Posted 22 Jun 2008 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan
Dalam satu riwayat disebutkan satu percakapan yang menarik antara Abu Bakar r.a dan anaknya. Sebagaimana difahami, salah seorang anaknya Abu Bakar yang laki-laki masuk Islamnya belakangan setelah perang Badar. Sehingga di saat perang Badar si anak berperang di pihak musyrikin, melawan bapaknya yang berperang bersama kaum mukminin. Berkatalah si anak:
“Wahai bapak, dulu di saat perang badar, aku memiliki kesempatan untuk membunuhmu, dan aku yakin jika aku lakukan maka engkau pasti sudah terbunuh.”
“Lantas apakah yang menghalangi dirimu untuk melakukannya wahai anakku?” tanya Abu Bakar.
“Aku masih memiliki rasa sayang kepadamu. Itulah yang membuat diriku ragu.”
“Itulah sifat kemusyrikan wahai anakku. Loyalitas dan kesetiaan kepada tuhan kalian bisa kalah dengan kecintaan kalian pada yang lain. Sungguh jika aku berada di posisimu saat itu, sudah aku tebas lehermu.” Read More
Posted 06 Jun 2008 — by Mbah Dipo
Category Bumbu Urip
(Setelah dipreambuli dengan tayangan tindakan FPI di Monas, dan dengan diiringi backsound yang mencekam ala pilem G 30 S PKI, mulailah narator yang terobsesi menjadi penyair membacakan narasinya. Lalu sesudah itu, ketika belum ilang rasa mencekam dari penonton, dimulailah acara Dialog Tokoh yang ditayangkan oleh Stasiun Balapan TV, satu stasiun tipi swasta yang telah berdiri sejak tahun Dal)
Reporter : Gimana menurut anda Cak, tindakan FPI yang barusan ditayangkan?
Cak Mat : Wah gak bener FPI itu. Itu memaksakan kehendak. Saya tidak setuju dengan segala macam kekerasan.
Reporter : Lalu tentang tuntutan mereka terhadap Pelarangan dan Pembubaran Ahmadiyah, apakah Anda juga sepakat?
Cak Mat : Biarkan keyakinan apapun berkembang di negeri ini. Jangan ada pelarangan dan pembubaran satu keyakinan. Itu melanggar hak asasi manusia. Pemerintah seharusnya melindungi semua keyakinan, apapun itu. Gak boleh ada pembubaran!! Jadi saya dukung AKKBB yang mau melindungi semua aliran dan keyakinan, apapun aliran dan keyakinan itu! (Berapi-api, setengah muncrat) Read More
Apapun propesi dan peran yang kita jalani, kita hidup di dunia ini ibarat mampir ngombe dalam satu perjalanan menuju satu tempat. Baik itu dokter, ingsinyur, pilot, chef, kacung, ataupun propesi lainnya, semuanya sedang melakukan satu perjalanan menuju ke suatu tujuan. Semuanya memiliki Bendoro yang sama, yakni Sang Maha Pencipta, Yang Maha Kuasa, Yang dalam Islam memperkenalkan diri-Nya dengan nama ALLAH, yang lantas secara tidak orisinil dipakai juga oleh pihak lain.
Bayangkan jika itu adalah Kang Ngaidin yang ditugasi bosnya kerja di kantor cabang di Ngapeman sono. Oleh sang Bos, Kang Ngaidin disuruh kembali ke kantor pusat di Jakarta. Dibekalilah Kang Ngaidin dengan uang limaratus rebu ripis untuk datang ke kantor pusat guna menghadap sang Bos. Maka Kang Ngaidin sudah memiliki tujuan perjalanan, yakni ke Jakarta, dan sudah memiliki uang bekal yakni limaratus rebu ripis. Read More