Salah seorang kawan simbah yang biasa blayangan ke njaban rangkah seringkali membandingkan kondisi sanitasi lingkungan di Indonesia, khususnya di Daerah Khusus Ibukota mBetawi dengan negeri-negeri yang konon maju macem Singapura, Hong Kong, mBeijing dll.
Tak bisa dipungkiri, kekemprohan warga mBetawi Raya ini memang sangatlah mblondrok sekali. Dengan anggunnya kekemprohan itu diperagakan melalui aliran sungai yang lebih tepat disebut The Giant Comberan. Atau melalui gunungan sampah yang dirubung laler dan belatung beraroma jumbleng. Atau kelakuan warga yang seenaknya ngidu wal meludah sak karepe jidat, atau mbuang ingus yang mungkin berpirus, atau mbuang hajat seenak pantat.
Selalu dan selalu sang kawan berkomentar, dengan beragam komentar melihat perilaku kemproh dan tidak disiplin warga mBetawi yang barusan ulang tahun ini. Misalnya :
“Wah, kalo di Singapur, ngidu kayak preman itu sudah didenda sekian dollar tuh.” katanya saat melihat preman ngidu nggilani yang didahului bunyi khoak-khoek yang meneror sistem antimuntah kita.
“Lhadalah, lha kali kok nggilaninya ngudubilah setan. Kayak gitu kok buat ciblon adus plus umbah-umbah. Opo gak gudigen orang-orang itu. Lhah, itu malah kumur-kumur buat gosok gigi… jian kumuh temen..” katanya saat melihat asiknya komunitas pengguna air Ciliwung yang sedang memanfaatkan hitamnya air Ciliwung untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Read More
Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 



