Archive for March, 2009

Sobrot.. eh Sroboot !!

Posted 31 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Seperti biasa, sepulang sholat Jum’at simbah pulang rame-rame bersama jamaah sholat yang keluar dari masjid dengan wajah seperti orang bangun dari tidur panjang. Lha pigimanah tidak, ha wong khotibnya berkhotbah dengan cara mbaca dengan nada deklamasi anak TK tanpa menengok ke jamaah. Padahal jamaahnya banyak yang sudah pada semaput, sang khotib masih asyik menyelesaikan deklamasinya yang kudu rampung itu. Karena gak sabaran, serombongan jamaah di pojokan masjid berteriak amin setiap sang khotib sampai pada tanda titik di kalimat khotbahnya. Jadi macam doa yang diamini saja.

Untungnya sang khotib paham. Ucapan amin oleh serombongan jamaah di pojokan masjid diterima dengan baik sinyalnya oleh sang khotib. Meskipun hanya ucapan “Amin”, namun sebenarnya pesan lengkapnya sebagai berikut : “Pak khotib, sampeyan sudah keterlaluan lamanya khotbah. Sudahlah, segera selesaikan. Sudah banyak yang semaput tuh..!!”

Di luar masjid cukup panas. Lha kebetulan ada yang jualan es cendol gilar-gilar asal Jepara. Dan sang penjual belum kedatangan satu pembelipun. Maka simbah segera memesan dua bungkus es cendol itu. setelah memberikan uang limaribu ripis, simbah meminta si thole Hanif, anak sulung simbah, buat nunggoni sang penjual mbikin es. Simbah sendiri pergi ngambil motor yang diparkir di klinik.

Simbah kembali lagi ke penjual es cendol untuk menjemput thole Hanif dan es cendholnya dengan mengendarai belalang tempur simbah. Ternyata disitu sudah ada pembeli lain yang herannya malah sudah menggenggam es cendhol 2 bungkus, sementara thole Hanif babar blas belum terlayani. Sang penjual cendhol malah senyam-senyum cengengesan menyapa simbah : “Maaf mbah, diselani sebentar…!”

Ah, apa pulak ini maksudnya.. “Diselani sebentar.” Kata-kata yang keluar dengan enteng tapi saat itu terasa gak mutu babar blas. Ternyata pesanan es cendhol 2 bungkus simbah diserahkan oleh penjual itu ke pembeli yang belakangan datang. Pembeli itu seorang pemuda tegap, berpakaian rapi, berkacamata yang mengesankan seorang eksekutip muda yang otaknya cukup mewarisi kepintaran sang raja kumlot. Dengan 2 bungkus es cendhol di tangannya simbah memandangnya dengan pandangan yang mengandung pesan. “Ente goblog amat sih bung. Mentang-mentang pembelinya anak kecil ente srobot ajah. Pigimanah ente punya hati nurani? Begini ya warga negara Genthonesia yang berotak raja kumlot?”

Dengan pandangan semacam itu, rupa-rupanya si pembeli tukang srobot itu agak gerah juga. Entah mengapa tiba-tiba dia serahkan es cendol itu kepada thole Hanif yang segera disambutnya dengan senang hati. Tanpa ucapan apapun simbah langsung pergi meninggalkan pembeli dan penjual es cendhol itu dengan tarikan gas motor yang agak simbah kencengin, dimana mengandung pesan : “Lain kali jangan begitu lagi ya Broer..!”

Simbah heran, ha wong hanya antrian beranggota 2 potong saja kok nekat nyrobot. Lha gimana kalo antriannya sepanjang sepur?? Kejahatan srobot ini juga diperparah oleh si pelayan atau penjual atau petugas yang mau melayani orang yang nyobrot eh.. nyrobot. Seharusnya yang melayani itu justru menegur dan menasehati, “Kang, sampeyan jangan nyrobot. Ayo urut yang bener.” Bukan malah melayani dan bersama-sama mendholimi hak orang yang dilangkahi antreannya.

Lha kalo antreannya cuma antrean es cendhol sih efeknya paling cuma ngempet dahaga. Tapi apabila antreannya antrean yang vital, macem antre urutan operasi, antrean nebus obat di apotik yang bersifat darurat segera ditebus, antrean mertombo sakit gigi yang sudah sedhut senut, wah bisa berabe. Lha kalo yang dilangkahi antreannya gak terima bisa dibacok gundhul sampeyan. Gimana tidak, melangkahi antrean alias main srobot yang membahayakan jiwa dan membuat penderitaan orang lain tentu saja akan menuai reaksi orang yang ingin selamat jiwanya dan beres urusannya.

