Posted 30 Sep 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Sengaja simbah pake judul agak propokatip, biar sedikit penasaran. Padahal boleh jadi ceritanya tak seseram judulnya. Yang simbah ceritakan ini adalah kisah nyata. Yakni kisah tetangga simbah yang berpropesi sebagai paranormal alias dukun. Ini dukun terkenalnya malah justru di luar daerah simbah. Kalo para tetangga simbah malah nganggepnya wong kurang gaweyan.
Gimana gak kurang gaweyan, ha wong pernah sore-sore dijumpai si oknum ini lagi asik ngudud sledabh-sledubh, anehnya rokok yang diudud ada 2 batang. Yang sebatang diisep sampe nyodok ke pilternya, sedangkan yang satu lagi di taroh di depan mejanya. Sohib simbah nanya :
“Wheladalah, lagi ngapain pakdhe? Kok ngudud saja sampe dobel-dobel… lagi turah duit ya??”
Dia langsung nyahut, “Ssssst…. diem, ini saya lagi ngobrol asik sama jin botol. Lha ini dia sedang udud mantebh di depan saya. Temtu sahaja sampeyan gak bisa lihat. Cuman saya yang bisa lihat.” Read More
Posted 24 Sep 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Hari ini adalah hari yang melegakan buat simbah. Ada satu kasus berat yang simbah tuntasken. Seminggu sebelumnya simbah cukup dibikin pusing tujuhpuluh keliling dengan kasus ini. Yakni adanya satu sales yang mbalelo dan mbikin kaco proses dol tinuku yang simbah jalanken.
Adalah tadinya simbah memiliki 3 sales yang menjalankan tugas lapangan menjajakan dagangan simbah ke toko dan warung di blusukan metropolitan ini. Ada seorang sales yang mengundurkan diri karena merasa tidak mampu menjalankan tugas. Simbah ijinken, dan sesuai surat kontrak kerja, dia wajib menyerahkan warung-warung yang selama ini dia kelola di lapangan kepada sales penggantinya. Jumlahnya ada lebih dari dua ratus limapuluh warung dan toko. Read More
Posted 21 Sep 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan
Sudah menjadi pemandangan yang lazim setiap hari Jum’at, saat Khatib sedang berkhutbah tampak di beberapa tempat terpisah, jamaah sholat Jum’at terlihat terkantuk-kantuk dengan khusyu’. Ada yang sampai terdengar dengkurnya. Ada juga yang hanya tertunduk tenang dengan mata terpejam, sesekali diiringi hentakan kaget karena menahan tubuh yang limbung. Sementara suara sang Khatib terdengar seperti nyanyian Nina Bobo yang semakin menghantar sang jamaah memasuki alam mimpi.
Ironisnya hal ini terjadi tatkala ibadah suci sedang dilaksanakan, yakni ibadah sholat Jum’at. Suatu ibadah yang oleh Rasulullah saw amat sangat ditekankan untuk dilaksanakan, dengan ancaman dikunci mati hatinya oleh Allah, bagi mereka yang dengan sengaja tidak mengerjakan sholat Jum’at tiga kali. (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-I dan Ibnu Majah). Read More
Posted 21 Sep 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Pada suatu hari kang Ndoweh bertandang ke rumah kang Mbleweh yang sedang membuat onde-onde ceplus. Tanpak kang Mbleweh sedang sibuk membikin butiran-butiran kecil sang onde-onde ceplus.
Ndoweh : Welhadalah, sedang ngapain kang?
Mbleweh : Halah.. sini mampir. Ini sedang mbikin onde-onde ceplus.
Ndoweh : Waah.. kok sajak nyamleng. Mbikin kemecer saja ini.. Tak cicipi dulu ya kang.
Dengan tanpa ba-bi-bu kang Ndoweh tangannya nylonong menyambar sebutir adonan onde-onde ceplus tersebut. Lalu… Read More
Posted 15 Sep 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Ilmu adalah bahasa arab. Lidah wong jowo paling susah ngucap hurup ‘ain. Biasanya dibaca menjadi ngain. Maka jadilah masup dalam basa jawa menjadi ngelmu. Sedangkan ngelmu itu sendiri secara gathuk enthuk diartikan sebagai ‘aNGEL tineMU’ atau susah didapat. Karena syarat untuk mendapatkannya memang cukup berat.
Dalam ajaran agama, ngelmu terdiri dari dua bagian, yakni data/informasi dan aplikasi. Kedua-duanya harus ada jika mau disebut alim atau orang berilmu. Sedangkan bentuk jamak dari alim adalah ulama. Maka ulama adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan, informasi, atau teori serta mau mengamalkannya.
