-bengek lainnya. Namun kemahalan harga itu karena lokasinya, yakni di bandara. Di bandara semuanya pantas untuk mahal. Yang murah malah dicurigai, jangan-jangan barang bermasalah. Jadi di tempat tertentu, harga barang harus mahal karena menyesuaikan diri dengan tempatnya. Dan juga di tempat lain barang bisa jadi murah dan tak pantas mahal jika ingin laku.</p>
<p>Jadi sesungguhnya semuanya itu hanyalah bahasa marketing, dimana harga suatu barang tidak ditentukan oleh zat barangnya, tapi karena lokasinya. Sego pecel yang bener-bener pecel dengan lawuh tahu bacem, bisa berharga limapuluh rebu ripis jika dijual di resto yang lokasinya di Plaza Indonesia atau di resto bandara. Dan dengan segala kendesoan penampilan sego pecelnya, harga itu pantas dan tak diprotes pembeli. Bayangkan jika sego pecelnya yu Ginem Mbleguk yang mangkal di pojokan pangkalan ojek itu dihargai 50 rebu ripis sepincuk. Opo ora njaluk dipisuhi, atau setidaknya gak bakalan ditengok. Kecuali oleh kang Tambi Gembrot yang memang naksir yu Ginem Mbleguk, berapapun harganya dia membuta.</p>
<p>Dari sini sebenarnya sampeyan juga bisa menyimpulkan, bahwa bagi pembeli ada tempat yang tepat agar nominal uang yang sampeyan keluarkan memiliki nilai pas. Dan perbedaan itu hanya semata-mata karena lokasi jual beli.</p>
<p>Dalam hal jual beli kayak beginian, Allah swt di dalam Al Qur’an menempatkan dirinya sebagai Pembeli, sedangkan kita diposisikan sebagai penjual. Allah menyatakan bahwa harta dan jiwa orang beriman telah dibeli oleh Allah dengan harga paling pantas, yakni dengan harga surga. Bunyi selengkapnya demikian :</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah 9:111)</p></blockquote>
<p>Persoalannya adalah dagangan sampeyan digelar dimana? Kalo digelar di lapak yang benar, yakni lapak fi sabilillah, maka harga yang ditawarkan Allah sangatlah pantas. Dan perlu dipahami, begitu lapaknya benar, maka transaksi sudah terjadi. Karena bentuk bahasa yang ditawarkan Allah menggunakan bentuk lampau, yang menunjukkan telah terjadi deal harga. Padahal jika sampeyan inget dan nyawang githok sampeyan, harta dan jiwa yang ada pada sampeyan itu milik Allah juga. Jadi ibaratnya sampeyan itu sudah dipinjemi, trus yang minjemi malah membeli barang yang sampeyan pinjam dengan harga mahal pulak. Jian bejo kemayangan…!</p>
<p>Namun jika dagangan sampeyan diletakkan di lapak deket pangkalan ojek, maka harta dan jiwa sampeyan hanya akan dihargai senasib dengan harga sego pecelnya Yu Ginem Mbleguk. Itu pun kalo laku. Dan inget, dagangan sampeyan itu hasil minjem. Jadi sampeyan dipinjemi lalu dijual ke pihak lain. Ini namanya tidak amanah alias pengkhianat.</p>
<p>Jadi jika mau menjadi orang beriman yang senantiasa sibuk berada di jalan Allah, harga hidup sampeyan ibarat harga makanan kelas resto bandara, bahkan lebih berkali lipat. Namun jika salah taroh, hidup sampeyan hanya sekedar bisa hidup. Dan sampeyan hidup dalam pengkhianatan karena menjual barang titipan pada pihak lain dengan harga yang tidak pantas. Hidup adalah jual beli, juallah ke pembeli yang memberi harga terbaik. <strong>Harga terbaik hidup kita adalah surga</strong>.</p>
<h4 class='lite'>The Best Query for the Content</h4><div class='dicari'><a href="http://www.pitutur.net/es-teh-manis.jsp" title="gambar teh manis">gambar teh manis</a>, <a href="http://www.pitutur.net/es-teh-manis.jsp" title="es teh manis">es teh manis</a></div><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><img src="http://www.pitutur.net/?ak_action=api_record_view&id=439&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.pitutur.net/permen-bisnis-manis.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: PERMEN : BISNIS MANIS'>PERMEN : BISNIS MANIS</a> <small>Dua hari yang lalu Simbah diajak rembugan seorang pelanggan bengkel, yang sering ngobrol di bengkel Simbah. Ini orang juga habis nyunatin keponakannya yang baru berusia 5 tahun di klinik simbah....</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/es-teh-manis.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsultasi Acakadut</title>
		<link>http://www.pitutur.net/konsultasi-acakadut.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/konsultasi-acakadut.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 03:49:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/konsultasi-acakadut.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Lama sudah simbah tak pernah posting di blog ini. Bukan karena malas nulis. Justru hampir setiap hari simbah menulis walau hanya beberapa paragrap. Tapi simbah nulis dalam rangka ngupoyo upo menjemput takdir rejeki yang masih gemandul di depan mata simbah. Simbah hanya berikhtiar menggerakkan tangan sehingga yang berada di depan mata tersebut bisa berpindah ke [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.pitutur.net/konsultasi' rel='bookmark' title='Permanent Link: Konsultasi'>Konsultasi</a> <small>Bagi yang ingin konsultasi kesehatan, layangkan pertanyaan anda kesini, sebelum mengajukan pertanyaan silahkan buka hasil konsultasi dari rekan rekan disini terlabih dahulu Form Konsultasi Namamu(required) Email(valid email required) Website Subject...</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama sudah simbah tak pernah posting di blog ini. Bukan karena malas nulis. Justru hampir setiap hari simbah menulis walau hanya beberapa paragrap. Tapi simbah nulis dalam rangka <i>ngupoyo upo</i> menjemput takdir rejeki yang masih <i>gemandul</i> di depan mata simbah. Simbah hanya berikhtiar menggerakkan tangan sehingga yang berada di depan mata tersebut bisa berpindah ke tangan simbah.</p>
<p>Beberapa hari terakhir simbah agak dikejutkan dengan membanjirnya email yang masuk yang berasal dari kotak konsultasi di blog ini. Bayangkan, biasanya konsultasi hanya 2 hingga 3 email seminggu. Lha ini sehari saja bisa puluhan email.</p>
<p>Maka satu persatu email simbah buka dan simbah baca. Welhadalah, ha kok isi konsultasinya rada <i>pating klenyit</i>. Bayangkan saja, ada puluhan email menanyakan pada simbah nomer buntutan togel Singapura. Ada lagi pertanyaan perihal buntutan di Batam. Pertanyaannya cukup ringkes, <i>&#8220;Sabtu ini keluarnya apa Mbah?&#8221;</i></p>
