Bahagia itu mahal?

Belakangan hari ini simbah sering nglangut wal nglamun sedikit dicampur merenung. Di usia simbah yang sekarang ini, yang notabene memang sudah mambu lemah, simbah merasa belum menghasilkan prestasi apapun di bidang dunia maupun akherot. Rumah belum punya, pekerjaan tetap juga embuh, karir pun gak jelas. Sementara amalan akherot juga tanda tanya besar. Tak ada prestasi apapun yang simbah yakini bisa mengangkat derajat simbah di sisi Ingkang Murbeng Dumadi. Meskipun tentu saja semangat untuk menjadi hamba yang diridhoi Allah tetep saja ada.

Sementara itu waktu hidup simbah hidup di dunia tentu saja makin berkurang waktu demi waktu. Makin digerogoti umur. Badan tak sekuat dulu lagi. Lari sekian meter saja sudah mengguk ngos-ngosan. Ngangkat-ngangkat sehari, pegelnya seminggu. Onderdil tubuh juga sudah makin peyok saja. Padahal kekarepan dan cita-cita yang dikejar masih banyak yang belum terwujud.

Simbah melihat, beberapa kerabat simbah yang sekarang sudah punya rumah ternyata mereka nyicilnya sampai belasan tahun sampe pecicilan, membiayai sampai biayakan. Sekarang baru berjalan lima tahunan. Masih bertahun-tahun lagi lunas. Itu pun direwangi mandi keringat bersabunkan kokot bolot wal daki di siang hari, dan nangis-nangis saat tahajud minta rejeki di malam hari, padahal mbayar rumahnya pake riba. Tak beda jauh dengan beberapa rekan simbah yang sudah naik mobil kinclong. Tak semuanya kontan, ada juga yang kontan karena memang sudah sugih kongenital akibat ketiban waris dari bokapnya.

Dengan melihat kondisi penghasilan simbah yang sekarang, maka untuk punya sebuah rumah dibutuhkan sekitar 15 tahun lagi cicilan, tentu saja dengan ngempet kebutuhan ini dan itu. Untuk punya mobil, makin jauh lagi. Apalagi untuk memiliki keluarga ideal yang dikondisikan oleh lingkungan masyarakat yang harus punya ini dan itu…. weh.. muke lo jaoooh...

Namun simbah merenung lagi, apa betul keluarga yang ideal dan bahagia itu harus selalu punya ini dan itu sebagai syaratnya? Coba sampeyan perhatikan iklan-iklan produk yang semuanya menawarkan konsumerisme itu. Produsen sabun berkata, “Belilah sabun ini, maka hidup anda akan lebih cerah.” Developer berceloteh, “Milikilah rumah disini, maka keluarga anda akan sejahtera.” Bank berkata, “Ngutanglah pada kami, hidup anda akan terjamin.” Produsen mobil nggabrul, “Miliki mobil ini, maka hidup anda lebih bahagia.” Sampai-sampai yang namanya produsen sempak wal celana abdi dalem juga menawarkan kenyamanan hidup dengan penawarannya, “Pakailah sempak kami, hidup anda akan nyaman.”

Kesejahteraan, kenyamanan, kebahagiaan dan jaminan hidup selalu dikaitkan dengan memiliki ini, mengendarai itu, memakai ini dan mengantongi itu. Konsep hidup semacam ini akan menjadi siksaan bagi mereka yang makannya senen-kemis. Beda dengan sebagian orang yang rajin puasa senen-kemis, dimana kalo senen ya nyenen, dan kalo kemis ya ngemis. Bagi kalangan elit alias ekonomi sulit, buat mereka baik senen maupun kemis ya ngemis.

Bagi kalangan yang gak kuat iman, konsep hidup diatas mau tak mau dibiayai dengan dana korupsi. Maka disini berlaku aturan “Korupsilah, tanpa korupsi cita-cita tak akan tergapai!” Mengapa begitu? Karena konsep kebahagiaan, kesejahteraan, dan kenyamanan hidup yang ditawarkan oleh lingkungan sekitar kita membutuhkan cost yang tak murah. Maka tertanam pada diri kita semua, …“Bahagia itu mahal.” Mengapa? Karena bahagia itu adalah kesejahteraan dengan punya ini itu, kesehatan dengan program sehat ini dan itu, kenyamanan dengan memakai ini dan itu.