Iblis tidak masup dalem katagori alim, walopun dia memiliki banyak ilmu. Mengapa? Karena dia hanya menguasai satu bagian saja, yakni ‘data/informasi’. Sedangkan aplikasi dia gak punya. Informasi dan aplikasi ini seringkali dibahasaken dengan istilah lain, yaitu teori dan praktek. Read More
Posted 13 Sep 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Sampeyan pernah nyaksiken orang makan Kepiting? Atau malah sampeyan pernah makan kepiting? Itu adalah aktifitas makan yang penuh perjuangan. Karena acara makannya diawali dulu dengan pertempuran melawan cangkang, yang seringkali mengorbankan jari, lidah, dan bibir. Tapi tetep saja makin asyik. Malah harganya muahal pol. Kenikmatannya berbanding lurus dengan perjuangannya.
Beda lagi dengan makan sego bandeng alias sego kucing. Ini menu khas kaum dhuafa wal marjinal, berupa sego sak kepel dirubung sambel sak uprit, plus bandeng atau ikan asin nyak mit. Tak sampai sepeminum teh bisa ludes sebungkus. Rasanya ngedabh-edabhi. Mak nyoss..kotos-kotos. Read More
Posted 10 Sep 2007 — by Mbah Dipo
Category Pengaosan
Sekitar 4 tahun yang lalu salah seorang tetangga simbah yang sudah nenek-nenek memutuskan menghabisi hidupnya dengan gantung diri. Beberapa sohib menanyakan pada simbah mau menyolatkan jenazah apa tidak. Simbah menyatakan gak ikut solat, tapi juga tidak melarang yang mau menyolatkan. Yang menarik adalah kata sambutan pada saat pemakaman :
“Semoga arwah jenazah diterima di sisi Allah swt dan mendapat ridho-Nya. Serta amalan baiknya mendapatkan balasan yang yang pantas di akherat.”
Kata sambutan tersebut diucapkan di tengah keluarga jenazah yang justru sangat menyesali tindakan si nenek dan yakin bahwa apa yang dikerjakan oleh sang nenek adalah jalan yang salah. Namun saat hari ketiga, ketujuh dan keempatpuluh, tetap saja anggota keluarga mengadakan acara tahlilan dan kirim doa. Dengan tingkat pengharapan pada lepel “siapa tahu” nyampek. Dan sang tamu juga mendatangi acara tersebut, walau dengan glenak-glenik gak enak, karena kedatangannya hanya sekedar basa-basi agar tak menyakiti sohibul bait. Simbah merasakan nuansa aneh, asing, gak wajar, dan mbuhraruh. Sejak dari acara sambutan takziah sampe tahlilan yang disertai acara kirim doa tersebut. (Tentu saja ini di luar pembahasan masalah ikhtilaf tentang bid’ah sunnahnya tahlilan lho…) Read More
Posted 07 Sep 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Sekitar 2 tahunan yang lalu, simbah mengurus pengesahan pendirian Yayasan simbah ke salah satu Pengadilan Negeri di Jakarta. Sebenarnya ke sono cuma minta cap dan tanda tangan thok, tapi karena menjadi syarat ya simbah lakoni saja. Dan disitulah simbah mengalami hal yang simbah yakin juga dialami oleh berpuluh juta gundhul di negeri Indonesia Raya ini. Berikut cuplikannya :
Mbahmu : Cap dan tanda tangannya sudah selesai pak?
Oknum : Oo, sudah… ini silakan diambil..
Mbahmu : Biaya administrasinya berapa pak?
Oknum : Terserah… sukarela aja kok..
Begitu diomongi ‘sukarela’ simbah jadi berpikir, berarti gak ada biaya babar pisan. Kebetulan waktu itu ada pengusaha tionghoa yang juga baru ngurus usahanya menanyakan hal sama. Akhirnya pengusaha itu ngasih limapuluh rebu ripis ke bapak oknum itu.
Oknum : wah.. mosok cuma limapuluh rebu seehh….
Pengusaha : Lha sebenarnya berapa sih pak… katanya sukarela..
Oknum : ya minimal seratus rebu gitulah….
Mbahmu : Kalo gitu saya juga sama pak…???
Oknum : Lha iya laah… Read More
Posted 05 Sep 2007 — by Mbah Dipo
Category Uncategorized
Hampir selama sepuluh hari simbah pulang kampung. Blog jadi gak terurus. Banyak komen yang kesandung moderasi, lha karena kebanyakan komentator anyar. Mohon maap bagi para penanya yang belum kejawab pertanyaannya. Juga bagi penanya yang kebetulan pake email antah berantah, mohon maap kalo gak kejawab. Karena email jawaban simbah dianter pulang lagi sama kurirnya yahoo. Jadi tolong emailnya ditulis dengan baik dan benar.
Lima hari di kampung, simbah dikejutkan dengan penomena tanaman hias yang namanya jenmanii. Kebetulan memang kemarin sedang ada pameran tanaman hias di kampung simbah. Hampir di semua prapatan, pertelon maupun proliman orang-orang sama ngetuprus membicarakan tanaman yang namanya jenmanii dan gelombang cinta. Walah, apalagi ini? Aromanya sih keliatannya seperti saat musim lohan, cupang dan ternak jangkrik beberapa tahun yang lalu. Muncul mak bedunduk, lalu ilang mak plekethis. Read More