Archive for November, 2008

Pahlawan atau Lawan?

Posted 25 Nov 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Siapapun warga Indonesia yang mengaku WNI akan sepakat jika Pangeran Diponegoro itu adalah Pahlawan Nasional. Walaupun perjuangan beliau saat itu belum menasional. Tapi jika sampeyan tanyakan kepada Jendral De Kock atawa kepada pemerintah kolonial Londo saat itu, Pangeran Diponegoro adalah pemberontak yang pantas ditumpes, dan bukanlah seorang pahlawan.

Hal ini juga berlaku buat tokoh yang lainnya. Kang Karmo Dungkel yang mantan aktivis PKI dan masih menyimpan sederet atribut komunis di rumahnya, jika ditanya siapakah Pahlawannya, dengan mantabhnya dia akan menjawab DN. Aidit. Kita tahu tokoh yang satu ini berada di deret nomor puncak dari daftar pengkhianat bangsa yang berniat merobohkan sendi bangsa dan negara.

Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad saw yang cukup membuat banyak orang terkagum-kagum akan akhlak dan budi pekertinya yang diakui baik oleh lawan maupun kawan pun, tak cukup membuat seseorang -dengan pengetahuan yang dimilikinya- terkagum. Jangankan terkagum, justru malah sebagian oknum menggambarnya dengan karikatur yang dianggapnya pantas. Tentu saja kepantasan menurut yang dia ketahui dari data yang tercekok ke kubangan otaknya.

Itulah pahlawan. Sebutan buat satu sisi kehidupan, entah bagian mana sisi itu. Yang jelas sebutan pahlawan, akan menutut sebutan pemberontak atau musuh di sisi yang lain. Seseorang yang disebut pahlawan, harus siap disebut dengan sebutan sebaliknya oleh pihak sisi yang berlawanan.

Preman pasar Cakung yang tubuhnya penuh tatoo itu adalah musuh buat masyarakat. Oleh Polisi (yang baik) disebut sebagai penyakit masyarakat, walau ada juga sebagian (entah besar atau kecil) polisi yang menyebut preman ini sebagai income sabetan. Namun walaupun preman merupakan sampah masyarakat, saat dia pulang ke rumah isteri dan anaknya yang sedang kelaparan menunggu sang bapak pulang membawa sesuatu untuk dimakan, sang preman mendadak menjadi pahlawan buat anak dan isterinya yang sedang kelaparan.

Begitulah satu sebutan atau gelaran jika diberikan oleh manusia. Seseorang memberikan gelar berdasarkan sisi yang memberikan efek terhadap dirinya. Jika efeknya baik, maka sebutan pahlawanlah yang terlontar. Jika efeknya buruk buat diri dan golongannya, maka sebutan preman atau pemberontaklah yang dilontarkan. Bahkan penghargaan Nobel yang katanya bertaraf internasionalpun, tak serta merta tokoh yang menerima gelar sebagai Tokoh Perdamaian akan diterima semua pihak sebagai tokoh pembawa damai. Akan ada segolongan orang di sisi seberang yang menganggapnya sebagai tokoh Perusak Perdamaian. Sehingga penghargaan Nobelpun sebenarnya bisa dinilai sebagai upaya satu pihak untuk menghantam definisi pihak lain yang kebetulan ingin dibandemi oleh panitia yang memberikan penghargaan tersebut.

Kaffaa billaahi syaahiidan!! Cukuplah Allah sebagai saksi buat sampeyan, apakah sampeyan pahlawan atau lawan. Sebutan manusia bisa salah. Maka jadilah orang baik atau pahlawan, atau siapapun yang berunsur shaleh, berdasarkan kriteria Yang Maha Kuasa. Kalau nuruti kriteria panitia pemberi penghargaan, maka sampeyan hanya akan jadi pahlawan buat satu sisi hidup manusia saja, yakni panitianya. Dan memang kita tidak akan menjadi pahlawan buat semua pihak. Karena begitu, maka jadilah pahlawan menurut kriteria yang ditetapkan Sang Khalik.

Jika Allah Mengijinkan

Posted 17 Nov 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Bukan lantaran malas simbah tidak posting dalam beberapa hari ini. Bukan lantaran kebanyakan ngowoh, simbah tak menulis judul baru di blog ini. Namun justru simbah sedang getol-getolnya nulis sampai beberapa judul. Targetnya sehari satu judul.

Namun tulisan-tulisan yang sudah simbah tulis itu bukan untuk diposting di media maya ini. Akan tetapi tulisan simbah ini ditujukan agar bisa dibaca di dunia nyata, alias diterbitkan menjadi sebuah buku.

Sebenarnya simbah ingin menyisakan satu atau dua tulisan buat dibeber di geber maya ini. Tapi ternyata kesibukan yang makin bertambah akibat bertambahnya dua pegawai baru simbah di jagad perbakulan, membuat simbah hanya menyisakan energi sisa yang takutnya hanya akan menghasilkan tulisan yang ra mutu babar blas. Sehingga akhirnya simbah menahan diri untuk tidak nulis dulu. Karena sebagaimana inti pesan kanjeng nabi, dari pada ngomong yang gak baek, lebih baik diem.

Untuk itu, simbah hanya mohon doa restunya, agar simbah segera bisa merampungkan tulisan yang “jika Allah mengijinkan” akan diterbitkan menjadi buku ini. Tentu saja buku ini berisi omyangan, glenikan dan grundelan simbah yang sebenarnya kurang mbejaji jika dibukukan. Maka jika sampeyan kurang suka dengan semua tulisan simbah di blog ini, simbah jamin makin blokekan wal mukokan jika membaca buku simbah nanti. Namun jika nekat mau mbaca, simbah pesen agar terlebih dahulu minum obat anti mabok, karena sampeyan akan mengalami perjalanan panjang ke alam yang hung liwang-liwung dan antah berantah.

Selamat menunggu..

Powered by ScribeFire.

Lokalisasi

Posted 04 Nov 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip
Lokalisasi

Lokalisasi

Sewaktu simbah masih kecil, suasana kampung simbah adalah kampung yang sangat permisif terhadap yang namanya judi. Seluruh aparat dari sejak ketua RT, RW sampai kepada kanjeng Lurah, semuanya adalah anggota perkumpulan yang biasa disebut sebagai PKK, alias Paguyuban Keplek Kasut. Keplek adalah istilah buat cara mbanting kartu jembrek, sedangkan istilah Kasut dipakai untuk cara mengocok kartu domino wal jembrek tersebut.

Setiap kali ada hajatan, baik itu hajatan sepasaran bayek, yakni perayaan kelahiran bayi, maupun acara mantu alias pernikahan, pada malam harinya digelarlah acara Perkeplekan dan Perkasutan dengan gegap gempita. Dalam radius tiga rumah ke depan, belakang dan ke samping dari rumah si sohibul hajat, semuanya dipinjam dan disandera menjadi kasino-kasino tiban. Bukan hanya itu, acara tahlilan ataupun acara nunggu jenazah dikuburkan pun tak lepas dari peran serta para member PKK yang dengan setianya menunggu acara baca doa hewes-hewes bubar, lalu ajang tahlilan pun segera berubah menjadi ajang pesta judi yang meriah. Komplit sudah, aroma surga dan neraka seakan menjadi bertetangga dekat. Read More