Dan urusan antre ini bukan urusan kaya atau miskin, bukan pula masalah elite atau kere. Simbah pernah menghadiri acara nikahan dimana acara makannya adalah prasmanan yang dihadiri tamu-tamu undangan esklusip kelas eksekutip. Di satu sudut, simbah mencoba antrean kambing guling. Baru berapa langkah antrean berjalan, tiba-tiba ada 3 ibu-ibu bergiwang mencorong, berlipstick ala nyi Blorong, dan berbaju ala sundel bolong menyrobot tepat di depan simbah. Simbah langsung ilang napsu makan dan pergi dari antrean itu. Ha wong sugeh-sugeh kok kelakuannya idiot gitu.

Belum lagi di satu sudut yang lain, ada antrian es krim yang cukup kacau antriannya. Simbah saksikan sendiri nyonya-nyonya besar dan nona-nona kecil berdesakan dengan baju kondangannya yang necis, tapi desak-desakannya tak ada bedanya dengan kaum pakir miskin yang ngantri daging korban. Bahkan stand es krimnya mau roboh kalau petugasnya tidak segera membentak tamu undangan yang kesurupan hendak meraih es krim itu.

Lha kaum sugehnya saja begitu, maka pantas saja jikalau ada yang namanya pembagian sedekah, zakat, daging korban, angpau atau apapun namanya, selalu berbuah kerusuhan. Ngantrilah yang bener, maka hak sampeyan gak akan ada yang mendholimi.

“Haram” yang Haramnya tidak sama dengan Haram

Posted 25 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan

Tentunya sampeyan sudah pada tahu, bahwa para Kyai MUI sudah mengharamkan 2 hal yang selama ini menjadi polemik. Yakni rokok dan Golput. Untuk rokok, salah seorang kyai MUI menerangkan bahwa keharamannya tidak sebagaimana babi. Jadi memiliki perbedaan. Rincian perbedaannya diterangkan dengan sangat njlimet sampai simbah gak mudeng babar blas. Tetapi keharamannya dilandasi bahwa kemadharatannya lebih besar dari manfaatnya.

Kyai NU dan beberapa ormas Islam lainnya gak sependapat kata “Haram” digunakan untuk memfatwai rokok. Haram yang bukan sebagaimana haramnya babi itu sudah ada kriteria tersendiri, yakni “makruh”. Jadi tak perlu menggunakan kata “Haram” jikalau ada kata lain yang lebih bisa mengakomodasi pengertian tidak diperbolehkannya merokok itu.

Alasan yang memakruhkan ini juga masuk akal, walaupun kang Jupri salah seorang teman simbah yang gak suka dengan kyai NU ini nyeletuk, “Halah, itu kan karena banyak kyai NU yang sudah nggathok ngudud kayak lokomotip sepur. Bilang aja gak mau ninggal klangenan.”

Read More

Sayembara

Posted 18 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Selingan

Boleh dibilang njanur gunung atawa numbeni, bahwa simbah pada kesempatan kali ini ingin memberikan sesuatu kepada pembaca setia blog ini. Sebagai penyambung lidah dari pihak yang menerbitkan buku simbah, kali ini simbah bekerjasama dengan pihak penerbit (atau sebenarnya lebih tepat penerbit bekerjasama dgn simbah… halah, kewolak walik yo ben lah) ingin memberikan kesempatan bagi pembaca buku Republik Genthonesia untuk bersama-sama mengikuti lomba Resensi Buku.

Ngresensi itu gimana tho? Terus terang simbah juga belum pernah melakukannya. Hanya saja bagi sampeyan yang berminat disediakan hadiah sebagai berikut :

1. Juara 1 : uang tunai senilai Rp 500.000,- dan satu paket buku senilai Rp 700.000,00
2. Juara 2 : uang tunai senilai Rp 400.000,- dan satu paket buku senilai Rp 600.000,00
3. Juara 3 : uang tunai senilai Rp 300.000,- dan satu paket buku senilai Rp 500.000,00

Caranya pigimanah?