<p>Yang lain tak kalah banyaknya adalah pertanyaan tentang nasib dan masa depan. Di awali dengan menyebut hari, weton, tanggal bulan dan tahun kelahiran. Terus dipungkasi dengan ending pertanyaan yang cukup mantabh: <i>&#8220;Pekerjaan apa yang cocok buat saya mbah?&#8221;</i> atau <i>&#8220;Bagaimana masa depan karir saya mbah?&#8221;</i> atau <i>&#8220;Kapan saya kaya mbah?&#8221; </i>atau <i>&#8220;Saya kok dari dulu cuma tukang becak, apakah saya akan terus jadi tukang becak mbah?&#8221;</i>&#8230;. Haduh.. Yo embuh lee..le..<span id="more-435"></span></p>
<p>Simbah tidak tahu, apakah ini efek samping dari kematian Mama Loren, sehingga simbah jadi <i>paran pitakonan</i> perihal nasib? Ha wong nasib simbah sendiri entar pigimanah juga tidak tahu, ha kok disuruh mbaca nasibnya orang lain. Walaupun sebenarnya jika simbah pingin kaya mendadak sebenarnya bisa. Lha tinggal simbah kasih nomer rekening, trus semua pertanyaan yang masuk diharuskan menyerahkan <i>sesajen sekian ripis </i>ke rekening simbah agar mendapatkan kesuksesan karir atau tembus togelnya. </p>
<p>Biar makin mantabh, secara berkala simbah bikin testimoni dari pihak-pihak yang sudah berhasil berkat berkonsultasi dengan simbah, kayak begini misalnya:</p>
<p><i>&#8220;Tadinya saya gak percaya simbah gadungan ini bisa mengubah nasib saya. Ha wong cuma cukup kirim seratus ribu ripis ke rekeningnya kok. Tapi rupanya setelah saya kirim uang tersebut, perlahan tapi pasti nasib saya berubah. Bayangkan hanya dalam waktu seminggu saya bisa membeli rumah di kawasan Pantai Indah kapuk. Luar biasa.&#8221;</i> (Jon Koplo, 0811288xxxx)</p>
<p><i>&#8220;Tak dinyana, empat angka yang saya minta ternyata benar-benar tembus. Sayang saya agak ragu, sehingga hanya pasang kecil. Coba kalo pasang gede, bandar Singapura bisa kobol-kobol itu&#8230; Tapi satu setengah eM cukup lumayanlah. Terimakasih Mbah, simbah memang Oye..!</i> (Tom Gembus, 08194345xxx)</p>
<p><i>&#8220;Berkat wejangan simbah, suami saya sekarang tak pernah nglirik wanita lain. Entah karena matanya blawur atau mulai sadar bahwa isterinya sekarang tampil cantik. Dan tiap malam bagaikan malam bulan madu. Terimakasih Mbah Dipo.&#8221;</i> (Lady Cempluk, 08154534xxx)</p>
<p><i>&#8220;Setelah berkonsultasi dengan mbah Dipo, saya sekarang bisa mendapat kursi empuk di kantor saya. Sebelumnya saya selalu berkarir di kursi yang bisa bikin pantat kapalan. Dan semua itu cuma bermodalkan seratus rebu ripis yang saya kirim ke rekening Mbah Dipo. Trust me, it&#8217;s work.&#8221;</i> (Genduk Nicole, 081209867xxxx)</p>
<p>Padahal tak ada pembaca yang tahu siapa itu Jon Koplo, Tom Gembus, Lady Cempluk atau Genduk Nicole. Apalagi orang Jakarta. Tapi kalo ketanggor wong Solo, <i>cilaka mencit</i> tenan simbah. Konangan pisan&#8230;</p>
<p>Yah semoga semuanya diberi pemahaman bahwa nasib seseorang betul di Tangan Tuhan, tapi keputusan memilih adalah di otak dan tindakan sampeyan.</p>
<p>Oya, dalam waktu dekat ini insya Allah simbah segera merampungkan buku kedua simbah. Isinya tentang perjalanan lahir dan batin simbah di dalam menempuh perjalanan hidup. 90 persen tulisan di dalamnya belum pernah dimuat di blog manapun. Jadi tunggu saja, semoga masih ada penerbit yang mau menerbitkannya.</p>
<div class="zemanta-pixie"><img class="zemanta-pixie-img" alt="" src="http://img.zemanta.com/pixy.gif?x-id=dd57ba44-f22a-87ee-bb1e-d9b9b6e7a204" /></div>
<img src="http://www.pitutur.net/?ak_action=api_record_view&id=435&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.pitutur.net/konsultasi' rel='bookmark' title='Permanent Link: Konsultasi'>Konsultasi</a> <small>Bagi yang ingin konsultasi kesehatan, layangkan pertanyaan anda kesini, sebelum mengajukan pertanyaan silahkan buka hasil konsultasi dari rekan rekan disini terlabih dahulu Form Konsultasi Namamu(required) Email(valid email required) Website Subject...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/konsultasi-acakadut.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabib Dukunoid</title>
		<link>http://www.pitutur.net/tabib-dukunoid.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/tabib-dukunoid.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 02:04:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[Dukun]]></category>
		<category><![CDATA[gempita]]></category>
		<category><![CDATA[Tabib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/tabib-dukunoid.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Adalah Kang Cidromoto, seorang penyandang katarak akibat diabetes yang disandangnya, sudah bertahun-tahun mertombo ke segala penjuru dokter ahli mata. Sudah mengalami kembola-kembali dioperasi dengan hasil cukup mengecewakan. Mata blawur bin kabur hasil kerja kataraknya tak kunjung cerah. Yang namanya keblegong wal kejlungup comberan, menjadi kekhawatiran utamanya. Karena jikalau tak hati-hati, selokan deket masjid yang menganga [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah <em>Kang Cidromoto</em>, seorang penyandang katarak akibat diabetes yang disandangnya, sudah bertahun-tahun mertombo ke segala penjuru dokter ahli mata. Sudah mengalami kembola-kembali dioperasi dengan hasil cukup mengecewakan. Mata <em>blawur bin kabur</em> hasil kerja kataraknya tak kunjung cerah. Yang namanya keblegong wal kejlungup comberan, menjadi kekhawatiran utamanya. Karena jikalau tak hati-hati, selokan deket masjid yang menganga cukup lebar, hampir pasti menjadi area <em>accidental crash landing</em> yang cukup bikin kedandaban wal babak bundhas.</p>
<p>Lain lagi dengan <em>Kang Paroloyo</em>, penderita stroke yang sekarang lumpuh separo itu masih penasaran menanti turunnya sang penyembuh yang mampu memulihkan kelumpuhan akibat strokenya. Segala macem omongan baik yang berupa katanya-katanya tetangga maupun advis medis ngeciwis dilakoninya demi kepulihan anggota badannya yang lumpuh. Dari <em>ngemplok jamu deplok</em> hingga <em>tablet kaplet berderet</em> terpaksa dia kepret hingga kadang sampai mencret. Namun kesembuhan yang ditunggunya tak kunjung menjemputnya.</p>
<p>Baik Kang Cidromoto maupun Kang Paroloyo tak pernah menyerah. Dengan aktifnya, dicarilah segala macam sarana penyembuh. Dan saat ini kebetulan di kantor RW di komplek simbah sedang kedatangan seorang yang konon tabib top markotop yang mampu mengusir segala macam penyakit. Baik penyakit akibat makhluk kasar maupun makhluk halus. Konon ini adalah tabib yang sakti, hingga ibarat <em>setan ora doyan, demit ora ndulit, iblis ora nggubris, vampir ora mampir, tapi duit ora nolak.<br />
</em><br />
<span id="more-344"></span></p>
