Archive for October, 2008

Sokeh? It’s Okeh…

Posted 30 Oct 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Pertengahan tahun sembilanpuluhan, simbah dikejutkan oleh cerita salah seorang guru simbah yang menceritakan perihal Mie “insya Allah” Ayam. Kenapa disisipi kata “Insya Allah” di tengahnya? Hal ini tak lain dan tak bukan dikarenakan status kata Ayam yang dilekatkan setelah kata Mie itu meragukan.

Dalam satu kejadian yang diceritakan oleh guru ngaji simbah, salah seorang sohib yang biasa langganan Mie Ayam itu, dirisaukan oleh Mie Ayam langganannya yang biasa lewat tak kunjung tiba. Karena tak sabar menunggu, didatangilah rumah tempat tinggalnya. Setelah diketok dan dikulonuwuni beberapa kali tak menyahut, sang sohib mencoba menengok ke belakang rumah si penjual mie. Hwarakadah… tak dinyana dan disangka, di belakang rumah si penjual mie ayam tersebut bertumpuk beberapa puluh kepala tikus wirok. Dan ternyata si tuan rumah alias sang penjual mie itu sedang ngirisi daging tikus buat campuran tambahan daging ayam untuk menu Mie Ayamnya. Mantabhhh… (jika sampeyan lagi makan Mie Ayam saat mbaca ini, jangan mukok ngenggon/muntah di tempat). Read More

Rejeki Berkah, Mau???

Posted 16 Oct 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip

Siapapun tentu mengharapkan keberkahan dalam rejekinya. Termasup juga simbah. Hampir tiap hari simbah meminta pada Sang Maha Pemberi Rejeki agar diberi 3 hal dalam rejeki, yakni halal, baik dan berkah. Tapi mungkin sampeyan gak pernah terpikir bahwa yang namanya rejeki berkah itu ternyata belum tentu semua orang mampu menerimanya. Simbah adalah salah satu orang yang berusaha belajar akan hal ini. Terutama dari apa yang simbah alami sendiri. Begini ceritanya…

Tentunya sampeyan semua sudah tahu, bahwa simbah pada postingan yang terdahulu memulai bisnis permen dengan modal awal 30 juta ripis. Untuk memenuhi kebutuhan modal itu, simbah merelakan menjual mobil simbah yang baru simbah beli belum sampai 6 bulan. Mobil itu simbah beli dari ngumpul-ngumpulin duit plus pinjeman dari sanak saudara. Mobil tersebut adalah mobil kebanggaan, karena sepanjang sejarah keluarga, belum ada satupun ahli keluarga simbah yang mampu beli mobil. Maka tak mengherankan, walau sudah punya mobil, simbah belum bisa nyetir. Sekali pegang setir, cat samping mobil simbah langsung baret-baret nyrempet pager depan klinik. Ditambah lagi, untuk pergi ngantor simbah gak perlu mobil, karena simbah makan, minum, tidur dan kerja ya cukup distu-situ juga.

Rejeki Berkah

Dengan kondisi demikian mobil banyak ndongkroknya. Maka di saat butuh modal,opsi yang langsung terpikir adalah jual mobil. Opsi ini ditentang orang tua. Tapi simbah nekat, mengingat nilai bisnis yang dijanjikan juga besar.

Setelah mobil dijual, bisnis mulai berjalan. Simbah waktu itu hanya sebagai pemodal, yang menyerahkan bisnis dan urusannya sepenuhnya pada kenalan baru simbah. Tiga bulan pertama keuntungan dibagi, cukup lumayan. Berikutnya agak lumayan. Tapi menjelang yang ketiga, mulailah seret. Kenalan simbah yang ngurusi bisnis ini mulai berkilah macem-macem. Ujung-ujungnya kenalan simbah ini nggeblas bablas angine, lari tak tentu rimbanya. Modal pokok belum balik, keuntungan sama sekali gak nutup. Belakangan baru diketahui bahwa kenalan simbah ini juga melarikan duit orang lain puluhan juta.Tidak hanya satu orang, bahkan sampai lima orang lebih, yang jika ditotal nilainya bisa ratusan juta.

Di kondisi seperti itu, beberapa pihak menyesalkan tindakan simbah yang menjual mobil kebanggaan keluarga. Kondisi saat itu adalah yang terberat buat simbah. Namun waktu itu simbah masih tetep bisa husnudhan dan baik sangka dengan ketetapan Allah yang demikian itu. Dan berharap suatu ketika ada pelajaran di balik semua carut marut yang sedang terjadi.

Maka dengan sisa semangat yang masih ada, simbah rintis usaha baru yang menggabungkan permen dengan mainan. Simbah mulai dari tiga sales. Ternyata sales yang satu merupakan penjahat kelamin kelas gedibal pitulikur. Akhirnya tinggal 2 sales yang beroperasi. Lalu masuklah sales lain menjadi pengganti. Ha kok ternyata setelah masuk satu sales baru, salah satu sales lama simbah juga nggedibal pitulikur kelakuannya. Ngrampoki dagangan simbah sampai hampir kukut. Walhasil tinggal 2 sales lagi yang beroperasi.

