Siapapun warga Indonesia yang mengaku WNI akan sepakat jika Pangeran Diponegoro itu adalah Pahlawan Nasional. Walaupun perjuangan beliau saat itu belum menasional. Tapi jika sampeyan tanyakan kepada Jendral De Kock atawa kepada pemerintah kolonial Londo saat itu, Pangeran Diponegoro adalah pemberontak yang pantas ditumpes, dan bukanlah seorang pahlawan.
Hal ini juga berlaku buat tokoh yang lainnya. Kang Karmo Dungkel yang mantan aktivis PKI dan masih menyimpan sederet atribut komunis di rumahnya, jika ditanya siapakah Pahlawannya, dengan mantabhnya dia akan menjawab DN. Aidit. Kita tahu tokoh yang satu ini berada di deret nomor puncak dari daftar pengkhianat bangsa yang berniat merobohkan sendi bangsa dan negara.
Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad saw yang cukup membuat banyak orang terkagum-kagum akan akhlak dan budi pekertinya yang diakui baik oleh lawan maupun kawan pun, tak cukup membuat seseorang -dengan pengetahuan yang dimilikinya- terkagum. Jangankan terkagum, justru malah sebagian oknum menggambarnya dengan karikatur yang dianggapnya pantas. Tentu saja kepantasan menurut yang dia ketahui dari data yang tercekok ke kubangan otaknya.
Itulah pahlawan. Sebutan buat satu sisi kehidupan, entah bagian mana sisi itu. Yang jelas sebutan pahlawan, akan menutut sebutan pemberontak atau musuh di sisi yang lain. Seseorang yang disebut pahlawan, harus siap disebut dengan sebutan sebaliknya oleh pihak sisi yang berlawanan.
Preman pasar Cakung yang tubuhnya penuh tatoo itu adalah musuh buat masyarakat. Oleh Polisi (yang baik) disebut sebagai penyakit masyarakat, walau ada juga sebagian (entah besar atau kecil) polisi yang menyebut preman ini sebagai income sabetan. Namun walaupun preman merupakan sampah masyarakat, saat dia pulang ke rumah isteri dan anaknya yang sedang kelaparan menunggu sang bapak pulang membawa sesuatu untuk dimakan, sang preman mendadak menjadi pahlawan buat anak dan isterinya yang sedang kelaparan.
Begitulah satu sebutan atau gelaran jika diberikan oleh manusia. Seseorang memberikan gelar berdasarkan sisi yang memberikan efek terhadap dirinya. Jika efeknya baik, maka sebutan pahlawanlah yang terlontar. Jika efeknya buruk buat diri dan golongannya, maka sebutan preman atau pemberontaklah yang dilontarkan. Bahkan penghargaan Nobel yang katanya bertaraf internasionalpun, tak serta merta tokoh yang menerima gelar sebagai Tokoh Perdamaian akan diterima semua pihak sebagai tokoh pembawa damai. Akan ada segolongan orang di sisi seberang yang menganggapnya sebagai tokoh Perusak Perdamaian. Sehingga penghargaan Nobelpun sebenarnya bisa dinilai sebagai upaya satu pihak untuk menghantam definisi pihak lain yang kebetulan ingin dibandemi oleh panitia yang memberikan penghargaan tersebut.
Kaffaa billaahi syaahiidan!! Cukuplah Allah sebagai saksi buat sampeyan, apakah sampeyan pahlawan atau lawan. Sebutan manusia bisa salah. Maka jadilah orang baik atau pahlawan, atau siapapun yang berunsur shaleh, berdasarkan kriteria Yang Maha Kuasa. Kalau nuruti kriteria panitia pemberi penghargaan, maka sampeyan hanya akan jadi pahlawan buat satu sisi hidup manusia saja, yakni panitianya. Dan memang kita tidak akan menjadi pahlawan buat semua pihak. Karena begitu, maka jadilah pahlawan menurut kriteria yang ditetapkan Sang Khalik.

Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 