<p>Lapaknya digelar dengan gegap gempita. Disampaikan juga bahwa arena penyembuhan tersebut tidak memungut biaya tertentu. Hanya infaq seiklashnya saja, agar sang tabib dan para cantriknya bisa menyambung napas. Tak disebut infaqnya berapa, bahkan katanya seribu ripis pun tak masalah asalkan ikhlas dan punyanya hanya itu. Kesan pertama sungguh menggoda. Kesan hebat, jumawa, jauh dari cinta dunia, dan semua kesan yang dibutuhkan bagi seorang penyembuh yang turun dari kayangan ada semua. Beda dengan kesan saat masuk ruang dokter spesialis yang kempling, sejuk dingin, berhalaman luas dengan minuman gratis disediakan di pojok ruangan, dimana sudah terbayang tarif konsultasinya pasti sudah mengakomodasi segala kegratisan yang dinikmati saat ngantri.</p>
<p>Hingga pada satu malam, datanglah kang Cidromoto ke tempat sang tabib. Setelah dilihat dan diperiksa sebentar, diberilah sejumlah air yang katanya sudah dihewes-hewesi oleh sang tabib. Kang Cidromoto dipeseni agar matanya ditetesi dengan air hewes-hewes itu tiap hari. Dan walhasil, sampai air hewes-hewes itu habis nggusis, sang mata tetep burem. Hingga kang Cidormoto datang lagi ke tempat sang tabib. Rupanya karena pasien mangkin membludak, pasien dilayani sesuai panggilan sang tabib. Kalau tak dipanggil ya mlongo saja hingga pengobatan tutup. Sementara yang ketiban sampur dipanggil sang tabib, dilayani hingga tuntas. Mulai dari amandel yang diambil tanpa operasi secara demonstratip hingga batu ginjal yang diambil pakai gelas dan silet tanpa rasa sakit. Tentu saja demonstrasi pengobatan ala abrakadabra dan alakazam ini menjadi tontonan spektakular warga komplek simbah.</p>
<p>Setelah mlongo beberapa hari, Kang Cidromoto akhirnya tak sabar untuk bertanya pada para cantrik mengapa dirinya tak kunjung dipanggil dan segera didumuk agar seger waras matanya. Maka para cantrikpun menyampaikan aspirasi kang Cidromoto ke sang tabib. Hingga akhirnya dijawablah pertanyaan kang Cidormoto:</p>
<p><em>&#8220;Begini kang, mata sampeyan itu sudah terlanjur dioprek-oprek oleh para dokter. Maka sudah kebacut rusak dan memang agak susah. Jadi butuh sarana tersendiri yang tentu saja &#8216;ono rego, ono rupo&#8217;&#8230;.&#8221;</em> begitulah kira-kira isi pernyataan sang tabib.</p>
<p>Singkat cerita, maksud dari ono rego ono rupo itu adalah harus bayar duit setidaknya 3,6 juta ripis. Harga yang cukup murah buat sarana yang namanya penglihatan. Yang menjadi pertanyaan adalah uang 3,6 juta ripis itu nantinya buat mbayar apa belum jelas. Kalau itu operasi di RS, sudah jelas duit itu rinciannya buat cost apa saja. Buat obat, bea operasi, bea dokter, bea perawatan dlsb. Lha ini 3,6 juta ripis masih gelap buat apa. Mekanisme sembuhnya gimana juga tak dijelaskan. Walhasil kang Cidromoto pilih tak melanjutkan terapi. Dan musnah sudah gambaran tabib yang bak dewa penyembuh turun dari kayangan itu. Yang ada adalah pemburu rupiah dengan segala polesan modus operandinya.</p>
<p>Lain lagi dengan kang Paroloyo, beliaunya memang hanya mencari terapi yang mangsuk akal. Maka didatanginyalah tabib penyembuh yang informasinya didapat di satu acara terapi alternatip. Sesuai dengan klaim sang tabib, bahwa dia hanya menggunakan bahan herbal alami, maka tabib ini menjadi pilihan kang Paroloyo.</p>
<p>Taripnya lumayan mahal untuk ukuran seorang tabib. Namun bagi kang Paroloyo harga tak menjadi masalah asalkan sembuh. Untuk konsultasi doang setidaknya duit bergambar Soekarno-Hatta harus pindah kantong. Sedangkan untuk dua kali terapi, setidaknya enam lembar uang bergambar Soekarno Hatta harus ikhlas pindah kantong. Lumayanlah, soalnya duit itu tak seperti Naruto yang bisa dikloning dengan jurus<em> kage bunshin no jutsu</em> nya. Jika dua kali terapi belum sembuh bisa ikut paket selanjutnya.</p>
<p>Lantas dapat apa dari dua kali terapi itu? Kang Paroloyo mendapatkan terapi dipijit dan <em>diborehi</em> dengan ramuan tumbukan wal deplokan herbal. Mulai dari kencur, bawang merah, dan segala rempah-rempah diracik, ditumbuk dan dipoles ke tubuh yang sakit. Dan itulah yang dibawa pulang. Disangoni dan disuruh bawa brambang bawang macem <em>bumbu pawon</em> untuk ditumbuk dan diboreh sendiri di rumah.</p>
<p>Setelah dua kali terapi, kang Paroloyo baru ngeh. Ternyata enam lembar soekarno Hattanya hanya mendapat bumbu pawon itu. Hingga akhirnya dia ngomong di akhir sesi terapinya :</p>
<p><em>&#8220;Pak Tabib, terimakasih sudah mau menterapi saya. Namun maaf saya belum mendapat manfaat berarti dari dua kali terapi ini. Dan saya nilai terapi pak tabib ini terlalu mahal untuk hanya sekedar mborehi bumbon ke tubuh saya. Jadi saya mungkin tak bisa melanjutkan terapi lagi,&#8221;</em> katanya.</p>
<p>Sang tabib akhirnya buka bicara, <em>&#8220;Maaf Kang, sebenarnya saya ini bekerja tidak sendiri. Saya ini hanya buruh, di bawah satu manajemen bersama.&#8221; </em>kata sang tabib mulai menerangkan. Dan akhirnya terungkap bahwa dia hanya alat, yang diperalat satu pemodal memanfaatkan jaringan televisi swasta. Dimunculkan secara karbitan, tampil wawancara di tipi dalam satu acara terapi alternatip. Sasaran tembak konsumennya adalah pasien yang penasaran yang belum pernah mencoba cara terapinya. Bukan hendak sungguh-sungguh membantu terapi, tapi hanya mengorek duit pasien yang masih terus mencari jalan kesembuhan.</p>
<p>Duit yang dikeluarkan pasien adalah <strong><em>&#8220;tarip rasa penasaran&#8221;</em></strong> sang pasien, seperti apa sih model terapinya? Kalo seratus orang saja yang penasaran ingin mengetahui terapinya, itu berarti 60 juta ripis. Sedang bea untuk bisa tampil di tipi, cukup dengan pengeluaran sekitar 6 jutaan ripis setor ke stasiun tipinya. Hasilnya sepuluh kali lipat. Masalah nantinya pasien gak kembali lagi itu no problem. Tinggal bikin lagi dengan tabib yang lain yang serupa modusnya. Lalu duplikasi ke kota lain. Masih ratusan kota di seluruh Indonesia dengan stasiun swasta di daerah masing-masing. Dan masyarakat hanya tahu, kalo sudah bisa masup tipi pasti valid. Padahal tipi itu bisa dimasupin siapa saja asalkan taripnya sesuai buat menyambung napas tayang tipinya.</p>
<p>Pesan simbah, buat yang masih sakit kronis dan berusaha sembuh jangan putus asa. Hanya saja berhati-hatilah memilih terapi. Contoh kang Cidromoto adalah kasus riil dimana dia hampir cilaka karena mendatangi tabib dukunoid. Tabib tapi sebenarnya dukun materilistis manipulatif yang bisa mengancam amalan akheratnya dan menguras kantongnya. Sedangkan kang Paroloyo adalah contoh kasus yang juga riil, betapa terapi alternatip dijadikan ajang mencari duit dengan memanfaatkan rasa penasaran sang pasien seperti apa bentuk terapi yang ditawarkan. Bukan sungguh-sungguh berpraktek hendak menyembuhkan. Intinya adalah berhati-hatilah terhadap <strong><em>tabib dukunoid manipulospekuloopportunismaterialisadistis</em></strong>. Satu julukan bikinan mbah Dipo yang boleh dikoreksi ejaannya dan gak bakalan masup di search engine sehingga memang kurang menjual dari segi SEO.</p>