Dalam kondisi demikian, simbah juga merintis cabang di Solo yang dikelola oleh adik simbah. Sang adik simbah suruh belajar ke Jakarta. Setelah paham dan melihat cara kerja bisnis ini di Jakarta, simbah suruh adik simbah pulang ke Solo dengan sekalian titip uang sekian juta. Lha ndilalah… di perjalanan pulang si adik simbah dirampok orang duitnya. HP plus duit sekian juta ludes. Dada simbah saat itu lumayan nyeseg. Di saat seperti itu, simbah tetep memohon pada Allah agar diberi rejeki yang halal, baik dan berkah. Walaupun simbah belum menjumpai dimana berkahnya jika melihat peristiwa pahit yang menimpa simbah bertubi-tubi itu.

Dua tahun berselang. Mobil ndongkrok simbah yang kesehariannya hanya simbah kendarai buat ngeluarin dan masukin lagi ke emper itu, telah berujud menjadi bisnis yang hasilnya dimakan oleh lebih dari sepuluh keluarga, baik suami, isteri maupun anak-anaknya. Sales di jakarta ini ada 4 orang. Semuanya berkeluarga. Ditambah dengan pembungkus dan rekan kerja simbah, semuanya makan dari bisnis simbah ini.

Di Solo, ada 3 sales yang semuanya bisa mendapat rejeki rutin dari usaha rintisan adik simbah disana. Sekaligus bisa menambah pemasukan buat orang tua, disamping uang pensiunan yang tak seberapa besar. Di Solo adik simbah juga menerima uang modal bulik yang diPHK untuk membesarkan bisnis, sekaligus mempekerjakan bulik biar tak nganggur dan mendapat penghasilan tambahan rutin.

Dalam tulisan yang lalu, simbah pernah menerangkan bahwa ciri keberkahan rejeki adalah rejeki tersebut bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak orang, dipakai tidak berkurang dan bahkan bertambah manakala dipakai. Rupa-rupanya peristiwa sial wal naas bin mengenaskan yang menimpa simbah bertubi-tubi itu adalah dalam rangka “MEMBERKAHKAN” rejeki simbah, yang tadinya berupa mobil kebanggaan yang hanya mampu disawang-sawang, diumuki, diusap-usap dan hanya memuaskan kesenangan napsu satu keluarga, menjadi satu rejeki yang bisa manpangati puluhan keluarga, mencukupi hajat hidup orang banyak, yang turut didoakan keberadaanya oleh banyak bibir yang turut memakan nikmatnya rejeki yang sampai pada mereka.

Nah sekarang kita bahas pertanyaan di atas. Mungkin sampeyan sering minta diberi rejeki yang berkah. Padahal, mungkin saat ini di rumah sampeyan banyak rejeki yang tidak berkah pating tlecek yang manpangatnya hanya buat memuaskan dapurane satu atau beberapa gelintir orang saja. Jika sampeyan konsekwen dengan isi doa sampeyan, maka bersiaplah untuk dioprek dan diobok-obok rejeki sampeyan oleh Kekuatan Tangan Yang Maha Berkah, yang barangkali diawali dengan hal-hal pahit untuk menguji kesungguhan doa dan permintaan sampeyan bahwa sampeyan bener-bener minta rejeki yang berkah.

Mungkin keberkahan rejeki sampeyan harus diawali dengan ilangnya mobil kinclong kesayangan sampeyan yang hanya berjok dua, hanya bisa dikendarai 2 orang, dan selalu ketangkep pulisi di jalur three in one. Atau diawali dengan ilangnya cocakrowo sampeyan yang siulannya bernilai jutaan ripis yang kemerduannya hanya bisa didengar oleh telinga kiri sampeyan, karena yang kanan sudah setengah budeg. Atau diawali dengan matinya ikan arwana sampeyan yang sampeyan yakini menjadi sumber rejeki. Yang jelas keberkahan rejeki yang sampeyan minta akan diawali dengan mengeliminasi rejeki yang tak berkah yang mungkin malah paling anda sayangi, dan dengan Tangan Yang Maha Berkah diberkahilah rejeki itu agar manpangat buat banyak orang. Mau?

Kumpul Bakdan

Posted 14 Oct 2008 — by Mbah Dipo
Category Mampir Ngombe

Tak dinyana dan tak direncana, ternyata sudah cukup lama simbah tidak menulis di blog ini. Diawali dengan sibuknya simbah ngurus Klinik baru yang menyebabkan simbah kepontang-kepanting harus berangkat pagi dan pulang petang. Lalu ditambah dengan kesibukan baru ngurus anak-anak yang harus simbah lakukan, dikarenakan simboknya anak-anak ternyata diketahui sedang isi lagi rahimnya dengan calon jabang bayi anak kelima. Maka praktis tak ada aktifitas online sama sekali.

Maka hari ini simbah mulai lagi nawaitu niat ingsun ndumuki kibord, menyusun aksara yang mudah-mudahan manpangati bagi yang mau mbaca. Dan ternyata memang agak berat. Sebagaimana hukum Newton tentang kelembaman, dimana benda berusaha mempertahankan keadaannya, maka demikian juga simbah…. Jian males pol mau memulai nulis kayak gini. Read More