Simbah berpikir, kelihatannya penghasilan dan kemampuan simbah tidak akan bisa membiayai harga kebahagiaan yang ditawarkan oleh konsep yang secara sadar atau tidak sadar dianut oleh kebanyakan gundul manusia ini. Untuk itulah simbah merenung. Jika untuk punya ini dan itu secara komplitan bak jamu, dibutuhkan waktu paling tidak 20 tahun lagi, sementara hidup di jangka waktu itu kudu ngempet… maka di saat selesai tidak ngempet lagi simbah hanya sempat menikmati cuma beberapa saat saja… itupun kalo simbah dikasih umur seumur kanjeng nabi saw.

Maka pastilah ada yang salah dengan konsep kebahagian yang mahal itu. Satu pesan kanjeng Nabi saw menunjukkan, sholat sunnah 12 rakaat sehari semalam bisa buat mbeli rumah di surga. Sholat 2 rokangat sebelum shubuh ganjarannya lebih baik daripada dunia dan seisinya. Belajar satu ayat dari firman Allah lebih baik dari mendapat keuntungan 2 ekor unta. Lhadalah… ha kok rumah di surga malah dapetnya gampang temen, dan mbikin ati tentrem. Beda dengan perjuangan nyari rumah di dunia. Dan tampak harga dunia itu murah, tak lebih mahal dari sholat 2 rokangat sebelum shubuh.

Maka di sisa waktu yang Allah berikan ini simbah bertekad, bolehlah gak punya ini dan itu di dunia, yang penting tidak mlarat di akherot sono. Sukur-sukur datang rejeki tak terduga sebagai lazimnya rejeki orang yang bertakwa, bisa punya ini dan itu di saat yang tepat. Maka dengan konsep hidup yang seperti inilah, kebahagiaan, kesejahteraan dan kenyamanan hidup bisa menjadi milik semua orang tanpa memandang tebal tipisnya kantong.

Sampeyan boleh punya konsep hidup yang berbeda. Toh masing-masing punya kebahagiannya sendiri.

Popularity: 6%

The Best Query for the Content


Langganan RSS Simbah

RSS FeedJika tulisan simbah ini bermanfaat monggo langganan RSS atau lewat e-mail Simbah arep kirim otomatis setiap simbah ada tulisan baru.


Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah…

38 responses to “Bahagia itu mahal?”

  1. de

    :d

    1. kadang

      :))

    2. lady

      :((

  2. de

    bahagia itu gampang kalo kita tahu caranya. betul kan mbah?

    1. kadang

      wah.. koyoke iki salah sijine wong sing bahagia…
      mbok koncone didumi bahagia… :p

  3. Andri Setiawan

    Duh gusti paringono kulo kabegjan fil dunya wal akhiroh … :)

    Dan kampung akhirat adalah jauh lebih baik bagi orang yang bertaqwa

  4. tonick

    bahagialah orang yang tau bahwa mereka lebih bahagia jika merasakan saat ini adalah saat yang paling membahagiakan.

    :o

  5. tonick

    sik to ..aku mau koment opo to?:((
    bahagia iku mahal…kalo gak tau ilmunya
    bahagia iku murah…kalo tau ilmunya
    gak bahagia?…gak duwe ilmu sing pener…
    aku mbok yao dikasih ilmu sing pener donk..:-w

  6. tonick

    bahagia adalah ” MANTEN ANYAR ” :d/

  7. iway

    20 tahun lagi juga belum tentu bisa komplit mbah, mengingat situasi setiap saat berubah dan kebutuhan yang pasti bertambah dan bertambah, tapi emang bahagia itu ‘mahal’ mbah, ikhlas dan senang di hati dan perbuatan serta selalu bersyukur :D

  8. sibolang

    mbah..pindah pondok ungu wae..