<h4 class='lite'>The Best Query for the Content</h4><div class='dicari'><a href="http://www.pitutur.net/tabib-dukunoid.jsp" title="tabib ahli penyakit stroke">tabib ahli penyakit stroke</a>, <a href="http://www.pitutur.net/tabib-dukunoid.jsp" title="www khusus amandel com">www khusus amandel com</a></div><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><img src="http://www.pitutur.net/?ak_action=api_record_view&id=344&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/tabib-dukunoid.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiamat</title>
		<link>http://www.pitutur.net/kiamat.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/kiamat.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 04:15:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>
		<category><![CDATA[akherat]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tentang hari kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena alam 6 juli 2010]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/kiamat.jsp</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kapan Kiamat datang?&#8221; tanya Kang Harjo Linthing. &#8220;Yo embuh,&#8221; jawab Lik Giman Mbako. &#8220;Gak ada yang tahu itu, kecuali Gusti Allah.&#8221; &#8220;Halah, sebentar lagi kiamat juga dateng, biasanya datengnya bareng nyi amat,&#8221; sahut Kadi Semprul sambil nglekar. &#8220;Kalo nggak percaya silakan ditunggu deket lincak situ..hehehe..&#8221; Glodakk..!! Kadi Semprul bablas njlungup didhupak Kang Harjo Linthing. &#8220;Dapurmu [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kapan Kiamat datang?&#8221; tanya Kang Harjo Linthing.</p>
<p>&#8220;Yo embuh,&#8221; jawab Lik Giman Mbako. &#8220;Gak ada yang tahu itu, kecuali Gusti Allah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Halah, sebentar lagi kiamat juga dateng, biasanya datengnya bareng nyi amat,&#8221; sahut Kadi Semprul sambil nglekar. &#8220;Kalo nggak percaya silakan ditunggu deket lincak situ..hehehe..&#8221;</p>
<p>Glodakk..!! Kadi Semprul bablas njlungup didhupak Kang Harjo Linthing.</p>
<p>&#8220;Dapurmu kuwi, ditanya serius malah njawabnya ngomyang,&#8221; bentak Kang Harjo Linthing.</p>
<p>Kejadian di atas adalah fiktif. Nama dan tokohnya juga fiktif. Tapi percakapan model di atas pernah terjadi. Kalo di dunia pilem, biar mengangkat temanya jadi lebih riil, di posternya diembel-embeli &#8220;Diinspirasi oleh Kisah Nyata.&#8221;<span id="more-339"></span></p>
<p>Melihat bertubi-tubinya bencana datang silih berganti, beberapa orang yang mengaku memiliki daya linuwih mulai mengeluarkan statement yang nganeh-nganehi. Topik bahasannya adalah tentang Kiamat, bukan Ki Amat suaminya Nyi Amat. Entah demi mengatrol namanya di dunia perparanormalan, atau demi embuh ra weruh, tiba-tiba muncullah ramalan-ramalan yang memprediksi datangnya saat kiamat.</p>
<p>Saat Ramadhan kemarin anak simbah yang mbarep bertanya, &#8220;Pak kata bu guru, kiamat itu terjadi nanti tahun 2020. Apa bener itu pak?&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Wah, gurumu salah le. Dapet info darimana itu? Wong molekat Jibril dan Kanjeng Nabi saja nggak tahu. Yang tahu hanya Allah le,&#8221;</em> jawab simbah.</p>
<p>Tak kalah ramenya, topik kiamat ini juga diangkat oleh dalang-dalang pilem <strong>Holiwud</strong> spesialis pilem disaster macem dalang pilem The Day After Tommorow. Judulnya 2012, yang menggambarkan datengnya kiamat ala Holiwud. Apa dasarnya menetapkan angka 2012 gak jelas, tapi ada dalang pilem lain yang mbikin pilem dijuduli Doomsday 2012. Kayaknya ada sesuatu di angka 2012 ini.</p>
<p>Padahal di tahun 1999 kemarin, tukang otak atik angka juga sempat bikin heboh dengan ramalan bahwa kiamat akan terjadi tanggal 9 bulan 9 tahun 99. Dan ternyata saat tanggal itu lewat, <em>&#8220;Dunia Belum Kiamat&#8221;</em>. Untung saja gak ada penjahat segila David Quraisy ..eh. David Koresh yang ngajak bunuh diri rame-rame di hari yang diramalkan kiamat itu.</p>
<p>Tema kiamat memang tema yang menarik. Banyak orang yang berusaha mengambil untung dengan tema ini. Korbannya adalah orang yang tak paham perihal kiamat. Ataupun kalo ngaku paham, ternyata salah paham. Banyak isu bisa diusung dari tema kiamat, yang dapat diambil keuntungan duniawinya.</p>
<p>Isu Imam Mahdi menjelang kiamat, dipakai segolongan orang buat melegitimasi ketokohan dirinya dilambari hadits gathuk enthuk buat menguntungkan diri. Mulai dari isu satrio piningit, Lia Eden, dan tokoh-tokoh mitos bikinan dalang maupun empu yang sebenarnya penyalahgunaan hadits Imam Mahdi demi kepentingan golongan dan kelompoknya.</p>
<p>Tak kurang munculnya Dajjal dengan segala versi tafsir beserta turunnya Nabi Isa as, menjadi komoditi buat mengeruk keuntungan dan seringkali dipakai buat memukul golongan lain yang tak sepaham. Jika kebetulan gak cocok sama Sekubidu, maka dianggaplah Sekubidu itu Dajjal. Kalo cocok sama Minimos, maka disanjunglah Minimos habis-habisan dan diangkat menjadi nabi Isa sekaligus Imam mahdi walaupun Minimos itu jelas-jelas wedhok. Bahkan fenomena alam yang sebenarnya alami, karena tak paham, ditapsir macem-macem. Mulai dari tapsir markas jin sampai markasnya dajjal diwedar dan diluncurkan. Hal beginian merupakan menu lezat pecinta hal yang berbau sensasi. Makin sensasional makin nyamleng. Hingga akhirnya yang kurang sensasional nggak laku. Ujung dan kesensasionalannya adalah menyebut angka pasti tahun terjadinya kiamat.</p>
<p>Bagi yang berilmu, sebutan yang paling tepat bagi hal beginian cuma satu : <em>&#8220;Kurang Gaweyan.&#8221;</em> Bagi yang berilmu, yang penting bukan kapan terjadinya kiamat, namun yang terpenting adalah kesiapan bekal. Bagi yang sibuk menyiapkan bekal, tak ada waktu buat mikir kapan datangnya kiamat. Karena kesibukan menyiapkan bekal buat kiamat tak memberi waktu baginya buat aktifitas yang berjudul &#8220;Kurang Gaweyan&#8221; ini.</p>
<p>Bagi orang yang luang waktu dan tak merasa perlu untuk sibuk menyiapkan bekal buat kiamat, waktu kapan terjadinya kiamat dirasa lebih penting buat dibahas daripada menyiapkan bekalnya.</p>
