Archive for December, 2008

Ganti Angka Tahun

Posted 31 Dec 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Dalam seminggu ini ada 2 kali pergantian tahun. Yakni dari tahun 1429 Hijriyah ke 1430 Hijriyah dan dari tahun 2008 ke 2009 masehi. Seperti biasa masyarakat lebih terfokus untuk menyambut pergantian tahun masehi daripada tahun hijriyah.

Buat simbah ganti tahun ataupun ganti bulan atau hari merupakan peristiwa penting. Bahkan jika mau merunut ke satuan waktu yang lebih kecil, yakni pergantian jam ataupun detik, merupakan hal yang pantas dicermati. Bukan hanya pergantian detik dari pukul 23.59.59 ke pukul 00.00.00 saja yang pantas diamati.

Waktu selalu bergerak maju, meninggalkan detik yang berlalu. Sedetik lalu adalah merupakan sejarah bagi detik sekarang. Demi kepentingan perhitungan, manusia memberinya angka. Hijriyah baru mencapai angka 1430, lebih sedikit dari masehi yang sudah mengangkai sampai 2009. Namun tentu saja angka tahun masehi masih kalah dengan jumlah angka yang berhasil dicantumkan tahun China maupun tahun Jepang. Juga tak ketinggalan, tahun saka pun sudah menorehkan angka yang tak kalah banyak.

Sampeyan pribadi boleh memiliki kalender pribadi dengan perhitungan sampeyan sendiri. Mau sampeyan angkai dari sejak sampeyan lahir sampai sekarang pun tak ada yang protes. Sampeyan namai tiap tahunnya sebagaimana orang China menamai tahun dengan nama tahun munyuk, tahun wedhus, tahun celeng, ataupun nama anggota ragunan lainnya pun sah-sah saja. Ha wong semuanya tinggal kesepakatan saja. Sepakat mau dihitung sejak kapan, dihitung berdasar apa, diangkai berdasar apa, toh yang namanya waktu gak pernah menolak dengan nama dan angka yang kita berikan.

Jadi sungguh geblek orang-orang yang menyandarkan nasib dan peruntungan berdasarkan nama dan angka tahun yang pemberiannya berdasar kesepakatan bersama. Orang yang menyandarkan nasib hidupnya kepada nama, angka dan perhitungan tahun adalah orang yang membutuhkan adanya kambing hitam bagi kegagalan yang disebabkan kesalahan dirinya dengan menyalahkan waktu.

Dalam syariat memang ada waktu-waktu yang berharga bak intan permata, ada juga waktu yang biasa-biasa saja. Malam lailatul qadar adalah waktu bak gelas permata. Sedangkan hari-hari lain ibarat gelas biasa. Namun semua itu hanyalah gelasnya saja, belum ada isinya. Jika sampeyan haus, maukah sampeyan diberi gelas permata yang kosong? Hilangkah dahaga sampeyan dengan cuma disodori gelas kosong yang terbuat dari permata?

Bandingkan dengan waktu biasa yang ibarat gelas terbuat dari tempurung kelapa. Namun gelas tempurung itu berisi es dawet gilar-gilar mantabh. Maka sudah pasti dahaga pun bisa hilang diringi dengan secuil komentar… “mak nyosss..”

Itu hanyalah permisalan. Waktu yang baik yang tak diisi dengan amal yang baik hanya akan menghasilkan kekosongan yang tak bermanfaat. Bayangkan saat malam lailatul qadar datang, tapi sampeyan cuma mlungker ngowoh sambil bikin peta dunia di bantal, apakah sampeyan jadi mulia di malam yang mulia itu? Malamnya memang mulia, tapi sampeyan cuma jadi satu dari sekian juta manusia yang membangkai, yang tak jadi mulia walau di malam yang mulia.

Lihatlah di hari yang biasa yang tak diembel-embeli dengan nama hari mulia, saat ijabah, saat makbul ataupun bulan mulia, namun sampeyan di setiap detik yang berlalu diisi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Simbah jamin sampeyan akan menjadi manusia mulia walaupun waktunya tak dinamai waktu yang mulia.

Kemuliaan, keberuntungan, kebangkrutan, kesialan, ataupun kebahagiaan kita tidaklah tergantung pada mulianya atau sialnya waktu. Justru kitalah dengan perbuatan amal kita bisa menyebabkan waktu menjadi mulia, lantaran kita mengisi waktu yang ibarat gelas kosong itu dengan kemuliaan. Jangan malah terbalik.

Semoga tahun ini menjadi mulia karena kita sepakat mengisinya dengan kemuliaan.

Powered by ScribeFire.