  9. adadeh

    Apa yang ada jarang disyukuri
    Apa yang tiada sering dirisaukan
    Dunia ibarat air laut
    Diminum akan semakin haus

    :)>-

  10. wongndeso

    nyindir …….:((

  11. muhammad hartiko

    aku kok ngeroso podho ya mbah, urip 20 taun luweh aku rung merasa menghaslkan apa2,

  12. ayahshiva

    tapi sayangnya kebahagiaan itu gak bisa dibeli hanya dengan uang

  13. andi

    :) mbah dipo gaya bahasanya mulai berubah ki :D
    semakin mantab

  14. sulton

    Allah tetapkan kebahagian, kejayaan, kesuksesan dalam agama sempurna seperti yg dicontoh oleh Rasulullah SAW.

  15. hideung

    mbah maaf aku minta idjin mau mempublikasikan tulisan sampean ke web saya apa boleh,,,,,:(( please

    1. Jauhari

      Mau mempublikasikan ke Web saya tapi kok ndak ada tautan websitenya ;)

  16. Djigoer

    Ya ALLOH mugi² Panjenengan maringi Mbah Dipo, kawulo lan para jamaah pitutur sedoyo, rejeki ingkang katah lan barokah.. :((

  17. Jauhari

    Mbah? nangdi si lady? biasane rak pertamax :x

    1. lady

      weee…. ada yg kangen sama sayah :P

      simbah tau aza kl lg bulan madu, madunya manis jee… :D

      maap.. maap, baru muncul krn baru kemaren megang internet lagi. maklumlah… nunggu gratisan gitoe…

      mohon maap lahir batin :)

  18. Koeaing!

    Boeng Bahagia itoe SEKARANG ! boekan nanti poen.
    Ik oero2 tijap sa’at soeda bahagija, ik nae bromviet van djeman kadal soeda bahagija, ik poenja bromviet mogok di tenga negri djin ik poen bahagija…

    ik sedeng koemat itoe gindjel ik poen broesaha bahagija…

    Mangka conceipt bahagija iaitoe ada dalem kitaorang poenja fikieran poen. Kowe kassie fikier enteng mangka bahagija, kowe kassie fikier abot soeda djelas soesah maloeloe…

    Watricht ! Kabahagija’an ko ndadk noenggoe, ja pertjoema kowe poenja oemoer poen. Moempoeng mingsih bole kentjing lantjar rasakeun, moempoeng bole boker van lantjar nikmatin, moempoeng mingsih dimintain wang samah ana bini tjoetjoe ponakan nikmatin….

    Moempoeng mingsih bole kassie derma samah orang miskien nikmatien…

    Ik fikier ik soeda orang iang paling bahagija di ini doenija….

  19. NuDe

    saya ndak bisa kasih definisi bahagia, ndak bisa kasih resep bagaimana agar bisa bahagia, tetapi mudah-mudahan saat ini saya bisa merasakan bahwa saya bahagia

  20. mas-Amin

    mbah, menurut saya bahagia itu ada di hati. bener ndak mbah??
    menurut saya lagi bahagia, senang, gembira, sedih, duka, lara kan munculnya dari hati. Jadi apa yang membuat kita bahagia ya gimana hati kita memandang dan menilai kondisi kita sendiri. Ya kan mbah…

  21. M Fahmi Aulia

    bahagia itu ada di hati
    hati itu ada di sapi

    kalo pengen bahagia, silakan ngangon sapi :))

  22. Fadli

    nek mikirke kebutuhan sing genah terus nambah bangsa penginyongan ngene iki,ketoke bahagia kuwi adoooooooooooh tenan….
    bener kandane Boeng Koeaing semouah niekmatin ajah, walau pahit sekalipun….

    Bahagia menurutku kuwi nek simbah isih posting neng blog iki………

  23. aggust

    aku terharu tenan

  24. dapit

    ak bahagia hari ini aku bs baca konsep and semua coment…?:-\

  25. Fadil

    Saya doakan mbah, semoga yang diparagraf terkahir itu disampaikan Allah..

    Tapi saya pake ga ikhlas neh, minta didoaken juga… :):)

  26. pakne fajar

    mas minta ijin ngunduh tulisannya ya……
    suwun….

Leave a Reply