<p>Saran simbah, di tengah banjir bencana yang ada. <strong>Tetaplah fokus nyari bekal buat akherat.</strong> Galang dana buat yang membutuhkan adalah salah satunya. Dan tak perlu meributkan kapan kiamat datang. Jika sampeyan tak peduli nyari bekal buat kiamat, maka saat itulah kiamat sampeyan sudah datang.</p>
<h4 class='lite'>The Best Query for the Content</h4><div class='dicari'><a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="satrio piningit 2012">satrio piningit 2012</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="pidio kiamat">pidio kiamat</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="kejadian menjelang kiamat">kejadian menjelang kiamat</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="pidiokiamat2012">pidiokiamat2012</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="pidio kiamat 2012">pidio kiamat 2012</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="PIDIO HARI KIAMAT">PIDIO HARI KIAMAT</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="menjelang kiamat">menjelang kiamat</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="kiamat">kiamat</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="pidio tentang hari kiamat">pidio tentang hari kiamat</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="pilem pidio">pilem pidio</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="pilem rame">pilem rame</a>, <a href="http://www.pitutur.net/kiamat.jsp" title="pidio pilem">pidio pilem</a></div><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><img src="http://www.pitutur.net/?ak_action=api_record_view&id=339&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/kiamat.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian ketiga)</title>
		<link>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 04:08:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[Cerdas]]></category>
		<category><![CDATA[Herbal]]></category>
		<category><![CDATA[Terapi]]></category>
		<category><![CDATA[Testimoni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Setelah jeda agak lama, simbah berusaha menulis lagi untuk menyambung pembahasan masalah testimoni yang cerdas. Entah mengapa jedanya agak lama. Lha ngurus anak lima masih cilik-cilik bau kencur, jahe dan temulawak itu ternyata mbikin pegel juga. Walaupun tetep menyehatkan di jiwa. Simbah lanjutkan poin testimoni yang cerdas : 3. Jika ingin menunjukkan bahwa bahan herbalnya [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian pertama)'>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian pertama)</a> <small>Sekitar seminggu yang lalu simbah kedatangan pasien langganan simbah yang mengeluhkan sakit kepala hebat. Pasien ini adalah pasien lama yang rajin kontrol karena menderita tekanan darah tinggi. Namun sudah sekian...</small></li>
<li><a href='http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)'>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)</a> <small>Seperti janji simbah sebelumnya, sekarang kita mbahas lagi beberapa hal yang terkait dengan herbal. Simbah lanjutkan hal-hal yang kurang benar di dalam terapi herbal. 3. Kesalahan dalam penggolongan bahan herbal....</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_400" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp/theraphy-herbal-medicine" rel="attachment wp-att-400"><img src="http://www.pitutur.net/wp-content/uploads/2009/05/theraphy-herbal-medicine.jpg" alt="theraphy-herbal-medicine" title="theraphy-herbal-medicine" width="300" height="356" class="size-full wp-image-400" /></a><p class="wp-caption-text">Salah Kaprah Terapi Herbal</p></div>Setelah jeda agak lama, simbah berusaha menulis lagi untuk menyambung pembahasan masalah testimoni yang cerdas. Entah mengapa jedanya agak lama. Lha ngurus anak lima masih cilik-cilik bau kencur, jahe dan temulawak itu ternyata mbikin pegel juga. Walaupun tetep menyehatkan di jiwa.</p>
<p>Simbah lanjutkan poin testimoni yang cerdas :</p>
<p>3. <strong><em>Jika ingin menunjukkan bahwa bahan herbalnya yang berkhasiat, jangan melaporkan testimoni yang ternyata pemakaiannya dikombinasi dengan obat kimia sintetis.</em></strong></p>
<p>Satu contoh kasus: simbah pernah kedatangan pasien mengeluhkan penyakit jantung. Dia berobat ke ahli jantung. Diberi obat lalu dikonsumsi dengan teratur. Setelah minum secara rutin selama 3 hari, dia bilang ke simbah belum ada perubahan apa-apa. Lalu dia pergi ke pengobatan alternatip. Dia diberi ramuan jamu herbal yang katanya ampuh buat ngreparasi jantung. Baru sehari minum katanya sudah baikan.<br />
<span id="more-331"></span></p>
<p>Simbah nanya, &#8220;<strong>Selama minum jamu itu obat dari dokter jantung masih diminum apa nggak?</strong>&#8221;</p>
<p>Dia jawab, &#8220;Masih mbah.&#8221;</p>
<p>Kasus seperti di atas tak bisa digunakan untuk memvonis bahwa obat dari dokter tak manjur babar blas, sedangkan herbalnya jos gandos khasiatnya. Karena seringkali satu terapi obat, membutuhkan waktu untuk mencapai hasil khasiat yang diinginkan. Sebagaimana kasus penyakit typus, pasien seringkali mengalami turun panas pada hari ketiga setelah diterapi. Jadi tidak langsung sim salabim panasnya turun, bahkan makan waktu sampai 3 hari. Ada pasien simbah yang katanya kena typus sudah 3 hari dirawat di RS belum turun panasnya. Setelah diberi jamu yang bahannya dari cacing, langsung turun. Sampeyan tak bisa mengatakan bahwa obat bahan cacingnya itu yang menurunkan panasnya. Karena memang terapi typus baru memberikan hasil setelah 3 hari.</p>
<p>Kalau ingin mengatakan bahan herbal dari pengobatan alternatip itu yang lebih berkhasiat, seharusnya obat dari dokter dihentikan. Lalu ambil jeda beberapa hari, barulah dikonsumsi herbalnya dan ditunggu khasiatnya. Hal ini akan menghasilkan testimoni yang baik dan bisa dipakai untuk modal penelitian lebih lanjut dari bahan herbal yang bersangkutan.</p>
<p><strong><em>4. Kesembuhan harus terukur secara obyektif juga.</em></strong></p>
<p>Jika penegakan diagnosa harus terukur, demikian juga manakala mengaku sudah sembuh. Kesembuhan haruslah terukur secara obyektif, bukan kesembuhan subyektif. Jika dengan konsumsi satu bahan herbal seseorang mengaku kankernya sembuh, kesembuhan dari kanker itu bukanlah dilihat secara subyektif saja. Haruslah ada satu tindakan biopsi ataupun scan ataupun pemeriksaan obyektif yang menyatakan bahwa kankernya sudah tak berbahaya lagi.</p>