Oh, Pak Penghulu

Posted 24 Dec 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip, Pengaosan

Minggu-minggu terakhir ini jika sampeyan mau memperhatikan gang-gang di pinggir jalan di Jakarta, akan tampak yang namanya umbul-umbul janur disertai nama pasangan pengantinnya berderet seperti bendera merah putih di saat agustusan. Sewaktu simbah menyusuri jalanan di daerah Pondok Kopi dan wilayah Semper, tak sampai jarak seribu tombak sudah melewati hampir sepuluh umbul-umbul janur. Yang berarti setidaknya ada sepuluh pasang anak manusia sedang dinikahkan hari itu.

Tak salahlah jika bulan ini disebut sebagai musim kawin. Bukan lantaran hawa dingin yang cocok buat bulan madu pasangan pengantin, namun karena ketakutan orang menjalankan acara nikah di bulan Muhamram lah yang menjadi penyebab. Ada yang menyangkal pendapat ini dengan mengatakan bahwa banyaknya acara pernikahan di bulan ini lantaran bulan Dzulhijjah adalah bulan haram,yakni bulan baik yang dimuliakan oleh Allah. Tentu saja ini merupakan pendobosan publik yang membodohkan. Karena yang namanya bulan haram itu ada empat, tiga di antaranya berurutan. Yakni Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Jadi jika memang yakin bahwa pernikahan yang pating drindil itu karena menepati bulan haram seharusnya musim kawin itu akan berlanjut sampai Sasi Suro alias bulan Muharram nanti. Namun kenyataannya saat masuk bulan Muharram,aktifitas kawin mengawinkan pun libur sebulan penuh, terutama bagi orang javanese van ndesonese.

Berbicara masalah urusan kawin mengawinkan, maka kita tak bisa lepas dengan yang namanya pejabat pencatat pernikahan dari Kantor Urusan Agama (KUA) yang biasa disebut dengan Pak Penghulu. Perlu diketahui bersama bahwa fungsi utama dihadirkannya Penghulu dalam acara pernikahan adalah semata-mata sebagai pejabat negara yang mencatat dan memberikan kekuatan hukum legal bagi pernikahan yang berlangsung, sehingga pernikahan tersebut syah menurut agama dan undang-undang yang berlaku. Sedangkan yang namanya menikahkan itu adalah tugas dari bapaknya si pengantin perempuan.

Pada prakteknya yang namanya penghulu ini mendadak berubah menjadi raden Ngabehi yang mengambil alih semua peran dalam acara pernikahan. Dari sejak menikahkan,mencatat, mengatur dan bahkan menyutradarai jalannya acara pernikahan bak sutradara tiban. Sehingga acara akad nikahpun jadi seperti sinetron atau opera sabun deterjen yang tak berbusa. Sampai-sampai bermunculanlah ide-ide baru yang disisipkan dalam acara nikah yang sebenarnya bukan merupakan rukun nikah, tapi dijejalkan dengan paksa. Akibatnya publik awam beranggapan bahwa itu adalah wajib, karena yang nyuruh pak Penghulu yang dianggap paham dalam urusan agama.

Di antara perkara yang dijejalkan itu adalah saat akad nikah akan dijalani, sang mempelai perempuan disuruh minta ijin dulu pada bapaknya untuk menikah dengan pria pilihannya. Ini sebenarnya acara yang ngoyoworo, lucu dan kadang mbikin simbah ngempet ngguyu. Ha wong bapaknya sudah nyewa gedung jutaan ripis, nyewa sonsistem dolby stereo serta tata panggung berhias sinar laser, semuanya jelas mengindikasikan kalau bapaknya jauh-jauh hari (tanpa Nurudin) sudah mengijinkan dan bahkan menyiapkan semuanya, kok ya masih dijejali lagi acara ketoprakan mubadzir yang namanya “minta ijin”. Coba bayangkan jika tiba-tiba bapaknya njawab, “saya tidak mengijinkan nduk”…. Apa nggak kaget para tamu undangannya. Tiwas dandan berjam-jam, minjem gelang kalung tetangga buat kondangan, ha kok gak jadi nikah. “Tiwas ngamplopi,” begitu mungkin pikiran para tamu undangannya melihat acara pernikahannya gagal total.