Resensi aja buku simbah, yakni Republik Genthonesia. Lalu kirimkan lewat pos ke:

PRO-U Media
d.a. Jln. Jogokariyan 35, Yogyakarta 55143, dengan mencantumkan “LOMBA RESENSI” di pojok kiri atas amplop.

Resensi harus karya sendiri, bukan hasil nunggu wahyu turun, karena wahyu gak pernah turun lagi. Juga bukan hasil njiplak pake kertas karbon, apalagi hasil potokopian… gak kreatip blas.

Panjang resensi minimal 2 (dua) halaman A-4, 1,5 spasi, font Arial 12.

Resensi akan memiliki bobot penilaian lebih jika sudah pernah dimuat di media cetak, blog, atau media massa lainnya. Yang jelas jangan memakai media penampakan.. ndak medheni bocah. Bukti pemuatan adalah dengan mencantumkan potokopi atau link website yang dipakai untuk ngresensi.

Sayembara ini ditutup tanggal 15 Agustus 2009.

Selain buku Republik Genthonesia, sampeyan juga boleh ngresensi buku lainnya untuk kategori non fiksi yakni Ada Singa Dalam Dirimu, karya Asa Mulchias. Bagi yang suka Nopel bisa ngresensi buku fiksi :

1. Tembang Ilalang, karya MD. Aminudin
2. Kabar Bunga, karya Marsiraji Thahir

Semuanya terbitan Pro U Media. Untuk mendapatkan bukunya silakan hubungi alamat dan nomor berikut :

TB. Gunung Agung, Gramedia, Toga Mas,
Tisera atau di Jakarta 08128024672 / 02168991133, 0213153928,
02193042604, Depok 08129209922, Bandung 08122118475 / 08122221475,
Surabaya 0813650643322, Medan 0811647932, Makasar 04115705302,
085299519800, Semarang 081328784604

Atau bisa didapatkan melalui pemesanan ke kantor Pro-U Media, Jl. Jogokariyan 35, Yogyakarta. Telp. 0274-376301

Jika sampeyan meragukan kandungan judul postingan ini, silakan dikroscek ke alamat ini :

http://proumedia.blogspot.com/2009/03/lomba-resensi-buku-pro-u-media.html

Agar tidak ragu bahwa apa yang simbah sampaikan ini benar adanya, bukan kabar manuk, gosip, kasak-kusuk, glenikan, atau omyangan tak bermakna. Selanjutnya …selamat mengikuti.

Yang Tegang, Yang Asyik

Posted 16 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe, Pengaosan

Sebagaimana biasa Kang Paidul bersama wadyabalanya sesama penggemar pilem kungpu sedang berkumpul menyaksikan salah satu pilem kungpu yang disewanya dari pisidi rental. Adegan demi adegan dilewatinya. Hingga sampailah pada satu keadaan dimana sang lakon jagoan terdesak dan hampir koit diterjang musuh. Semua penonton tercekam tegang. Dumadakan muncullah Kang Pailul. Sambil prengas-prenges dia nyeletuk dengan koplonya :

“Halah gak usah tegang, itu entar lakonnya selamat, tapi nantinya dibunuh juga oleh boss penjahat…”
katanya sambil nyruput secangkir coklat tubruk.

“Woo, lha semprul… “ kata kang Paidul marah-marah yang juga diikuti gerutuan wadyabalanya. “Kamu kalo udah pernah nonton mbok diem tho. Mbikin gak asik aja. Awas kalo nyobrot lagi, jotos sisan…”

Begitulah adanya. Keasyikan nonton pilem akan sirna manakala jalannya pilem tiba-tiba di-spoiled oleh oknum yang sudah pernah nonton, apalagi spoilednya amat trocoh. Read More

Bedah Buku

Posted 03 Mar 2009 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

lading-bedahSebagaimana sampeyan sudah ketahui, Indonesia ini terdiri dari banyak suku dan etnis. Masing-masing suku memiliki kabudayan dan bahasa masing-masing. Dan masing-masing bahasa memiliki kekhasan dalam hal intonasi kata, artikulasi hurup, maupun cara pengucapan kalimatnya. Maka orang Batak dengan orang madura tak akan sama dalam mengucapkan kata. Orang Jawa dengan orang Sunda tak akan sama dalam bertutur kata. Sehingga lahirlah kata “medhok”. Jangan tanya simbah etimology kata ini, ha wong memang simbah juga gak mudeng babar pisan.