<p>Seringkali pemakai herbal hanya menyatakan kesembuhan dirinya hanya dengan menggunakan kata-kata &#8220;sudah sembuh&#8221;. Sedangkan ukuran sembuhnya tak ada. Pernyataan sembuh yang baik harusnya melampirkan data-data pemeriksaan laboratorium pasca terapi yang bisa dibandingkan dengan hasil lab sebelum terapi.</p>
<p>Namun hal ini masih memiliki kendala. Penggunaan laboratorium masih dimonopoli oleh ahli pengobatan medis. Sedangkan kaum herbalis tak punya akses untuk memberikan pengantar bagi penilaian obyektif kesembuhan pasiennya. Untuk itu harus ada kerjasama antara dokter medis dan juga herbalis. Agar satu penyakit tegak diagnosanya dengan pemeriksaan obyektif, sekaligus kesembuhanya pun dinyatakan dengan pemeriksaan obyektif.</p>
<p>Kalo testimoni pengguna herbal sudah makin cerdas, ini akan memberikan modal yang bagus bagi ahli farmasi dan farmakologi untuk meneliti satu bahan herbal. Tentu saja akan dilakukan riset dan penelitian untuk mencari bahan aktif dan sekaligus mencari cara agar bahan herbal tersebut bisa dimasyarakatkan.</p>
<p>Sayangnya masih banyak ahli herbal yang seringkali justru bersikap memonopoli keahliannya. Yakni dengan cara menyembunyikan bahan apa yang ada di dalam ramuannya. Dia berprinsip :</p>
<p>&#8220;Sudahlah, jangan banyak cingcong, unthal saja jamu saya. Yang penting sampeyan bagas waras. Lha kalo isinya apa jamu saya, itu rahasia saya tho.&#8221;</p>
<p>Herannya sang pasien justru malah suka pada ahli herbal yang buka praktek dengan menanamkan prinsip demikian. Semakin akut bermain-main dengan yang rahasia-rahasia, semakin asyik mengkonsumsi jamunya. Apalagi kalo diumuki sama dukun herbalnya, <em>&#8220;Ini herbal yang tahu cuma 2 orang di dunia. Satu saya sendiri. Yang kedua adalah guru saya yang sekarang praktek di Tibet sana.&#8221; </em></p>
<p>Lhaladalah, opo ra mangtabh..Mbuh dia dikasih ati celeng, apa uyuh kirik atau bahan hewani lainnya yang diklaim herbal gak masalah. Yang penting mak greng!!</p>
<p>Saran simbah, kalau ada ramuan kok ditutup-tutupi dan berkesan eksklusif dan rahasia harusnya kita makin curiga. Sayangnya kita hanya bersikap begitu pada obat-obat kimia sintetis saja. Padahal justru obat kimia sintetis sedang tertib-tertibnya menuliskan kandungan senyawa aktip di kemasannya. Sedangkan kalau bahan herbal kita permisif. Nggak ditulis apa isinya gak masalah. Akhirnya ada saja bajingan tengik yang memanfaatkan sisi gelap kebodohan konsumen herbal ini yang lantas mencampur bahan obat kimia sintetis ke dalam bahan herbal atau jamu. Ini karena saking permisifnya konsumen dengan apa yang namanya bahan alami sehingga gak mau tau bahan apa yang dikopyok di dalamnya.</p>
<p>Semoga <strong>tulisan berantai</strong> tentang <strong>Terapi Herbal</strong> dari simbah bermanfaat.</p>
<p><em>Seri Terapi Herbal</em><br />
<a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp">Salah Kaprah Terapi Herbal Bagian Pertama</a><br />
<a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp">Salah Kaprah Terapi Herbal Bagian kedua</a></p>
<h4 class='lite'>The Best Query for the Content</h4><div class='dicari'><a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp" title="khasiat air tebu">khasiat air tebu</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp" title="penggolongan jenis narkoba">penggolongan jenis narkoba</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp" title="penyembuhan typus">penyembuhan typus</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp" title="www cipaduholisticcentercom">www cipaduholisticcentercom</a></div><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><img src="http://www.pitutur.net/?ak_action=api_record_view&id=331&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian pertama)'>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian pertama)</a> <small>Sekitar seminggu yang lalu simbah kedatangan pasien langganan simbah yang mengeluhkan sakit kepala hebat. Pasien ini adalah pasien lama yang rajin kontrol karena menderita tekanan darah tinggi. Namun sudah sekian...</small></li>
<li><a href='http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)'>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)</a> <small>Seperti janji simbah sebelumnya, sekarang kita mbahas lagi beberapa hal yang terkait dengan herbal. Simbah lanjutkan hal-hal yang kurang benar di dalam terapi herbal. 3. Kesalahan dalam penggolongan bahan herbal....</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian pertama)</title>
		<link>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 03:41:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[Herbal]]></category>
		<category><![CDATA[Salah Kaprah]]></category>
		<category><![CDATA[Seri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar seminggu yang lalu simbah kedatangan pasien langganan simbah yang mengeluhkan sakit kepala hebat. Pasien ini adalah pasien lama yang rajin kontrol karena menderita tekanan darah tinggi. Namun sudah sekian lama ini pasien ini absen kontrol, baru hari itu njedhul wal nongol lagi. Walhasil, setelah simbah ukur tensinya, ternyata tekanan darahnya mencapai angka 200 sistole [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian ketiga)'>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian ketiga)</a> <small>Setelah jeda agak lama, simbah berusaha menulis lagi untuk menyambung pembahasan masalah testimoni yang cerdas. Entah mengapa jedanya agak lama. Lha ngurus anak lima masih cilik-cilik bau kencur, jahe dan...</small></li>
<li><a href='http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)'>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)</a> <small>Seperti janji simbah sebelumnya, sekarang kita mbahas lagi beberapa hal yang terkait dengan herbal. Simbah lanjutkan hal-hal yang kurang benar di dalam terapi herbal. 3. Kesalahan dalam penggolongan bahan herbal....</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar seminggu yang lalu simbah kedatangan pasien langganan simbah yang mengeluhkan sakit kepala hebat. Pasien ini adalah pasien lama yang rajin kontrol karena menderita tekanan darah tinggi. Namun sudah sekian lama ini pasien ini absen kontrol, baru hari itu njedhul wal nongol lagi.</p>
<p>Walhasil, setelah simbah ukur tensinya, ternyata tekanan darahnya mencapai angka 200 sistole dan 110 diastole. Simbah agak kaget, karena pada dua kali kontrol sebelumnya, sang pasien menunjukkan angka tekanan darah yang cenderung normal. Ha kok absen sekian lama, dumadakan tensinya menjadi njeblug ke ubun-ubun. Maka simbah pun menginterogasi:</p>