Di antara perkara yang kadang dibikin-bikin dan ini didukung oleh pihak keluarga pengantinnya adalah diulang-ulangnya ucapan ijab kabul karena dianggap tidak syah lantaran alasan yang mengada-ada. Ada yang menganggap tidak syah karena saat pengantin laki-laki mengucap lafal ijab kabul disela dengan batuk. Ada yang menganggap tidak syah karena ucapan ijab kabulnya tidak lancar. Ada yang menganggap tidak syah karena antara ucapan sang bapak dan pengantin laki-laki jaraknya lebih dari dua detik. Sehingga saat si bapak selesai mengucap lafal menikahkan, sang pengantin laki diberi kode untuk segera menyambut. Ada juga yang menganggap tidak syah lantaran ucapan ijab kabulnya agak tergagap karena gugup. Alangkah sialnya jika pengantin lakinya seorang yang memang gagap. “Ssaa..sa.. ya te…te.. teri..terr….terima…nnnn…nik..nikahnya……..” GLODAAK!!! Sampai lebaran kucing gak akan syah nikahnya lantaran perlu diulang lagi dan diulang lagi.

Dan perkara yang membuat makin miris adalah biaya nikah yang ditetapkan oleh pihak KUA yang tidak jelas juntrungnya. Ada yang bilang lebih transparan tarif short time gang Dolly daripada nikah resmi. Sebenarnya yang menjadi penyulit adalah keharusan datangnya pak Penghulu ke tengah acara akad nikah. Padahal jika acara nikah dijalankan,lantas KUA hanya berfungsi sebagai pencatat, maka akad nikah tak harus dihadiri Penghulu. Pernikahan cukup didaftarkan dengan menghadirkan saksi ke KUA. Namun karena masyarakat dicekoki pemahaman bahwa acara akad nikah harus dihadiri penghulu dari KUA,maka akhirnya muncullah biaya transport untuk menghadirkan penghulu. Biaya transport inilah yang akhirnya menjadikan biaya nikah jadi melambung. Karena biaya transport yang dikehendaki pak Penghulu seringkali harus ditetapkan dengan nego bak bakul ayam. Ada yang kena sejuta, setengah juta, bahkan yang sial adalah jika pak Penghulu sudah buka harga empat juta. Mau ditawar berapapun kenanya tetap di atas sejuta ripis. Kasian juga Lik Sarmin yang sudah bujang lapuk ngempet nikah karena tak kuat menghadirkan penghulu ke acara nikahnya.

Ada satu kisah nyata di komplek simbah di tahun 2007 saat komplek simbah kena banjir. Salah seorang warga mengadakan acara pernikahan di tengah suasana banjir yang melanda. Pak Penghulu pun dihadirkan. Karena suasananya sedang banjir, jalan yang ditempuh pun penuh keklebusan dan basah. Selepas akad nikah diucap dan Pak Penghulu pamitan, mendadak pak Penghulunya bilang dengan setengah berbisik pada sohibul hajat, “Maaf pak, berhubung keadaan banjir seperti ini, saya mohon kebijakan dari bapak untuk memberikan ‘uang banjir’ pada kami. Bapak tahu sendiri kan, cukup susah mencapai daerah sini dengan suasana banjir kayak gini. Paling tidak 200 rebu pak”. Sekali lagi : GLOODAAKK !!!
Salah seorang kawan simbah simbah masih bisa bersyukur dengan nyeletuk, “Untung cuma kena uang banjir 200 rebu, untung gak diminta uang klebush, uang laundry dan uang becek.” Oh… pak penghulu. Simbah yakin, tak semua begitu.

Powered by ScribeFire.

Kapal Bocor

Posted 22 Dec 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Beberapa waktu lalu simbah mendapat kabar bahwa beberapa perusahaan leasing mobil di Jakarta ini terancam kukut. Penyebab yang langsung dituding adalah krisis keuangan global. Karena sampai saat ini kata-kata “krisis keuangan global” adalah kata-kata ampuh untuk dijadikan biang kerok segala macam kejadian yang gak mbejaji. Tersiar pula kabar bahwa beberapa perusahaan tekstil dan industri lain mulai memanggil karyawan-karyawannya untuk ditawari memilih satu diantara 2 opsi. Yakni pilih mundur teratur atau mundur kabur. Jika mundur teratur akan disangoni walau gak mitayani. Tapi kalau mau bertahan, diramalkan di awal tahun 2009 perusahaan akan kolaps dan karyawan jangan harap dapat pesangon apapun, karena pemilik perusahaannya gak bakalan mampu dan justru memilih kabur dari tanggung jawab.

Kang Waluyo Pithut, salah seorang pemilik showroom mobil di bilangan Jatinegara mulai menggerutu, “Sebetulnya krisis ini apa tho penyebabnya? Katanya semua ini gara-gara Amerika Koplo. Gara-gara kelakuan mbejat segelintir jidat saja kok mbikin dunia jungkir balik,” keluhnya.