Sebagian pembaca blog ini mengomentari bahwa tulisan simbah sangat medhok jawanya. Padahal kata medhok biasanya dilontarkan untuk menilai sesuatu yang didengar, bukan yang ditulis. Gak papalah, ini mungkin hanyalah satu gejala majas yang simbah juga gak mudeng babar pisan.

Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, huruf “d” atau “dh” dikenal dalam bahasa jawa dan diucapkan dengan logat yang berbeda. Demikian juga huruf “t” berbeda dengan “th”. Belum lagi tambahan kata dalam berbahasa seperti kok, ha wong, thik, no, naknu, dlsb, yang menambah tekanan makna dalam penggunaannya. Hal ini sempat menggelitik seorang sunda, yang selalu terkekeh ketika mendengar temannya yang jawa sedang berbicara.

“Kenapa sih sampeyan selalu ketawa mendengar saya ngomong?” tanya seorang jawa pada temannya yang sunda.

“Ah enggak. Saya cuma geli aja denger kamu gak bisa ninggalin kata “no” dan “ik” kamu. Coba saja dengar omongan kamu, “Iyo ik”, “Yo ora no”, “Gede tenan ik”….. hehehehe “ kata sang sunda sambil ketawa.

“Udahlah, itu sih memang sudah gawan dari bayek. Lha kamu sendiri gak bisa ninggalin kata “mah”….. “ kata si jawa.

“Ah… itu mah gampang……” kata sang sunda mengelak sambil tetep memakai kata “mah” nya.

Maka untuk urusan medhok ini, simbah merupakan salah seorang jawa tulen yang lidahnya masih terjangkiti gejala medhok akut. Sampai-sampai sebelum simbah mengatakan darimana asal muasal simbah, orang langsung sudah pada tahu kalau simbah berasal dari jawa ndeso.

Tadinya hal ini membuat simbah males untuk nggedabrus di muka umum. Namun setelah simbah mengamati dan mendengar langsung beberapa maestro yang ahli di bidangnya yang berasal dari tlatah jawa, rupa-rupanya sebagiannya masih terjangkit penyakit medhok ini, maka jadi pede lah simbah. Sebut saja beberapa nama semisal maestro pilem Garin Nugroho, dimana nama “Nugroho” yang tak ditulis “Nugraha” menunjukkan dia orang jawa, bukannya sunda. Dan kejawaannya makin konangan ketika kita mendengar logat obrolannya. Lalu  ada Hermawan Kertajaya sang maestro marketing, walaupun namanya tak ditulis “Kertojoyo” tetap tak bisa menutupi logat jawanya yang akut. Dan yang tak kalah maestronya juga adalah pakar revolution yakni Tung Desem Waringin. Walau namanya babar blas gak nyrempet jawa sama sekali, namun jikalau sudah mendengar beliau ngomong orang langsung bisa menebak logat etnis mana yang dipakai dalam bicara.

Dibanding dengan tiga nama yang simbah sebut, simbah hanya baru mewarisi medhoknya doang. Maestronya belum sama sekali. Dan mengapa simbah bicarakan hal ini? Karena sebentar lagi simbah akan nggedabrus di porum bedah buku rame-rame. Namanya juga rame-rame, maka beberapa penulis dihadirkan untuk membedah bukunya masing-masing. Walaupun sebenarnya kata “Bedah” tak cukup wangun untuk dipakai, karena kata bedah biasanya dipakai untuk mengupas tuntas dari kulit bin cover sampe jeroan isi buku. Namun karena rame-rame, maka penulis mungkin hanya bisa nyolek dan sedikit nyudhet agar pembaca bisa membedah sendiri jeroan bukunya di rumah masing-masing.

Maka jika sampeyan di malem minggu kok merasa kurang gaweyan dan nglamun jorok sendirian, maka simbah saranken untuk segera membuang lamunan joroknya dan bergegas ke acara bedah buku simbah di Islamic Book Fair Senayan, pada tanggal 7 Maret 2009 pukul 7 malem. Dan dengarkan logat medhok simbah yang akan merongrong telinga sampeyan dengan akutnya. Tak ada salahnya minum obat anti mabok duluan agar tak muntah di tempat.