Dalam seminggu ini ada 2 kali pergantian tahun. Yakni dari tahun 1429 Hijriyah ke 1430 Hijriyah dan dari tahun 2008 ke 2009 masehi. Seperti biasa masyarakat lebih terfokus untuk menyambut pergantian tahun masehi daripada tahun hijriyah.
Buat simbah ganti tahun ataupun ganti bulan atau hari merupakan peristiwa penting. Bahkan jika mau merunut ke satuan waktu yang lebih kecil, yakni pergantian jam ataupun detik, merupakan hal yang pantas dicermati. Bukan hanya pergantian detik dari pukul 23.59.59 ke pukul 00.00.00 saja yang pantas diamati.
Waktu selalu bergerak maju, meninggalkan detik yang berlalu. Sedetik lalu adalah merupakan sejarah bagi detik sekarang. Demi kepentingan perhitungan, manusia memberinya angka. Hijriyah baru mencapai angka 1430, lebih sedikit dari masehi yang sudah mengangkai sampai 2009. Namun tentu saja angka tahun masehi masih kalah dengan jumlah angka yang berhasil dicantumkan tahun China maupun tahun Jepang. Juga tak ketinggalan, tahun saka pun sudah menorehkan angka yang tak kalah banyak.
Sampeyan pribadi boleh memiliki kalender pribadi dengan perhitungan sampeyan sendiri. Mau sampeyan angkai dari sejak sampeyan lahir sampai sekarang pun tak ada yang protes. Sampeyan namai tiap tahunnya sebagaimana orang China menamai tahun dengan nama tahun munyuk, tahun wedhus, tahun celeng, ataupun nama anggota ragunan lainnya pun sah-sah saja. Ha wong semuanya tinggal kesepakatan saja. Sepakat mau dihitung sejak kapan, dihitung berdasar apa, diangkai berdasar apa, toh yang namanya waktu gak pernah menolak dengan nama dan angka yang kita berikan.
Jadi sungguh geblek orang-orang yang menyandarkan nasib dan peruntungan berdasarkan nama dan angka tahun yang pemberiannya berdasar kesepakatan bersama. Orang yang menyandarkan nasib hidupnya kepada nama, angka dan perhitungan tahun adalah orang yang membutuhkan adanya kambing hitam bagi kegagalan yang disebabkan kesalahan dirinya dengan menyalahkan waktu.
Dalam syariat memang ada waktu-waktu yang berharga bak intan permata, ada juga waktu yang biasa-biasa saja. Malam lailatul qadar adalah waktu bak gelas permata. Sedangkan hari-hari lain ibarat gelas biasa. Namun semua itu hanyalah gelasnya saja, belum ada isinya. Jika sampeyan haus, maukah sampeyan diberi gelas permata yang kosong? Hilangkah dahaga sampeyan dengan cuma disodori gelas kosong yang terbuat dari permata?
Bandingkan dengan waktu biasa yang ibarat gelas terbuat dari tempurung kelapa. Namun gelas tempurung itu berisi es dawet gilar-gilar mantabh. Maka sudah pasti dahaga pun bisa hilang diringi dengan secuil komentar… “mak nyosss..”
Itu hanyalah permisalan. Waktu yang baik yang tak diisi dengan amal yang baik hanya akan menghasilkan kekosongan yang tak bermanfaat. Bayangkan saat malam lailatul qadar datang, tapi sampeyan cuma mlungker ngowoh sambil bikin peta dunia di bantal, apakah sampeyan jadi mulia di malam yang mulia itu? Malamnya memang mulia, tapi sampeyan cuma jadi satu dari sekian juta manusia yang membangkai, yang tak jadi mulia walau di malam yang mulia.
Lihatlah di hari yang biasa yang tak diembel-embeli dengan nama hari mulia, saat ijabah, saat makbul ataupun bulan mulia, namun sampeyan di setiap detik yang berlalu diisi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Simbah jamin sampeyan akan menjadi manusia mulia walaupun waktunya tak dinamai waktu yang mulia.
Kemuliaan, keberuntungan, kebangkrutan, kesialan, ataupun kebahagiaan kita tidaklah tergantung pada mulianya atau sialnya waktu. Justru kitalah dengan perbuatan amal kita bisa menyebabkan waktu menjadi mulia, lantaran kita mengisi waktu yang ibarat gelas kosong itu dengan kemuliaan. Jangan malah terbalik.
Semoga tahun ini menjadi mulia karena kita sepakat mengisinya dengan kemuliaan.
Powered by ScribeFire.

Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 