Simbah sendiri gak begitu paham perihal teori-teori ekonomi yang dipakai oleh ahli-ahli ekonomi dunia itu. Tapi yang jelas segala bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dipakai, ternyata berujung pada krisis keuangan global seperti sekarang ini. Hampir semua ahli ekonomi menyusun kebijakan ekonominya untuk menyejahterakan rakyatnya. Semua negara menerapkan kebijakan ekonominya berdasarkan saran ahli-ahli ekonominya. Namun melihat krisis keuangan yang sekarang ini sedang melanda, timbul rasa skeptis pada diri para ahli ekonomi itu. Jangan-jangan segala macam bentuk teori ekonomi yang sekarang ini dijalani dan diubal-ubal ajarannya itu sebenarnya semuanya hanyalah sekumpulan “Bull” yang ketemu “Shit” alias omdo. Maka tak heran jika lantas para ekonom mulai mengevaluasi segala macam teori ekonomi yang sebelumnya dipegang menjadi setengah agama itu, baik teori ekonomi kapitalis, sosialis, komunis maupun yang cuma pringas-pringis.

Menurut kang Waluyo Pithut yang memang tak pernah mengenyam sekolah sampai tamat dan tak pernah belajar teori ekonomi yang ndakik-ndakik, segala bencana ekonomi dunia saat ini sebenarnya diawali oleh perangnya si Bush lawan Saddam Husein yang melibatkan rakyatnya. Perang yang akhirnya membahayakan ekonomi Amerika Koplo, didukung oleh meroketnya harga minyak dunia dan perilaku korup yahudi amerika dengan sistem ribanya, menjadi ramuan manjur buat membangkrutkan dan memberantakkan tatanan ekonomi dunia.

Kelakuan Amerika Koplo yang dengan tak sopan mengangkangi negara-negara kecil tak bersenjata demi minyak, hampir tiap hari ditayangkan di tipi. Kelakuan mbejat Amerika koplo dengan segala kelicikannya hampir setiap hari dipertontonkan di hadapan kang Waluyo Pithut sang pemilik showroom, pada Pak Min si penjual sego kucing, pada Lik Gemblong seorang pengusaha odhong-odhong, atau pada pejabat semi penjahat yang memegang keputusan dan kebijakan. Semuanya tak sadar, bahwa tontonan yang dipertunjukkan Amerika Koplo di tipi itulah yang akhirnya mengukut showroomnya Kang waluyo Pithut, mengancam harga bandeng di segonya Pak Min, menggerogoti kempolnya Lik Gemblong yang mengayuh odhong-odhong tanpa penumpang dan membuat jidat pejabat terembat lantaran puyeng mikir tuntutan rakyat yang sekarat.

Kanjeng Nabi menggambarkan perilaku Amerika Koplo itu ibarat serombongan idiot yang sedang melobangi dasar perahu karena hendak mengambil air di bawahnya, lantaran jikalau harus turun naik ngambil air terlalu jauh jaraknya. Sedangkan kita semua ini adalah penumpang di perahu tersebut, namun hanya bengong ngowoh melihat keidiotan sang pembocor perahu tanpa ada yang mengingatkan atau menegur. Di antara penumpang perahu itu ada yang sedang sholat, ada yang sedang doa hewes-hewes, ada yang sedang ndikir, ada yang sedang mbaca kitabullah, namun tak satupun yang menegur perilaku sang idiot yang sedang melobangi perahu. Manakala perahu mulai karam, semua panik. Pertunjukan koplo sang idiot rupanya membahayakan banyak jiwa dengan karamnya kapal. Sang ahli sholat heran, ha wong dirinya rajin sholat kok ikut karam. Sang tukang doa juga heran, ha wong tiap hari mendoa sapu jagad kok juga ikut mau karam. Sang ahli ndikir dan baca kitabullah juga kaget, ha wong selama ini selalu basah lidahnya mengingat Allah kok mau karam juga. Semuanya lupa, karamnya mereka itu lantaran tak ada satupun yang menghentikan upaya idiot sang pembocor kapal.

Salah seorang pasien simbah pernah bertanya, “Mbah, ha wong gara-gara segelintir orang kok semua harus nanggung. Kok bisa begitu itu gimana nalarnya?”

