Langkah pertama yang dilakukan simbah dan sohib-sohib adalah mengisi kolam yang ada dengan ikan lele. Untuk ini simbah nggaji 3 orang pegawe, sebut saja Tarman, Madi dan Wanto. Mereka tinggal di kapling kontrakan. Untuk menarik peran serta masyarakat, simbah menggalang dana bagi anak-anak Yatim di daerah situ. Mereka dikumpulkan dan disantuni dengan bermacam bantuan. Ada uang tunai, seperangkat alat sholat, alat tulis, Al Qur’an dan Iqro’. Waktu itu ada lebih dari 30 anak yatim kita santuni. Dan merekalah proyek pertama simbah untuk dididik di TPA yang langsung didirikan saat itu juga.
Singkat cerita, akhirnya di kalangan bapak-bapak pun juga terbentuk majelis taklim. Hanya saja acaranya malam selepas Isya. Bulan pertama berjalan lancar. Bapak-bapak itu diajar oleh pegawai-pegawai kolam yang memang dipilih yang pinter ngaji. Mulai bulan ketiga, saat selesai panen lele pertama mulai ada kasus aneh. Yakni isyu adanya kuntilanak yang suka kluyuran meronda di komplek kolam. Opo tumon….
Tadinya isyu itu dianggep angin lalu, sampai si Madi salah seorang pegawe kolam menemui sendiri si oknum kuntilanak itu saat berkeliling ronda malam memeriksa saluran kolam. Hanya saja dua pegawe lainnya sama sekali gak pernah ketemu sekalipun, meski sering juga meronda malam antara jam-jam satu sampai jam tiga malam. Bahkan seringkali di tengah rintik hujan malam-malam.
Yang bikin tambah heboh adalah di saat taklim malam digelar, karena pesertanya banyak, sebagian peserta akhirnya mendapat tempat di teras tempat taklim. Ha kok pas khusyuk-khusyuknya taklim, salah seorang peserta yang ada di luar teriak-teriak melihat kuntilanak ikut duduk di sampingnya. Tadinya dia anggep orang biasa yang nimbrung taklim, maklum suasananya agak gelap di luar. Lha begitu diamati dengan cermat, ternyata wanita berbaju putih dengan rambut terurai panjang sedang nongkrong disampingnya. Kontan saja taklim jadi geger. Sebenarnya peserta yang lain gak tahu-menahu dan tidak melihat oknum kuntilanak yang nimbrung taklim itu. tapi karena ada satu yang merasa melihat, semuanya kontan merinding.
Semenjak saat itu, taklim malam jadi sepi. Meskipun diusahakan didatangi dan diajak lagi, tapi banyak warga yang masih ketakutan untuk hadir taklim malam. Akhirnya taklim pun berhenti. TPA yang sore pun akhirnya berhenti juga. Karena selama ini TPA nya selesai menjelang maghrib, sedangkan lahan yang dikelola simbah itu kan lumayan luas. Jadi pada ketakutan juga pulangnya.
Simbah sebenarnya masih bingung akan konsep-konsep yang berbicara tentang gendruwo, kuntilanak, pocongan dlsb. Apalagi konsep jin muslim atau jin kafir. Simbah hanya memiliki konsep sederhana saja. Bahwa manusia itu diperintah taat pada Allah. Musuhnya adalah syetan yang selalu ngajak mbalelo. Temannya adalah malaikat yang menolongnya taat pada Allah.
Jadi cuma ada 3 unsur pelaku hidup yakni manusia sebagai sentral, setan sebagi penggoda dan penghalang, malaikat sebagai penolong dan pendukung.
Nah kalau ada jin muslim, dan dia makhluk ghaib, maka tetep dia harus tunduk pada aturan Al Qur’an dan Hadits. Wudhu pake air, makan yang halal, ketemu orang sunnahnya salam, korban nyembeleh wedhus, atau sapi dlsb. Lha yang terjadi tidak begitu. Katanya jin makanannya kotoran hewan, jelas ini tidak thoyyiban. Blusak-blusuk rumah orang tidak salam. Qurban gak jelas yang disembelih apa. Wudhu pakai apa gak ada keterangan. Bagaimana bisa menjalani syariat Nabi saw yang seorang manusia. Kecuali mereka punya Nabi sendiri dari kalangan mereka yang punya syariat tersendiri. Kalo begitu gak perlu diutak-utik. Gak perlu dikaitkan sama aturan Islam, ataupun Nabi Muhammad saw, wong mereka punya syariat dan aturan sendiri kok.
Sampai saat ini belum ada kyai sekaliber apapun yang bisa menjawab pertanyaan yang mengganjal di hati simbah. Maka konsep simbah ya seperti yang di atas tadi. Maka kalo si kuntilanak itu nemui kita, harusnya didakwahi, diajak sholat, mbayar zakat, munggah kaji dlsb. Bukannya lari terkencing-kencing. Ini kalo konsep jin muslim dan jin kafir dipegang. Sebab semua yang punya beban untuk taat kepada Allah harus didakwahi. Termasuk kuntilanak, gendruwo, gundul pringis dll. Bahkan seandainya ada Alien yang mendarat pakai UFO di tengah-tengah kita, mereka harus diajak juga mengikuti syariat yang berlaku bagi umat akhir jaman ini. Bukan malah diem saja dan cuma takjub sampe terngowoh-ngowoh.
Bagi simbah aturan dan agama manusia hanya bisa dijalani manusia. Bangsa jin (yg ghaib) tidak mungkin ikut aturan manusia. Jika ada istilah jin muslim dalam Al Qur’an pastilah itu manusia juga, hanya saja disebut sebagai jin karena keistimewaannya. Orang arab pun terhadap orang asing juga memakai istilah jin. Sedangkan setan, jelas-jelas mereka ingkar dan maksiyat. Dan tak pernah ada cerita tobatnya, sebagaimana gak ada cerita malaikat kok maksiyat beli nomer togel.
Namun yang jelas usaha simbah di Bojong Gede ini sekarang terhenti. Salah satu faktornya adalah kuntilanak itu. Sedangkan kolam lelenya simbah serahkan lagi ke pemiliknya untuk dikembangkan.
Seorang yang sudah mambu lemah, siap mujur ngalor mlumah, menuju Alam Barzah. Hidup harus pantang menyerah. Jangan sedih dan susah. Kerja keras tanpa lelah. Ah Sudahlah... Pingin luwih detail? 