<blockquote><p>&#8220;Obatnya apa nggak diminum tho pak?&#8221; tanya simbah.</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Begini dok,&#8221; katanya mulai menjelaskan. &#8220;Sudah lebih dari 2 minggu ini saya tidak lagi meminum obat yang biasa mbah dokter kasih. Saya sekarang beralih ke pengobatan herbal ala Nabi mbah, karena sekarang saya sedang menjalani terapi ke salah seorang ustadz.&#8221;</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Oo, begitu. Lantas yang memutuskan berhenti minum obat dari dokter bapak sendiri atau atas anjuran sang ustadz?&#8221;</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Semuanya atas anjuran ustadznya mbah. Bahkan saya sudah diruqyah, dan katanya memang pada diri saya ada 2 jin yang mengganggu sehingga tekanan darah saya nggak pernah normal. Ha wong diganggu jin terus.&#8221;</p></blockquote>
<p><span id="more-327"></span></p>
<p><div id="attachment_400" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp/theraphy-herbal-medicine" rel="attachment wp-att-400"><img src="http://www.pitutur.net/wp-content/uploads/2009/05/theraphy-herbal-medicine.jpg" alt="theraphy-herbal-medicine" title="theraphy-herbal-medicine" width="300" height="356" class="size-full wp-image-400" /></a><p class="wp-caption-text">Salah Kaprah Terapi Herbal</p></div>Hwarakadah&#8230; jin cap apa ini yang ngoprek-oprek tekanan darah. Jin cap Tempe Duduk apa ya? Sebelumnya perlu diketahui, bahwa pasien simbah ini juga menderita Diabetes Melitus dengan kontrol yang baik. Gulanya tak pernah melebihi 200 mg/dl. Dan atas pengakuan sang pasien, sang ustadz memberikan terapi Habbatussauda dan madu, serta menyarankan agar semua obat dari dokter yang dibahasakan dengan kata <em>&#8220;obat kimia&#8221;</em> harus dihentikan. Diganti dengan obat herbal yang <em>&#8220;pasti tanpa efek samping&#8221;</em>.</p>
<p>Sampai di sini simbah merasa sedih dan sekaligus prihatin. Pendapat seperti yang disampaikan sang pasien dan juga ustadznya yang mengobatinya di atas sangat banyak penganutnya. Bahkan dengan segala embel-embel istilah yang dipegang teguh oleh penganutnya. Padahal definisinya amburadul dan seringkali tak dipahami.</p>
<p>Simbah bukan hendak merendahkan dan meremehkan pengobatan herbal. Simbah sendiri adalah pelaku pengobatan herbal dan menjadi konsultan pengobatan herbal di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang herbal. Namun tak bisa dipungkiri bahwa praktisi herbal yang ada di lapangan seringkali tak memiliki latar belakang medis apapun. Apalagi kalau sudah menyangkut keyakinan, seperti Thibbun Nabawi, seringkali praktisinya hanya mendasarkan sabda Nabi saw bahwa dengan bahan obatnya (entah benar dosis dan cara pakainya atau tidak) pasti sembuh. Tak peduli etiologi penyakitnya bagaimana, pokoknya obatnya yang itu. Sampai-sampai penyakit turun berok yang sudah gondhal-gandhul sebesar kepala bayi hanya diberi madu dan habbatussauda, dengan keyakinan turun beroknya bisa naik berok sendiri.</p>
<p><em>Beberapa kesalahan pemahaman dalam pengobatan herbal di antaranya adalah :</em></p>
<p><strong>1. Obat medis adalah obat kimia, sedangkan herbal bukan kimia.</strong><br />
Memang istilah ini hanyalah sekadar istilah untuk memudahkan penyebutan dan pengelompokan. Tapi sebenarnya baik obat medis maupun herbal semuanya adalah bahan kimia. Karena semua zat yang ada di alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur kimia. Bahkan air ludah yang ada di mulut kita dan kita &#8216;emut&#8217; layaknya permen sehari-hari itupun merupakan bahan kimia. Mungkin kalau mau menggunakan istilah yang lebih mendekati benar (tidak seratus persen benar) adalah: obat medis merupakan kimia sintetis, sedangkan herbal adalah kimia alami. Namun semuanya merupakan bahan kimia.</p>
<p><strong>2. Obat medis selalu memiliki efek samping dan tidak aman, sedangkan herbal tumbuhan alami bebas efek samping dan aman.</strong><br />
Istilah ini memberi kesan bahwa obat medis berbahaya dan tidaka aman dikonsumsi karena selalu memberikan efek samping yang merusak, sedangkan herbal aman dan tidak bahaya karena tanpa efek samping. Istilah ini dipakai tanpa dasar dan mengabaikan banyak fakta. Herbal walaupun alami, bukannya tanpa efek samping. Bahkan tidak selalu aman.</p>
<p>Kita semua tahu bahwa bayam, kangkung, asparagus adalah sayuran &#8211; sudah pasti bahan herbal- yang memiliki zat yang bermanfaat bagi tubuh. Bayam dan kangkung bagus untuk nutrisi karena kandungan zat besinya yang tinggi. Tapi apakah selalu aman dikonsumsi? Ternyata tidak. Penderita asam urat hampir selalu diingatkan dokter ketika berobat, untuk menghindari konsumsi kedua bahan herbal ini.</p>
<p>Bahan tumbuhan pun ada juga yang berbahaya bahkan beracun. Semua tahu bahwa makanan binatang Koala adalah daun eucaliptus yang jika dimakan manusia hampir bisa dipastikan wasalam. Dan satu lagi bahan herbal tumbuhan alami untuk sedikit ngobok-obok pemahaman rancu ini adalah daun ganja, dan daun koka. Bagi yang rajin nyimeng pasti kenal dengan daun ganja. tentu saja ini bukan bahan kimia, namun herbala alami. Namun sekali nyedhot sak sledupan, bisa mbikin melayang-layang. Sedangkan daun koka adalah bahan pembuat kokain yang bahayanya sudah disepakati baik tabib herbal maupun ahli medis, bahkan oleh Kang Panjul yang awam sekalipun.</p>
<p>Jadi tingkat bahaya dan keamanan tidak bergantung pada bahan alami atau kimia sintetis. Namun banyak faktor berperan dalam keamanan pemakaian satu bahan terapi. Diantaranya adalah <strong>dosis</strong>, cara pemakaian, lamanya pemakaian dan interaksi pemakaian dengan bahan lain. Keunggulan bahan alami dalam hal keamanan adalah pemakaian jangka lama. Bahan alami cenderung lebih aman jika dipakai dalam jangka lama. Dan memang hampir semua bahan alami ditujukan untuk terapi jangka panjang, bukan untuk terapi akut jangka pendek. Dalam hal serangaan akut jangka pendek, terapi kimia medis lebih unggul. Itulah mengapa simbah menyayangkan sang ustadz yang menghentikan terapi simbah pada penderita tekanan darah tinggi yang sebenarnya sudah simbah program untuk mengurangi obat kimia medis dan perlahan bergeser ke pengobatan herbal. Peralihan ini butuh waktu panjang, bahkan tahunan. Tidak bisa langsung seseorang menghentikan terapi dokter, lalu diganti dengan terapi yang efeknya baru terasa setelah jangka lama, sementara serangannya akut.</p>