Simbah jawab, “Sampeyan tahu kan, komplek kita ini dulunya tak ada yang namanya polisi tidur. Semua pemakai jalan bisa berjalan dengan mulus tanpa harus ngerem-ngerem menghindari gajlugan polisi tidur. Lalu tiba-tiba ada seorang idiot bergaya Palentino Rosi lewat hampir nyerempet seorang anak kecil yang sedang main di jalan. Dari situlah orang berpikir untuk memasang polisi tidur walau sebenarnya bisa ditempuh dulu dengan menasehati pemakai jalan itu. Namun karena tak ada yang amar makrup nahi mungkar dipasanglah polisi tidur, bahkan sampai ada yang masang polisi nungging karena saking tingginya. Saya tanya sampeyan, jika sudah dipasangi polisi nungging itu, yang kena gajlugan apakah cuma si begajul ngebut ala Palentino Rosi tadi atau semua pemakai jalan termasuk yang ati-ati? Bahkan mbah Wiryo Setliko yang ngonthel dengan kecepatan siput pincang pun terpaksa kena gajlugannya si polisi tidur itu.”

“Masuk akal juga.” Kata pasien simbah tersebut.

Memang harus ada upaya amar makruf nahi munkar kepada para penguasa dunia, bahwa yang mereka upayakan saat ini adalah upaya idiot membocori kapal yang bisa menimbulkan bencana karam global. Amar makruf nahi munkar lah yang menyelamatkan kapal dunia dari bencana karam global. Memang masih ada ratusan juta bahkan milyaran bibir yang berdoa, berdikir, menengadahkan tangan minta keselamatan pada Penguasa Alam Semesta. Namun Sang Pencipta sudah memberi isyarat pada kita semua, “Kalian sendiri bisa menyelamatkan nasib kalian. Ada upaya yang bisa kalian tempuh, mengapa tidak kalian tempuh? Mengapa kalian suruh Aku menyelesaikan masalah kalian, sementara jalan penyelesaian sudah Aku tunjukkan pada kalian?”

Powered by ScribeFire.

Tribute to Bush : Pro dan Kontra

Posted 16 Dec 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe, Selingan
Sebagaimana sudah diketahui bersama, bahwa Presiden Amerika Serikat yang namanya mirip bunyi kenthut untuk telinga orang Indonesia, yakni “Bush”, dibalang tapuk sandal eh… sepatu oleh salah seorang audience yang konon sedang mabuk. Tentu saja aksi ini mengundang komentar pro dan kontra dari berbagai pihak. Tak ketinggalan kalangan bakul underground pasar Paingan yang sibuk ngeciwis membicarakan aksi berani pelempar sepatu itu.

Salah seorang wartawan koran “Pitutur Times” yang terbit di negeri entah berentah, menangkap komentar para tokoh underground yang terangkum dalam tulisan berikut ini.

Komentar Pro :

1. Saya setuju terhadap tindakan memberi penghargaan pada si Bush dengan cara lemparan sepatu mawut itu. Itu sudah sepantasnya dianugerahkan pada tokoh haus darah itu. (Drs. Gendro Sutejo, MM, Hansip Pasar Paingan).

2. Tindakan tepat, untuk orang yang tepat, di saat yang tepat. (Mbah Gableng, penjual akik bersertifikat)

3. Tak ada ucapan yang pantas selain ucapan, Selamat, Anda layak untuk dibalang. (Mpok Patimeh, bakul pecel non formalin).

4. Salut. Sungguh berani. Dua acungan jempol tak cukup buat si pelempar sepatu. Selamat berlatih untuk lemparan berikutnya, semoga sukses dan tepat sasaran. (Kyai Ngaidin, penjual bunga plus doa dan jopa-japunya)

Selain komentar yang pro, berikut adalah komentar yang kontra.

Komentar Kontra :

1. Saya sangat tidak setuju dengan tindakan pelemparan sepatu itu. Mengecewakan… Harusnya kan pas di jidatnya… ha kok luput!! Mengecewakan….! (Bang Somali, centeng pasar Paingan)

2. Saya tidak setuju. Saya sangat tidak setuju kalau si pelempar sepatu dikatakan mabok. Justru dia sedang waras-warasnya dengan derajat kesadaran tinggi. Jika makin sadar, mungkin granat yang dia lempar. (Mang Pi’i, mantan penjual Ciu).

3. Saya sangat menentang aksi pelemparan sepatu itu. saya lebih setuju jika clurit yang dilemparkan. (Cak Kon Peno, pengrajin sekaligus tukang pande besi pasar Paingan).

4. Aksi yang pantas disesalkan. Saya sangat menyesalkan, mengapa tak ada lemparan ketiga setelah dua lemparannya gak kena… (Jang Odeng, mantan aktivis judi lempar dadu).

Itulah sebagian komentar pro dan kontra yang sempat terekam. Nama yang tercatat bukanlah nama sebenarnya sebagaimana yang tertulis di akta kelahiran mereka. Jika anda memiliki komentar pro maupun kontra, silakan tulis saja. Koran “Pitutur Times” dengan senang hati akan memuatnya.