<p>Seperti biasa, jika tulisan simbah sudah agak kedawan wal pating klewer begini, simbah lebih suka memecahnya menjadi beberapa bagian. Masih ada beberapa poin penting yang mau simbah sampaiken. Namun untuk menghindari pembaca nyekrol mouse sampai ndlosor, simbah sudahi dulu bagian pertama bab ini. Semoga sampeyan tetep sabar mengikuti tulisan berikutnya, karena memang simbah seringkali terlalu lama memberi jeda. Semoga yang ini tidak&#8230;. <img src='http://www.pitutur.net/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p><em>Seri Terapi Herbal</em><br />
<a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp">Salah Kaprah Terapi Herbal Bagian Dua</a><br />
<a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp">Salah Kaprah Terapi Herbal Bagian Ketiga</a></p>
<h4 class='lite'>The Best Query for the Content</h4><div class='dicari'><a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="herbal">herbal</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="efek samping habbatussauda">efek samping habbatussauda</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="gambar herbal">gambar herbal</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="terapi herbal">terapi herbal</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="klinik tongfang">klinik tongfang</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="efek samping daun ganja">efek samping daun ganja</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="latar belakang tanaman kangkung">latar belakang tanaman kangkung</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="efek kangkung">efek kangkung</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="efek negatif kangkung">efek negatif kangkung</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="efek negatif daun salam">efek negatif daun salam</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="efek samping terapi lintah">efek samping terapi lintah</a>, <a href="http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp" title="pitutur herbal">pitutur herbal</a></div><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><img src="http://www.pitutur.net/?ak_action=api_record_view&id=327&type=feed" alt="" />

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian ketiga)'>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian ketiga)</a> <small>Setelah jeda agak lama, simbah berusaha menulis lagi untuk menyambung pembahasan masalah testimoni yang cerdas. Entah mengapa jedanya agak lama. Lha ngurus anak lima masih cilik-cilik bau kencur, jahe dan...</small></li>
<li><a href='http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp' rel='bookmark' title='Permanent Link: Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)'>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)</a> <small>Seperti janji simbah sebelumnya, sekarang kita mbahas lagi beberapa hal yang terkait dengan herbal. Simbah lanjutkan hal-hal yang kurang benar di dalam terapi herbal. 3. Kesalahan dalam penggolongan bahan herbal....</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warga Baru</title>
		<link>http://www.pitutur.net/warga-baru.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/warga-baru.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 00:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Kamis lalu, tepat pukul 04.20 pagi simbah dipaksa nangis lagi dengan hadirnya satu warga baru yang sudah 9 bulan ini menghuni alam rahim yang Allah titipkan di perut istri simbah. Bayi perempuan berbobot 3,7 kg ini pecah tangisnya di tanggal 23 April 2009, tepat sebagaimana HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang simbah hitung dari HPMT simboknya. [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis lalu, tepat pukul 04.20 pagi simbah dipaksa nangis lagi dengan hadirnya satu warga baru yang sudah 9 bulan ini menghuni alam rahim yang Allah titipkan di perut istri simbah. Bayi perempuan berbobot 3,7 kg ini pecah tangisnya di tanggal 23 April 2009, tepat sebagaimana HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang simbah hitung dari HPMT simboknya. Tak terlalu cepat ataupun terlalu lambat barang seharipun. Mudah-mudahan ini pertanda bahwa sang jabang bayi nantinya menjadi orang yang disiplin dan tepat waktu.</p>
<p>Dan sebagaimana doa-doa simbah terdahulu terhadap anak simbah, semua simbah harapkan akan menjadi manusia yang menjadi sebab diturunkannya hidayah dan rahmat bagi seluruh alam. Harapan simbah tak berlebihan. Karena anak adalah &#8220;Kemungkinan Tak Terbatas&#8221;. Tak ada yang menyangka jabang bayi yang lemah dan mewekan itu setelah dewasa ternyata ada yang tumbuh dan berkembang menjadi pribadi semacam Hitler atau Fir&#8217;aun. Dan juga tak ada yang menyangka, jabang bayi yatim di tanah Mekkah beberapa abad yang lalu ternyata setelah dewasa menjadi orang yang namanya paling banyak disebut di dunia, yakni Baginda Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Simbah gak tahu anak-anak simbah nantinya menjadi bagaimana. Tapi simbah sangat berpegang pada hukum Allah yang mendasari keputusan takdir, yakni hukum sebab akibat. Maka simbah usahakan simbah membuat sebab-sebab yang baik pada diri anak-anak simbah. Semoga dengan memulai sebab-sebab yang baik secara maksimal, Allah turunkan akibat yang baik pada anak-anak simbah. </p>
<p>Memiliki 5 anak memang bukan hal yang ringan. Beberapa teman sejawat simbah bahkan ketar-ketir melihat simbah. Ha wong dia beranak satu saja sudah ngetung-ngetung berapa jumlah duit yang dia butuhkan buat mewujudkan anaknya menjadi orang yang sukses. Dia sebut angka sampai sekian &#8220;M&#8221;. Lha kalo lima anak wah&#8230; lima kali sekian &#8220;M&#8221;. Busyet dah, kata dia.</p>
<p>Anak tidak mengurangi rejeki orang tua dan juga tidak menambahnya. Anak membawa rejekinya sendiri. Kalaupun orang tua seperti ketambahan rejeki, itu hanya &#8216;seperti&#8217; saja. Hakikatnya, itu adalah rejeki anak yang memang Allah titipkan lewat orang tuanya.</p>
<p>Mohon doanya agar warga baru ini menambah jumlah populasi orang solehah sedunia. Amin</p>
<h4 class='lite'>The Best Query for the Content</h4><div class='dicari'><a href="http://www.pitutur.net/warga-baru.jsp" title="cerita birahi istri sholehah">cerita birahi istri sholehah</a></div><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><img src="http://www.pitutur.net/?ak_action=api_record_view&id=324&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/warga-baru.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
